Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
171. Tentang Lian


__ADS_3

Aruna dan Kautsar turun di parkiran kafe tempat mereka membuat janji untuk bertemu dengan Tatang. Saat hendak masuk ke dalam kafe Aruna melihat Tatang yang berdiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Aruna tersenyum lalu memanggil nya.


" Pak Tatang...!" panggil Aruna lantang.


" Eh, Mbak Aruna. Baru datang juga toh...?" tanya Tatang.


" Iya. Yuk Kita masuk...," ajak Aruna.


Tatang mengangguk lalu mengekori Aruna. Sesaat kemudian mereka berhenti di depan sebuah meja dimana Kautsar sudah duduk menunggu.


" Oh iya Pak Tatang, kenalin ini Suami Saya. Namanya Kautsar...," kata Aruna sambil memeluk lengan Kautsar dengan lembut.


" Suami...?" tanya Tatang tak percaya.


" Iya. Kenapa Pak...?" tanya Aruna.


" Gapapa. Saya kira Mbak Aruna masih single. Maksud Saya belum menikah. Saya tebak Mbak Aruna ini memang punya kekasih tapi ga taunya malah udah jadi istri orang...," sahut Tatang tak enak hati.


Kautsar dan Aruna pun tertawa mendengar ucapan Tatang. Kemudian Kautsar berdiri dan mengulurkan tangannya dengan santun yang langsung dibalas oleh Tatang.


" Silakan duduk Pak, santai aja. Saya ga bakal ganggu pembicaraan Bapak dan Aruna kok...," kata Kautsar sambil tersenyum.


" Ganggu juga gapapa Mas. Wong ini juga ga terlalu serius kok...," sahut Tatang.


" Kita mulai aja ya Pak. Bapak mau pesen apa dulu nih...?" tanya Aruna.


" Yang pasti kopi ya Mbak. Kan situ janjinya mau traktir Saya ngopi...," sahut Tatang dengan mimik lucu.


" Kopi hitam atau...," ucapan Aruna terputus saat Tatang memotong cepat.


" Betul...!" kata Tatang lugas.

__ADS_1


Aruna dan Kautsar pun kembali tertawa. Sambil menunggu pesanan diantar oleh pelayan kafe, mereka memulai obrolan mereka.


" Jadi Pak Tatang udah berapa lama kerja di perusahaan itu...?" tanya Aruna.


" Hampir dua puluh tahun Mbak. Awalnya Saya kerja di perusahaan itu karena ga sengaja Mbak. Waktu itu Saya nolongin kucing yang hampir kelindes mobil. Ga taunya tuh kucing punya cucunya pemilik perusahaan. Kalo ga salah namanya Ken Ken gitu lah...," kata Tatang.


" Saat itu si Ken Ken itu umur berapa Pak...?" tabya Aruna yang yakin jika yang dimaksud Tatang adalah Kenzo.


" Sekitar tiga tahunan Mbak. Masih kecil banget. Pas Saya lewat di depan kantor itu, Saya ngeliat si Ken Ken itu lagi nangis di pinggir jalan. Ga taunya dia ngeliat kucingnya lari nyebrangin jalan. Mungkin mau ngejar dia takut, yah jadinya cuma nangis aja sambil nunjuk-nunjuk...," sahut Tatang sambil tersenyum mengenang saat pertama kali ia bertemu Kenzo.


" Terus...?" tanya Aruna tak sabar.


" Saya kejar kucingnya terus Saya kasih ke Ken Ken. Pas banget saat itu ada Kakeknya Ken Ken yang pemilik perusahaan itu keluar dan ngeliat apa yang Saya lakukan. Terus Saya ditawarin kerja di perusahaan itu. Mungkin sebagai ungkapan terima kasih, Kakeknya si Ken Ken sempet mau ngasih Saya jabatan yang lumayan lho Mbak. Tapi Saya sadar pendidikan Saya yang rendah, makanya Saya minta dijadiin OB aja Mbak. Eh, beliau malah ngasih Saya rumah juga untuk Saya tempati bersama keluarga Saya. Makanya Saya ga enak kalo mau pindah kerja atau melakukan sesuatu yang ga baik. Kaya orang ga tau diri gitu kesannya...," kata Tatang sambil nyengir.


Aruna dan Kautsar tersenyum sambil saling menatap. Pelayan kafe datang mengantar kopi pesanan mereka.


