Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
25. Perkenalan


__ADS_3

Di saat semua guru yang dibantu para penduduk sekitar perkemahan masih sibuk mencari keberadaannya, tiba-tiba


Aruna muncul dari arah sungai sambil membawa beberapa ekor ikan mas di dalam ember besar berwarna merah.


Semua orang dibuat terkejut melihat kedatangan Aruna. Namun mereka bersyukur saat melihat kondisi Aruna baik-baik saja. Ahmad dan Romi bergegas menghampiri Aruna dan menanyakan banyak hal.


“ Kamu darimana Aruna...?” tanya Romi dan ahmad bersamaan.


“ Dari sungai Pak...,” sahut Aruna cepat sambil meletakkan ember berisi ikan mas di hadapannya.


“ Dari sungai sebelah mana. Kami udah nyari Kamu daritadi tapi ga ngeliat Kamu sama sekali tadi...,” kata Ahmad


gusar.


“ Masa sih Pak. Tapi Saya ngeliat Bapak sama orang-orang di sungai tadi. Saya juga ngeliat Pak Romi ngajakin


Mika, Noni dan Sheila pergi duluan ke kemah. Saya juga bingung kenapa Saya ditinggalin, padahal Saya ada di sana juga tadi...,” sahut Aruna dengan tatapan bingung.


“ Maksud Kamu apa Aruna. Jelas-jelas Kamu ga ada di sungai itu kok...,” kata Romi.


“ Saya ada di sana Pak. Pak Romi dan Pak Ahmad aja yang ga ngeliat Saya...,” sahut Aruna tak mau kalah hingga mengejutkan semua orang.


Ahmad pun melerai perdebatan Aruna dan Romi karena nampaknya Ahmad menangkap hal lain dari cerita Aruna.


“ Udah cukup. Gapapa Pak Romi, yang penting Aruna udah kembali lagi ke sini. Dan Kamu Aruna, cepat bersihkan dirimu. Kalo udah, Kamu temui Saya di depan api unggun...!” kata Ahmad tegas.


“ Baik Pak. Terus ikannya gimana Pak...?” tanya Aruna.


“ Kirim ke dapur biar dimasak untuk lauk makan malam ini...,” sahut Ahmad sambil berlalu.


Aruna mengangguk kemudian bergegas masuk ke dalam tenda setelah mengirim ikan bawaannya ke dapur. Dia disambut Mika, Noni dan Sheila dengan pelukan dan ribuan pertanyaan.


“ Ntar aja Gue ceritain. Sekarang Gue ditunggu sama Pak Ahmad buat dihukum...,” kata Aruna.


“ Kita sama-sama ke sana Aruna...,” kata Mika yang diangguki Sheila dan Noni.


“ Ngapain ?. Kan cuma Gue yang salah...,” kata Aruna.


“ Resiko Kita tanggung bersama Aruna. Kan bukan Lo aja yang ga patuh sama perintah Pak Romi tadi...,” sahut Noni cepat hingga membuat Aruna tersenyum.


“ Ok lah kalo gitu. Yuk, Kita keluar sekarang...,” ajak Aruna.


Aruna dan ketiga temannya melangkah kearah Ahmad yang saat itu sedang bicara dengan abah Yong dan para penduduk setempat. Rupanya Ahmad sedang menyampaikan permintaan maaf karena telah membuat abah Yong repot. Aruna dan ketiga temannya sengaja berdiri agak jauh dari Ahmad sebagai bentuk kesopanan.


“ Itu dia yang namanya Aruna Bah. Dia pulang sepuluh menit setelah Kami sampe perkemahan tadi...,” kata Ahmad sambil menunjuk kearah Aruna.


“ Hmm..., Saya mengerti. Alhamdulillah dia pulang dengan selamat dan sehat...,” sahut abah Yong sambil menatap lekat kearah Aruna.


“ Apa Aruna benar-benar dalam kondisi baik Abah...?” tanya Ahmad penasaran.


“ Iya...,” sahut abah Yong mantap hingga membuat Ahmad bernafas lega.


“ Alhamdulillah...,” kata Ahmad sambil mengusap wajahnya.


“ Kalo boleh Saya sarankan, sebaiknya akhiri saja perkemahan ini secepatnya Pak Ahmad. Saya khawatir ga akan bisa membantu Kalian nanti...,” kata abah Yong.


“ Iya Bah. Kami memang sudah memutuskan pulang besok sore...,” sahut Ahmad cepat.

__ADS_1


“ Bagus. Kalo gitu Kami pamit, assalamualaikum...,” kata abah Yong sambil tersenyum.


