Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
176. Ngisi Energi


__ADS_3

Sore itu Aruna sengaja menunggu Kautsar datang menjemputnya. Berkali-kali Aruna melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Setengah jam kemudian Kautsar datang dan menghentikan motornya di depan Aruna.


" Assalamualaikum Sayang, maaf telat ya...," sapa Kautsar.


" Wa alaikumsalam. Gapapa, masih sempet kok. Yuk jalan...," ajak Aruna saat duduk di belakang Kautsar.


" Kemana...?" tanya Kautsar.


" Ke rumah dukun yang bantuin Dian...," sahut Aruna.


" Ngapain ke sana...?" tanya Kautsar.


" Mau nuntasin urusan Dian sama Lian...," sahut Aruna cepat.


Kautsar nampak menghela nafas panjang dan Aruna sadar jika suaminya tak menyukai aksinya kali ini.


" Kenapa mendadak sih...?" tanya Kautsar.


" Terus Aku harus gimana ?. Masa Aku batalin gitu aja padahal Aku udah janji tadi...," sahut Aruna.


" Bukan Aku ga mau bantu Kamu Sayang. Tapi ngadepin hal kaya gini kan butuh persiapan yang matang. Aku ga mau Kamu terluka karena fokus nolongin mereka tanpa persiapan. Ngerti ga...?" tanya Kautsar sambil menoleh kearah Aruna.


" Iya Aku ngerti. Tapi maaf kalo Aku ngebantah Kamu. Waktunya hanya malam ini Tsar. Dan Aku ga mau ngelewatin ini gitu aja. Aku khawatir kalo ditunda, iblis itu justru bertambah kuat dan bakal sulit buat ngadepinnya nanti...," sahut Aruna.


" Ok. Kali ini Kita bisa bantu tapi ke depannya ga boleh mendadak lagi ya Aruna...," kata Kautsar mengingatkan.


" Siap Bos...!" sahut Aruna sambil mengecup pipi sang suami dengan cepat.


Kautsar tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian ia melajukan motornya menuju tempat yang dimaksud ruh Lian.


Sejam kemudian mereka tiba di rumah dukun yang dimaksud ruh Lian. Dari kejauhan mereka melihat Dian yang berwujud Lian sedang mengetuk pintu. Saat pintu terbuka, Lian nampak menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menyelinap masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


" Pas banget ya nyari rumah dukun di tempat sepi dan terpencil gini...," kata Kautsar.


" Namanya dukun ilmu hitam ya pasti sukanya di tempat sepi, gelap dan terpencil kaya gini Sayang. Kalo dukun ilmu putih pasti lebih suka di tempat yang terang, rame dan keliatan orang...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Terus Kita ngapain nih...?" tanya Kautsar.


" Kita ke sana. Ke samping rumah itu..., " ajak Aruna sambil berjalan tanpa suara.


Kautsar mengekori istrinya. Ia melihat jika Aruna menyelinap diantara semak belukar yang tumbuh di samping rumah tempat Lian masuk tadi.


Saat Kautsar ikut masuk ke dalamnya ia terkejut karena ada beberapa kerangka manusia yang sudah tak utuh lagi teronggok di sana. Posisinya saling bertumpukan tak beraturan menandakan jika mereka ditinggalkan begitu saja tanpa diurus sebagaimana layaknya.


" Ya Allah. Ini pasti korban dari dukun sesat itu ya Run...," bisik Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna.


Ruh Lian yang melihat kehadiran Kautsar pun menatap Aruna seolah minta penjelasan. Aruna yang mengerti arti tatapan ruh Lian pun menjelaskan.


" Ini Suamiku. Dia yang membantu Aku menuntaskan semua masalah tak kasat mata yang Aku hadapi selama ini...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Insya Allah keberadaannya di sini bakal banyak membantu Kita nanti...," sahut Aruna mantap.


" Baik lah. Sekarang Kamu liat apa yang dilakukan Dian di dalam sana...," kata ruh Lian sambil menunjuk sebuah lubang di dinding.


Aruna lalu melihat ke dalam lubang yang mengarah ke ruangan dimana jasad Dian berada. Aruna nampak menahan nafas saat melihat apa yang sedang dilakukan sang dukun yang seorang pria tua itu terhadap jasad Dian.


