
Malam itu adalah malam bulan purnama dimana Sheina dan suster Ina biasa berubah menjadi manusia serigala.
Sheina terlihat tenang karena mulai bisa mengendalikan diri saat ia berubah. Meski pun begitu Sheina masih harus banyak belajar untuk bisa mengatur perubahannya sesuai keinginannya seperti yang telah dicapai Aruna.
Berbeda dengan suster Ina. Wanita itu terlihat kacau karena di saat dirinya akan berubah menjadi manusia serigala dia justru harus bekerja shift malam. Sebuah hal yang berbahaya untuknya dan juga untuk orang-orang di sekitarnya.
Malam itu Rasyid mendatangi istrinya sekedar melepas rindu dan memberi dukungan untuk Sheina yang kerja shift malam. Kedatangannya tentu saja disambut dengan senang hati oleh Sheina.
" Kenapa ke sini ?. Bukannya Kamu juga lagi shift malam ya, emang boleh keluyuran di jam kerja...?" tanya Sheina.
" Gapapa. Aku sekalian lewat aja abis pulang patroli tadi. Dari sini Aku balik ke kantor kok. Sekarang Aku datang untuk mastiin kalo Istriku ini baik-baik aja. Nah kalo besok pagi Aku datang untuk jemput Kamu pulang...," sahut Rasyid sambil tersenyum.
" Kenapa belakangan Aku ngerasa kalo Kamu ini pintar ngegombal sih Sayang...," kata Sheina sambil bersandar manja di bahu sang suami.
" Tapi kan Aku cuma ngegombal sama Kamu Sayang...," sahut Rasyid sambil merengkuh bahu Sheina.
" Udah ah, kalo kaya gini bikin Aku ga fokus kerja. Kamu masih mau di sini atau mau pulang...?" tanya Sheina sambil bangkit berdiri.
" Aku pulang aja deh. Percuma di sini kalo Kamu sibuk ke sana ke sini...," sahut Rasyid hingga membuat Sheina tertawa.
" Kan ini emang jam kerja Aku...," kata Sheina sambil menatap sang suami dengan lembut.
" Iya iya, Aku tau kok. Sekarang Aku pulang ya, insya Allah besok pagi Aku jemput Kamu. Assalamualaikum..., " pamit Rasyid setelah mengecup kening Sheina.
" Wa alaikumsalam, hati-hati ya...," kata Sheina yang diangguki Rasyid.
Sheina pun melepas kepergian Rasyid sambil tersenyum. Setelahnya Sheina berbalik untuk mengecek kondisi pasiennya.
\=\=\=\=\=
Rasyid yang melangkah santai telah tiba di parkiran. Ia mengedarkan pandangannya sejenak sebelum menstarter motornya. Sedikit bingung karena suasana di parkiran dan sekitar Rumah Sakit tampak sepi dan lengang malam itu, jauh berbeda dari biasanya. Saat itu lah Rasyid melihat kelebatan bayangan hitam di atas atap Rumah Sakit. Tak membuang waktu Rasyid segera menghubungi Raka dan memintanya datang ke Rumah Sakit.
" Cepetan Ka, Gue masih di parkiran Rumah Sakit nih...," kata Rasyid.
" Ok, tunggu Gue Syid. Gue otw sekarang...," sahut Raka cepat.
__ADS_1
Rasyid yang saat itu masih mengenakan seragam kebanggaannya nampak meraba pinggangnya untuk memastikan pistolnya dalam kondisi siap. Setelahnya Rasyid berjalan ke samping parkiran untuk mengikuti arah hilangnya bayangan hitam tadi.
Saat itu ia melihat sebuah tempat yang mirip gudang karena ia melihat beberapa perlengkapan membersihkan taman di sana. Saat sedang sibuk mengamati tempat itu Raka pun datang. Rasyid bergegas menghampiri Raka dan menceritakan kembali apa yang ia lihat tadi.
" Ikut Gue ke sana yuk Ka...," ajak Rasyid.
" Ok. Jangan terlalu mencolok Syid. Ini kan bukan wilayah Kita, selain itu rahasia Kita jangan sampe ketauan sama orang...," kata Raka mengingatkan.
" Iya, Gue tau...," sahut Rasyid.
Kemudian Rasyid dan Raka berjalan kearah hilangnya bayangan hitam tadi.
" Yakin di sini...?" tanya Raka.
" Iya...," sahut Rasyid.
Tiba-tiba mereka mendengar suara geraman hewan buas. Rasyid dan Raka saling menatap karena mendengar jelas suara itu. Refleks mereka meraih pistol dari pinggang masing-masing dan bersiap menghadang di dua titik berbeda. Namun mereka juga dikejutkan dengan suara geraman lain yang datang dari balik pohon besar yang ada di taman.
" Ada dua Syid...!" kata Raka.
" Ok, hati-hati Syid...," kata Raka sambil bergerak menuju tempat yang mereka intai sejak tadi.
" Siap, Lo juga...," sahut Rasyid sambil melangkah pelan mendekati pohon besar itu.
