Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
236. Kontrakan Ria


__ADS_3

Ria pun membuka pintu dan menyapa tetangganya yang sedang berkumpul di teras rumahnya itu dengan ramah.


" Mau berangkat ya Mbak Ria...?" tanya seorang wanita bernama Usi.


" Iya Mbak Usi...," sahut Ria sambil mengunci pintu.


" Maaf ya kalo Kita di sini terus. Soalnya di sini tempatnya strategis Mbak Ria. Bisa ngobrol sekalian ngawasin anak-anak main. Terus bisa belanja sayuran juga pas si mang Oin lewat...," kata Luluk menambahkan.


" Iya Bu, gapapa kok. Maaf Saya harus segera berangkat, soalnya khawatir terlambat. Assalamualaikum...," pamit Ria.


" Wa alaikumsalam, hati-hati ya Mbak Ria...," sahut semua orang bersamaan.


Ria mengangguk lalu mempercepat langkahnya meninggalkan rumah. Ia tahu jika setelah ini bakal menjadi bahan gosip tapi Ria tak peduli.


Ria tiba di kantor tepat waktu. Saat itu ia melihat Aruna yang berdiri di loby sambil menatap kearahnya.


" Kenapa ngeliatin Gue kaya gitu sih Run...?" tanya Ria sambil mengamati dirinya sendiri.


" Gapapa. Lo baik-baik aja kan Ri...?" tanya Aruna.


" Alhamdulillah baik kok. Kenapa sih...?" tanya Ria tak mengerti.


Aruna tersenyum lalu merengkuh bahu Ria dan membawanya melangkah. Dalam hati Aruna merasa lega karena ternyata Ria tak mengingat kejadian di rumah Kalisha kemarin malam.


" Eh, ada apaan tuh Run...?" tanya Ria saat melihat beberapa orang mengeluarkan barang-barang milik Kalisha dari ruangan Manager.


" Ga tau. Gue kan juga baru datang sama kaya Lo...," sahut Aruna.


Kemudian Ria bertanya pada salah satu rekannya.


" OB bilang ada amplop besar di locker yang bertuliskan 'tolong dibaca'. Pas OB buka amplop itu ternyata isinya surat yang ditulis pake huruf kapital semua. Intinya di surat itu Bu Kalisha bilang kalo dia ga bakal kembali lagi ke sini. Dia udah dapet kerjaan baru di tempat lain. Dan Bu Kalisha minta semua barang miliknya diberesin terus kirim ke alamat yang udah dia kasih...," kata teman Ria bernama Mita.


" Oh gitu. Kok aneh ya. Mendadak pergi tanpa penjelasan kaya gini. Terus OB langsung beresin ruangan Bu Kalisha...?" tanya Ria.


" Sebelumnya lapor dulu sama Pak Simon. Eh, Pak Simon malah bilang ikutin aja permintaannya. Jadi OB pun langsung beresin semua barang Bu Kalisha dan siap dikirim balik ke rumahnya...," sahut Mita.


Ucapan Mita membuat Aruna dan Ria saling bertatapan sejenak. Setelahnya Ria mencoba menghubungi Kenzo dan menanyakan kepergian Kalisha pada sang kekasih.

__ADS_1


" Bagus deh. Jadi Aku ga perlu repot-repot ngusir dia dari perusahaan Kakek...," kata Kenzo ketus.


" Tapi...," ucapan Ria terputus.


" Jangan bahas dia lagi Sayang. Dia yang pergi berarti itu bukan urusan Kita lagi...," kata Kenzo hingga membuat Ria tak enak hati.


Ria pun menutup sambungan telephon dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


" Kalo menurut Lo Bu Kalisha itu pergi kemana Run...?" tanya Ria.


" Ga tau...," sahut Aruna sambil menggedikkan bahunya.


Kemudian Aruna melangkah keluar dari Divisi Marketing. Aruna senang karena George membuat kepergian Kalisha dengan cara yang halus dan sulit terlacak.


\=\=\=\=\=


Usi dan Luluk nampak tersenyum saat melihat kedatangan Ria yang kali ini nampak tak datang sendiri.


Rupanya Ria diantar Kenzo pulang ke rumah kontrakannya. Luluk dan Usi pun menyapa Kenzo dengan ramah.


" Wah ini toh pacarnya Mbak Ria...," kata Luluk dengan kenesnya.


" Iya Mbak. Ini Kenzo, pacar Saya...," kata Ria sambil menggamit lengan Kenzo mesra.


" Saya Luluk Mas, dan ini Usi...," kata Luluk sambil mengulurkan tangannya diikuti Usi.


" Saya Kenzo Bu...," sahut Kenzo dengan santun.


" Silakan Mas ga usah malu-malu. Saya sama Usi dan Ibu-ibu emang biasa duduk di sini. Soalnya rumahnya Mbak Ria ini kan strategis banget kalo dijadiin tempat nongkrong..., " kata Luluk.


