
Sementara itu Aruna dan Ria baru saja selesai berdoa untuk sang balita. Kemudian Aruna mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
Saat itu lah Aruna melihat arwah sang balita tengah menangis di sudut ruangan. Aruna yang tak kuasa melihat sang balita menangis pun nampak menepi keluar dari ruangan. Ria nampaknya masih bertahan dalam ruangan dan tengah berbincang-bincang dengan ibu sang balita.
" Apa sakitnya parah Bu...?" tanya Ria yang mengetahui jika balita itu demam sejak sore hari.
" Ga parah Mbak Ria. Cuma demam biasa aja kok. Waktu Saya tempelin termometer juga panasnya cuma 39°...," sahut ibu sang balita sambil menatap pilu kearah jasad anaknya.
" Apa sempet kejang juga Bu...?" tanya Ria lagi.
" Kejang terakhir sebelum meninggal Mbak. Cuma itu...," sahut ibu sang balita.
Ria pun mengulurkan tangannya lalu mengusap punggung wanita itu. Perlahan wanita itu mulai merasa tenang.
Sedangkan Aruna nampak berusaha berkomunikasi dengan arwah balita yang jasadnya masih ada di dalam rumah.
" Siapa namamu Sayang...?" tanya Aruna dengan lembut.
" Pipit...," sahut arwah balita itu sambil menangis.
" Pipit kenapa, sakit ya...?" tanya Aruna.
" Pipit takut Tante. Di sini gelap, sepi...," sahut arwah Pipit di sela tangisnya.
" Siapa yang bawa Pipit ke tempat gelap dan sepi itu...?" tanya Aruna.
" Ga tau Tante. Tapi Pipit ga suka di sini. Tante bisa kan bawa Pipit supaya ketemu Mama. Pipit denger suara Mama tapi Pipit ga bisa nyentuh Mama. Kenapa ya Tante...?" tanya arwah Pipit menghiba.
" Tante ga bisa bantu Pipit sekarang. Pipit sabar ya...," sahut Aruna sambil menahan tangisnya.
" Kapan Tante bisa bantuin Pipit ?. Pipit takut Tante...," kata arwah Pipit lagi kali ini disertai tangis yang amat keras hingga membuat Aruna gelisah.
" Cup... cup. Pipit jangan nangis ya Sayang...," pinta Aruna.
" Tapi Pipit takut liat itu Tante...!" kata arwah Pipit sambil menunjuk kerumunan warga yang sedang duduk di depan rumah kontrakan orangtua Pipit.
Aruna pun menoleh kearah yang ditunjuk Pipit dan terkejut melihat sosok hitam besar tanpa busana dan bertanduk tiga di kepalanya tampak tengah berdiri di belakang seorang pria. Aruna mengerutkan keningnya karena bisa menduga siapa makhluk itu sebenarnya.
__ADS_1
" Pipit kenal sama makhluk hitam bertanduk tiga itu...?" tanya Aruna hati-hati.
" Iya Tante...," sahut arwah Pipit.
" Kenal dimana...?" tanya Aruna.
" Dia yang bawa Pipit pergi dari rumah Tante. Dia yang udah gigit Pipit juga...," sahut arwah Pipit ketakutan.
" Astaghfirullah aladziim. Jadi Pipit udah digigit sama dia. Apa sakit...?" tanya Aruna.
" Sakit banget Tante. Pipit udah teriak minta tolong tapi ga ada yang datang. Pipit juga manggilin Ibu sama Ayah tapi mereka juga ga denger...," sahut arwah Pipit sambil menangis.
" Apa Pipit sendirian di sana...?" tanya Aruna dengan suara bergetar menahan tangis.
" Ada beberapa anak kecil juga kaya Pipit di sana Tante. Tapi Pipit ga kenal sama mereka. Mereka juga lagi nangis kesakitan karena dipukulin sama penjaga yang galak itu. Kata penjaga yang galak itu mereka harus mau nurutin semua yang disuruh sama penjaga itu...," sahut arwah Pipit.
" Emangnya para penjaga itu nyuruh Pipit dan teman-teman melakukan apa...?" tanya Aruna.
Namun belum lagi arwah Pipit menjawab, tiba-tiba selarik angin besar nampak menghampiri dan menabrak Aruna hingga ia terdorong jatuh. Beruntung seorang wanita paruh baya nampak sigap menangkap tubuh Aruna yang oleng itu. Sedangkan arwah Pipit langsung berlari menjauh saat angin keras itu menyapa.
" Kamu Gapapa Mbak...?" tanya wanita itu.
" Mbak ini lagi hamil ya...?" tanya wanita itu.
" Iya Bu...," sahut Aruna cepat.
