
Namun serapat-rapatnya menutup bangkai toh baunya akan tercium juga. Begitu pun yang terjadi pada hubungan gelap Narko dan Mia.
Saat mengetahui perselingkuhan Narko dan Mia yang merupakan teman kecilnya, Iroh pun mengamuk. Ia mendatangi rumah Mia dan memakinya. Warga yang merasa 'kecolongan' pun terkejut karena mereka tak pernah menyaksikan perselingkuhan Narko dan Mia.
Kedua orangtua Iroh pun datang melerai, sedangkan Narko yang menjadi bahan perselisihan sedang tak berada di tempat.
" Pokoknya Aku mau cerai sama Mas Narko Bu...!" jerit Iroh.
Jeritan lroh membuat Mia tersenyum senang. Impiannya untuk menjadi istri Narko akan segera terwujud. Sedangkan ibu Iroh tampak berusaha membujuk Iroh sambil membawanya keluar dari rumah Mia.
" Sabar dulu Nak. Tunggu Narko dulu, tanya sama dia apa dia benar-benar selingkuh sama Mia. Bisa aja ini cuma gosip yang sengaja dibuat supaya Kamu dan Narko berpisah. Siapa pun tau kalo pernikahanmu dan Narko adem ayem selama ini...," nasehat ibu Iroh.
Iroh mencoba memikirkan ucapan ibunya. Namun amarah dalam hatinya terlanjur berkobar. Ia pun memilih meninggalkan rumahnya bersama Narko dan pulang ke rumah orangtuanya hari itu juga.
Narko yang tak tahu jika perselingkuhnnya telah menjadi bahan gunjingan warga desa pun terlihat santai saja. Seperti biasa ia menyapa warga desa saat melintas menuju rumahnya.
Saat tiba di rumah Narko yang tak mendapati istrinya pun masih berusaha berpikir positif. Ia mengira Iroh masih di ladang membantu mertuanya. Namun saat menjelang malam Iroh juga tak kembali, Narko pun mulai cemas. Ia pun berniat menyusul istrinya ke rumah mertuanya.
Saat melintas di dekat ladang mertuanya, Narko dihadang oleh Mia. Narko yang memang merindukan Mia pun menyambut wanita itu dengan senang hati.
" Aku kangen Mas...," rengek Mia.
Narko yang mengerti keinginan Mia pun mengangguk dan keduanya berakhir dengan melakukan hubungan terlarang di ladang itu.
Setelah menuntaskan hasrat terlarang itu keduanya masih berbaring di atas rumput sambil menatap langit. Saat itu lah Mia menceritakan apa yang terjadi di desa mereka selama Narko pergi ke kota.
" Jadi Iroh tau hubungan Kita Mi...?!" tanya Narko panik.
" Iya Mas. Kok Kamu panik gitu sih Mas. Harusnya Kamu seneng karena Kita ga perlu ngumpet-ngumpet lagi Mas. Aku capek. Aku bosan. Kapan Kamu mau menikahi Aku Mas...?" rengek Mia.
" Menikah ?. Sama Kamu Mia...?!" tanya Narko sambil tersenyum mengejek.
" Iya Mas. Jangan bilang Kamu cuma iseng sama Aku Mas !. Aku udah banyak berkorban buat Kamu ya Mas. Dan asal Kamu tau, Aku sekarang lagi hamil Anak Kamu Mas...!" kata Mia marah dan mengejutkan Narko.
Untuk sejenak Narko mengamati Mia lalu tertawa terbahak-bahak. Mia nampak mengerutkan keningnya karena bingung.
" Kamu membohongi Aku Mia. Kamu ga hamil, Kamu hanya ingin menjebakku agar menikahimu...!" kata Narko sambil berlalu.
Mia terkejut karena Narko mengetahui kebohongannya. Kemudian Mia mengejar Narko dan mengatakan sesuatu.
" Kalo Aku hamil apa Kamu mau menceraikan Iroh Mas...?!" tanya Mia.
" Tentu saja. Tapi bukannya Kamu pernah bilang kalo Kamu takut hamil ya...?" tanya Narko.