“ Wa alaikumsalam, makasih Bah. Makasih Bapak-bapak...,” sahut Ahmad sambil menjabat tangan abah Yong dan para penduduk satu per satu.


Setelah abah Yong berlalu, Ahmad menghampiri Aruna dan ketiga temannya itu.


“ Saya hanya panggil Aruna, kenapa Kalian ikut juga...?” tanya Ahmad ketus.


“ Kami mau bertanggung jawab dan siap menerima hukuman karena udah ga patuh sama perintah Pak Romi Pak...,” sahut Sheila mewakili kedua temannya.


“ Ok. Kalian bertiga temui Pak Romi dan minta hukuman langsung sama beliau. Saya hanya akan menghukum Aruna karena sudah merepotkan semua guru dan penduduk di sekitar sini...,” kata Ahmad sambil menatap Aruna yang tengah menundukkan wajahnya.


“ Tapi Pak...,” ucapan Noni terputus karena mulutnya dibekap oleh Mika.


“ Baik Pak. Kami temuin Pak Romi sekarang...,” kata Mika sambil membawa Noni menjauh dari Ahmad dan Aruna.


“ Apa yang terjadi sebenarnya Aruna ?. Kenapa Kamu bersikeras mengatakan Kamu di sungai dan ngeliat Saya dan Pak Romi tadi. Tapi kalo Kamu emang di sana, kenapa Kamu ga menyapa Kami dan ikut balik ke perkemahan...?” tanya Ahmad dengan suara lembut.


Aruna membisu karena tak nyaman dengan pertanyaan Ahmad. Ia memang baru saja mengalami kejadian aneh namun Aruna berniat menyimpannya sendiri dan akan ia ceritakan pada ummi Syarifah nanti.


“ Liat Saya Aruna...,” panggil Ahmad lagi hingga membuat Aruna mendongakkan wajahnya.


“ Maafkan Saya Pak. Saya ga bisa cerita apa yang terjadi, tapi Saya siap dihukum...,” sahut Aruna hingga membuat Ahmad menghela nafas panjang.


“ Baik lah. Malam ini Kamu jangan masuk ke dalam tenda sampe Saya ijinkan. Anggap aja itu hukuman untuk Kamu. Mengerti...?” tanya Ahmad.


“ Baik Pak...,” sahut Aruna sambil tersenyum diam-diam.


\=====


“ Jadi Aruna ga mau bilang apa yang dia lakukan di sungai tadi Pak...?” tanya Romi.


“ Iya, keliatannya dia sengaja menyembunyikan sesuatu karena ga ingin Kita cemas atau ketakutan...,” sahut Ahmad sambil melirik kearah Aruna.


“ Aneh...,” gumam Romi.


“ Kan Aruna emang dapat julukan anak aneh di sekolah Pak Romi...,” kata Husna mengingatkan.


“ Oh iya. Jujur Saya baru ngerti kenapa Aruna dapat julukan itu Bu Husna...,” sahut Romi sambil tersenyum kecut.


“ Berapa lama Pak Ahmad akan menghukum Aruna...?” tanya Husna karena iba melihat Aruna dihukum tidur di luar tenda.


“ Dua jam aja Bu. Cuma untuk memberi efek jera buat Aruna dan teman-temannya itu...,” sahut Ahmad yang diangguki Husna.


\=====


Udara malam makin dingin dan suasana sekitar perkemahan pun nampak mencekam. Semua peserta perkemahan nampak terlelap termasuk Romi dan Ahmad yang duduk di depan api unggun.


Hal berbeda justru terlihat pada Aruna yang tak bisa memejamkan mata sama sekali. Ia memilih duduk sambil mengamati sekelilingnya. Tatapannya berhenti pada rimbunan pohon bambu yang terdengar bergemerisik. Sesaat kemudian kedua bola mata Aruna membola melihat serigala yang semalam ditemuinya nampak berdiri sambil menyeringai di sana. Namun saat itu serigala itu tak sendiri. Di sampingnya terlihat seorang wanita cantik berambut pirang dan kulit seputih susu dengan gaun kuning muda yang menjuntai menutupi kakinya.


Aruna pun berdiri siaga saat melihat serigala besar dan wanita berambut pirang itu berjalan perlahan kearahnya. Lagi-lagi Aruna dibuat terkejut saat serigala itu kembali menyapanya.


“ Apa kabar Aruna. Maaf, Aku pergi tanpa pamit semalam...,” kata serigala besar itu sambil menyeringai memperlihatkan giginya yang tajam dan basah.


“ Mmm..., gapapa. Si... siapa Kalian sebenarnya. Mau apa Kalian di sini...?” tanya Aruna gugup.