" Tempat nongkrong...?" ulang Kenzo sambil menatap penuh tanya kearah Ria.


" Maksudnya bukan nongkrong yang negatif lho Mas. Cuma ngobrol aja sambil ngeliatin orang lewat...," sahut Usi.


" Oh gitu. Tapi kalo terlalu sering kan bisa mengganggu ketenangan penghuni rumah Bu...," protes Kenzo.


" Sayang...," bisik Ria berusaha mengingatkan Kenzo jika ucapannya bisa menyinggung Luluk dan Usi.

__ADS_1


" Lho kenapa Sayang. Aku kan cuma memposisikan diri Aku kalo Aku jadi Kamu dan tinggal di rumah ini. Bisa dibayangin kan gimana ramenya rumah ini karena setiap saat dijadiin tempat buat kumpul-kumpul kaya gini. Ini aja baru dua yang datang, gimana kalo banyak orang. Wah, ga kebayang deh gimana berisiknya...," sahut Kenzo ketus.


Luluk dan Usi saling menatap sejenak mendengar ucapan Kenzo. Usi yang sadar diri jika kehadirannya tak diinginkan pun bergegas pamit undur diri.


" Kalo gitu Kami pulang dulu ya Mbak Ria. Mas Kenzo mungkin lagi pengen ngomong penting sama Mbak Ria, jadi biar Kami yang ngalah. Ayo Mbak...," ajak Usi sambil menarik tangan Luluk yang masih menatap tak suka kearah Kenzo.


" Iya Mbak Usi...," sahut Ria tak enak hati.


Setelah kepergian Luluk dan Usi suasana di rumah Ria pun jauh lebih tenang dan sejuk. Kenzo menghela nafas panjang lalu duduk di kursi yang tai diduduki Luluk. Kenzo sedikit tak nyaman berada di rumah kontrakan Ria.


" Kamu ga pengen pindah aja dari sini Sayang...?" tanya Kenzo sambil menatap deretan rumah yang serupa di samping kiri dan kanan rumah Ria.


" Lho kenapa harus pindah, di sini enak kok. Rame ga sepi kaya tempatku yang lama...," sahut Ria sambil menyuguhkan air mineral dalam kemasan botol di hadapan Kenzo.


" Tapi ga terlalu rame kaya gini juga dong. Aku yakin Kamu pasti jarang tidur nyenyak di sini. Itu kan ga bagus buat kesehatan Kamu Sayang...," kata Kenzo.


" Iya sih. Tapi gapapa lah. Kalo ada mereka di sini Aku jadi merasa lebih aman. Yah, walau kadang mereka kumpul ga kenal waktu...," sahut Ria.


" Pemilik rumahnya yang mana...?" tanya Kenzo sambil menatap deretan rumah di sebelah kanan rumah kontrakan Ria.


" Yang paling besar itu lah Sayang...," sahut Ria sambil menunjuk rumah besar bercat putih berpagar hitam.


" Di sana jauh lebih enak daripada di sini. Kenapa mereka justru kumpul di sini sih...," gerutu Kenzo.


" Kamu gimana sih Ken. Mana mungkin mereka kumpul di rumah pemilik kontrakan. Yang ada mereka bakal didamprat habis-habisan nanti. Kan mereka kalo kumpul pasti berisik dan ga kenal waktu...," kata Ria sambil tertawa.


" Justru itu maksudku. Sebagai pemilik kontrakan apa dia ga bisa ngasih tau sama mereka kalo kegiatan mereka itu menganggu ketentraman. Apalagi kan Kamu single dan belum menikah, ga pantes aja ngeliat Bapak-bapak kumpul di sini main gaple sampe larut malam...," kata Kenzo yang tahu semuanya dari sang kekasih.


Ria memilih diam dan tak merespon ucapan sang kekasih karena tak ingin memperpanjang masalah.


Tiba-tiba kedua mata Kenzo melihat kelebatan bayangan hitam melesat keluar dari dalam rumah sang pemilik kontrakan. Kenzo melihat bayangan hitam itu seperti menggendong sesuatu lalu melesat ke udara dan hilang di kegelapan.


Dan beberapa detik kemudian terdengar jeritan dari salah satu rumah kontrakan yang berada dua rumah dari rumah kontrakan Ria.


" Anakku !. Tolong Anakku...!" jerit seorang wanita sambil berlari keluar rumah.


Warga pun bergegas mendatangi rumah wanita itu termasuk Kenzo dan Ria. Beberapa orang menerobos masuk saat wanita itu menunjuk ke dalam rumah. Salah seorang pria keluar dari rumah sambil menggendong balita yang kondisinya sangat mengenaskan. Nampaknya balita itu sudah tak bernyawa lagi alias meninggal dunia.

__ADS_1


Dan yang mengejutkan Kenzo adalah pakaian balita itu sama persis dengan sesuatu yang digendong oleh bayangan hitam yang tadi melesat di atas rumah sang pemilik kontrakan.


bersambung


__ADS_2