Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
122. Bantuan


__ADS_3

Di depan mata Aruna, Kautsar dan Reyhan, tubuh Aldi nampak membengkak dan merah seolah siap meledak.


" Aldi..., dia kenapa Run...?!" tanya Reyhan panik.


" Kayanya dia mau meledak Kak...," sahut Aruna.


" Eh, maksud Lo meledak kaya petasan gitu Run...?" tanya Reyhan tak percaya.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Eh, jangan g*la Lo ya. Masa Aldi meledak di dalam rumah Gue. Bisa-bisa Gue dijadiin tersangka pembunuhan sama Polisi nanti. Lagian Gue ga bisa ngebayangin kalo badan Aldi yang udah jadi mayat itu meledak Run. Baru kena cairannya sedikit aja Gue udah mau muntah karena baunya Naudzubillah banget. Apalagi kalo sampe meledak dan berceceran kena barang-barang Gue...!" kata Reyhan makin panik.


" Lo jangan berisik bisa ga sih. Aruna juga lagi mikir. Dia tau kok harus ngapain. Tapi gara-gara denger ocehan Lo yang ga berhenti malah bikin dia pusing...!" bentak Kautsar marah sambil menatap tajam kearah Reyhan.


Aruna dan Reyhan menatap Kautsar dengan tatapan berbeda. Jika Aruna menatap dengan tatapan penuh cinta, maka Reyhan menatap dengan tatapan bersalah.


" Sorry Tsar, Gue panik banget...," kata Reyhan sambil merendahkan nada suaranya.


Aruna tak merespon kedua pria yang tengah berdebat itu. Ia nampak melangkah cepat menuju pintu lalu membuka pintu lebar-lebar.


" Silakan Om...!" kata Aruna lantang.


Sadar apa yang akan dilakukan Aruna, Kautsar menarik Reyhan lalu membalikkan tubuhnya kearah lain agar Reyhan tak melihat apa yang akan dilakukan Aruna.


" Apaan sih Tsar, lepasin Gue...!" kata Reyhan sambil berusaha berontak.


" Ssstt..., diem dan nurut sama Gue. Kalo ga Lo bakal nyesel seumur hidup karena harus nyaksiin yang ga seharusnya...," sahut Kautsar sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan bibir.


" Maksud Lo apaan...?" tanya Reyhan tak mengerti sambil berusaha menoleh ke belakang.


" Lo ga bakal bisa makan enak sepanjang sisa hidupku Lo karena teringat terus sama apa yang Lo liat ini...," sahut Kautsar santai.


Jawaban Kautsar membuat Reyhan terkejut. Ia bergegas memalingkan wajahnya kearah lain karena tak bisa membayangkan sesuatu yang akan terjadi itu akan membuatnya tak bisa makan enak sepanjang sisa hidupnya. Tentu saja Reyhan tak mau itu terjadi karena ia memang sangat suka makan meski pun hanya makanan ringan.


Sementara itu Aruna masih berdiri menatap perubahan wujud Aldi. Dari pintu yang terbuka itu masuk lah George yang langsung meraih tubuh Aldi lalu membawanya pergi entah kemana.


Aruna pun mengikuti George keluar dan disambut Matilda yang berdiri di depan teras rumah Reyhan.

__ADS_1


" Ayo Sayang...," kata Matilda sambil mengulurkan tangannya kearah Aruna.


" Iya Tante...," sahut Aruna sambil tersenyum lalu meraih tangan Matilda dan menggenggamnya dengan kuat.


Sesaat kemudian Matilda dan Aruna melesat cepat menuju suatu tempat sambil bergandengan tangan. Matilda menatap Aruna yang nampak tegang itu.


" Kamu takut Nak, tanganmu dingin sekali...," kata Matilda.


" Aku ga takut Tante. Aku jijik...," sahut Aruna sambil menggelengkan kepalanya mengingat aroma busuk yang menguar dari cairan di tubuh Aldi tadi.


Jawaban Aruna membuat Matilda tersenyum.


" Kamu bisa ajak Kautsar kalo Kamu merasa ga sanggup menangani ini sendirian lho Sayang. Tante rasa Suamimu itu bisa diandalkan sekarang...," kata Matilda sambil tersenyum tipis.


" Maunya sih gitu Tan. Tapi Kak Reyhan lebih membutuhkan Kautsar sekarang. Kalo Aku kan udah dibantu Tante sama Om...," sahut Aruna dengan mata berbinar.


" Anak pintar...," puji Matilda sambil tertawa.


" Kan Tante yang ngajarin...," sahut Aruna ikut tertawa.


