Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
31. Deon Pergi


__ADS_3

Suatu hari papi Deon mendatangi rumah peninggalan kakek Devia. Ia ke sana karena ingin meminta sejumlah uang. Saat tiba di sana ia terkejut karena rumah itu telah berpindah tangan. Sesuai kesepakatan dengan Jaka dan Devia, sang pengontrak rumah mengatakan jika rumah itu telah dijual dan kini menjadi miliknya.


“ Terus Devia dan adiknya pindah kemana Pak...?” tanya papi Deon.


“ Wah, Saya ga tau Pak...,” sahut sang pengontrak rumah.


“ Bapak bayar cash ya waktu itu...?” tanya papi Deon.


“ Lho, apa urusannya dengan Anda. Urusan Saya dengan Devia dan Pak Jaka...,” sahut sang pengontrak rumah.


“ Saya hanya mau tau karena di sana juga ada hak Saya Pak...,” kata papi Deon kesal.


“ Hak apa yang Anda maksud. Memangnya Anda ini siapa...?” tanya sang pengontrak rumah.


“ Saya Papinya Devia...,” sahut papi Deon.


“ Oh gitu. Setau Saya ini rumah Kakek Devia dari pihak Mamanya. Jadi Mama Devia dan anak-anaknya lah yang punya hak atas rumah ini. Harusnya Anda malu karena udah mengakui sesuatu yang bukan milik Anda. Bukankah seharusnya Anda yang menafkahi Devia dan adiknya, kok ini  malah minta jatah dari penjualan


rumah yang bukan milik Anda...,” kata sang pengontrak rumah dengan sinis hingga membuat papi Deon malu lalu pergi tanpa pamit.


\=====


Di tempat lain Aruna tengah berhadapan dengan hantu Deon. Aruna merasa sudah waktunya hantu Deon pergi menemui Tuhannya.


“ Aku mau Kak Devia dan Derry ikut mengantar kepergianku Aruna...,” kata hantu Deon.


“ Baik lah. Kita akan ajak mereka ketemuan di rumah Om Jaka ya...,” sahut Aruna yang diangguki hantu Deon.


Di hari yang ditentukan Devia dan Derry datang untuk ‘mengantar’ kepergian Deon. Namun saat proses pengantaran berlangsung, tiba-tiba papi Deon datang. Ia nampak marah dan mencoba menyakiti Devia dan Derry yang menjerit ketakutan sambil berlari ke halaman belakang rumah Jaka.

__ADS_1


“ Dasar anak kurang ajar, kemari Kalian...!” kata papi Deon lantang.


“ Tolong jangan kasari mereka Pak. Mereka ga salah...!” kata Jaka sambil menghadang papi Deon.


“ Ga usah ikut campur urusan Saya Jaka. Mereka Anak Saya, jadi terserah Saya mau ngapain mereka...,” sahut papi Deon.


“ Kalo anda berani menyentuh sehelai rambut mereka, Saya pastikan Anda mendekam di penjara Pak...,” ancam Jaka.


Namun rupanya ancaman Jaka hanya dianggap angin lalu oleh papi Deon. Pria itu mendorong Jaka hingga terjengkang ke lantai lalu mengejar Devia dan Derry. Dia berhasil menangkap tangan Devia dan hampir memukulnya.


Hantu Deon yang sangat membenci sang papi pun akhirnya maju untuk menolong kedua saudaranya itu. Dia menarik tangan sang papi kemudian menghempaskannya ke dinding. Papi Deon nampak meringis kesakitan namun tetap berusaha bangkit. Ia nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari siapa yang telah berani menyakitinya. Tak ada siapa pun di sana kecuali Devia dan Derry yang meringkuk ketakutan.


Aruna yang mengejar ke belakang pun segera mendekati Devia dan Derry. Ia memeluk Devia dan Derry lalu membawanya menjauh. Namun Derry bersikeras bertahan dan kini melangkah menghampiri sang papi.


“ Apa mau Papi. Ga capek ya terus menerus mengganggu Aku dan Kakak...?” tanya Derry.


“ Urusan Kakak juga urusanku. Karena sejak Papi mengusir Kami, hanya Aku yang ada di samping Kakak. Dan sekarang Aku udah besar Pi, udah sehat. Aku yang bakal menjaga Kakak karena Papi ga mampu menjaganya...!” kata Derry lantang.


Plakk...!


“ Turunkan suaramu. Aku ini Papimu Derry...!” kata sang papi marah.


