Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
43. Ketemu Sarti


__ADS_3

Kereta tiba di stasiun Malang saat jam menunjukkan pukul lima pagi. Suasana stasiun masih terasa sepi. Aruna bersama penumpang lain pun turun lalu menuju pintu keluar stasiun. Aruna memutuskan menunaikan sholat Subuh di musholla yang terdapat di stasiun.


Setelahnya Aruna memilih duduk di peron sambil mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Saat itu lah kedua mata Aruna menangkap sosok yang familiar sedang berdiri tak jauh darinya. Sosok pria mengenakan seragam biru muda yang menandakan jika dirinya adalah masinis dari salah satu perusahaan kereta api. Usianya berkisar tiga puluh lima tahun. Ia tampak menatap kearah kejauhan seolah sedang menunggu sesuatu.


Pria itu cukup menarik perhatian kaum wanita karena memiliki tubuh tinggi, tegap dan berwajah tampan. Kulitnya sawo matang dan rambut ikal berwarna hitam,  tapi memiliki bola mata berwarna biru.


“ Dia mirip banget sama Janson. Jangan-jangan dia keturunannya Janson dan Sarti...,” gumam Aruna sambil terus mengikuti pergerakan pria yang mirip Janson itu.


Merasa dirinya ditatap sedemikian rupa oleh Aruna, pria itu pun tersenyum lalu menghampiri  Aruna dan menyapanya.


“ Kenapa Mbak, aneh ya ngeliat Saya...,” sapa pria itu dengan ramah.


“ Oh ga, eh iya. Maaf, abisnya Om mirip banget sama seseorang yang Saya kenal...,” sahut Aruna dengan gugup.


“ Masa sih, mirip siapa...?” tanya pria itu sambil tertawa.


“ Janson, orang Belanda yang datang ke Indonesia di tahun 1940 an...,” sahut Aruna cepat hingga mengejutkan pria itu yang langsung menghentikan tawanya.


“ Namanya mirip sama nama Kakek Saya...,” kata pria itu dengan suara parau.


“ Oh, pantesan Kalian sangat mirip. Hanya beda warna kulit. Kulit Janson pucat kemerahan sedangkan Om memiliki warna kulit khas orang Indonesia pada umumnya...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Dimana Kamu ketemu sama beliau...?” tanya pria itu hati-hati.


“ Di kereta api dalam perjalanan menuju ke sini kemarin malam...,” sahut Aruna.


“ Bagaimana kondisinya, pasti sudah sangat tua ya. Kan Kamu bilang beliau datang ke Indonesia tahun 1940 an...,” kata pria itu sambil tersenyum kecut.


“ Om salah !. Janson yang Saya temui masih sangat muda, usianya juga belum tiga puluh tahun. Istrinya orang Indonesia asli bernama Sarti...,” sahut Aruna hingga mengejutkan pria itu.


Pria itu menatap Aruna lekat sambil mengamati gadis di hadapannya itu dengan seksama.


“ Kok kebetulan banget ya, Nenek Saya juga bernama Sarti. Kalo Janson yang Kamu ceritain itu memang Kakek Saya, kok masih muda ?. Asal Kamu tau, Kakek Saya hilang saat pergi menjalankan tugas dari atasannya saat jaman penjajahan dulu. Dan Kakek ga pernah kembali sampai detik ini. Seandainya masih hidup pun harusnya sudah tua dan pikun...,” kata pria itu gusar.


“ Itu betul Om. Sayangnya yang Saya temuin bukan Janson dalam wujud manusia tetapi hanya arwahnya saja yang berusia tiga puluh tahunan...,” sahut Aruna.

__ADS_1


“ Arwah ?. Kamu bisa ngeliat arwah orang yang udah lama meninggal...?” tanya pria itu.


“ Iya Om...,” sahut Aruna.


“ Siapa Kamu sebenernya...?” tanya pria itu sambil menatap Aruna dari kepala hingga ujung kaki.


Kemudian Aruna menceritakan siapa dirinya sekaligus pesan apa yang ingin disampaikan oleh arwah Janson. Pria berseragam mirip Janson yang kemudian diketahui bernama Herdian itu pun tampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“ Nenek Saya pasti senang mendengar kabar ini...,” kata Herdian dengan mata berkaca-kaca.


“ Jadi Neneknya Om masih hidup...?” tanya Aruna yang membayangkan nek Sarti yang tua, bungkuk dan pikun.


“ Iya. Gimana Aruna, Kamu mau kan mampir ke rumah orangtua Saya...?” tanya Herdian penuh harap.


Aruna terdiam karena tak mungkin mengikuti pria yang baru dikenalnya itu begitu saja. Herdian nampak tersenyum maklum.


