Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
103. Ditipu


__ADS_3

Setelah api yang membakar bayangan merah itu padam, Kautsar pun mendekati Aruna.


" Kamu gapapa Sayang...?" tanya Kautsar cemas.


" Alhamdulillah gapapa...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Sebenernya makhluk apaan sih itu...?" tanya Kautsar penasaran.


" Mmm..., itu semacam wujud lain dari ilmu hitam yang digunakan seseorang untuk memperdaya Kita. Biasanya dikirim oleh orang yang ga suka sama Kita...," sahut Aruna.


" Oh gitu. Terus kenapa mendadak terbakar tadi...?" tanya Kautsar.


" Aku ga tau persis. Keliatannya yang mengirim makhluk itu pengen cepet selesai dan memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan makhluk itu. Dia terbakar oleh emosi pemiliknya sendiri...," sahut Aruna.


" Ga masuk akal tapi Aku paham sih. Terus apa itu artinya ada yang ga suka sama Kita dan ingin mencelakai Kita...?" tanya Kautsar sambil menatap Aruna.


" Kalo dari yang Aku liat sih justru sebaliknya. Bayangan merah tadi dikirim oleh seseorang yang menyukai salah satu diantara Kita. Mungkin laki-laki atau perempuan, Aku ga tau pasti...," sahut Aruna sambil balas menatap Kautsar.


" Maksud Kamu, itu sejenis pelet...?" tanya Kautsar hati-hati.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Apa itu berbahaya untuk Kita ?. Terus efek apa yang bakal Kita rasain kalo sampe ilmu hitam tadi tepat mengenai sasaran...?" tanya Kautsar makin penasaran.


" Efeknya bisa berbeda pada tiap orang. Untuk orang yang dituju mungkin dia bisa g*la kalo keinginannya bertemu atau memiliki ga kesampean. Dan biasanya itu terjadi sama orang yang ga punya bekal agama yang kuat atau yang malas ibadah. Tapi kalo misalnya ilmu hitam yang dikirim tadi salah sasaran, mungkin efeknya ga sama tapi lumayan bikin menderita juga...," sahut Aruna panjang lebar hingga membuat Kautsar menggedikkan bahunya.


Kemudian Kautsar mengusak kasar rambutnya sambil menatap Aruna. Jika boleh jujur Kautsar merasa lelah karena harus berhadapan dengan seseorang yang terobsesi dengannya.


" Kamu kenapa Tsar...?" tanya Aruna.


" Gapapa. Cuma bete aja. Aku tuh pengen hidup tenang sama Kamu Aruna. Kenapa sih wanita di luar sana ga bisa biarin Aku mencintai Kamu. Apa pernikahan Kita ga ada artinya buat mereka ya...," sahut Kautsar bingung.


" Aku juga ga ngerti sama jalan pikiran mereka. Tapi emangnya Kamu yakin kalo kiriman ini ditujukan untuk Kamu Tsar...?" tanya Aruna.

__ADS_1


" Lho emangnya bukan ya...?" tanya Kautsar.


" Kayanya bukan Kamu yang dituju tapi Aķu Tsar...," sahut Aruna sambil merapikan buku yang berserakan di atas meja.


Kautsar terkejut lalu memeluk Aruna dari belakang.


" Kok Kamu yakin kalo yang dituju itu Kamu sih Sayang...?" tanya Kautsar.


" Kan tadi bayangan merah itu muter terus di keliling Aku dan terakhir malah nyerang Aku. Itu artinya sejak awal dia memang ngincer Aku Tsar. Upayanya mengamati Aku dilakukan sejak awal dia masuk ke rumah ini sambil berputar-putar tadi...," sahut Aruna cepat.


" Apa yang bisa Aku lakukan untuk membantumu mengatasi semuanya Aruna...?" tanya Kautsar sungguh-sungguh.


" Bantu Aku dengan doa Sayang...," sahut Aruna sambil menepuk lembut jemari Kautsar yang melingkari perutnya.


" Insya Allah. Kalo itu mah ga usah diminta juga udah sering Aku lakuin Sayang...," kata Kautsar sambil mencium pipi Aruna dengan gemas hingga membuat Aruna tertawa.


Kautsar nampak tersenyum karena berharap ia bisa segera membantu Aruna menghadapi 'musuh tak kasat mata' yang beberapa kali menyerang istrinya itu.


