
Aruna berdiri menyambut kedatangan Kautsar. Ia nampak tak sabar dan ingin segera mengingatkan Kautsar agar berhati-hati dengan Shofia.
" Assalamualaikum...," sapa Kautsar.
" Wa alaikumsalam. Akhirnya Kamu pulang juga Tsar...," sahut Aruna.
" Kenapa, kangen ya sama Aku...?" tanya Kautsar sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas.
" Apaan sih Kamu, ga lucu tau...," sahut Aruna sambil balas memukul lengan Kautsar hingga pria itu tertawa.
" Pulang jam berapa Run...?" tanya Kautsar sambil melepaskan sepatunya.
" Setengah jam yang lalu, tapi Aku mau ngomong penting sama Kamu Tsar...," kata Aruna.
" Ok, tapi Aku boleh mandi dulu ya. Gerah banget nih...," pinta Kautsar yang diangguki Aruna.
Kautsar tersenyum lalu mengecup kening Aruna. Setelahnya ia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Sementara itu Aruna beranjak ke dapur untuk menyiapkan kopi.
Sepuluh menit kemudian Kautsar nampak keluar dari kamar dengan tubuh yang terlihat segar. Ia menghampiri Aruna yang tengah menunggunya di ruang depan.
" Aku udah buatin kopi nih buat Kamu...," kata Aruna sambil menyodorkan secangkir kopi kearah Kautsar.
" Alhamdulillah, makasih Istriku...," sahut Kautsar sambil mengusak rambut Aruna lembut.
" Sama-sama...," kata Aruna sambil tersenyum.
Kautsar nampak meneguk kopi perlahan. Aruna pun mengamati Kautsar lalu menghela nafas panjang hingga membuat Kautsar menoleh kearahnya.
" Kenapa Run...?" tanya Kautsar.
" Kamu harus hati-hati sama klien Kamu yang namanya Shofia itu Tsar...," sahut Aruna.
" Oh ya. Kenapa emangnya...?" tanya Kautsar.
" Dia..., dia ga sebaik yang terlihat...," sahut Aruna ragu.
" Maksud Kamu, dia jahat...?" tanya Kautsar hati-hati.
" Mmm..., untuk urusan pekerjaan dia cukup handal. Tapi dia juga handal merayu laki-laki...," sahut Aruna sambil melengos.
Kautsar terkejut dan berusaha meredam rasa terkejutnya dengan meneguk kopinya lagi. Dalam hati Kautsar merasa senang karena mengira Aruna cemburu. Sesaat kemudian ia meletakkan cangkir berisi kopi di atas meja lalu menatap Aruna lekat.
" Apa Aku boleh senang karena mengira Kamu cemburu Aruna...?" tanya Kautsar hingga membuat Aruna salah tingkah.
" Aku... itu..., bukan itu maksudku. Aku cuma ga mau Kamu masuk dalam jebakannya Kautsar...," sahut Aruna gugup.
__ADS_1
" Jebakan apa Aruna...?" tanya Kautsar.
" Masa Kamu ga ngerti sih. Jebakan apa yang bisa disiapkan seorang wanita dewasa untuk memikat lawan jenisnya...?" tanya Aruna gusar.
" Dia itu klien penting di perusahaan tempatku bekerja Run. Setelah beberapa kali ketemu dengan perwakilan perusahaan, baru hari ini Kami mencapai kata sepakat. Nyonya Shofia bahkan bersedia menandatangani dokumen kerja sama yang Kami tawarkan...," kata Kautsar.
" Apa sebelumnya ga pernah deal...?" tanya Aruna.
" Yah begitu lah. Selalu ada aja yang kurang dan bikin Nyonya Shofia menunda kesepakatan yang ujungnya bakal bikin perusahaan rugi besar...," sahut Kautsar.
" Apa sebelumnya Kamu juga yang mewakili perusahaan untuk bertemu sama dia...?" tanya Aruna.
" Aku baru kali ini diutus perusahaan untuk nemuin dia. Dan karena Aku berhasil membuat Nyonya Shofia teken kontrak kerja sama, perusahaan menjanjikan bonus besar untukku...," kata Kautsar dengan mata berbinar bahagia.
" Tapi dia menginginkan Kamu untuk memuaskan hasratnya sebagai imbalan Kautsar...," kata Aruna kesal.
" Kamu ga usah khawatir Aruna. Aku ga akan masuk dalam perangkapnya...," sahut Kautsar.
Aruna pun terdiam karena tak sanggup berkata-kata. Dalam hati ia merasa khawatir Kautsar tak bisa lari dari siasat Shofia.
\=\=\=\=\=
Rupanya kecemasan Aruna pun terbukti.
Kautsar nampak keluar masuk kamar dengan gelisah seolah sedang mencari sesuatu. Aruna yang tengah mengerjakan tugas kuliah di ruang tengah pun hanya bisa mengamati tanpa bicara. Saat itu Aruna tahu jika Kautsar berada dalam pengaruh ilmu hitam karena ada asap berwarna hitam yang melingkupi tubuh Kautsar dan selalu mengikuti kemana pun dia pergi.
