
Hari-hari setelah Kalisha 'menyandera' Ria di dalam ruangannya menjadi hari yang tak menyenangkan untuk Kalisha. Karena setiap kali Kalisha berdekatan dengan Ria, maka sesuatu dalam dirinya bergolak di luar kendali. Dan Kalisha benci tiap kali harus menyembunyikan hasrat membunuhnya itu di hadapan semua orang.
Seperti pagi ini. Divisi Marketing sedang melakukan evaluasi terhadap kinerja mereka bulan ini. Hal seperti ini biasa dilakukan sejak Kalisha menjadi Manager Marketing. Evaluasi biasanya dilakukan menjelang jam makan siang.
Semua karyawan Divisi Marketing telah duduk di tempat masing-masing dan sengaja menyisakan satu kursi kosong untuk Kalisha.
Saat Kalisha memasuki ruangan ia nampak mematung sejenak karena melihat tempat kosong yang disediakan untuknya berada tepat di samping Ria.
Kalisha nampak berusaha menekan rasa gugupnya. Ia lebih memilih membatalkan pertemuan itu dengan alasan harus mengerjakan sesuatu. Semua karyawan Divisi Marketing pun menyingkir tanpa banyak bicara termasuk Ria.
Saat Ria melintas di depannya Kalisha berusaha menahan nafas sambil mengepalkan tangannya. Ria yang tak menyadari jika saat itu Kalisha sedang melawan keinginan untuk memangsanya, nampak melangkah santai dan tanpa beban.
Setelahnya Kalisha langsung berlari ke toilet karena tak sanggup lagi bertahan. Di dalam toilet Kalisha langsung menyalakan air untuk menyamarkan suara geramannya.
" Sia*an. Sampe kapan Gue bisa tahan ngeliat mangsa berseliweran di depan Gue...," maki Kalisha dalam hati.
Setelah beberapa saat sembunyi di toilet, Kalisha pun akhirnya keluar dan langsung menuju ke ruangannya.
Sikap Kalisha yang berbeda dan selalu menjaga jarak darinya membuat Ria bertanya-tanya dalam hati. Namun saat ia menceritakannya pada sang kekasih, Kenzo justru menganggap itu sebagai sesuatu yang baik untuk Ria.
" Kok gitu...?" tanya Ria.
" Iya. Karena sejak Bu Kalisha menahan Kamu di ruangannya tempo hari, Aku mulai mengawasinya. Untung dia ga bikin kesalahan yang sama. Andai dia melakukan itu Aku ga akan segan untuk mendepaknya dari perusahaan ini...," sahut Kenzo dengan mimik wajah serius.
" Kamu bakal lakuin itu demi Aku Yang...?" tanya Ria.
" Iya lah. Kan Kamu calon Istriku. Masa seorang karyawan berani menyakiti calon Istriku...," sahut Kenzo hingga membuat hati Ria berbunga-bunga.
" Ehm, emang siapa sih yang berani menantang Pak Kenzo...?" tanya Aruna tiba-tiba sambil duduk di hadapan Kenzo dan Ria.
" Siapa lagi kalo bukan atasannya si Ria...," sahut Kenzo kesal.
" Maksud Lo Kalisha...?" tanya Aruna.
" Iya...!" sahut Kenzo dan Ria bersamaan.
Kemudian mengalir lah cerita dari bibir Ria termasuk cerita saat Kalisha menahannya di ruangannya.
Aruna pun menyimak cerita Ria dengan seksama. Nampaknya Aruna mulai menemukan alasan kenapa Kalisha menjauhi Ria. Aruna pun tersenyum simpul karena telah berhasil menemukan titik kelemahan Kalisha termasuk cara untuk menghadapi wanita itu.
\=\=\=\=\=
Malam itu Aruna mendatangi Kalisha di kediamannya. Sebuah rumah mewah yang rasanya terlalu 'wah' dan tak sepadan dengan gaji Kalisha sebagai Manager.
__ADS_1
Aruna datang ke sana untuk menyudahi sepak terjang Kalisha yang telah berani mengusik hidupnya.