Sebenarnya Kautsar juga sedang belajar mengimbangi kemampuan Aruna tanpa sepengetahuan istrinya itu. Meski pun selama ini Kautsar terlihat santai namun ia juga merasa tak nyaman jika harus terus berlindung di balik ketiak sang istri. Kautsar ingin dia lah yang melindungi Aruna dan bukan sebaliknya.


\=\=\=\=\=


Pria yang dikenal sebagai dukun cinta itu tampak mengenakan out fit berupa celana kasual dan jaket denim berwarna biru gelap. Juga kaca mata hitam dan aksesoris berupa cincin batu yang memenuhi sepuluh jari tangannya. Ditambah kalung berbandul kepala tengkorak yang nampak memenuhi lehernya membuat pria itu terlihat unik.


Bung Sam nampak menggelengkan kepala saat mengetahui makhluk ghaib suruhannya terluka di tempat yang dituju.


" Siapa sih dia. Pasti dia punya parewangan ghaib yang bisa mengalahkan jin suruhanku...," gumam Bung Sam.


Bung Sam mendongakkan wajahnya saat melihat asistennya membuka pintu ruangan. Sang asisten masuk membawa tamu yang kemudian duduk di seberang mejanya. Bung Sam nampak tersenyum melihat tamu yang telah dikenalnya itu.


" Apa kabar Bung...?" tanya sang tamu yang tak lain adalah Robi.


" Baik...," sahut Bung Sam cepat.

__ADS_1


" Syukur lah. Terus gimana sama permintaan Saya tempo hari Bung...?" tanya Robi.


" Apa sasarannya masih sama kaya dulu...?" tanya Bung Sam.


" Jelas beda dong Bung. Yang sekarang lebih berkelas dan lebih menantang...," sahut Robi sambil tertawa penuh misteri.


" Oh gitu...," kata Bung Sam sambil menganggukkan kepalanya.


" Apa ada masalah Bung...?" tanya Robi.


" Ga ada. Semua aman terkendali. Jin suruhanku sedang menjalankan tugasnya. Yah walau agak sulit karena wanita ini adalah orang yang punya karakter kuat dan rajin ibadah. Tapi Kamu tenang aja. Selama ini ga ada yang bisa lari dari pengaruh jin kirimanku ini...," sahut Bung Sam berbohong.


Mendengar ucapan Bung Sam membuat Robi nampak bahagia. Ia membayangkan sebentar lagi Aruna akan mengemis cinta padanya dan rela menyerahkan segalanya seperti Wenni dulu.


" Kalo gitu makasih Bung. Ini ada sedikit uang tambahan untuk Bung Sam...," kata Robi sambil menyodorkan amplop berisi uang ke hadapan Bung Sam.


Bung Sam tertawa lalu meraih amplop itu dan memasukkannya ke dalam saku jaket.


" Senang bekerjasama denganmu Robi...," kata bung Sam sambil menepuk pundak Robi beberapa kali.


" Sama-sama Bung. Kalo gitu Saya pulang dulu ya. Saya tunggu kabar baiknya ya Bung...," kata Robi sambil berlalu.


" Ok...," sahut bung Sam sambil mengacungkan jempol tangannya.


Kemudian Bung Sam membuka amplop berisi uang pemberian Robi. Ia tertawa melihat jumlah uang yang ada dalam amplop. Bagaimana tidak. Bung Sam tetap mendapat bayaran yang besar meski pun pekerjaan yang ia lakukan gagal.


" Dasar manasia bod*h, gampang sekali ditipu...," gumam Bung Sam sambil tertawa lalu mengipasi wajahnya dengan uang pemberian Robi tadi.


Namun tawa bung Sam terhenti saat ia melihat kelebatan bayangan merah masuk melalui celah jendela ruangan itu. Setelah berputar-putar beberapa saat, bayangan merah itu berhenti tepat di atas meja di hadapan bung Sam.


Perlahan bayangan merah itu mulai mewujud menjadi sosok padat berwarna merah. Tubuhnya kecil seukuran bayi, namun memiliki gigi taring lengkap dan mencuat keluar di sela bibirnya. Ada dua tanduk di kepalanya dan dua sayap mirip sayap kelelawar di belakang punggungnya. Kedua matanya berwarna kuning dan terlihat asap keluar dari sela mulut dan bibirnya.


Bung Sam nampak menghela nafas sejenak lalu mengulurkan tangannya dan menggendong makhluk merah di hadapannya itu. Untuk sesaat Bung Sam terlihat menimang-nimang makhluk merah itu sambil mengusap kepala sang makhluk dengan lembut.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2