
Setelah mendengar informasi dari Bianca,Kautsar dan Aruna pun bergerak cepat. Mereka memutuskan memeriksakan kehamilan Aruna ke dokter kandungan.
Namun sebelumnya terjadi sedikit perdebatan antara Aruna dan Kautsar.
Saat itu mereka sudah tiba di parkiran Rumah Sakit Bersalin. Namun tiba-tiba Aruna minta mereka pergi ke dokter umum karena khawatir dugaan Bianca salah. Kautsar yang biasa menghadapi mood sang istri yang berubah-ubah pun tetap tenang. Ia bersikukuh memaksa pergi ke dokter kandungan karena yakin dengan gejala kehamilan yang diperlihatkan Aruna selama ini.
" Aku ga mau malah salah diagnosa nanti. Siapa tau ini cuma gangguan lambung dan bukan hamil...," kata Aruna memberi alasan.
" Ya gapapa Sayang. Kalo emang Kamu ga hamil, Kita kan bisa langsung tanya-tanya sama dokter gimana caranya bisa hamil...," sahut Kautsar santai.
" Aku malu Tsar. Kesannya kok pengen banget hamil...," rengek Aruna.
" Kamu ga perlu ngomong apa-apa. Biar Aku yang nanya sama dokter nanti. Lagian Kamu ga mau ya punya anak, Aku aja pengen lho Sayang...," kata Kautsar berusaha membujuk Aruna.
" Tapi...," ucapan Aruna terputus saat Kautsar memotong cepat.
" Atau mungkin Aku perlu kasih tau Mama sama Ibu supaya datang ke Malang dan bantu mastiin kehamilan Kamu...?" tanya Kautsar.
" Eh, jangan...!" sahut Aruna cepat.
" Lho kenapa emangnya...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Jangan bikin mereka berharap banyak. Apa Kamu tega ngeliat mereka kecewa karena gagal dapat Cucu...?" tanya Aruna gusar.
" Kok gagal dapat Cucu. Maksud Kamu gimana sih Sayang...?" tanya Kautsar dengan sabar.
" Mmm..., andai mereka datang ke sini terus berharap Aku hamil. Tapi ternyata Aku ga hamil. Apa itu namanya bukan pehapein orangtua ya Sayang...?" tanya Aruna ragu.
Mendengar ucapan istrinya membuat Kautsar gemas lalu menepuk keningnya sendiri. Kemudian Kautsar menghela nafas panjang dan kembali menatap Aruna.
" Jadi maunya Kamu gimana Arunaaa...?" tanya Kautsar putus asa.
Melihat wajah suaminya yang lelah membuat Aruna iba. Sejujurnya Aruna juga penasaran dengan kondisi tubuhnya. Namun Aruna merasa belum siap untuk punya anak saat ini.
" Apa Aku bisa punya anak dan jadi Ibu yang baik buat Anak Kita nanti Tsar...?" tanya Aruna lirih.
" Kamu pasti bisa Sayang. Kamu kan perempuan tangguh, hebat dan pinter. Aku yakin Anak Kita pasti tumbuh jadi anak yang kuat, hebat dan juga pinter kaya Ibunya...," sahut Kautsar sambil menggenggam kedua telapak tangan Aruna.
" Kamu percaya Aku mampu Tsar...?" tanya Aruna.
" Iya...," sahut Kautsar mantap sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Aruna tersenyum mendengar jawaban Kautsar. Sesaat kemudian ia ikut menganggukkan kepalanya lalu mengucapkan kalimat yang membahagiakan Kautsar.
" Iya, sekarang Aku mau cek ke dokter kandungan...," kata Aruna mantap hingga membuat Kautsar tersenyum lega.
" Alhamdulillah..., ayo Kita masuk...," ajak Kautsar sambil menggenggam telapak tangan Aruna.
Kemudian keduanya masuk ke loby Rumah Sakit Bersalin itu untuk menemui dokter kandungan yang direkomendasikan teman Kautsar.
\=\=\=\=\=
Kabar bahagia tentang kehamilan Aruna pun langsung Kautsar kirimkan kepada kedua orangtua dan mertuanya. Bisa ditebak bagaimana reaksi keempat orang itu. Mereka melonjak bahagia seperti anak kecil. Bahkan Diana dan Hardini langsung membuat janji bertemu khusus untuk membicarakan kehamilan Aruna.
" Kita lanjutkan besok ya Bu. Assalamualaikum...," kata Diana di akhir kalimat.
Arka nampak mengamati raut wajah bahagia Diana yang selalu tersenyum usai mendengar kabar kehamilan Aruna.
" Ehm, happy banget keliatannya Ma...," kata Arka.
" Jelas dong Pa. Emangnya Papa ga happy mau punya Cucu...?" tanya Diana.