Awalnya Aruna tak memberi tahu siapa pun tentang niatnya itu. Kautsar pun mengijinkan Aruna pergi karena mengira Aruna sedang memenuhi keinginan sang bayi. Kautsar memang tak bisa mengantar sang istri karena sedang disibukkan dengan proyek di luar kota.
Namun niat Aruna yang ingin menyambangi Kalisha seorang diri pun buyar dengan kehadiran George dan Matilda.
" Jadi Kamu berniat menuntaskan semuanya sendiri Aruna...?" sapa George saat Aruna sedang melangkah melintasi deretan pohon besar di pinggir jalan.
" Astaghfirullah aladziim. Om ngagetin Aku tau ga...?!" kata Aruna sambil menepuk dadanya sendiri.
" Apa Kamu lupa kalo Kami ini ibarat bayangan yang akan selalu mengikuti kemana pun Kamu pergi Aruna...," kata George seolah mengabaikan keterkejutan Aruna tadi.
Aruna nampak menghela nafas panjang karena sadar tak akan menang berdebat dengan George dan Matilda.
" Aku mau ke rumah Kalisha Om. Aku harus ke sana sekarang dan menyelesaikan semuanya. Aku merasa Kalisha terus menguji kesabaranku. Akan Aku tunjukkan padanya siapa Aruna sebenarnya...," kata Aruna.
" Tapi Kamu ga bisa pergi sendiri Aruna. Ini terlalu berbahaya untukmu...," kata Matilda cemas.
" Iya iya. Aku minta maaf Tante. Jika Om dan Tante ga ingin membantu, setidaknya tolong jangan halangi Aku. Bisa kan...?" tanya Aruna.
George dan Matilda saling menatap sejenak karena tahu tak akan bisa mencegah aksi Aruna kali ini.
" Baik lah. Ceritakan rencanamu Nak. Mungkin Kami bisa membantu...," pinta Matilda.
" Ria pasti marah saat tau dirinya dijadikan umpan menjebak Kalisha Nak. Tapi itu urusanmu dengannya. Sekarang Aku akan menemanimu ke rumah Kalisha, biar Om George yang akan menjemput Ria dan membawanya ke sana...," kata Matilda.
Kedua mata Aruna berbinar karena tak menyangka jika George dan Matilda akan mendukung rencananya. Kemudian mereka berpisah di jalan itu dan berjanji untuk bertemu di rumah Kalisha nanti.
" Malam ini purnama akan penuh Aruna. Berhati-hatilah...," pesan George sebelum melesat pergi.
Aruna mengangguk sambil tersenyum karena paham apa yang dimaksud oleh George.
Aruna dan Matilda tiba di depan rumah Kalisha yang mewah itu. Mereka melihat sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah yang luas itu. Mereka juga melihat Kalisha turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.
Aruna sedikit bingung saat itu karena Kalisha tak bisa mengendus keberadaannya dan Matilda di sekitarnya. Bukan kah sesama manusia serigala harusnya peka dan mengetahui keberadaan manusia serigala.
" Kamu ga usah bingung Nak. Kalisha memang gak akan pernah bisa mengendus keberadaan Kita saat ini karena Kami memang membuatnya seperti itu. Bukan lah Kita sedang mengintainya...?" tanya Matilda hingga membuat Aruna tersenyum maklum.
Tak lama kemudian George datang dengan membawa Ria yang pingsan dalam gendongannya. Lalu George meletakkan tubuh Ria persis di depan pintu rumah Kalisha. Kemudian George, Aruna dan Matilda sembunyi untuk melihat reaksi Kalisha.
Sesuatu pun terjadi. Kalisha yang saat itu sedang berbaring di atas tempat tidurnya tersentak bangun dan langsung mengejar 'aroma' yang tak asing itu. Kalisha mengikuti Indra penciumannya yang terus membawanya hingga ke pintu.
" Aroma ini..., jangan-jangan...," gumaman Kalisha terhenti saat ia tiba di balik pintu.
