
Ruangan yang temaram membuat suasana makin mencekam setelah sekelebat bayangan hitam melesat keluar dari sela-sela tanah yang digali Hadi dan Kautsar.
Ustadz Dayat nampak serius berdzikir sedang Aruna sedikit menjauh saat bayangan itu melayang-layang seolah mencari sasaran.
Kautsar yang khawatir pada keselamatan Aruna sempat melihat kearah gadis itu. Kautsar melihat Aruna yang gelisah sambil sesekali menatap keluar jendela. Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Aruna, Kautsar bergegas mendekatinya.
“ Lo gapapa Run...?” tanya Kautsar.
“ Iya, Gue gapapa...,” sahut Aruna lirih.
Kautsar nampak tak percaya karena saat itu ia melihat jika kedua bola mata Aruna nampak berubah kemerahan seperti bara api. Kautsar mengira Aruna mulai kerasukan makhluk yang ada di dalam ruangan itu. Posisi Aruna yang membelakangi jendela menyebabkan wajah Aruna tak terlihat jelas oleh Kautsar.
“ Gue keluar dulu Tsar...,” kata Aruna tiba-tiba.
“ Iya, emang sebaiknya Lo tunggu di luar aja Run...,” sahut Kautsar sambil mengangguk.
Aruna bergegas membuka pintu lalu berlari secepat mungkin meninggalkan ruangan itu. Kautsar melepasnya dengan senyum karena mengira Aruna ketakutan saat melihat penampakan hantu di ruang misterius itu.
Setelah memastikan Aruna menjauh, Kautsar kembali membantu Hadi dan ustadz Dayat menggali tanah untuk mencari jasad Gayo.
\=====
Aruna masih berlari menjauhi kampus menuju taman kota yang terletak tak jauh dari kampus. Tiba di sana Aruna berhenti sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Kemudian Aruna menatap nanar ke penjuru taman karena sadar jika ia baru saja berlari dengan kecepatan yang tak terduga.
Saat masih sibuk mengatur nafasnya, tiba-tiba tatapan Aruna menggelap. Kedua bola matanya perlahan berubah menjadi merah. Aruna mendongakkan kepalanya karena tak kuasa menahan rasa sakit yang menyapa tubuhnya. Ia nampak kesakitan saat sekujur tubuh mengejang. Kedua tangannya setengah mengepal dengan urat yang menonjol keluar menandakan rasa sakit yang dirasakan Aruna melebihi ambang batas kesanggupannya. Tubuhnya pun perlahan membesar hingga membuat kemeja yang dipakai Aruna mulai koyak karena tak sanggup menutupi tubuhnya.
Diantara kesadarannya yang tinggal setengah, Aruna teringat untuk berdzikir. Kemudian Aruna mulai bertakbir. Awalnya sedikit sulit karena mulut Aruna terasa kaku saat digerakkan.
“ Allahu Akbar..., Allahu akbar. Fokus Aruna, fokus...,” gumam Aruna berkali-kali hingga perlahan rasa sakit itu hilang dan tubuhnya kembali pada kondisi normal.
Di kejauhan terlihat George dan Matilda setia menemani Aruna melewati masa peralihannya. Mereka tampak cemas namun tak lama kemudian keduanya tersenyum saat melihat Aruna berhasil melewati masa ‘kritisnya’ itu.
“ Kamu berhasil Aruna...,” kata George sambil melangkah mendekati Aruna dalam wujud serigala.
“ Aruna memang hebat...,” puji Matilda.
“ Alhamdulillah..., Aku hanya bertakbir dan berusaha tetap fokus Tante...,” sahut Aruna sambil terengah-engah.
“ Rasa sakit ini belum seberapa Nak. Masih ada rasa sakit yang lebih dahsyat daripada yang tadi Kamu rasakan saat Kamu masuk fase selanjutnya Aruna...,” kata Matilda.
“ Aku tau Tante. Tapi bisa kan kalo Kita bahas itu nanti. Sekarang Aku harus kembali ke kampus karena mereka masih menungguku...,” sahut Aruna.
“ Apa Kamu masih kuat Aruna...?” tanya Matilda cemas.
Matilda mengatakan itu bukan tanpa alasan. Biasanya setiap kali mengalami perubahan, seluruh energi akan terkuras habis. Tubuh menjadi lemah dan tak bertenaga. Apalagi Aruna belum terbiasa dengan hal itu.
“ Aku harus kuat Tante. Karena cuma sekarang satu-satunya kesempatan. Aku khawatir makhluk itu bertambah kuat nanti...,” sahut Aruna.
