Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
162. Ribuan Lintah


__ADS_3

Melihat reaksi keluarganya membuat Edi sedih. Edi sadar jika selama ini dia telah terlanjur melukai anak dan istrinya dengan sikap dan kata-katanya.


Untuk sesaat ruangan menjadi hening. Hanya suara detak jam dinding yang mewarnai keheningan itu.


Edi menghela nafas dengan sulit. Namun sayangnya tak menimbulkan rasa iba sedikit pun di hati Puri. Ia berbalik menatap ketiga anaknya sambil tersenyum.


" Sini Anak-anak. Keliatannya Papa Kalian mau ngomong sesuatu yang penting...," kata Puri.


" Biar Kami di sini aja Ma. Papa bisa ngomong apa pun dari sana dan Kami pasti denger kok...," sahut Edwin sambil mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Cinta dan Edgar.


Puri nampak menahan tangis mendengar jawaban Edwin yang mewakili perasaannya dan kedua saudaranya itu.


" Liat Bang. Anak-anak ga mau mendekat karena kapok mendengar ucapanmu dan takut sama Kamu...," kata Puri sambil menoleh kearah Edi.


" Maa... af...," kata Edi lirih.


" Iya Bang. Aku maafin Kamu...," sahut Puri.


" Maa... af...," ulang Edi tapi kali ini sambil menunjuk ketiga anaknya.


Mengerti apa yang diinginkan suaminya, Puri pun memanggil ketiga anaknya lagi namun sayangnya ketiga anaknya itu enggan mendekat.


Merasa sia-sia membujuk ketiga anaknya Puri pun memutuskan membawa mereka keluar dari ruangan itu. Edi hanya bisa menatap kepergian keluarganya dengan tatapan sedih. Ia menyesali perbuatannya namun semua terlambat.


Hanna dan sang supir pun kembali mengawal Puri dan ketiga anaknya keluar meninggalkan Edi seorang diri.


Air mata Edi luruh di wajahnya. Bayangan saat ia 'menyakiti' anak dan istrinya pun kembali melintas. Entah mengapa rasa sayang yang pernah ia miliki untuk ketiga anaknya itu kini kembali memenuhi hatinya.


" Jika masih ada kesempatan untukku, Aku ingin bertobat dan memperbaiki semuanya...," batin Edi.


" Sayangnya semua terlambat. Jika kesempatan itu ada harusnya Kau gunakan untuk menebus sebuah janji yang telah Kau gadaikan...!" kata sebuah suara tanpa wujud.


Edi membeku di tempat. Ia tahu suara siapa yang baru saja menegurnya dengan keras. Edi mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan seolah mencari wujud dari sumber suara itu.


Saat itu lah Edi melihat ratusan, bukan, mungkin ribuan lintah nampak memenuhi ruangan itu. Lintah-lintah itu menyebar dan menempel dimana-mana. Di plafond, dinding, daun pintu, selimut dan semua benda yang ada di dalam ruangan itu. Bahkan daun jendela yang bening dan tembus pandang itu kini berwarna hitam karena tertutup oleh gerombolan lintah.


Di tengah ruangan seekor lintah berwarna hitam kebiruan sepanjang setengah meter nampak berdiri tegak. Kedua matanya menatap Edi dengan tatapan tajam dan membuat bulu kuduk meremang.

__ADS_1


Edi nampak menelan salivanya dengan sulit seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.


" Tolong jangan sekarang. Aku masih ingin bersama keluargaku...," kata Edi dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Selama ini Edi memang bisa berkomunikasi dengan siluman lintah itu. Meski pun Edi hanya mengatakan semua keinginannya di dalam hati, tapi siluman lintah itu mengerti apa yang Edi inginkan dan mewujudkan semuanya tanpa kesalahan.


" Kau meminta sesuatu yang mustahil Edi. Anak buah kebanggaanku mati sia-sia saat menjalankan tugas. Dan sekarang Kau meminta waktu. Lalu siapa yang akan menggantikannya menjalankan tugasnya...?!" tanya siluman lintah sambil mendengus kesal.


" Aku menyesal karena membuatnya mati. Tapi semua bukan seratus persen kesalahanku. Andai dia mau sedikit bersabar mungkin dia masih hidup sekarang...," kata Edi mengelak.


" Kurang ajar !. Dia mati karena ingin menyingkirkan penghalangmu tapi Kau justru menyalahkan tindakannya. Dasar manusia tak tahu diuntung. Kau pantas jadi pengganjal pintu di istanaku. Habisi dia sekarang...!" kata siluman lintah kepada anak buahnya dengan suara lantang.


Dalam sekejap ribuan lintah yang semula menempel di berbagai tempat di ruangan itu bergerak. Sebagian melata dengan cepat dan sebagian lainnya melesat cepat menuju tempat tidur dimana Edi berbaring. Edi pun ketakutan dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan gelisah.


Siluman lintah nampak mengamati detik-detik saat Edi dimangsa oleh pasukannya yang berjumlah ribuan itu.


Kini tempat tidur Edi mulai dipenuhi lintah yang merayap mendekati tubuhnya dari berbagai arah. Di atas kepala, kaki, kanan dan kiri tubuh Edi dipenuhi lintah yang merayap cepat hingga menimbulkan suara desisan yeng menakutkan.


" Jangan sekarang. Tolong jangan sekarang...!" pinta Edi namun sia-sia karena ribuan lintah itu tak peduli.


Sesaat kemudian jeritan Edi membahana di dalam ruangan itu. Tubuhnya mengejang hebat hingga sebagian lintah yang sedang menghisap darahnya berjatuhan di atas tempat tidur dan meninggalkan bercak merah darah di perban yang membalut tubuhnya.


