Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
155. Pergi Jauh


__ADS_3

Saat Aruna melangkah kearah Kenzo, Kautsar pun nampak setia mendampingi. Sedangkan Kenzo, Agung dan Fadil nampak mulai berdzikir. Sementara itu Galang membaca Al Qur'an.


Suasana di dalam ruangan perlahan mulai terasa lembab, itu sesuai dengan tempat kesukaan binatang melata itu.


" Rasanya mulai dingin dan lembab ya Run...," kata Kautsar setengah berbisik.


" Iya Tsar. Kan emang tempat kaya gitu yang disukain sama lintah...," sahut Aruna yang diangguki Kautsar.


" Jangan terlalu jauh dari Aku ya Run...," pinta Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna sambil tersenyum.


Jika Aruna Cs sedang bersiap menghadapi siluman lintah, di tempat lain terlihat Edi tengah melakukan ritual.


Saat itu Edi tengah berada di ruang kerjanya. Ketiga anak dan istri Edi kebetulan sedang tak berada di rumah. Edi sengaja meminta mereka pergi keluar agar ia bisa lebih fokus menjalani ritual sesatnya itu.


Edi mulai menanggalkan pakaiannya hingga polos tanpa busana. Setelahnya ia membaca mantra tepat di hadapan sesajen yang sebelumnya telah ia siapkan.


Di dalam kamar ritual Edi terlihat banyak lintah bertebaran hampir di semua penjuru kamar. Mereka nampaknya nyaman berada di kamar ritual milik Edi itu. Selain kamar ritual itu minim pencahayaan, Edi sengaja menjadikan tempat itu lembab karena tak pernah terpapar sinar matahari.


Sambil memejamkan mata Edi terus merapal mantra yang telah dihapalnya itu berulang kali. Saat itu Edi seakan diperlihatkan sebuah tayangan bagaimana siluman lintah sembahannya itu menjalankan misinya.


Selama ini Edi selalu tersenyum puas saat melihat siluman lintah berhasil 'menyakiti' Kenzo. Ia akan tertawa terbahak-bahak saat melihat Kenzo berguling-guling di tempat tidur sambil memegangi kepalanya. Tiap kali Kenzo terlihat berupaya meminum obatnya, maka siluman lintah akan mengejarnya dan menghisap darahnya hingga Kenzo lemah tak bertenaga dan menunda meminum obatnya.


Namun Edi sedikit terusik saat Kenzo mulai tekun beribadah. Hal itu dilakukan Kenzo usai dia mendapat nasehat dari dokter Nurul. Kenzo mulai memasrahkan segalanya pada Allah Swt. Kenzo juga mulai rajin mengikuti pengajian di dekat rumah kostnya.


Imbas dari ketekunan Kenzo adalah sakit yang ia rasakan jauh berkurang. Rupanya saat Kenzo sholat, membaca Al Qur'an, berdzikir atau sedang mengikuti pengajian, maka siluman libtah tak berani mendekat. Ia seolah menunggu Kenzo lengah dan saat itu lah ia menyerangnya kembali.


Dan ketika Aruna memberi sedikit 'pukulan kecil' pada siluman lintah, itu juga mengejutkan Edi. Bagaimana tidak, siluman lintah kembali dalam kondisi luka di beberapa bagian. Tak menyebabkan kematian tapi membuat siluman lintah dan Edi memutuskan untuk segera menuntaskan misi mereka sebelum Aruna kembali menyerang.


Dan mereka rupanya memilih hari yang salah karena di saat yang sama persiapan Aruna jauh lebih matang dari Edi dan siluman sembahannya itu.

__ADS_1


Siluman lintah pergi lebih dulu menemui Kenzo. Seperti biasa, siluman lintah hanya bisa menunggu sambil mengamati kapan Kenzo lengah. Saat yang sama Edi melakukan ritual yang bisa menopang kekuatan siluman lintah.


Tapi nyali siluman lintah sedikit menciut saat melihat Aruna masuk ke dalam ruangan. Ia nampak gelisah dan menyeringai marah mengetahui siasat yang dibuat Aruna dan teman-temannya.


Perlahan ia mulai bergeser menjauh dari Kenzo seolah perlu ruang untuk bisa menghadapi Aruna.


Di saat siluman lintah dan Aruna tengah berhadapan, siluman lintah merasa jika suhu dalam ruangan menjadi panas. Sangat panas malah. Hal itu terjadi karena lantunan ayat suci dan dzikir yang dibaca bersamaan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan.