“ Kalo gitu naik lah, Aku akan membawamu ke sana...,” kata George sambil merendahkan tubuhnya agar Aruna bisa naik ke atas punggungnya.
“ Jangan Om. Ga sopan kalo kaya gitu...,” tolak Aruna.
“ Sekarang bukan waktunya berdebat Nak. Kamu ga mau Kautsar curiga karena ga melihatmu ada di sana kan...?” tanya George.
Aruna nampak berpikir sejenak, kemudian menoleh kearah Matilda yang nampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“ Baik lah. Maaf ya Om...,” kata Aruna sambil duduk di atas punggung George.
__ADS_1
Saat Aruna duduk di atas punggung George yang besarnya menyamai seekor kuda, rasa ngeri sempat menghampiri Aruna. Ia khawatir jatuh karena tak tahu harus berpegangan kemana.
“ Peluk lehernya kuat-kuat biar Kamu ga jatuh Aruna...,” kata Matilda dengan lembut.
“ Iya Tante...,” sahut Aruna kemudian memeluk leher serigala besar itu.
Saat George mulai berlari Aruna menjerit karena khawatir jatuh. Matilda nampak tertawa senang melihat Aruna yang memejamkan matanya sambil berpegangan erat di leher serigala itu.
Tak lama kemudian Aruna tiba di depan ruangan misterius itu. Ia turun perlahan dari punggung George yang langsung melesat cepat saat pintu terbuka.
“ Lo darimana Run...?” tanya Kautsar.
“ Dari depan. Gimana, apa jasadnya bisa diangkat...?” tanya Aruna.
“ Ga ada jasad di sana Run. Cuma ada kain lusuh tanpa jasad...,” sahut Kautsar.
“ Masa sih, coba Gue liat...,” kata Aruna lalu bergegas masuk.
Saat Aruna melintas di depannya Kautsar bisa melihat kemeja Aruna yang koyak di beberapa bagian hingga membuatnya mengerutkan kening. Dengan sigap Kautsar menahan Aruna.
“ Pake ini buat nutupin baju Lo yang sobek itu Run...,” kata Kautsar sambil mengulurkan jaketnya yang sebelumnya ia ikatkan di pinggangnya.
Aruna sedikit enggan menerima jaket itu. Tapi saat melihat kondisi pakaiannya, membuat Aruna terpaksa menerima jaket Kautsar dan mengenakannya dengan cepat.
“ Ok, Gue pinjem dulu ya. Makasih...,” kata Aruna yang diangguki Kautsar.
Kemudian keduanya masuk ke dalam ruangan menjumpai Hadi dan ustadz Dayat.
“ Nah itu dia orangnya Ustadz...,” kata Hadi.
“ Ada apa Pak...?” tanya Aruna.
Aruna menerima plastik berisi kain lusuh dan gumpalan lunak itu sambil mengerutkan keningnya. Saat itu lah Aruna mendengar suara bisikan hantu Gayo yang memintanya keluar dari tempat itu dan membakar semua benda yang dipegangnya itu segera.
“ Ini udah cukup Pak Ustadz, Kita harus keluar dari sini secepatnya...,” kata Aruna.
“ Kamu yakin Nak...?” tanya ustadz Dayat.
“ Insya Allah yakin Ustadz. Hantu Mak Gayo yang minta Kita keluar dari sini dan membakar semua secepatnya. Mungkin ini sisa jasadnya yang tertinggal dan dia ingin Kita menyempurnakannya...,” sahut Aruna.
“ Ok, kalo gitu Kita keluar dari sini sekarang...,” kata Hadi yang diangguki tiga orang lainnya.
Keempatnya bergegas meninggalkan ruangan itu lalu masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian mobil melaju cepat meninggalkan kampus menuju pantai.
“ Apa Kita ke tempat kremasi Ustadz...?” tanya Kautsar.
“ Ga perlu Nak. Kita bisa membakarnya sendiri nanti karena ini hanya gumpalan kecil daging dan bukan berbentuk manusia utuh...,” sahut ustadz Dayat.
“ Gapapa Aruna...?” tanya Kautsar.
“ Iya...,” sahut Aruna sambil terus berdzikir dalam hati.
“ Kalo gitu Kita langsung ke pantai aja ya...,” kata Hadi sambil mempercepat laju kendaraan.