“ Untuk Aku Papi hanya tinggal nama. Papi bukan lagi Ayahku karena tega membuang anaknya dan menghancurkan kehidupan anaknya gara-gara hasutan perempuan asing...!” sahut Derry sambil memegangi pipinya.


“ Jangan kurang ajar Derry. Aku ga pernah menghancurkan kehidupan anakku. Aku meminta Kalian pergi sementara, hanya sementara sampe Istriku bisa menerima kehadiran Kalian...,” kata papi Deon dengan suara bergetar.


“ Istri yang Papi bela itu justru membuat Papi bangkrut kan. Dan sekarang Papi datang minta uang hanya untuk memenuhi kebutuhan perempuan itu. Papi lupa ya kalo Papi sama sekali ga ngasih uang untuk Kami bertahan hidup. Terus uang apa yang mau Papi minta dari Kami. Asal Papi tau, uang yang Aku dan Kakak pake adalah uang tabungan almarhum Kak Deon. Anak yang udah Papi bunuh dengan kejam...!” kata Derry sambil menitikkan air mata.


Papi Deon tersentak kaget saat mendengar Deon meninggal dunia. Ia memang tak pernah mencari tahu keberadaan Deon sejak diculik waktu itu. Dia mengira Deon hanya menghilang seperti biasa karena tak suka dengan sepak terjangnya yang doyan main perempuan.

__ADS_1


“ De... Deon meninggal...?” tanya sang papi dengan wajah pucat.


“ Iya. Dan itu gara-gara Papi. Papi yang udah nyuruh mereka membunuh Kak Deon. Papi jahat, Papi pembunuh...!” kata Derry lantang hingga membuat sang papi jatuh terduduk di lantai.


Devia dan Jaka mencoba menenangkan Derry yang menjerit histeris sambil menangis. Deon nampak sedih melihat sang adik menangis. Hatinya terasa sakit saat menyadari dirinya tak lagi bisa menyentuh adik kesayangannya itu.


Di depan sana sang papi nampak menangis. Ia tak menyangka jika ia telah kehilangan Deon dalam arti sesungguhnya. Ia masih menangis berjam-jam lamanya tanpa seorang pun yang datang untuk menghiburnya. Saat dua orang polisi yang dihubungi Jaka datang menjemputnya, papi Deon terlihat pasrah. Rupanya Jaka sudah tak tahan dengan ulah papi Deon itu dan membuktikan ancamannya tadi.


Devia dan Derry tampak cuek saat melihat sang papi digiring masuk ke dalam mobil polisi. Mereka seolah tak peduli lagi pada nasib pria itu ke depannya. Hantu Deon pun menatap kepergian sang papi tanpa suara.


“ Gimana Deon, apa Kamu mau pergi sekarang...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Iya Aruna. Aku udah cukup puas melihat laki-laki itu menangis. Dia ga hanya kehilangan Aku, tapi juga Kak Devia dan Derry. Aku yakin setelah ini mereka ga akan mau bertemu Papi untuk waktu yang lama...,” sahut hantu Deon.


“ Kamu benar Deon. Luka hati Kak Devia dan Derry terlalu dalam dan sulit untuk sembuh. Bakal butuh waktu lama jika mereka mau memaafkan Papi Kalian...,” kata Aruna.


“ Ternyata karma itu ga selalu berupa hukuman fisik ya Run. Hukuman seperti ini justru lebih menyakitkan untuk Papi...,” kata hantu Deon lirih.


“ Iya Deon. Sekarang lupakan semua, berdamai lah dengan keadaan. Jangan membenci Papimu lagi karena hukuman Allah sedang berlaku untuknya. Tersenyum lah dan liat cahaya itu. Pergi lah ke sana dan tinggalkan semuanya. Kak Devia dan Derry sangat menyayangimu dan Kamu ga perlu khawatir lagi tentang mereka karena ada Om Jaka dan Istrinya yang akan menjaga mereka...,” kata Aruna.


Hantu Deon mengangguk. Ia menatap cahaya yang menjemputnya kemudian menoleh kearah dua saudaranya. Saat melihat Devia dan Derry tersenyum melepasnya, hantu Deon pun nampak mengangguk sambil balas tersenyum. Perlahan tubuh hantu Deon melayang ke atas. Sebelum benar-benar menghilang ia mengatakan sesuatu kepada Aruna.


“ Terima kasih telah membantu Kami Aruna. Terima kasih...,” kata hantu Deon.


“ Sama-sama...,” sahut Aruna dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


Sesaat kemudian udara di dalam rumah terasa sejuk dan harum. Devia kembali menangis saat menyadari Deon benar-benar pergi dan tak akan pernah kembali lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2