Efek dari dzikir dan lantunan ayat suci Al Qur'an yang dibaca itu membuat kulit siluman lintah yang licin dan lembab itu nampak mulai mengering. Dan saat siluman lintah bergerak, kulitnya yang mengering itu akan pecah dan terasa sangat menyakitkan hingga membuat siluman lintah mendengus kesal.


\=\=\=\=\=


Puri yang diminta keluar rumah sambil membawa ketiga anak mereka oleh Edi terlihat gembira. Selama ini Puri memang tak bisa keluar rumah dengan bebas tanpa seijin suaminya. Karenanya saat perintah itu datang Puri dengan senang hati memanfaatkan kesempatan itu.


Tanpa sepengetahuan Edi, Puri membawa uang yang simpanan mereka di brankas. Puri juga membawa serta dokumen penting dan perhiasan miliknya saat pergi 'keluar' kali ini.


Setelah menyimpannya dalam tas yang berukuran lumayan besar, Puri pun segera menyusul ketiga anaknya yang sedang menunggu di dalam mobil.


" Mmm...," sahut Edgar sambil menggenggam erat jemari Edwin.


" Mam... ma. Ba... wa apa...?" tanya Cinta sambil menunjuk tas yang dibawa sang mama.


" Ini cemilan buat Kita Sayang...," sahut Puri sambil mengusap kepala Cinta dengan sayang.


" A... ku ma... u...," pinta Cinta.


" Boleh. Tapi Mama duduk dulu dong...," sahut Puri lalu masuk ke dalam mobil setelah Cinta menggeser duduknya.


Setelahnya Puri meminta sang supir untuk melajukan kendaraannya sejauh mungkin.


" Kemana Bu...?" tanya sang supir.

__ADS_1


" Ke terminal Ram. Saya mau ajak anak-anak keluar kota mumpung Papanya kasih ijin...," sahut Puri sesantai mungkin.


" Baik Bu...," kata sang supir.


" Mam... ma, ma... na ce... mi... lan...ku...?" tanya Cinta sambil menadahkan telapak tangannya kearah sang mama.


Puri mengeluarkan makanan ringan yang dibawanya lalu memberikannya kepada tiga buah hatinya. Dengan senang hati Edwin, Edgar dan Cinta menerimanya. Mereka nampak antusias menikmatinya hingga membuat Puri tersenyum bahagia.


" Mama janji bakal bawa Kalian pergi dari neraka itu Anak-anak. Dan sekarang lah waktunya...," kata Puri dalam hati.


Puri dan anak-anaknya turun di gerbang terminal. Saat sang supir ingin mengantar mereka masuk ke dalam, Puri menolaknya. Bukan tanpa alasan Puri melakukan itu. Ia hanya tak ingin jejaknya diketahui sang supir yang bisa saja melaporkan semuanya pada Edi hingga pelariannya sia-sia.


" Tapi Ibu bakal kerepotan nanti...," kata sang supir sambil menatap ketiga anak majikannya itu satu per satu.


" Saya ga repot kok. Kan Saya udah biasa ngasuh mereka bertiga tanpa siapa pun yang bantuin. Udah gapapa, tinggal aja...," sahut Puri.


" Baik Bu. Kalo gitu Saya balik ke rumah ya...," kata sang supir.


" Iya, hati-hati...," sahut Puri.


Sang supir mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan terminal. Sang supir nampak tersenyum saat melihat pantulan Puri dan ketiga anaknya melalui kaca spion.


" Saya tau apa yang ada di benak Ibu. Saya hanya bisa berdoa semoga Ibu dan Anak-anak Ibu bahagia karena Kalian berhak mendapatkannya...," gumam sang supir dengan mata berkaca-kaca.


Sementara itu Puri nampak menghela nafas lega melihat mobil suaminya menjauh. Setelah memastikan mobil itu tak akan kembali, Puri segera mengajak ketiga anaknya masuk ke dalam terminal.


Kemudian Puri membeli tiket bus keluar kota untuknya dan ketiga anaknya. Saat bus yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan terminal, air mata Puri pun jatuh menitik di wajahnya yang pucat. Puri mengusap matanya yang basah dengan jarinya sambil tersenyum.


" Semoga masa depan Kita lebih cerah setelah ini ya Anak-anak...," gumam Puri sambil menatap ketiga anaknya bergantian.


Selama bus melaju menjauhi terminal, Puri terus menggenggam erat jemari Cinta yang duduk bersamanya. Puri terus berdoa dalam hati agar jejaknya tak terendus oleh Edi dan anak buahnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2