" Terus tentang hantu perempuan yang mirip sama Bu Lian itu gimana Pak...?" tanya Aruna tak sabar.


" Gapapa Mas. Cewek kan emang ga sabaran...," sahut Tatang bijak hingga membuat Aruna malu.


" Eh, iya. Monggo silakan diminum Pak...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Makasih...," sahut Tatang lalu menyeruput kopi hitam di hadapannya perlahan.


Kedua mata Tatang nampak berbinar saat kopi itu menyentuh lidahnya.


" Ini kopi apa Mas. Enak banget rasanya...," kata Tatang antusias.


" Pak Tatang suka...?" tanya Kautsar.


" Iya Mas...," sahut Tatang cepat.

__ADS_1


" Biar Kita pesan beberapa buat Pak Tatang bawa pulang nanti...," kata Kautsar yang diangguki Aruna.


" Wah kalo gini Saya jadi semangat ceritanya Mas. Makasih ya...," sahut Tatang.


" Sama-sama..., " sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.


" Jadi begini Mbak. Dulu ada seorang karyawati baru namanya Lian. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu atau lebih, Saya lupa. Tapi namanya Lian. Saya inget banget karena Saya yang nemuin dia pertama kali saat dia datang. Dulu dia kerja jadi sekretaris Kakeknya Ken Ken. Selama beberapa waktu Lian itu kerja di perusahaan itu. Sampe akhirnya perusahaan buka lowongan pekerjaan karena perusahaan makin besar dan perlu banyak karyawan...," kata Tatang lalu kembali meneguk kopi dengan santai.


" Terus...?" tanya Aruna.


" Seinget Saya Lian ngajuin cuti tepat sehari sebelum pengumuman penerimaan karyawan yang udah diseleksi. Kalo ga salah sih katanya dia mau pulang kampung karena orangtuanya sakit. Tapi besoknya pas pengumuman penerimaan karyawan baru Lian justru masuk dan ikut menyambut karyawan baru yang lolos seleksi...," kata Tatang sambil mengerutkan keningnya.


" Mungkin dia ga jadi pergi...," sahut Aruna asal.


" Bisa jadi. Soalnya kampungnya jauh di Sulawesi sana Mbak. Tapi yang bikin Saya bingung, sehari sebelumnya dia keliatan panik banget waktu dapet kabar orangtuanya sakit. Eh, besoknya pas masuk kerja udah keliatan nyantai kaya ga ada apa-apa. Saya dan beberapa karyawan senior emang dekat karena dulu jumlah karyawan kan belum banyak Mbak. Jadi wajar kalo Kita saling deket satu sama lain. Ngeliat perubahan Lian yang drastis itu bikin Kita bertanya-tanya. Tapi ngeliat dia baik-baik aja, Kita pun seneng...," sahut Tatang.


" Apa sejak saat itu ada perbedaan antara Lian yang lama sama yang baru Pak...?" tanya Aruna.


" Secara fisik mereka sama. Cuma sikap dan cara bicaranya jauh berbeda Mbak. Kalo Lian yang dulu itu ramah, suka tertawa dan ga pelit. Beda sama Lian yang sekarang. Lian yang sekarang mah judes, angkuh, selalu ngeremehin orang dan ambisius...," sahut Tatang.


" Masa bisa sedrastis itu Pak...?" tanya Aruna.


" Betulan Mbak. Saya aja bingung kok. Atau mungkin karena banyak karyawan baru dia harus jaga image ya Mbak...," kata Tatang sedikit kecewa.


" Harusnya ga perlu jaga image. Kan Kita sama-sama karyawan di perusahaan itu. Kecuali kalo dia tiba-tiba jadi pemilik atau pemegang saham terbesar di perusahaan itu, mungkin bisa dimaklumi...," gurau Aruna hingga membuat Tatang tersenyum kecut.


" Sejak hari itu Saya mulai ngeliat penampakan hantu perempuan yang mirip sama Lian Mbak. Awalnya Saya pikir itu hanya jin yang menyerupai manusia. Tapi tiap kali Saya liat penampakan hantu itu bersamaan dengan munculnya Lian si sekretaris, hantu itu langsung pergi...," kata Tatang gusar.


Mendengar ucapan Tatang membuat Aruna dan Kautsar terkejut. Keduanya terdiam dan saling menatap seolah menemukan titik terang dari cerita Tatang tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2