“ Jangan takut Aruna, Kami ga bermaksud jahat kok...,” kata wanita cantik di samping serigala besar itu sambil tersenyum.

__ADS_1


“ Kalo Kalian ga bermaksud jahat, kenapa Kalian selalu mengikuti Aku...?” tanya Aruna ketus.


Pertanyaan Aruna membuat wanita berambut pirang dan serigala besar itu saling menatap kemudian tertawa. Kemudian wanita itu mengusap kepala serigala di sampingnya dengan sayang bahkan mendaratkan ciuman di kepala serigala itu hingga membuat Aruna bergidik ngeri.


“ Kita harusnya memperkenalkan diri dulu Sayang. Kasian kan Aruna ketakutan dan salah paham sama Kita...,” kata wanita berambut pirang itu dengan lembut.


“ Maafkan Aku Sayang, Aku lupa karena terlalu antusias bisa bertemu dengannya...,” sahut serigala besar itu sambil tersenyum.


“ Cukup !. Kalo ga ada yang mau disampein, lebih baik Kalian pergi dari sini. Aku ga mau kehadiran Kalian malah membuat semua orang ketakutan...!” kata Aruna galak.


“ Sabar Aruna, ijinkan Kami memperkenalkan diri dulu ya...,” kata wanita berambut pirang itu sambil melangkah perlahan mendekati Aruna.


“ Jangan dekat !. Kamu bisa bicara dari situ kan...,” kata Aruna sambil mengembangkan telapak tangannya ke hadapan wanita itu.


Wanita berambut pirang itu menghentikan langkahnya sambil menghela nafas panjang. Ia nampak sedikit kecewa dengan sikap Aruna.


“ Baik lah. Perkenalkan Aku Matilda dan serigala itu Suamiku. Namanya George. Kami ditugaskan menjagamu Aruna...,” kata wanita berambut pirang itu.


Ucapan Matilda membuat Aruna bingung. Berkali-kali ia menatap Matilda dan George bergantian karena tak yakin jika mereka adalah sepasang suami istri.


“ Kalian Suami Istri, bagaimana mungkin?. Kalian kan berbeda, Kamu manusia sedangkan dia serigala...,” kata Aruna tak percaya.


“ Gapapa kalo Kamu ga percaya, tapi itu lah kenyataannya Aruna...,” sahut Matilda sambil tersenyum.


“ Matilda benar Aruna, Kami memang Suami Istri yang mendapat tugas dari Raja Kami untuk menjaga dan melindungimu...,” kata George sambil melangkah ke samping Matilda.


“ Kenapa harus menjagaku segala, Aku baik-baik aja kok...,” sahut Aruna.


“ Kami tau. Untuk sementara waktu Kami cukup memberi tau keberadaan Kami di sisimu supaya Kamu ga kaget lagi ke depannya jika melihat Kami...,” kata George.


“ Sekarang Kami harus pergi Aruna, lain kali Kita bicara lagi yaa...,” kata Matilda.


“ Eh tunggu !. Kalian belum bilang siapa Raja Kalian itu dan kenapa harus melindungiku. Tolong bilang sama Raja


Kalian itu kalo Aku bisa menjaga diri dan Kalian ga perlu repot lagi...!” kata Aruna lantang namun sayangnya diabaikan oleh Matilda dan George.


Di depan sana terlihat Matilda naik ke atas punggung George. Keduanya menoleh kearah Aruna sambil tersenyum lalu melesat cepat menuju kearah sungai. Aruna menatap takjub keduanya yang melesat cepat tanpa menimbulkan suara.


“ Apa lagi ini. Ya Allah, tolong lindungi Aku dan kedua orangtuaku dimana pun Kami berada. Aamiin...,” gumam Aruna sambil mengusap wajahnya.


“ Hukumanmu udah selesai Aruna. Sekarang Kamu boleh masuk ke dalam tenda dan tidur...!” kata Ahmad tiba-tiba


hingga mengejutkan Aruna.


“ Astaghfirullah aladziim..., Pa... Pak Ahmad. Udah berapa lama Bapak di situ...?” tanya Aruna gugup.


“ Baru aja. Kenapa Aruna, apa Kamu mau tidur di luar sampe pagi...?” tanya Ahmad.


“ Iya, eh ga mau Pak...,” sahut Aruna.


“ Terus tunggu apa lagi, kenapa masih di sini...?” tanya Ahmad.


“ Iya Pak, Saya masuk sekarang. Makasih Pak...,” sahut Aruna lalu bergegas masuk ke dalam tenda menyusul ketiga temannya yang telah terlelap.


Ahmad masih berdiri di depan tenda nomor sebelas sambil menatap kearah sungai tempat Matilda dan George menghilang tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2