
Pertempuran Aruna dengan siluman lintah pun dimulai. Aruna yang melihat kondisi kulit siluman lintah mengering dan pecah nampak tersenyum tipis lalu merangsek maju.
Di depan sana siluman lintah memang nampak menggeliat kepanasan sambil mendengus kesal. Asap hitam terlihat keluar dari sela mulutnya saat ia mendengus.
Namun dengan kulit tubuhnya yang terluka, siluman lintah itu masih bisa bergerak lincah.
Karena merasa tak bisa menggapai Kenzo, siluman lintah yang marah itu pun menyerang Aruna yang memang bersikap siaga.
Siluman lintah melesatkan tubuhnya dengan cepat kearah Aruna. Ia berniat menjatuhkan tubuhhya tepat di atas Aruna karena ia berpikir dengan cara itu lah perlawanan Aruna akan mudah dipatahkan. Siluman lintah itu juga yakin dengan bobot tubuhnya yang mencapai ratusan kilo gram itu cukup membuat tubuh Aruna remuk.
Namun rupanya siasat siluman lintah itu bisa dibaca jelas oleh Aruna. Ia meraih bubuk garam dari dalam tasnya lalu menggenggamnya erat. Saat siluman lintah menjatuhkan tubuhnya di atasnya, saat itu lah Aruna mengusapkan bubuk garam di tangannya ke bagian depan tubuh siluman lintah yang memang menghadap kearahnya.
Seolah tersengat listrik ribuan volt, tubuh siluman lintah yang sedianya men*ndih tubuh Aruna itu nampak menggelepar hebat di udara lalu terpental beberapa meter ke belakang. Di tempatnya terlihat Aruna sedang mengangkat salah satu tangannya ke atas dengan telapak tangan terbuka.
Suara berdebum keras terdengar oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Untuk sesaat semua orang menghentikan bacaan dzikir mereka lalu menatap ke sekeliling seolah mencari sumber suara. Setelahnya mereka menatap Aruna yang saat itu masih mengangkat satu tangannya.
" Jangan berhenti !. Lanjutkan bacaan dzikir dan mengajinya. Jangan beri kesempatan makhluk itu memanfaatkan keadaan...!" kata Kautsar lantang hingga mengejutkan keempat teman Aruna.
Mereka pun bergegas melanjutkan apa yang tadi mereka lakukan. Kali ini mereka sengaja melakukannya lebih keras hingga suara dzikir dan lantunan ayat suci Al Qur'an terdengar menggema di dalam ruangan.
Di saat tubuh siluman lintah terpental ke belakang, di saat yang sama tubuh Edi pun terpental keras hingga membentur dinding. Ada darah yang mengalir di sela bibirnya pertanda jika Edi mengalami luka dalam.
Melihat darah Edi yang mengalir itu membuat para lintah yang bertebaran di kamar ritual itu nampak beringas. Mereka mendesis dan menatap Edi dengan nanar.
" Mau apa Kalian ?!. Kalian di sini untuk membantuku dan bukan mengamati pekerjaanku !. Jangan diem aja, ayo bantu Aku membunuh mereka...!" kata Edi lantang sambil mengibaskan pakaiannya yang tadi teronggok di lantai.
Para lintah yang jumlahnya mencapai ratusan itu mendesis seolah mengerti apa yang diucapkan Edi. Sesaat kemudian mereka pun lenyap dan berpindah tempat ke kamar rawat inap Kenzo untuk membantu siluman lintah.
\=\=\=\=\=
Agung yang serius berdzikir sambil menundukkan kepalanya nampak terusik saat melihat beberapa ekor lintah bergerak melata di lantai kamar. Agung pun menajamkan penglihatannya dan terkejut saat melihat jika lintah-lintah itu bergerak kearahnya.
__ADS_1
" Eh, kok ada lintah ya di sini. Banyak banget lagi...," kata Agung sambil bergeser dari tempat duduknya.
Suara Agung membuat semua orang menoleh kearahnya. Namun semuanya membelalakkan mata saat melihat jumlah lintah yang tak lazim itu bertebaran di kamar. Ada yang melata di lantai, ada yang menempel di dinding, ada yang menempel di plafond dan lampu, bahkan hampir di semua benda yang ada di dalam ruangan.
" Wooii ada lintah !. Banyak banget, gimana nih...?!" tanya Fadil panik.
Semua orang kecuali Aruna dan Kautsar nampak berusaha mengusir lintah yang kini mendekat kearah mereka.
Kautsar dengan sigap meraih gelas berisi air minum di meja nakas. Selanjutnya ia mengambil bubuk garam dari tas selempang Aruna dan memasukkannya ke dalam gelas. Kautsar nampak mengaduk air dalam gelas dengan jari telunjuknya sambil berdzikir.
" Cipratin pake air ini Dil...," kata Kautsar sambil menyerahkan gelas berisi air yang telah diruqyahnya tadi kepada Fadil.
" Air apaan tuh Tsar...?" tanya Kenzo.
" Itu air garam yang udah diruqyah Ken...," sahut Kautsar.
