
Di depan sana terlihat Ari dan Tika terlibat sedikit perdebatan. Tika tampak mengalah dan pergi karena tak peduli dengan prasangka Ari padanya.
Kautsar pun menyapa Ari dengan ramah dan Ari pun nampak menyambutnya dengan hangat. Ternyata mereka telah saling mengenal karena beberapa kali bertemu di masjid usai sholat berjamaah.
" Ada yang mau Gue omongin Ri. Penting dan mendesak. Jadi Gue minta maaf sebelumnya kalo ini terkesan ikut campur sama urusan pribadi Lo...," kata Kautsar.
" Mau ngomong apaan sih Tsar. Kok Gue jadi deg-degan gini ya...," sahut Ari gusar.
" Ini tentang almarhumah Adelia...," kata Kautsar.
" Gue baru aja selesai ngebahas dia sama Tika. Ada apa sih, kenapa Kalian tiba-tiba nanyain Adelia sama Gue...?" tanya Ari bingung.
" Sebenernya gimana sih perasaan Lo sama Adelia Ri...?" tanya Kautsar.
" Gue ga punya perasaan apa-apa sama Adelia...," sahut Ari cepat.
" Tapi dia kan cantik...," kata Kautsar.
" Ayo lah Bro. Apa cantik itu jadi tolok ukur ?. Ga kan. Apalagi untuk orang yang serius mau menikah, kayanya cantik aja ga cukup deh...," sahut Ari dan itu membuat Kautsar menganggukkan kepalanya.
" Gue setuju sama yang Lo bilang...," kata Kautsar.
" Jujur Gue lebih tertarik sama Tika. Tapi sayangnya Tika itu cewek yang suka tebar pesona sama cowok-cowok di luar sana. Asal ada uang Abang sayang gitu deh...," keluh Ari.
" Kata siapa Tika suka tebar pesona sama cowok-cowok di luar sana...?" tanya Kautsar.
" Kata Adelia...," sahut Ari.
" Terus Lo percaya...?" tanya Kautsar.
" Iya lah. Mereka kan temen satu kost, pasti udah saling kenal karakter masing-masing..., " sahut Ari asal.
" Lo salah Ri. Adelia bohong sama Lo. Dia bilang gitu supaya Lo benci sama Tika dan ga jadi deketin Tika...," kata Kautsar hingga mengejutkan Ari.
" Masa sih. Lo kata siapa...?" tanya Ari.
" Ga penting Gue tau dari siapa. Yang penting Lo tau sekarang kalo Adelia udah bohong tentang Tika...," kata Kautsar.
__ADS_1
Ari nampak tertegun sejenak seolah menyesali apa yang terjadi. Ia percaya pada yang diucapkan Kautsar karena dia tahu Kautsar tak akan mengatakan sesuatu tanpa alasan.
" Kalo gitu Gue harus minta maaf sama Tika sekarang. Gue ga mau dia pergi sebelum dia tau perasaan Gue yang sebenernya sama dia. Thanks udah ngasih tau Gue ya Tsar...!" kata Ari sambil berlalu.
" Sama-sama Ri...!" sahut Kautsar.
Di samping Kautsar arwah Adelia nampak sedih. Ternyata hingga detik terakhir pun Ari tak pernah tertarik padanya. Arwah Adelia pun melayang meninggalkan Kautsar begitu saja dan pergi menyusul Ari.
Arwah Adelia tiba di rumah kost dan melihat Ari yang duduk dengan perasaan hancur. Rupanya Tika baru saja pergi meninggalkan rumah kost itu. Tika memutuskan pindah ke tempat lain dan melupakan semua yang terjadi di rumah kost itu.
Ami dan Katty pun tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa saling menatap bingung saat Ari datang mencari keberadaan Tika tadi. Walau pun Ami dan Katty tahu kemana Tika pergi, tapi keduanya memilih bungkam.
" Gue harus melupakan Ari. Meskipun Gue cinta sama dia, tapi kalo dia lebih suka mendengar apa kata orang daripada Gue, yang terbaik adalah pergi. Sebab ke depannya hubungan yang terjalin pun ga akan baik...," kata Tika sebelum pergi tadi.
" Semoga di tempat baru Lo bisa nemuin laki-laki yang baik ya Tik...," kata Ami.
" Aamiin, makasih Mi...," sahut Tika.
" Jadi Ari gigit jari dong. Ga jadi sama Adel apalagi sama Lo...," kata Katty dengan mimik lucu hingga membuat Tika dan Ami tertawa.