__ADS_1
Dengan tak sabar Kalisha membuka pintu dan menemukan tubuh Ria yang tergolek di teras rumahnya. Kedua mata Kalisha nampak berbinar dan liur pun menetes. Otak Kalisha serasa buntu dan tak bisa lagi mencerna sebab keberadaan Ria di sana. Dengan beringas Kalisha langsung menarik tubuh Ria ke dalam rumahnya dan bersiap memangsa Ria saat itu juga.
Saat pintu akan tertutup, Aruna pun melesat masuk ke dalam rumah Kalisha. Matilda dan George masih bertahan di tempat persembunyian mereka dan mengawasi pergerakan Aruna dari jauh. Mereka akan turun tangan hanya jika Aruna memerlukan bantuan.
Saat melihat sosok lain masuk ke dalam rumahnya Kalisha nampak terkejut bukan kepalang. Ia menggeram marah dan membalikkan tubuhnya untuk menghadapi sosok yang telah mengganggu kesenangannya itu.
" Siapa Kau...?!" tanya Kalisha dengan suara yang berat disertai geraman pertanda saat itu ia dalam fase berubah menjadi manusia serigala.
" Ini Aku Kalisha...," sahut Aruna santai hingga mengejutkan Kalisha.
" Kau... Aruna...?!" kata Kalisha tak percaya saat melihat Aruna yang sembunyi di balik gorden terlihat menyibak gorden lalu memperlihatkan diri.
" Iya. Apa kabar Kalisha...?" tanya Aruna dengan suara yang dalam sambil melangkah perlahan mendekati Kalisha.
Kalisha menggeram marah lalu melolong panjang bak serigala liar seiring perubahan sempurna yang dialaminya.
Aruna hanya tersenyum sinis melihat wujud Kalisha sekarang karena di saat bersamaan justru Aruna tak mengalami perubahan apa pun. Di sini jelas terlihat jika kemampuan Aruna jauh melebihi kemampuan Kalisha.
Kalisha kini berwujud manusia berkepala serigala dengan sekujur tubuh dipenuhi bulu layaknya serigala. Kedua bola matanya berwarna kuning dan itu jelas menandakan dari kelompok mana Kalisha berasal.
" Jadi Kamu dari kubu seberang Kalisha. Pantas saja tingkahmu sangat berbeda dengan Kami...," kata Aruna sambil tersenyum mengejek.
" Apa maksudmu Aruna...?" tanya Kalisha tak mengerti.
Aruna pun tertawa. Sebuah tawa merdu namun terdengar mengejek di telinga Kalisha. Ia nampak mengepalkan tangannya sambil menggeram marah lalu bergeser menjauhi Ria. Rupanya ucapan Aruna lebih membuatnya tertarik daripada darah Ria yang membuat hasrat pembunuhnya bangkit.
Melihat gerakan Kalisha yang terpancing dengan ucapannya membuat Aruna senang. Kalisha dengan tak sabar pun menyerang Aruna yang saat itu berwujud manusia biasa.
Kalisha melesat cepat dengan cakar terkembang seolah siap mengoyak wajah dan tubuh Aruna saat itu juga. Aruna yang memang siaga sejak awal pun nampak berkelit ke samping hingga serangan Kalisha hanya membentur angin.
Aruna terus berkelit menghindari serangan Kalisha hingga membuat George tersenyum melihatnya.
" Kenapa tersenyum Sayang...?" tanya Matilda tak mengerti.
" Melihat gerakan Aruna mengingatkan Aku pada Arnold saat menghadapi Dani dulu...," sahut George.
" Oh ya. Kamu kan ga melihat pertempuran mereka Sayang. Saat itu Kita sedang menjaga Bulan yang akan melahirkan Orion. Gimana bisa Kamu menganggap Aruna serupa dengan Arnold dalam menghadapi musuhnya...?" kata Matilda mengingatkan.
" Cerita dari pasukan Kita yang menyaksikan pertempuran itu membuatku tertawa waktu itu Sayang...," sahut George sambil tersenyum.
Matilda mengangguk dan ikut tersenyum. Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari tengah ruangan dan itu mengejutkan George dan Matilda. Keduanya melesat cepat untuk melihat apa yang terjadi.
bersambung
__ADS_1