Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
265. Tamu Misterius


__ADS_3

Sulaiman yang mengikuti dari belakang pun ikut melihat hal aneh di samping rumah Alam. Saat itu Sulaiman mulai merasa takut. Kemudian saat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, ia melihat suasana rumah yang terasa angker. Di saat bersamaan ia juga merasa ada sesuatu yang menekan tubuhnya hingga ia tak bisa bergerak sama sekali.


Kautsar yang mengerti jika Sulaiman tak nyaman berada di sana bersama mereka pun membantu Sulaiman mengurangi rasa takutnya. Kautsar menepuk punggung Sulaiman sambil berdzikir hingga membuat Sulaiman bisa kembali bergerak.


" Apa Bapak masih mau bertahan di sini...?" tanya Kautsar memberikan penawaran.


" Sebaiknya Saya tunggu di luar aja ya Mas. Saya takut...," bisik Sulaiman.


" Ok, gapapa Pak...," sahut Kautsar cepat.


Sulaiman pun bergegas keluar dari rumah Alam. Ia terus berjalan tanpa menoleh lagi.


Sedangkan Aruna tampak bergeser mendekati arwah Alam yang tengah kesakitan itu. Aruna berusaha membantu Alam dengan cara membacakan beberapa ayat Al Qur'an dan berdzikir. Kautsar yang mengerti apa yang dilakukan istrinya pun segera mendekat sambil memberi isyarat kepada dokter Sheina agar ikut berdzikir.


Arwah Alam tampak menggeliat saat Kautsar mengeraskan bacaannya. Dan entah mengapa tiba-tiba patung batu berukuran kecil di samping rumah Alam pun berderak patah jadi beberapa bagian. Dan dari bekas patahan patung terlihat cairan hitam berbau busuk merembes keluar.


" Sebaiknya dokter Sheina keluar dari sini sekarang...!" kata Aruna lantang.


Mendengar suara Aruna yang lantang membuat dokter Sheina terkejut. Tanpa membuang waktu dokter Sheina bergegas lari keluar rumah karena tak sanggup melihat sesuatu yang tak masuk akal nanti. Di luar rumah dokter Sheina disambut oleh Sulaiman dan ketua RT.


" Kenapa Mbak, ada apa...?" tanya Ketua RT.


" Gapapa Pak. Saya cuma ga kuat aja di dalam. Rumahnya serem...," sahut dokter Sheina yang diangguki Sulaiman.


Rupanya Sulaiman juga memberi jawaban yang sama saat ketua RT bertanya mengapa ia keluar rumah seorang diri tadi.


Sedangkan di samping rumah Alam terlihat Aruna dan Kautsar tengah berjibaku melawan kekuatan mistis. Arwah Alam yang semula kesakitan nampak terlihat lebih tenang. Kini ia berdiri jauh dari lokasi patung berada.


" Gimana Sayang, apa Kita bisa keluar sekarang...?" tanya Kautsar saat dilihatnya Aruna menangkupkan kedua telapak tangannya.


" Iya Sayang. Tapi Kita harus bersihkan ini dulu sebentar...," sahut Aruna sambil menyiramkan pecahan patung yang berserakan di tanah itu dengan air mineral yang telah diruqyah sebelumnya.


Sesuatu pun terjadi saat air menyentuh patung batu itu. Cairan hitam berbau busuk yang tadi merembes keluar pun berhenti mengalir dan bau busuk pun lenyap.


Kautsar juga membantu memercikkan air yang dibawanya ke beberapa sudut halaman untuk mencegah sesuatu yang menghuni patung batu itu mengejar mereka. Namun tiba-tiba Kautsar menarik tangan Aruna dan membawanya lari dengan cepat.

__ADS_1


" Kita pergi sekarang Aruna...!" kata Kautsar lantang.


Bukan tanpa alasan Kautsar mengajak sang istri keluar dari rumah itu. Ia curiga karena merasa tanah yang dipijaknya bergetar usai ia menyiramkan air ruqyah tadi. Getaran yang semula samar itu berubah menjadi gelombang panas yang bergerak di dalam tanah dan itu membuatnya khawatir. Karenanya Kautsar bergegas keluar dari sana sambil menggandeng tangan Aruna.


Aruna dan Kautsar terus berlari cepat seolah dikejar sesuatu. Saat mereka tiba di luar pagar rumah Alam, sesuatu yang di luar nalar pun terjadi. Rumah besar milik Alam tertelan masuk ke dalam tanah begitu saja seolah ada kekuatan besar yang menghisap rumah itu.


Suara bising terdengar saat bangunan rumah melesak masuk ke dalam tanah. Dan dalam beberapa menit rumah mewah yang sempat membuat warga kagum itu pun hilang, lenyap tak berbekas.


