Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
192. Biadab


__ADS_3

Saat tiba di Rumah Sakit Dito mendapati istrinya tengah melamun di loby. Dito menghampiri sang istri dan bertanya.


" Ngapain Kamu di sini Ma. Gimana kondisi Amanda sekarang...?" tanya Dito.


" Kamu sendiri darimana Pa...?" tanya istri Dito.


" Cari angin lah. Mau ngapain lagi emangnya. Daripada pusing ngeliatin anak yang bikin malu, lebih baik Aku keluar...," sahut Dito cuek sambil melangkah mendahului sang istri.


" Yakin cuma keluar cari angin. Ga ada yang lain...?" tanya istri Dito curiga.


" Maksud Kamu apa sih Ma...?" tanya Dito sambil membalikkan tubuhnya agar bisa menatap sang istri.


" Amanda baru aja dibawa ke ruang bersalin. Kata dokter ada tanda usai melahirkan pada Amanda. Tapi sayangnya bayinya ga ada Pa. Bayi yang dilahirkan Amanda raib dan ga ada jejaknya sama sekali. Bukannya ini aneh...?" tanya istri Dito.


" Iya, memang aneh. Terus Kamu nyalahin Aku atas hilang nya bayi sia*an itu Ma...?" tanya Dito tak suka.


" Aku tau Kamu membenci bayi itu Pa. Dan Aku yakin Kamu melakukan sesuatu pada bayi itu hingga dia tak ditemukan dimana pun...," kata istri Dito gusar.


" Jaga bicaramu Ma. Aku memang ga ingin bayi itu. Dan Aku senang dia ga ada. Terus kenapa...?" tantang Dito.


Istri Dito nampak menggelengkan kepalanya lalu melangkah cepat meninggalkan Dito.


" Mau kemana Ma. Aku belum selesai bicara...!" panggil Dito.


" Dasar jahat. Aku ga kenal sama Kamu lagi. Kamu bukan Suamiku. Apa Kamu ga mikirin perasaan Amanda saat tau anaknya hilang...?" tanya istri Dito tanpa menoleh kearah suaminya.


Dito nampak menahan marah sambil mengepalkan tangannya. Ia marah karena istrinya lebih peduli pada perasaan Amanda dibanding perasaannya. Tapi sesaat kemudian Dito tampak menghela nafas panjang.


" Aku ga peduli. Yang penting anak itu lenyap..., " gumam Dito sambil tersenyum tipis.


Aruna menyudahi penglihatannya untuk melihat reaksi ruh bayi di hadapannya. Ruh bayi itu nampak sedih karena harus berakhir tragis di tangan sang dukun dan atas perintah sang Kakek.


" Apa Kamu baik-baik aja...? " tanya Aruna hati-hati.

__ADS_1


Ruh bayi itu menganggukkan kepalanya. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Aruna seolah minta Aruna agar melanjutkan penerawangannya.


Aruna tersenyum lalu kembali memejamkan matanya. Saat itu Aruna masuk ke bagian dimana ia melihat reaksi Amanda setelah dia siuman.


Amanda nampak menangis histeris saat mengetahui bayi dalam kandungannya lenyap begitu saja. Di sampingnya sang Mama tampak berusaha menghiburnya.


Sedangkan di ambang pintu terlihat Reza tengah berdiri mematung sambil membisu. Rupanya ia juga mendengar jelas apa yang disampaikan Mama Amanda tadi. Tampak jelas raut wajah sedih dan putus asa Reza saat mengetahui anaknya yang ada dalam kandungan Amanda hilang tanpa jejak.


Amanda menoleh ke ambang pintu dan melihat Reza di sana.


" Reza...!" panggil Amanda hingga membuat Reza menoleh.


" Amanda...," sahut Reza dengan suara tercekat.


" Maafin Aku Rez. Aku ga bisa menjaga anak Kita. Dia hilang Rez, maaf...," kata Amanda sambil menangis.


Seolah mengerti akan perasaan sepasang sejoli di hadapannya, istri Dito pun keluar dari ruangan untuk memberi keduanya waktu.


" Makasih Tante...," kata Reza lirih saat istri Dito melintas di sampingnya.


" Saya tau, maaf...," kata Reza namun istri Dito mengabaikan ucapannya.


Reza pun bergegas menghampiri Amanda lalu memeluknya erat. Tangis keduanya pun pecah dan itu membuat istri Dito terharu.


Di saat seperti itu Dito datang dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Bisa ditebak apa yang selanjutnya terjadi.