__ADS_1
" Aku ga takut lagi Mas. Asal Kamu mau tanggung jawab Aku mau kok hamil...," sahut Mia mantap.
Narko pun mengangguk sambi tersenyum dan keduanya kembali berpelukan. Tiba-tiba pelukan mereka terurai saat melihat cahaya obor menerangi tempat itu. Rupanya mereka telah diintai oleh warga dan tertangkap basah saat sedang berpelukan di tengah ladang.
Narko dan Mia tak bisa menghindar. Mereka pun pasrah saat diarak warga. Iroh yang menyaksikan suaminya diarak oleh warga pun hanya bisa menangis. Namun tangis Iroh menjadi kemarahan saat melihat bagaimana kondisi Mia saat itu.
" Jadi Kalian juga bersetu*uh di ladang Bapakku Mas...!" jerit Iroh.
" Maafkan Aku Iroh. Aku khilaf...!" sahut Narko menghiba.
" Khilaf tapi kok nambah...," kata Mia sambil mencibir.
Ucapan Mia mengundang tawa warga namun membuat Iroh dan Narko marah.
" Kita cerai Mas. Cerai...!" jerit Iroh sambil berlari ke dalam rumah orangtuanya.
Narko terkejut dan berusaha mengejar Iroh. Namun langkahnya dihadang oleh bapak Iroh yang langsung menampar wajahnya dan memukulinya hingga babak belur.
" Ceraikan Anakku sekarang juga dan pergi lah bersama simpananmu itu...!" kata bapak lroh lantang.
Dengan terpaksa Narko mengabulkan permintaan mertuanya. la pun menalak lroh malam itu juga di hadapan orang banyak.
Setelah mengucapkan talak Narko pun lari sambil menangis. la sangat mencintai lroh dan tak ingin bercerai dengannya. Tapi Narko sadar jika kesalahan yang ia lakukan terlalu besar hingga akhirnya perceraian menjadi jalan satu-satunya.
Sejak malam itu Narko tak pernah kembali ke desa itu. Iroh pun tak lagi mau menginjakkan kakinya di rumah yang Narko bangun di atas lahan milik orangtuanya.
Setahun kemudian tersiar kabar jika rumah Narko dan Iroh telah dibeli oleh seorang saudagar kaya dari kota. Sang saudagar tak hanya membeli rumah Iroh tapi lima rumah lainnya yang ada di sekitar rumah Iroh dengan harga yang fantastis. Warga yang menempati lima rumah itu pun dengan senang hati menyetujui keinginan sang saudagar dan pindah ke tempat lain.
Mia yang merasa jika di sana lah tempat ia menunggu Narko pun tetap bertahan di rumah Iroh tanpa seorang pun tahu. Mia berharap Narko akan datang suatu saat nanti untuk menjenguk istana cintanya dengan Iroh itu. Dan keinginan Mia pun terkabul.
Di suatu malam Mia melihat Narko datang. Mia gembira namun sedikit bingung karena Narko datang sambil mengendap-endap. Mia pun sembunyi di balik lemari untuk memberi kejutan. Tapi ternyata bukan Narko yang terkejut justru Mia lah yang terkejut saat melihat Narko menjelma menjadi kuyang.
Mia berdiri di tempat persembunyiannya sambil menutup mulut agar jeritannya tak keluar dan membuat kuyang itu marah.
Mia terduduk dengan tubuh bergetar hebat saat melihat tubuh Narko yang bersandar tanpa kepala itu. Sesaat kemudian Mia pun menangis karena sadar jika Narko lah yang telah memangsa bayinya dulu.
Setelah menunggu hampir sejam, kepala Narko kembali ke tubuhnya semula. Senyum puas nampak menghias wajahnya. Narko berdiri lalu menghampiri cermin untuk mengamati wajahnya yang menjadi jauh lebih muda setelah menyantap janin.
" Jadi kuyang itu Kamu Mas...," kata Mia sambil keluar dari persembunyiannya hingga mengejutkan Narko.
" Mia...?!" kata Narko.