Di depan matanya dan disaksikan ruh Dian yang kini menempati raga Lian, sang dukun tengah melakukan tindakan asusila pada jasad Dian.


" Menjijikkan...!" gumam Aruna marah lalu menjauh dari lubang itu.


Kautsar yang penasaran pun menggantikan Aruna melihat melalui lubang itu. Sesaat kemudian Kautsar nampak menggeram kesal.


" Dasar dukun cab*l...," maki Kautsar sambil menjauh dari lubang.

__ADS_1


Setelahnya Kautsar menoleh kearah sang istri dan memintanya segera menyelesaikan semuanya.


" Tunggu apa lagi sih Sayang ?. Sekarang aja mumpung dukun itu lagi ngefly...," paksa Kautsar.


" Kita ga bisa melakukan apa-apa sampe si dukun itu selesai menuntaskan hasratnya Tsar...," kata Aruna.


" Sampe kapan ?. Kalo dukun itu masih mau main lagi sampe berjam-jam gimana...?" tanya Kautsar kesal.


" Ga akan selama itu juga kali. Dia kan udah tua. Mana mungkin bisa bertahan berjam-jam..., " sahut Aruna sambil melengos.


" Bisa aja lho Sayang. Apalagi laki-laki mes*m kaya dia pasti pake ramuan khusus biar lebih lama begituan...," kata Kautsar.


" Ck, udah ga usah bahas itu kenapa sih Tsar. Aku mual tau...," pinta Aruna.


Kautsar terdiam lalu mulai mengamati tulang belulang manusia yang berserakan di sekitarnya. Ia yakin jika tulang belulang itu milik wanita-wanita yang menjadi korban dukun berilmu hitam itu.


" Kasian banget ya mereka. Karena ga punya iman datang ke dukun buat minta bantuan. Bukan untung malah buntung. Buktinya mereka mati sia-sia tanpa setau keluarganya...," kata Kautsar sambil menggedikkan bahunya.


" Iya. Siapa tau mereka juga ketipu...," sahut Aruna asal.


" Bisa juga. Tapi saat pertama kali dilecehkan harusnya mereka sadar dan ga balik lagi ke sini kan...," kata Kautsar.


" Apa semuanya dilecehin sama dukun itu Tsar. Darimana Kamu tau...?" tanya Aruna sambil menatap Kautsar dengan tatapan bingung.


" Liat aja kerangka itu Run. Perhiasan di tangan, leher dan jari mereka masih utuh. Tapi ga ada satu pun dari mereka yang mengenakan pakaian. Karena ga ada sisa sobekan kain satu pun yang tertinggal di sini. Itu tandanya dukun itu ga maruk harta. Dia menginginkan sesuatu dari para wanita ini. Apalagi kalo bukan hubungan intim. Makanya dia langsung membuang para wanita yang udah ga bisa memuaskannya begitu aja di sini. Mungkin salah satu diantaranya masih hidup saat ditelantarkan di sini. Mereka perlahan tewas karena ga mendapat makanan dan air...," sahut Kautsar.


Aruna dan ruh Lian pun mengamati kerangka di hadapan mereka satu per satu. Mereka mengiyakan ucapan Kautsar karena nyatanya memang seperti itu. Perhiasan di tubuh kerangka masih utuh, tapi pakaian mereka raib entah kemana.


Sementara itu di dalam rumah terlihat Lian masih berdiri mematung sambil menyaksikan tubuhnya dilecehkan oleh dukun itu. Entah berapa lama ia harus menyaksikan 'dirinya' dilecehkan seperti itu.


Awalnya Dian marah saat mengetahui tubuhnya dilecehkan oleh sang dukun. Namun sang dukun menjelaskan jika pelecehan yang dilihat Dian adalah salah satu ritual pengisian energi yang dilakukan sang dukun kepada jasad Dian.


" Tujuannya ya biar jasadmu ini tetep hidup. Saat Kamu bosan di tubuh itu, Kamu masih bisa balik lagi ke tubuh aslimu...," kata sang dukun kala itu dan Dian pun percaya begitu saja.

__ADS_1


Setelah menuntaskan hasratnya dukun itu nampak duduk bersila di hadapan raga Dian yang sesaat tadi usai ia lecehkan. Sang dukun nampak membaca mantra lalu menoleh kearah Lian.


\=\=\=\=\=


__ADS_2