Dengan kasar Dito menarik Reza lalu menghajarnya hingga babak belur. Amanda pun hanya bisa menatap sang kekasih dihajar papanya tanpa bisa melakukan apapun. Usaha istri Dito untuk melerai pun tampak nya sia-sia. Dalam sekejap Reza tersungkur di lantai dengan luka lebam di sekujur wajahnya.


" Pergi dari sini dan jangan sampe Aku melihatmu lagi. Pergi...!" kata Dito lantang.


" Ampun Om. Saya cuma mau liat Anak Saya. Saya juga mau bilang kalo Saya sayang sama Amanda dan siap bertanggung jawab..., " kata Reza lirih sambil memegangi wajahnya yang lebam itu.


" Ga perlu !. Sampe kapan pun Aku ga bakal ijinin Kamu menikahi Amanda. Pergi sekarang atau Kubunuh Kau...!" ancam Dito dengan tatapan nanar.

__ADS_1


Reza yang ketakutan langsung bangkit lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Amanda terus memanggil nama Reza berulang kali. Istri Dito langsung memeluk Amanda hingga tangisnya pun mereda.


Setelah kejadian hari itu Amanda dan Reza tak pernah lagi terlihat bersama. Keduanya dipaksa berpisah. Bahkan Dito mengirim orang untuk mengawasi Amanda secara khusus.


Puncaknya adalah saat Dito menikahkan Amanda dengan pria pilihannya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Amanda. Meski hanya pernikahan siri karena Amanda masih duduk di bangku sekolah, namun itu tetap membuat Amanda shock.


Usut punya usut ternyata pria pilihan Dito adalah pria yang direkomendasikan sang dukun. Pria bernama Hambali itu adalah seorang duda yang ditinggal meninggal istrinya. Karena Hambali adalah salah satu 'klien' sang dukun, jadi bisa dipastikan jika istri Hambali pun meninggal dengan cara tak wajar akibat persekutuan Hambali dengan iblis.


Malam pertama Amanda dan Hambali adalah malam yang sangat menyiksa bagi Amanda. Karena malam itu Amanda dipaksa melayani Hambali dalam kondisi masih menjalani masa nifas.


Amanda menjerit sekuat-kuatnya saat Hambali menggaulinya. Namun Dito yang mendengar jeritan putrinya seolah menutup mata dan telinga karena telah dibutakan oleh kepatuhannya pada sang dukun.


Aruna juga diperlihatkan bagaimana situasi di dalam kamar pengantin. Hambali yang beringas nampak tak puas jika hanya sekali melampiaskan hasratnya. Ia melakukannya berkali-kali hingga Amanda pun jatuh pingsan dalam kondisi mengenaskan.


Saat itu terjadi ruh bayi Amanda menyaksikan semuanya. Ia ingin menolong sang ibu namun ia tak berdaya karena kondisinya yang terikat.


Aruna menggeram marah menyaksikan semuanya. Ia menyudahi penglihatannya itu dengan nafas terengah-engah dan air mata yang menggenang di kedua matanya.


" Sabar ya Nak. Tante janji akan bantu Kamu nanti...," kata Aruna dengan suara bergetar.


Ruh bayi Amanda nampak mengangguk lalu melesat pergi meninggal Aruna yang terduduk sambil menangis sedih.


" Itu yang Gue liat Ken. Gue ga sanggup nyaksiin kebiadaban laki-laki yang jadi Suami Amanda. Gue juga benci Pak Dito yang tega menjadikan anaknya sebagai sarana Hambali memperdalam ilmunya...," kata Aruna.


" Maksud Lo, si Hambali sengaja menikahi Amanda. Jadi dia tau kalo Amanda baru aja melahirkan dan bayinya hilang...?" tanya Kenzo dengan suara tercekat.


" Iya. Justru itu yang dia cari. Dan itu atas rekomendasi sang dukun. Darah nifas Amanda adalah makanan iblis yang disembah Hambali...," sahut Aruna cepat.


" Brengs*k, Bajin*an...!" maki Kenzo sambil menggebrak meja.


Setelah menggebrak meja Kenzo nampak memejamkan mata karena tak sanggup membayangkan seorang gadis belia dipaksa melayani naf*u laki-laki dewasa yang notabene adalah suaminya. Apalagi itu terjadi saat sang gadis masih mengalami nifas dan nyeri usai melahirkan.


Untuk sesaat suasana hening melingkupi Aruna, Kautsar dan Kenzo. Ketiganya larut dalam pikiran masing-masing yang mengembara entah kemana.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2