" Iya Mas ini Aku. Aku sembunyi di sini untuk nunggu Kamu. Aku cinta sama Kamu dan ingin menjadi istrimu Mas. Tapi setelah ngeliat Kamu...," ucapan Mia terputus karena ia tak sanggup melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
" Kenapa Mia, Kamu takut ?. Asal Kamu tau Mia. Aku ga pernah mencintaimu. Aku hanya mencintai Iroh, selamanya...," kata Narko sambil menyeringai.
" Kamu jahat Mas. Kamu hanya memanfaatkan Aku. Padahal Aku tulus mencintai Kamu Mas...," sahut Mia.
" Setelah Kamu tau Aku adalah kuyang yang juga memangsa bayimu, apa Kamu masih mau menikah denganku...?" tanya Narko sambil berjalan mendekati Mia.
Mia terlihat ketakutan dan terus berjalan mundur hingga membentur dinding kayu. Narko pun berhenti tepat di hadapan Mia sambil menatap wanita itu lekat.
" Aku ga mau Mas. Aku bakal bilang sama semua warga desa kalo Kamu adalah kuyang yang selama ini mereka cari...," kata Mia sambil menatap Narko dengan berani.
" Sayangnya Kamu ga akan pernah punya kesempatan untuk bilang sama warga Mia. Karena hidupmu akan berakhir malam ini. Oh bukan, tapi saat ini juga...!" kata Narko sambil mencekik leher Mia dengan satu tangannya sementara tangan yang lain menusuk perut Mia dengan pisau yang entah dari mana ia dapatkan.
Mia pun mati seketika. Narko tertawa keras menyaksikan tubuh Mia merosot dengan mata membelalak dan perut jebol. Setelahnya Narko meletakkan tubuh Mia di kolong tempat tidur dan meninggalkannya begitu saja. Tak ada seorang pun yang tahu jika ada jasad membusuk di rumah itu karena rumah itu memang tak dihuni sejak dibeli.
Hingga sekarang arwah Mia pun penasaran dan terus menunggu Narko datang untuk menuntaskan semuanya.
Kini melihat Narko yang sekarat dengan kondisi kepala terpisah dari badan membuat Mia senang.
" Akhirnya petualanganmu berakhir Mas. Dan sialnya semua berakhir di tangan orang lain. Tapi gapapa, Aku cukup puas menyaksikanmu mati pelan-pelan...," kata arwah Mia sambil tersenyum.
" Kita harus selesaikan semua sekarang Mia...," kata Aruna mengingatkan.
" Silakan. Aku tak peduli bagaimana cara Kalian menghukumnya. Melihatnya mati mengenaskan adalah sesuatu yang menyenangkan untukku...," sahut Mia sambil melayang menjauhi tubuh dan kepala Hasby.
Aruna pun menoleh kearah Bianca dan Pasko lalu mengangguk. Pasko dan Bianca yang paham apa yang diinginkan Aruna pun langsung melanjutkan apa yang mereka kerjakan tadi.
Aruna membalikkan tubuhnya dan Kautsar langsung merengkuhnya. Bersamaan dengan itu api berkobar membakar kepala dan tubuh Hasby.
Semua berlangsung cepat dan tak ada jeritan yang terdengar. Saat itu lah Aruna menawarkan diri untuk mengantar arwah Mia ke tempat seharusnya.
" Iya Aku mau Aruna. Terima kasih...," kata arwah Mia dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama Mia...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Kemudian Aruna dan Kautsar pun mengantar arwah Mia dengan doa yang panjang. Arwah Mia nampak tersenyum bahagia sambil melambaikan tangannya saat sebuah cahaya putih keperakan datang menjemputnya.
" Alhamdulillah..., dua tugas selesai...," kata Aruna.
" Betul Sayang. Di sana kuyang itu juga udah ga bersisa lagi...," kata Kautsar sambil menoleh kearah Bianca dan Pasko yang berjalan mendekat.
Tak lama kemudian keempatnya bergegas masuk ke dalam mobil. Pasko pun memacu mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu tanpa mau menoleh lagi.
bersambung
__ADS_1