" Duh, lagi hamil kok ngelayat sih Mbak. Pamali tau...!" kata wanita itu dengan wajah panik.
" Pamali gimana sih Bu...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Pamali tuh artinya ga bagus kalo dilanggar. Biasanya bakal terjadi sesuatu yang buruk sama Kamu atau bayimu. Dan biasanya lagi itu berkaitan dengan hal mistis. Tapi mudah-mudahan ga terjadi apa-apa ya. Soalnya kan Kamu ga ngerti...," kata wanita itu sambil tersenyum penuh makna.
Aruna hanya bisa mengangguk pasrah mendengar ucapan wanita itu. Kemudian Aruna kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan arwah Pipit tapi nihil. Arwah Pipit tak ada lagi di sana. Yang ada hanya makhluk hitam tanpa busana bertanduk tiga itu tampak berdiri sambil menatap lekat kearah Aruna.
Aruna pun mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak suka melihat kondisi makhluk yang tanpa busana itu.
Tak lama kemudian terdengar suara seorang pria menyapa warga. Aruna menoleh dan mendapati seorang pria sepuh yang ia yakini sebagai seorang ustadz nampak berjalan menghampiri warga yang langsung menyambut kehadirannya dengan antusias.
__ADS_1
Saat pria sepuh itu datang, Aruna melihat makhluk hitam bertanduk tiga itu langsung melesat pergi dan hilang entah kemana. Aruna pun menyimpulkan jika pria sepuh itu adalah sosok yang ditakuti oleh makhluk hitam itu.
" Jadi Kita bisa berangkat sekarang ya. Kita bawa ke musholla dulu untuk disholatkan, setelah itu baru Kita bawa ke pemakaman...," kata pria sepuh bernama ustadz Makki itu.
" Baik Pak Ustadz...!" sahut warga bersamaan.
Setelahnya warga pun mulai bergerak. Sebagian berbaris di luar rumah, sebagian lagi menjemput jenasah Pipit dengan menggunakan keranda. Semua warga berdiri melepas kepergian Pipit yang meninggal mendadak itu dengan wajah sedih.
Aruna dan Ria berdiri berdampingan tepat di teras rumah Pipit bersama warga lain. Saat itu tak sengaja Aruna melihat Luluk dan Usi berdiri tak jauh dari pohon dimana tadi para pria berkumpul. Aruna mengamati keduanya diam-diam dan terkejut karena sekilas melihat senyum tipis di bibir keduanya.
" Ngeliat apaan Run, serius banget...?" tanya Ria sambil menyenggol lengan Aruna.
" Lo kenal dua cewek yang berdiri di sana RI...?" tanya Aruna.
" Yang mana...?" tanya Ria.
" Itu yang deket kursi-kursi plastik di sana...," sahut Aruna sambil menunjuk kearah Usi dan Luluk.
" Oh, mereka tetangga senior di sini...," sahut Ria santai.
" Tetangga senior gimana sih maksudnya RI...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Mereka itu emang penghuni kontrakan paling lama di sini. Namanya Luluk dan Usi. Kalo biasanya penghuni kontrakan di sini hanya bertahan bulanan atau paling lama setahun, tapi mereka bisa bertahan di sini bertahun-tahun lho Run. Kalo ga salah udah empat atau lima tahun gitu lah. Kenapa sih Run...?" tanya Ria.
" Gapapa, cuma Gue aneh aja ngeliat gerak-gerik mereka tadi. Di saat semua orang memperlihatkan muka sedih, eh mereka berdua malah senyum-senyum bahagia gitu. Bukannya itu aneh ya...?" tanya Aruna sambil menyigar anak rambutnya yang menutupi wajahnya.
" Masa mereka begitu Run...?" tanya Ria tak percaya.
" Iya RI. Masa Gue bohong sih, ga ada untungnya tau...," sahut Aruna sedikit kesal.
" Maaf bukan gitu maksud Gue Aruna Sayang. Gue percaya kok sama Lo Run. Gue cuma kaget aja kalo mereka kaya gitu. Sebab setau Gue mereka lumayan deket kok sama Ibunya Pipit...," kata Ria sambil merengkuh bahu Aruna.
Aruna pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ria.
" Kalo cowok yang pake batik abu-abu itu siapa RI...?" tanya Aruna sambil menunjuk pria di samping Usman dengan ujung dagunya.
" Gue ga tau Run. Gue baru kali ini ngeliat dia. Mungkin sesepuh kampung ini juga. Soalnya Gue liat semua orang menunduk takzim sama dia tadi...," sahut Ria.
__ADS_1
Aruna pun hanya bisa menghela nafas panjang karena belum bisa mendapatkan titik terang dari masalah meninggalnya balita bernama Pipit yang diyakini meninggal dengan cara tak wajar itu.
bersambung