“ Kalo gitu Saya telephon Istri Saya biar ke sini dan ngajak Nenek Saya buat nemuin Kamu ya Aruna...,” kata Herdian.


“ Begitu lebih baik Om...,” sahut Aruna.


“ Tapi ini penting Ma, ada yang mau nyampein pesan penting almarhum Kakek...,” kata Herdian.


“ Oh gitu. Ya udah tunggu sebentar ya Pa. Mama bangunin Nenek dulu...,” sahut istri Herdian.


“ Ntar Aku telephonin Pak Sobari buat nganterin Kamu sama Nenek nanti...,” kata Herdian.


“ Iya Pa...,” sahut istri Herdian.


Sambil menunggu kedatangan nek Sarti, Herdian mengajak Aruna sarapan di kantin stasiun. Aruna juga sempat membersihkan diri dan berganti pakaian di toilet stasiun. Satu jam kemudian istri Herdian datang bersama kedua orangtua Herdian dan nek Sarti. Kondisi nek Sarti yang sepuh membuatnya harus duduk di kursi roda karena tak kuat lagi berjalan jauh.


Herdian menyambut keempat orang yang dikasihinya sambil tersenyum. Kemudian dia memperkenalkan Aruna kepada keluarganya itu dan menceritakan apa yang dilihat Aruna.


Nek Sarti yang sepuh memang sudah rabun karena usia senja, namun masih memiliki pendengaran yang lumayan bagus. Ia mendengarkan penuturan Aruna dengan seksama. Air mata pun membasahi pipi keriputnya. Bibirnya nampak bergetar saat mengatakan kalimat yang membuat keluarganya takjub.


“ Aku mau ketemu sama Janson...,” kata nek Sarti lirih hingga mengejutkan Herdian karena ia mengira sang nenek tak akan percaya dengan cerita Aruna.

__ADS_1


“ Apa Nenek yakin, yang Aruna liat itu hanya arwah lho Nek...,” kata Herdian mengingatkan.


“ Iya, Aku tau Janson pasti mau menyampaikan sesuatu...,” sahut nek Sarti sambil mengusap matanya yang basah.


“ Gimana Om...?” tanya Aruna pada Herdian.


“ Ayah setuju. Nenek sudah lama menderita dalam penantian. Mungkin setelah ini Nenek bisa tenang menjalani masa tuanya...,” kata ayah Herdian yang merupakan anak kandung Janson.


“ Baik lah. Tolong bantu Nenek Saya ya Aruna...,” pinta Herdian.


“ Insya Allah siap Om...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


\=====


Malam itu Aruna mengajak nek Sarti dan keluarganya ke suatu tempat. Sebelumnya Herdian juga membantu Aruna mendapatkan rumah kost untuknya tinggal selama di kota itu. Rumah kost itu adalah milik orangtua Herdian yang letaknya tak jauh dari kampus Aruna.


“ Di sini Aruna...?” tanya Herdian sambil menghentikan mobil di pinggir sawah yang tak jauh dari rel kereta api.


“ Iya Om...,” sahut Aruna sambil menatap ke sekelilingnya. Aruna tersenyum saat melihat kehadiran Georga dan Matilda yang telah lebih dulu tiba di sana. Mereka tengah sembunyi di atas pohon turi yang berdiri kokoh di pinggir sawah.


“ Kenapa di sini...?” tanya ayah Herdian yang bernama Suryadi.


“ Soalnya tempat Nek Sarti dan Suaminya berpisah juga di pinggir rel kaya gini Pak...,” sahut Aruna.


Suryadi mengangguk tanda mengerti. Nek Sarti yang duduk di kursi roda nampak mulai terisak dan itu membuat semua panik kecuali Aruna.


“ Kenapa Bu, apanya yang sakit...?” tanya Suryadi dengan lembut.


“ Ga ada. Ibu cuma inget Papamu Nak...,” sahut nek Sarti sambil menangis.


“ Ibu sabar ya. Sebentar lagi Ibu bakal ketemu sama Papa...,” kata Suryadi dengan suara bergetar.


Sejujurnya Suryadi juga memendam rindu pada sosok ayah yang tak pernah ia temui sepanjang hidupnya. Suryadi hanya mengenal ayahnya dari cerita sang ibu dan orang-orang yang mengenalnya. Mereka mengatakan jika Janson adalah pejuang sejati. Yang mencintai Sarti dan Indonesia dengan cinta yang tulus. Berjuang bersama menghadapi penjajah yang notabene adalah bangsanya sendiri karena Janson tak suka penjajahan.


\=====

__ADS_1


__ADS_2