Fadil pun menerima gelas berisi air garam dari tangan Kautsar. Kemudian ia menuang sedikit air ke telapak tangannya dan mengibaskan tangannya ke sembarang arah. Keajaiban pun terjadi. Saat air garam yang telah diruqyah tadi mengenai para lintah, tubuh mereka nampak menggelepar beberapa saat lalu mati dan lenyap tanpa bekas.
" Iya. Berarti itu lintah jadi-jadian dong...," sahut Fadil.
" Kalo gitu bagi airnya Dil. Gue mau cipratin ke sebelah sana...," pinta Galang.
" Gue juga mau...!" kata Kenzo dan Agung bersamaan.
Fadil pun memberikan gelas berisi air garam itu kepada Kenzo, Galang dan Agung. Mereka bertiga menyebar ke penjuru ruangan sambil mengibaskan tangan yang telah dibasahi air garam tadi. Dalam sekejap lintah yang memenuhi ruangan itu pun mati mengering lalu lenyap begitu saja.
" Kalo ga ngalamin sendiri rasanya ga percaya ya kalo ngeliat lintah yang jumlahnya luar biasa. Anehnya lagi mereka lenyap begitu aja cuma gara-gara air garam yang udah diruqyah tadi...," kata Galang sambil menggelengkan kepalanya.
" Iya Lang. Ni malam horror banget ya. Paling horror di sepanjang hidup Gue...," sahut Agung yang diangguki Fadil dan Kenzo.
Sementara teman-temannya menghalau lintah yang jumlahnya banyak. Aruna justru berjibaku menghadapi serangan siluman lintah seorang diri. Beruntung Kautsar datang membantu dengan manaburkan bubuk garam di sekeliling arena pertempuran, hingga membuat ruang gerak siluman itu terbatas.
__ADS_1
Merasa jika ruang geraknya dibatasi, siluman lintah itu makin liar. Ia bergerak cepat menyerang Aruna sambil membuka mulutnya lebar-lebar seolah ingin menelan Aruna hidup-hidup.
Aruna tersenyum penuh makna saat melihat mulut siluman lintah itu menganga lebar di hadapannya. Dengan sigap Aruna memasukkan tangannya yang menggenggam bubuk garam itu ke dalam mulut siluman lintah. Aruna membuka genggaman tangannya di dalam mulut siluman lintah itu dan otomatis bubuk garam dalam genggaman tangannya pun terlepas.
Siluman lintah itu menjerit keras saat bubuk garam melukai rongga mulutnya. Tubuhnya yang besar itu meliuk ke sana kemari. Saat itu lah gerakannya menjadi tak terkontrol dan melibas bubuk garam yang sengaja ditaburkan Kautsar di lantai tadi.
Terdengar letupan keras seperti suara petasan yang meletus berurutan. Semua orang saling menatap sambil mengeraskan bacaan dzikir mereka karena tak tahu apa yang terjadi. Sementara itu Aruna terlihat menahan nafas saat menyaksikan tubuh siluman lintah itu ambruk ke lantai. Menggelepar sejenak lalu diam tak bergerak.
Dengan hati-hati Aruna mendekati siluman lintah itu. Lalu dengan ujung sepatunya Aruna menyentuh tubuh siluman lintah untuk mengecek kondisi siluman itu.
Tiba-tiba siluman lintah membuka matanya. Ia melirik kearah Kenzo sejenak lalu mengalihkan tatapannya kearah Aruna. Untuk sesaat kedua tatapan mereka bertemu. Siluman lintah itu nampak menyeringai sebelum akhirnya tubuh besarnya meledak dan hancur lebur. Serpihannya menyebar ke berbagai penjuru kamar hingga menimbulkan getaran hebat.
Kautsar sigap memeluk Aruna untuk melindunginya dari getaran yang datang tiba-tiba. Sedangkan keempat teman Aruna nampak menelungkup di lantai saat getaran itu datang seolah ingin menghancurkan isi kamar.
Tak lama kemudian keheningan pun menyapa. Aruna mengintip dari celah lengan Kautsar yang tengah memeluknya untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
" Alhamdulillah, udah berakhir...," bisik Aruna sambil tersenyum di dalam pelukan Kautsar.
Meski suara Aruna lirih namun masih bisa didengar oleh Kautsar dan keempat temannya.
" Alhamdulillah...!" sorak keempat teman Aruna bersamaan lalu mereka pun saling memeluk untuk mengekspresikan kegembiraan mereka.
Setelah mengurai pelukan, keempat teman Aruna nampak mengamati seisi ruangan. Mereka tertegun keheranan menyaksikan ruangan dalam keadaan utuh dan tak satu pun benda yang bergeser dari tempatnya. Padahal baru saja mereka merasakan getaran hebat di ruangan itu yang memungkinkan semua benda berjatuhan ke lantai.
" Bukannya tadi sempet ada gempa bumi ya...?" tanya Fadil sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Iya...," sahut Galang, Agung dan Kenzo bersamaan.
" Gempa bumi ghaib kali...," celetuk Agung hingga membuat semua orang tertegun sesaat kemudian tertawa bersama.
bersambung
__ADS_1