
Aruna turun dari pohon saat suasana kampus benar-benar sepi. Kemudian ia berjalan menuju gerbang kampus dan berpapasan dengan mahasiswa dari fakultas lain.
" Kamu Aruna kan...?" tanya sang mahasiswa.
" Iya. Kamu siapa, maaf Aku ga kenal Kamu...," sahut Aruna.
" Gapapa. Kenalin Aku Robi temen sekelas Kautsar dulu. Aku ngomong kaya gini karena sering ngeliat Kamu sama Kautsar berdebat dulu...," kata Robi.
" Oh itu. Iya, Aku sama Kautsar emang ga akur dulu. Padahal Kami satu sekolah lho...," sahut Aruna malu-malu.
" Itu artinya Kalian udah akur sekarang...?" tanya Robi
" Alhamdulillah sedang diusahakan...," sahut Aruna.
Robi tertawa mendengar jawaban Aruna.
" Maaf sebelumnya. Kamu masih kuliah di sini...?" tanya Aruna.
" Iya. Aku dan beberapa teman yang ga sepinter Kautsar masih harus ngulang beberapa mata kuliah. Kalo Aku sempet cuti kuliah makanya baru bisa nerusin kuliah sekarang. Kautsar itu beruntung karena dia lebih pintar dari Aku makanya dia lulus lebih dulu dan kabarnya sekarang dia bekerja di perusahaan terkenal...," kata Robi sambil tersenyum kecut.
" Oh gitu...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Kamu baru pulang ?. Padahal Aku liat teman-temanmu udah pulang daritadi...," kata Robi.
" Iya, ada sedikit urusan di dalam...," sahut Aruna.
Kemudian Aruna dan Robi berjalan bersisian menuju halte. Hingga pembicaraan mereka berakhir Robi tak tahu jika Aruna adalah istri Kautsar.
" Aku duluan ya Rob...," kata Aruna.
" Iya Run. Semoga Kita bisa ketemu lagi ya. Menyenangkan ngobrol sama Kamu...," sahut Robi sambil melambaikan tangannya.
Aruna hanya mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke dalam angkot. Sedangkan Robi melepas kepergian Aruna dengan senyum mengembang.
Saat tiba di rumah Aruna disambut oleh kedua orangtua dan mertuanya. Sepuluh menit kemudian Kautsar pun tiba. Selanjutnya mereka merencanakan pergi keluar untuk makan malam.
Setelahnya Aruna nampak mengekori kedua orangtuanya yang masuk ke dalam kamar.
" Kok Kamu malah ngikut ke sini sih Nak. Kasian Kautsar kalo ditinggal sendiri. Kamu kan harus nyiapin keperluannya...," kata Diana.
" Kautsar bisa nyiapin semuanya sendiri Ma. Kami udah biasa kaya gitu kok...," sahut Aruna.
" Jangan begitu Aruna. Mama tau Kalian belum bisa seperti pasangan normal lainnya. Tapi ga ada salahnya kan belajar nyiapin semua keperluan Suamimu itu...?" tanya Diana dengan lembut.
" Iya Ma. Ntar pelan-pelan Aku belajar...," sahut Aruna hingga membuat Diana dan Arka tersenyum.
" Naik apa Kita nanti Pa...?" tanya Diana sambil menoleh kearah Arka.
__ADS_1
" Taxi on line kan bisa Ma...," sahut Arka.
" Aku sama Kautsar ke sana duluan pake motor Pa. Nanti Papa dan yang lain nyusul ya...," kata Aruna.
" Ok Sayang...," sahut Arka cepat.
" Kok gitu, kenapa ga bareng-bareng aja sih...?" protes Diana.
" Gapapa Ma. Emang Kamu mau jadi nyamuk diantara mereka, kalo Papa sih ogah...," kata Arka yang disambut tawa Aruna.
" Oh iya. Kenapa Mama lupa ya...," sahut Diana.
" Sebenernya ada apa sih Papa sama Mama ke sini. Kok bisa bareng sama Ayah dan Ibunya Kautsar...?" tanya Aruna penasaran.
" Kamu ga suka Kami ke sini...?" tanya Diana.
" Jangan salah paham Mama Sayang. Aku seneng banget kok. Cuma bingung aja...," sahut Aruna sambil memeluk Diana dengan erat.
" Justru itu. Nanti Kita obrolin sambil makan malam biar Kautsar juga denger sekalian. Gitu kan Pa...?" tanya Diana.
" Betul...," sahut Arka.