" Masya Allah. Laa Haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...," gumam Kautsar sambil memeluk Aruna dengan erat.


Di samping keduanya terlihat dokter Sheina berdiri sambil menatap nanar kearah bangunan yang perlahan menghilang itu.


" Ya Allah, apa yang terjadi. Kemana rumah besar itu...?" tanya Sulaiman sambil menatap takut kearah lahan bekas rumah Alam berdiri.


" Ada apa sebenarnya, kenapa jadi begini Pak Sulaiman...?" tanya ketua RT.


" Saya juga ga tau Pak RT. Kan Saya di sini sama Bapak...," sahut Sulaiman dengan tatapan bingung.


Aruna dan Kautsar saling mengurai pelukan. Kemudian keduanya saling menatap sejenak seolah bersyukur karena berhasil keluar dari tempat itu sebelum rumah dan semua yang ada di atas lahan itu terhisap masuk ke dalam tanah.


" Alhamdulillah Aku gapapa Sayang...," sahut Kautsar sambil menyentuh tangan Aruna yang sedang menyentuh wajahnya.


" Syukurlah. Aku khawatir banget tadi...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Maafkan Aku karena menarik tanganmu terlalu keras tadi. Aku panik saat merasa getaran di dalam tanah itu disertai gelombang panas. Aku ga bisa bayangin kalo Kita terlambat sedikit saja. Mungkin saat ini Kita sudah terkubur hidup-hidup Aruna...," kata Kautsar.


" Iya gapapa, Aku juga kaget ngeliat ini...," sahut Aruna.


" Keliatannya sesuatu yang menghuni tempat ini sedang marah dan mencoba menunjukkan eksistensinya. Apa itu betul Sayang...?" tanya Kautsar.


" Betul. Sesuatu yang besar, liar dan jahat...," sahut Aruna.


" Jadi setelah ini apa yang harus Kita lakukan...?" tanya Kautsar.


" Ga ada yang bisa Kita lakukan di sini karena semua sudah hilang. Lebih baik Kita kembali ke Rumah Sakit sekarang...," sahut Aruna cepat.

__ADS_1


" Mau apa lagi ke sana Aruna...?" tanya dokter Sheina.


" Melepas Alam dokter...," sahut Aruna.


" Apa ga bisa Kita lakukan di sini aja Aruna...?" tanya dokter Sheina.


" Akan lebih mudah jika Kita lakukan di Rumah Sakit karena itu adalah tempat terakhir yang dilihat Alam...," sahut Aruna.


" Terus gimana sama mereka ?. Apa yang mau Kamu jelaskan sama mereka soal ini Aruna...?" tanya dokter Sheina sambil melirik kearah Sulaiman dan ketua RT.


" Mereka bebas beropini karena mereka juga ngeliat kalo Kita ga ngapa-ngapain di sini selain hanya melihat-lihat dok...," sahut Aruna sambil duduk di belakang Kautsar.


Dokter Sheina pun mengangguk. Setelah berpamitan dengan Sulaiman dan ketua RT, Kautsar dan dokter Sheina segera memacu kendaraannya meninggalkan tempat itu.


Setelahnya Ketua RT dan Sulaiman dibuat sibuk menjawab pertanyaan warga yang berdatangan ke rumah Alam. Mereka heran melihat rumah besar Alam hilang dalam sekejap mata.


\=\=\=\=\=


Di tempat lain terlihat kedua orangtua Alam sedang menikmati sarapan pagi. Mereka dibuat kesal dengan laporan sang asisten rumah tangga yang mengatakan ada tamu misterius ke rumah mereka.


" Siapa sih pagi-pagi begini udah bertamu BI...?" tanya ibu Alam ketus.


" Ga tau Bu. Katanya sih ada perlu sama Ibu dan Bapak...," sahut sang asisten rumah tangga.


" Namanya siapa Bi ?, masa gitu aja mesti diajarin juga...?" tanya Ayah Alam.


" Katanya Bapak sama Ibu udah kenal juga kok sama dia. Makanya Saya ga tanya lagi Pak...," sahut sang asisten rumah tangga.


Kedua orangtua Alam nampak berdecak kesal. Keduanya bangkit dari duduknya lalu bergegas keluar menemui tamu yang katanya terhormat itu dengan perasaan marah.


Saat tiba di ambang pintu tengah kedua orangtua Alam pun terkejut. Langkah keduanya terhenti, tubuh mereka pun membeku saat melihat sosok tamu yang mencari mereka tadi.


Di atas kursi tamu terlihat sosok berjubah hitam dengan penutup kepala yang juga berwarna hitam tampak tengah duduk sambil menundukkan kepalanya.


Entah mengapa melihat sosok tamu misterius itu membuat kedua orangtua Alam gelisah.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2