" Bahagianya Papa ga bisa diungkapkan dengan kata-kata Ma. Tapi Papa masih realistis lho...," sahut Arka.
" Maksudnya gimana ya Pa...?" tanya Diana tak mengerti.
" Ga usah berbelit-belit bisa ga sih Pa. Otak Mama lagi penuh nih, jadi maaf kalo ga bisa nampung teka-teki Papa...," kata Diana sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Arka nampak menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
" Mama tau jam berapa sekarang...?" tanya Arka.
" Tau, jam sepuluh malam. Emang kenapa Pa...?" tanya Diana.
" Tadi Mama bilang mau nyiapin makan malam lho. Dan itu tiga jam yang lalu. Papa duduk di sini nunggu Mama nawarin makan tapi keliatannya Papa harus puasa karena Mama terlalu sibuk...," sindir Arka.
" Ya Allah. Maaf ya Pa, Mama lupa...," kata Diana sambil menepuk keningnya lalu berlari ke ruang makan.
Arka tertawa sambil menggelengkan kepala melihat sikap istrinya.
Arka dan Diana memang menerima kabar kehamilan Aruna saat jam menunjukkan pukul setengah delapan. Saat itu Arka baru saja kembali dari menunaikan sholat Isya berjamaah. Sedangkan Diana yang sedang mendapat tamu bulanan nampak sibuk menyiapkan makan malam dan berencana makan malam saat suaminya pulang ke rumah.
Tapi nyatanya rencana Diana tertunda karena Kautsar menelepon dan lanjut dengan melakukan video call. Kautsar mengabarkan tentang kehamilan Aruna. Kabar itu membuat Arka dan Diana bahagia lalu mereka berbincang lumayan lama. Apalagi tak lama kemudian Hardini menelephon dan mengajak Diana bertemu besok.
__ADS_1
Arka menoleh saat mendengar Diana memanggil namanya.
" Makan malam udah siap Pa. Makan sekarang yuk...," ajak Diana.
" Ok...!" sahut Arka cepat sambil merengkuh bahu sang istri lalu membawanya ke ruang makan.
Diana pun tertawa melihat sikap Arka. Dalam hati ia menyesal karena telah membuat sang suami kelaparan beberapa jam.
\=\=\=\=\=
Setelah menyadari jika Aruna dan Bianca mengetahui siapa jati dirinya, Hasby pun tak pernah menampakkan diri lagi di kantor. Secara tak langsung itu menghambat kinerja perusahaan karena segala sesuatu yang membutuhkan persetujuan atau tanda tangan direktur pun tertunda.
Kenzo pun mulai risau karena melihat kekacauan yang terjadi. Ia menghubungi sang Kakek setelah memastikan Hasby tak akan kembali. Kepastian itu dia peroleh dari Aruna.
Kenzo menemui Aruna saat ia baru saja tiba di halaman perusahaan. Setelah Kautsar berlalu, Kenzo dan Aruna pun berjalan beriringan menuju loby kantor.
" Gue bingung kenapa Pak Hasby ga masuk kantor beberapa hari ini. Kinerja perusahaan lumayan terganggu karena semua dokumen penting tertahan di meja sekretaris. Emangnya Lo atau Bu Bianca ga tau kemana Pak Hasby pergi Run...?" tanya Kenzo.
" Tau lah...," sahut Aruna.
" Terus kenapa ga nyoba dihubungin...?" tanya Kenzo.
" Hubungannya kemana Ken. Ponselnya ga aktif, telephon ke rumahnya istrinya juga ga tau dia kemana...," sahut Aruna.
" Kenapa Pak Hasby jadi ga tanggung jawab kaya gini sih...," gerutu Kenzo.
" Mmm..., kayanya Lo harus ngasih tau Kakek Lo kalo Pak Hasby ga bakal balik ke sini deh Ken...," kata Aruna hati-hati.
" Lho emang kenapa...?" tanya Kenzo.
" Gue harap Lo ga kaget. Tapi ini rahasia ya. Cuma Gue, Bu Bianca sama Lo yang tau...," sahut Aruna sambil berbisik.
" Iya iya. Buruan bilang ada apaan, bikin Gue penasaran aja sih...," kata Kenzo tak sabar.
" Lo inget karyawati yang ditemukan dalam kondisi berdarah-darah di toilet waktu malam ulang tahun perusahaan kan...?" tanya Aruna.
" Iya Gue inget. Kenapa emangnya...?" tanya Kenzo.
" Wanita itu meninggal Ken. Dan Pak Hasby terlibat dengan kematian wanita itu. Lo tunggu aja sebentar lagi bakal ada kabar duka dari Rumah Sakit...," sahut Aruna cepat.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Jadi itu sebabnya. Ok, makasih Aruna. Aku bakal kasih tau Kakek sekarang...," kata Kenzo.
__ADS_1
Aruna pun mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam lift.
\=\=\=\=\=