Raka mengamati makhluk yang menggeram tadi dan terkejut saat melihat bagaimana wujudnya. Walau sebelumnya Raka pernah melihat penampakan makhluk itu, namun berada dekat seperti ini membuat Raka berkeringat. Ia menggenggam pistol sambil melempar kerikil kearah makhluk itu yang tampaknya sedang menikmati sesuatu.
Makhluk itu mendongakkan kepalanya dan marah saat mengetahui ada orang lain yang mengganggu kesenangannya. Dengan gerakan cepat makhluk itu melompat lalu menyerang Raka.
Raka yang terkejut pun berusaha menghindar. Tapi Raka kalah cepat. Sesaat kemudian Raka meringis karena lengannya dicabik oleh kuku makhluk itu hingga terluka dalam dan mengeluarkan darah segar. Melihat darah di lengan Raka membuat makhluk itu semakin liar. Dia merangsek maju seolah ingin segera menuntaskan hasratnya.
Raka yang tahu jika makhluk itu menginginkan darahnya pun berusaha membawa makhluk itu ke tempat terang karena yakin jika makhluk itu tak suka tempat terang. Tindakan Raka membuat makhluk itu marah. Dalam sekali lompatan makhluk itu berhasil menjangkau Raka lalu mengigit pundak Raka.
Rasa sakit yang menyergap pundaknya membuat Raka terpaku sejenak. Apalagi Raka juga merasa lemas dan mulai kehilangan kesadaran karena makhluk itu menghirup darahnya dengan cepat dan rakus. Namun di sisa kesadarannya Raka berhasil mengarahkan pistolnya tepat di perut makhluk itu dan menembaknya.
Suara dua kali letusan pistol menggema di udara. Rasyid tersenyum karena mengira Raka berhasil meringkus makhluk itu.
__ADS_1
Raka memang berhasil melukai makhluk hitam itu. Namun kondisinya pun tak lebih baik dari makhluk itu. Luka menganga di pundak dan lengannya, ditambah banyak darah yang telah dihirup oleh makhluk itu membuat Raka lemah lalu jatuh pingsan.
Sedangkan di depan Raka terlihat makhluk hitam itu sedang mengejang sekarat di tanah. Perutnya jebol dengan darah membanjiri tubuhnya. Geramannya perlahan memudar dan hanya menyisakan dengusan kasar dari hidungnya.
Perlahan makhluk hitam berbulu itu berubah kembali menjadi manusia. Dan jika diamati dari dekat ternyata dia adalah suster Ina.Setelah bulu di sekujur tubuh dan wajahnya lenyap, kini hanya tersisa tubuh polos tanpa busana wanita itu di tanah.
Suster Ina mengerang sekali lagi saat merasakan sakit yang amat sangat. Saat itu bayangan dokter Sheina melintas di kepalanya. Ia menyesal karena tak mengindahkan peringatan sang dokter. Kini ia harus menanggung sakit dan mungkin malu karena sebentar lagi banyak orang yang akan melihat kondisinya yang tanpa busana itu.
Namun di saat kritis itu Matilda datang dan langsung meraih tubuh suster Ina lalu membawanya pergi jauh. Hanya ada genangan darah di bekas tubuh suster Ina tadi.
Suster Ina menatap wajah wanita yang tengah menggendongnya itu dan terkejut saat mengenali Matilda. Ia ingin menyapa namun mulutnya terasa terkunci.
Matilda berhenti berlari saat mereka tiba di sebuah tanah lapang.
" Kita sampai...," kata Matilda sambil meletakkan tubuh suster Ina di tanah.
" Nyonya Matilda..., Kamu...," ucapan suster Ina terputus karena Matilda memotong cepat.
" Iya Suster Ina. Kita sama hanya berbeda klan. Aku membawamu ke sini supaya kematianmu ga jadi fitnah untuk manusia serigala lainnya...," kata Matilda hingga mengejutkan suster Ina.
" Manusia serigala lain, apa itu artinya dokter Sheina juga...," ucapan suster Ina menggantung di udara.
" Tentu saja. Apa Kamu tak tahu itu Suster...?" tanya Matilda.
Suster Ina menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut. Ia mengerti sekarang mengapa dokter Sheina bisa mengetahui jati dirinya yang asli padahal selama ini tak seorang pun tahu tentang sisi gelapnya itu.
" Harusnya Aku mematuhinya...," kata suster Ina di sela nafasnya yang tersisa.
" Harusnya begitu. Sekarang pergi lah Suster Ina...," kata Matilda sambil berjongkok di samping suster Ina.
" Terima kasih Nyonya Matilda. Andai bisa mengenalmu lebih awal Aku pasti bahagia...," kata suster Ina setengah berbisik.
Matilda mengangguk lalu tersenyum melihat suster Ina menutup matanya. Setelah memastikan suster Ina meninggal dunia, Matilda melakukan gerakan aneh seperti jurus tertentu hingga membuat tubuh suster Ina mengepulkan asap lalu terbakar.
Matilda menghela nafas panjang menyaksikan tubuh suster Ina habis dilalap si jago merah. Tanpa menunggu api padam Matilda bergegas melesat pergi meninggalkan tempat itu karena khawatir dengan nasib Sheina.
__ADS_1
bersambung