" Kasih kisi-kisinya ga bisa Ma...?" desak Aruna.
Namun Diana menggeleng dan itu membuat Aruna mengurucutkan bibirnya. Melihat hal itu Arka dan Diana pun tertawa.
\=\=\=\=\=
Saat tiba di rumah makan Aruna dan Kautsar pun duduk di tempat yang telah mereka booking sebelumnya.
" Tadi Aku ketemu cowok yang ngakunya temen Kamu Tsar. Sempet ngobrol lumayan lama juga. Namanya Robi...," kata Aruna membuka pembicaraan.
" Robi. Dia masih di kampus...?" tanya Kautsar.
" Iya. Katanya sih dia abis cuti kuliah gitu...," sahut Aruna.
" Apa dia ngomongin Aku...?" tanya Kautsar.
" Iya. Dia bilang Kamu itu lebih pinter dari dia makanya bisa lulus lebih cepet. Dia juga tau kalo sekarang Kamu kerja di perusahaan besar...," sahut Aruna.
" Cuma itu...?" tanya Kautsar.
" Dia juga tau kalo Kita dulu sering berdebat...," sahut Aruna dengan wajah merona malu saat mengingatnya.
Kautsar pun tersenyum lalu mengusap lembut pipi Aruna yang kemerahan itu.
" Tapi gara-gara itu juga Kita jadi sering ketemu dan bikin Aku jatuh cinta sama Kamu Aruna...," kata Kautsar sambil berbisik di telinga Aruna.
__ADS_1
" Jadi dulu Kamu sengaja bikin Aku kesel ya...?" tanya Aruna sambil membulatkan matanya.
" Iya. Abisnya Kamu cuek banget sih sama Aku. Padahal Aku udah sering nyapa Kamu...," sahut Kautsar sambil tertawa.
" Itu kan salah Kamu sendiri...," sahut Aruna ketus.
" Iya iya itu salah Aku. Tapi semua ga penting lagi sekarang. Karena akhirnya Kita bisa sama-sama dan menikah...," kata Kautsar sambil menarik Aruna ke dalam pelukannya lalu mencium kepala Aruna dengan sayang.
Namun moment itu terganggu dengan kehadiran kedua orangtua Kautsar.
" Hei..., sabar dong Tsar. Ini kan tempat umum. Jangan bikin yang aneh-aneh di sini ya...!" kata Hardini lantang sambil menjewer telinga Kautsar hingga Kautsar melepaskan pelukannya.
" Aduuhhh Ibu. Sakit dong...," sahut Kautsar sambil memegangi telinganya.
" Rasain. Makanya jangan mes*m di tempat umum...," kata Hardini galak.
" Siapa yang mes*m sih. Aku kan cuma meluk Istriku sendiri. Ga sampe buka baju juga...," protes Kautsar yang langsung mendapat cubitan dari Aruna.
Lagi-lagi Kautsar melonjak kaget sambil meringis hingga membuat kedua orangtua dan mertuanya tertawa terbahak-bahak.
" Kenapa sih Run...?" tanya Kautsar sambil mengusap lengannya yang tadi dicubit Aruna.
" Jangan ngomong kaya gitu bisa ga sih. Malu tau...," sahut Aruna.
" Malu sama siapa. Kan di sini keluarga semua...," kata Kautsar tak mengerti.
" Kautsaaarr...!" panggil Aruna lantang.
" Iya iya Sayang. Udah jangan marah ya...," pinta Kautsar sambil mengusap punggung tangan Aruna.
Melihat bagaimana cara Kautsar memperlakukan Aruna membuat Arka dan Diana nampak tersenyum bahagia. Kini Diana yakin jika Aruna ada di tangan yang tepat.
" Udah lapar nih, pesen dong...," pinta Hardini sambil duduk.
" Ok. Ibu mau makan apa...?" tanya Aruna sambil menyerahkan buku menu ke tangan Hardini.
" Sebentar Ibu liat dulu ya. Mmm..., makan apa Bu Diana...?" tanya Hardini.
" Daripada pusing milih, mending minta menu favoritnya aja Bu. Kalo gitu kan dijamin enak, simple lagi...," sahut Diana.
" Oh iya, betul juga. Kalo gitu Ibu sama Mama Kamu pesen menu favorit di restoran ini ya Nak...," kata Hardini.
" Siap Bu. Minumnya juga...?" tanya Aruna.
" Mijumnya air putih aja biar ga tambah gemuk...," sahut Hardini malu-malu.
Aruna mengangguk sambil tersenyum lalu memanggil pelayan rumah makan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=