Melihat bercak darah itu membuat siluman lintah yang berdiri di tengah ruangan menggeram. Dengan kecepatan tinggi dia melesat menggapai tubuh Edi. Setelahnya ia mendaratkan mulutnya di leher Edi lalu menghisap darahnya dengan kuat. Tubuh Edi mengejang dengan kedua mata mendelik ke atas pertanda sakit yang dirasakan sudah melebihi ambang batas kesanggupannya.


Tubuh siluman lintah yang semula hanya berukuran setengah meter itu kini membesar hingga memenuhi tempat tidur. Siluman lintah nampak menyeringai lalu menyudahi aksinya. Ia sengaja memberi kesempatan pada pasukannya untuk menikmati sisa santapannya itu.


Ribuan lintah yang semula menepi nampak kembali menyerang Edi untuk menuntaskan semuanya.


Di saat bersamaan dua orang perawat wanita nampak memasuki ruangan itu. Mereka terpaku melihat keberadaan ribuan lintah di dalam ruangan itu. Sesaat kemudian keduanya menjerit lalu kabur dan meninggalkan nampan berisi obat-obatan di lantai begitu saja.


" Ada apa, kenapa lari-lari...?!" tanya kepala perawat yang kebetulan berpapasan dengan keduanya.


" Ada lintah Bu...," sahut salah seorang perawat dengan suara bergetar.


" Cuma lintah kenapa panik sih...?" kata sang kepala perawat.


" Tapi lintahnya banyak Bu !. Satu kamar penuh lintah yang bergerak. Hiiyy...," sahut sang perawat sambil bergidik jijik.

__ADS_1


" Jangan mengada-ada Kamu...!" kata kepala perawat gusar.


" Kalo setan atau hantu mah biasa Bu. Tapi ini lintah Bu, Saya jijik karena jumlahnya banyak banget. Sampe ribuan kayanya...," katà seorang perawat sambil mengusap peluh di keningnya.


Mendengar ucapan kedua rekannya membuat kepala perawat tergerak ingin melihat. Ia mengajak seorang security untuk ikut mendampingi. Kemudian tiga perawat dan satu security itu pun kembali melangkah menuju kamar rawat inap Edi


Sementara itu di dalam kamar rawat inap Edi terlihat siluman lintah yang menoleh kearah pintu sambil tersenyum puas. Ia kembali menatap kearah Edi sambil berteriak lantang.


" Cukup !. Sekarang seret dia...!" kata siluman lintah itu.


Ribuan lintah menghentikan aksinya lalu menarik paksa ruh Edi agar menjauh dari tubuhnya. Edi menjerit dan berusaha menepis ribuan lintah itu. Namun Edi tak berdaya. Kondisi tubuhnya yang lemah usai darahnya 'dikuras' tadi membuatnya hanya bisa menangis memohon ampun.


" Tolong ampuni Aku. Beri Aku kesempatan sebentar lagi...," pinta Edi menghiba.


Tak ada yang peduli dengan permintaannya dan itu membuat Edi menangis makin keras. Apalagi saat Edi merasakan kedua kakinya diseret paksa agar turun dari atas tempat tidur. Edi berusaha menggapai apa pun untuk bisa bertahan di atas tempat tidur. Tapi Edi terkejut saat ia tak bisa menyentuh apa pun. Semuanya bagai angin yang lewat begitu saja. Edi sadar jika ruhnya lah yang ditarik turun dan bukan kakinya.


Edi menjerit karena rasa sakit bukan kepalang saat ruhnya ditarik melalui telapak kaki. Edi merasa tulang belulangnya tanggal satu per satu. Dengan mata kepalanya Edi melihat jasadnya terdiam di atas tempat tidur dalam kondisi mengenaskan sedangkan ruhnya diseret pergi.


Edi berusaha berontak dan ingin kembali menggapai tubuhnya namun selalu gagal. Ribuan lintah itu terus menarik kedua kaki Edi hingga mereka keluar dari ruangan itu.


Saat melintas di koridor Rumah Sakit pasukan lintah itu berpapasan dengan Kenzo, Aruna dan Kautsar yang datang menjenguk. Rupanya Kenzo mendapat kabar tentang sakitnya Edi dari kakeknya. Kenzo memutuskan hanya mengajak Aruna dan Kautsar untuk menemaninya menjenguk Edi.


Aruna nampak membelalakkan matanya menyaksikan ruh Edi diseret sedemikian rupa. Kondisi tubuhnya yang penuh luka terlihat makin mengenaskan. Siluman lintah berhenti sejenak untuk menatap Aruna lalu kembali melanjutkan perjalanan saat Aruna menepi seolah memberi ruang untuk mereka lewat.


Kautsar dan Kenzo nampak mengerutkan kening saat Aruna menahan langkah mereka dan mengajak mereka menepi. Meski tak mengerti keduanya menuruti Aruna karena yakin ada sesuatu yang dilihat Aruna saat itu.


Satu menit kemudian Aruna kembali melangkah diikuti Kautsar dan Kenzo. Saat itu lah tiga perawat dan satu security melangkah cepat menuju kamar rawat inap Edi.


Dari ambang pintu Aruna, Kautsar dan Kenzo bisa melihat keempat karyawan Rumah Sakit itu saling menatap bingung. Kenzo masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan Edi terkapar tak bergerak di atas tempat tidur.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Om Edi...!" panggil Kenzo hingga menyadarkan keempat karyawan Rumah Sakit itu dari kebingungan mereka.


" Cepat panggil dokter...!" kata kepala perawat yang diangguki rekannya.


Dalam sekejap ruangan yang hening itu menjadi sibuk. Kenzo, Kautsar dan Aruna hanya bisa berdiri sambil mengamati kesibukan itu sambil terus berdzikir dalam hati.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2