“ Iya Pak Hadi...,” sahut Kautsar dan ustadz Dayat bersamaan.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya mereka tiba di sebuah pantai. Keempat orang itu turun lalu mulai membakar apa yang mereka temukan tadi dalam sebuah drum. Angin yang berhembus kencang menyebabkan api berkobar lalu melahap kain lusuh serta gumpalan daging itu dengan cepat.
__ADS_1
Setelah menunggu setengah jam dalam kebisuan, akhirnya api pun padam dengan sendirinya. Debu sisa pembakaran masih teronggok dalam drum dan menjadi dingin lebih cepat karena tertiup angin.
“ Apalagi setelah ini Run...?” tanya Kautsar memecah kesunyian.
“ Sekarang Kita kumpulin terus larung ke laut...,” sahut Aruna.
Kemudian abu dalam drum dibawa menuju tepian laut lalu ditaburkan ke laut. Diiringi doa yang dipimpin oleh ustadz Dayat, keempatnya melepas abu jenasah Gayo ke laut lepas.
Sayup-sayup Aruna mendengar suara seorang wanita di kejauhan.
“ Terima kasih Aruna. Tolong sampaikan rasa terima kasihku juga kepada mereka bertiga. Sekarang Aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih...,” kata arwah Gayo lirih sebelum lenyap sama sekali.
“ Sama-sama, insya Allah Aku sampaikan nanti...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Aruna membuat Kautsar dan Hadi menoleh kearahnya.
“ Apa dia udah pergi Run...?” tanya Kautsar.
“ Iya. Dia juga bilang tolong sampaikan rasa terima kasihnya buat Lo, Pak Ustadz dan Pak Hadi...,” sahut Aruna sambil menatap tiga pria di hadapannya secara bergantian.
“ Sama-sama...,” sahut ketiga pria di hadapan Aruna bersamaan hingga membuat Aruna tersenyum.
“ Sekarang Kita pulang yuk, udah larut banget. Kita anterin Aruna dulu baru Kita pulang ke rumah masing-masing...,” kata ustadz Dayat.
“ Siap Pak Ustadz...,” sahut Kautsar dan Hadi bersamaan.
\=====
Mobil melaju dengan cepat membelah jalan raya menuju kost an Aruna. Di dalam mobil keempatnya masih membahas apa yang terjadi di ruangan misterius itu tadi.
“ Jadi bayangan hitam itu ngamuk...?” tanya Aruna.
“ Iya. Untungnya Pak Ustadz berhasil melumpuhkan dia tadi...,” sahut Kautsar.
“ Duh jadi ga enak nih sama Ustadz dan Pak Hadi. Padahal Saya yang minta tolong, eh malah Saya yang kabur...,” kata Aruna tak enak hati hingga membuat ustadz Dayat dan Hadi tertawa.
“ Gapapa Run. Wajar lah kalo Lo ketakutan tadi, soalnya makhluk itu emang serem banget...,” kata Kautsar.
“ Emang Lo bisa ngeliat wujudnya Tsar...?” tanya Aruna.
“ Ga lah, cuma menduga-duga aja...,” sahut Kautsar cepat hingga membuat semua tertawa.
Kautsar nampak tersipu malu lalu mengalihkan tatapannya kearah lain.
“ Tadi sempet terjadi pertarungan seru antara Pak Ustadz sama makhluk itu Run...,” kata Hadi sambil menatap lurus kearah jalan raya.
“ Oh ya. Pasti menegangkan banget ya Pak...,” sahut Aruna antusias.
“ Banget. Saya sama Kautsar mah fokus ngegali aja walau pun badan merinding setengah mati tadi. Pas kedengeran suara meledak, pertarungan berhenti. Keliatannya makhluk itu kalah ya Pak Ustadz...,” kata Hadi sambil menoleh kearah ustadz Dayat.
“ Semua atas pertolongan Allah, Mas Hadi. Saya hanya perantara aja...,” sahut ustadz Dayat merendah.
“ Jadi sekarang Kita aman kan Ustadz...?” tanya Kautsar.
“ Insya Allah. Ada baiknya Kalian ga perlu ceritain ini ke siapa pun. Simpan aja untuk diri Kalian sendiri biar ga jadi fitnah...,” kata ustadz Dayat.
“ Siap Ustadz...,” sahut Aruna, Kautsar dan Hadi bersamaan.
__ADS_1
Ustadz Dayat nampak tersenyum. Dari ekor matanya ia masih bisa melihat Aruna yang duduk sambil merapatkan jaket yang dipakainya. Kemudian ustadz Dayat mengalihkan tatapannya keluar jendela sambil menghela nafas panjang.
Bersambung