" Cari apa Tsar...?" tanya Aruna.
" Ga ada. Aku juga bingung Run. Aku merasa capek banget, tapi badanku ga mau diajak istirahat. Aku juga ngantuk, tapi mataku ga mau terpejam...," sahut Kautsar.
" Kamu inget seseorang ga...?" tanya Aruna hati-hati.
" Maksud Kamu Nyonya Shofia ?. Ck, ayo lah Run. Jangan suudzon sama orang lain bisa ga sih. Ini ga ada sangkut pautnya sama dia kok...," sahut Kautsar ketus.
" Maksud Kamu, Aku lagi ngarang Tsar...?" tanya Aruna tak suka.
" Bukan gitu. Tapi tuduhanmu yang ga berdasar itu bikin kepalaku tambah sakit Run...," kata Kautsar sambil memijit keningnya sendiri.
" Ok. Aku ga akan ikut campur sama urusan Kamu ya Tsar. Dan Kamu ga usah ngeluh apa pun sama Aku. Satu lagi, jangan mondar mandir terus. Bikin konsentrasiku hilang tau ga...?!" kata Aruna lantang hingga mengejutkan Kautsar.
Kautsar yang sedang di bawah pengaruh ilmu hitam itu nampak berusaha menahan amarah lalu menyingkir dan masuk ke dalam kamar. Kautsar juga membanting pintu kamar dengan keras untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Tiba di kamar ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sesaat kemudian ia bangun lalu melangkah ke kamar mandi dan keluar dengan sekujur tubuh basah.
Kemudian Kautsar mengganti pakaian dan melempar pakaian basahnya ke lantai begitu saja, sesuatu yang tak pernah ia lakukan karena Kautsar adalah orang yang tertib.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, Kautsar meraih jaket dan kunci motor lalu bergegas keluar kamar. Kemudian tanpa pamit Kautsar pun pergi meninggalkan Aruna yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
Aruna nampak mendelik kesal saat mendengar suara motor Kautsar meraung keras meninggalkan halaman rumah. Ia beranjak menuju pintu lalu menguncinya.
Kemudian Aruna melangkah menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Saat itu lah matanya tak sengaja melihat pakaian basah milik Kautsar yang teronggok di lantai kamarnya begitu saja. Aruna nampak berdecak sebal karena usahanya mengabaikan Kautsar gagal.
" Ck Kautsaarrr..., ngerepotin banget sih...," gerutu Aruna sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Kemudian Aruna bergegas memakai jaket, mengambil dompet dan mengenakan sepatu kets. Setelahnya ia keluar dari rumah. Tujuannya hanya satu yaitu membawa Kautsar pulang.
Aruna nampak menghentikan Taxi yang melintas. Kemudian ia meminta supir Taxi melaju ke suatu tempat.
" Mau kemana Mbak...?" tanya supir Taxi.
" Nyusul Suami Saya Pak...," sahut Aruna.
" Oh gitu. Apa Mbak tau dimana Suami Mbak sekarang...?" tanya supir Taxi.
" Tau, Saya kan bisa mengendus jejaknya...," sahut Aruna sambil menghirup udara dengan kuat.
Jawaban Aruna membuat supir Taxi tertawa. Aruna tampak tak peduli dan terus menghirup udara dengan kuat. Taxi terus melaju mengikuti arahan Aruna. Saat melewati sebuah kavling kosong, Aruna menghentikan Taxi itu.
" Berhenti Pak...!" pinta Aruna mengejutkan supir Taxi.
" Di sini, tapi ini sepi banget lho Mbak...," kata supir Taxi gusar.
" Kita cuma sebentar kok...," kata Aruna sambil membuka jendela untuk menghirup udara malam.
Sikap Aruna membuat supir Taxi terdiam. la tak menyangka jika ucapan Aruna tentang 'mengendus jejak' itu adalah fakta. Dan entah mengapa bulu kuduk sang supir pun meremang pertanda jika ada hal tak kasat mata yang sedang bekerja di sana.
" Ok, Kita lanjut jalan ke kiri ya Pak...," kata Aruna tiba-tiba sambil menutup jendela mobil.
" Baik Mbak...," sahut sang supir Taxi.
Kemudian Taxi melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang dimaksud Aruna.
Aruna nampak mendongakkan kepalanya dan mendapati bulan purnama tengah menggantung indah di langit malam. Perlahan namun pasti, wajah dan tubuh Aruna berubah. Beruntung lampu dalam Taxi dipadamkan hingga supir Taxi tak bisa melihat perubahan fisik Aruna.
Saat Taxi berhenti, Aruna bergegas keluar sambil melemparkan gulungan uang berwarna merah kearah supir Taxi. Setelah memastikan penumpangnya turun dengan selamat, pria itu langsung menginjak pedal gas tanpa mau berpaling lagi.
Aruna nampak berdiri sambil menatap tajam rumah megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Wajahnya yang kini berubah nampak menyeringai hingga membuatnya terlihat makin menakutkan.
Di kejauhan terdengar suara lolongan serigala dan Aruna nampak mendengus liar.
bersambung
__ADS_1