Beberapa saat kemudian Ami dan Katty terpaksa melepas kepergian Ari dengan tatapan hampa. Ari nampak berjalan gontai meninggalkan rumah kost milik sang Paman.
" Jalan yang Tika ambil udah tepat. Tetap bertahan dengan Ari pun bukan hal yang baik...," kata Ami.
" Setidaknya diantara Adelia dan Tika ga ada satu pun yang jadi pasangan Ari. Bukan kah ini adil...?" tanya Katty.
" Sangat adil...," sahut Ami sambil tersenyum.
Sesaat kemudian Ami dan Katty pun masuk ke dalam rumah.
Setelah menyaksikan akhir cerita Tika dan Ari, arwah Adelia pun akhirnya bisa pergi dengan tenang. Aruna dan Kautsar pun mengantar kepergiannya dengan lantunan dzikir dan doa yang panjang.
Tak ada lagi hantu perempuan yang menampakkan diri menyerupai orang lain. Tak ada lagi hantu perempuan yang menipu pedagang atau menyesatkan motor ojeg on line saat malam hari dan suasana sepi.
Adelia telah pergi dengan tenang menuju penciptanya. Dan kisah Adelia pun berakhir di sini.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Aruna masih sibuk menyiapkan semua berkas rapat yang sedianya akan digelar pagi ini. Rapat internal perusahaan kali ini akan membahas pengangkatan Kenzo sebagai pimpinan perusahaan itu menggantikan Hasby.
Bianca pun sama sibuknya dengan Aruna. Sesekali ia nampak mengingatkan Aruna agar berhati-hati dalam bertindak karena bisa membahayakan dirinya dan bayinya.
" Ga usah Run. Biar ntar OB aja yang bawa berkas itu...," kata Bianca.
" Tapi Saya bisa kok Bu. Ini kan enteng...," sahut Aruna.
" Please Aruna. Nurut sama Saya bisa ga sih ?. Atau kalo Kamu terus ngeyel, lebih baik Kamu ga usah ikut rapat. Dan Saya ga bakal mau cerita keseruan apa aja yang terjadi saat Mas Kenzo diangkat jadi Direktur pengganti Pak Hasby nanti...," cerocos Bianca.
" Eh, jangan dong Bu. Iya iya Saya nurut kok...," sahut Aruna cepat sambil kembali duduk di kursinya.
" Saya ga bisa bayangin kalo Kamu jadi sekretarisnya Mas Kenzo. Pasti Kalian bakal ga kerja deh. Yang ada Kalian malah main catur atau malah ngemil bareng sambil nonton Drakor...," kata Bianca sambil menahan tawa.
" Ish, mana ada kaya gitu. Kenzo itu kalo lagi serius tuh jutek Bu. Cuma Ria yang bisa ngadepin dia. Makanya Saya setuju kalo Ria juga jadi sekretaris di sini nemenin Saya...," sahut Aruna hingga membuat Bianca tertawa.
" Itu justru lebih parah. Yang ada Kalian malah konser di sini...," sahut Bianca sambil menggelengkan kepalanya.
Sesaat kemudian Erlan nampak keluar ruangan menemui Bianca dan Aruna.
" Semua sudah siap...?" tanya Erlan.
" Siap Pak...," sahut Bianca dan Aruna bersamaan.
" Kalo gitu sepuluh menit Kita ke ruang meeting ya...," kata Erlan sambil membalikkan tubuhnya kearah lain.
" Baik Pak. Terus Aruna bisa ikut juga Pak...?" tanya Bianca.
" Tentu saja. Saya juga udah minta beberapa karyawan ikut hadir menyaksikan pengangkatan Kenzo sebagai Direktur perusahaan nanti...," sahut Erlan sambil tersenyum.
" Maaf kalo lancang Pak. Apa Ria juga diundang Pak...?" tanya Aruna.
" Iya Aruna. Kamu ga usah khawatir. Ria juga diundang khusus untuk menghadiri acara ini...," sahut Erlan sambil tersenyum.
Sepuluh menit kemudian Erlan, Bianca dan Aruna terlihat keluar dari ruangan di lantai atas. Langkah mantap ketiganya membuat suasana ruangan meeting diwarnai ketegangan. Semua mata tertuju kearah mereka bertiga namun ketiganya tampak tak terusik.
\=\=\=\=\=
__ADS_1