" Jangan Tante. Aku emang udah bisa lari cepat, tapi Aku mau Tante ada sama Aku...," sahut Aruna sambil menatap penuh harap.


Aruna yakin tatapan model ini lah yang membuat Matilda dan George luluh dan akan menuruti semua keinginannya.


" Ck, selalu aja kaya gini...," gumam Matilda sambil melengos sebal hingga membuat Aruna kembali tertawa.


Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah tanah lapang. Di sana George tengah berdiri di samping jasad Aldi yang tergolek di tanah.


" Kamu apain dia Sayang...?" tanya Matilda saat melihat Aldi tengah mengerang kesakitan.


" Cuma diikat supaya ga berontak...," sahut George.


" Diikat pake apaan...?" tanya Matilda sambil mengamati Aldi lebih seksama.


" Pake benang layangan yang Aku temuin di atas pohon tadi...," sahut George sambil menunjuk sisa layangan yang teronggok tak jauh dari jasad Aldi.


" Itu kan sakit banget Sayang. Pantesan dia menggeram begitu...," kata Matilda.

__ADS_1


" Gapapa. Cuma sebentar aja kok sambil nunggu Kamu sama Aruna datang...," sahut George sambil tersenyum.


" Terus Aku harus gimana Om...?" tanya Aruna.


" Terserah Kamu Aruna. Kami akan tetap di sini ngawasin Kamu dan bantuin Kamu kalo diperlukan...," sahut George.


" Ok, makasih Om...," kata Aruna yang diangguki George dan Matilda.


Aruna maju mendekati tubuh Aldi. Kemudian ia mencoba berkomunikasi dengan sesuatu yang ada dalam tubuh Aldi.


Tiba-tiba jasad Aldi menegang. Aruna mundur beberapa langkah karena tak ingin terkena cairan yang keluar dari tubuh Aldi akibat tergores benang layangan yang diikatkan George tadi.


Dari tempatnya berdiri Aruna bisa melihat kilasan peristiwa sesaat sebelum Aldi meregang nyawa.


Saat itu Aldi tengah berjalan gontai di atas trotoar. Ia nampak meringis menahan nyeri. Ada air mata yang mengalir membasahi wajahnya dan itu membuat Aruna mengerutkan keningnya.


Aldi nampak berhenti melangkah lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap bintang yang bertaburan di angkasa.


Tiba-tiba seorang pria berlari kearahnya dan itu mengejutkan Aldi. Ia pun berlari menghindar hingga terjadilah aksi kejar-kejaran di atas trotoar itu.


Ukuran tubuh Aldi yang ramping tak juga memudahkan untuknya berlari karena sesungguhnya Aldi sudah sangat kelelahan. Aldi pun tersandung kakinya sendiri dan itu fatal akibatnya. Pria bertubuh besar berotot dengan wajah bengis itu tertawa senang saat melihat Aldi jatuh tersungkur.


Dengan mudah pria bertubuh besar itu menangkap Aldi lalu menyeretnya ke balik pohon besar. Aldi berusaha berontak sambil menjerit meminta tolong. Namun suasana jalan yang sepi membuat suaranya menguap begitu saja. Tak seorang pun mendengar suaranya itu apalagi datang membantunya.


Pria itu nampak tertawa. Ia melempar tubuh Aldi ke tanah lalu mulai melucuti cela*a panjang Aldi. Kemudian dengan kasar ia membalik tubuh Aldi untuk melakukan pelecehan terhadap Aldi.


" Ampuunnn Bang. Udah, sakiiittt Bang...," rintih Aldi sambil menangis.


" Terus menangis dan memohon Aldi. Itu bikin Gue tambah berga*rah...," sahut pria itu sambil menekan Aldi.


Entah berapa lama peristiwa pelecehan itu terjadi. Aruna mengerjapkan matanya dan melihat tubuh Aldi terkapar tak berdaya usai pria bertubuh besar itu melampiaskan hasrat menyimpangnya itu.


Saat itu Aruna melihat pria bertubuh besar itu sedang merapikan pakaiannya dengan senyum puas yang tercetak jelas di wajahnya. Tak jauh darinya terlihat Aldi yang berusaha bangkit sambil meringis kesakitan. Dari sela bagian belakang tubuhnya mengalir darah segar pertanda jika ia mengalami luka akibat pelecehan tadi.


Aldi yang melihat pria bertubuh besar itu tengah sibuk merapikan pakaian pun segera meraih batu besar yang terletak tak jauh darinya. Lalu dengan sisa tenaga yang ia miliki dilemparnya batu besar itu kearah pria besar itu hingga tepat mengenai kepalanya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2