Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
73. Racun


__ADS_3

Keesokan harinya semua anggota genk Comot menikmati sarapan pagi di ruang makan penginapan.


Namun berbeda dengan kelima temannya yang lahap menyantap hidangan yang disajikan, Aruna justru terlihat enggan dan hanya meneguk air mineral. Melihat hal itu membuat Ria bertanya.


" Lo ga sarapan Run, minum terus daritadi kaya ikan mujaer aja...," kata Ria.


" Gue lagi diet...," sahut Aruna asal hingga membuat Ria tersedak.


" Lebay Lo, pake keselek segala sih...," sela Fadil sambil menyodorkan segelas air kearah Ria yang langsung meneguknya hingga berkurang setengah.


" Gara-gara Aruna tuh, Gue jadi keselek kan...," kata Ria sewot.


" Kok Gue...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Ya iya lah. Ngapain Lo pake bilang mau diet segala. Lah badan Lo aja udah kaya lidi, bagian mana lagi yang mau dikurangin...?" tanya Ria hingga membuat Aruna dan empat teman lainnya tertawa.


" Sia*an Lo...," sahut Aruna sambil tertawa.


" Kasian Kautsar dong Run kalo Lo diet...," kata Galang di sela tawanya.


" Kasian kenapa...?" tanya Aruna bingung.


" Tanya aja sama Kautsar langsung...," sahut Galang sambil tersenyum penuh makna.


" Dasar otak konslet, Gue paham maksud Lo...," kata Aruna sambil melempar telur dadar ke wajah Galang.


Ulah Aruna membuat Galang kesal, apalagi telur dadar itu tepat mengenai wajahnya. Sedangkan keempat teman lainnya nampak tertawa senang hingga membuat meja makan yang mereka tempati menjadi gaduh.


" Ck, ga bisa lebih elit dikit ya Run. Masa muka ganteng gini dilempar pake telor dadar. Pake uang dong, lembaran yang warna merah kalo bisa...," protes Galang sambil mengelap wajahnya dengan tissue.


" Itu nyawer namanya. Kalo itu mau Lo, ya harus nyanyi dulu lah. Kalo suara Lo bagus, baru Gue sawer...," sahut Aruna cuek.


Lagi-lagi tawa pun menggema di meja itu hingga membuat beberapa tamu nampak menoleh kearah Genk Comot. Mereka ikut tertawa mendengar gurauan Genk Comot itu.


Tak lama kemudian Zaldi nampak memasuki ruang makan sambil membawa nampan berisi cangkir-cangkir. Kemudian Zaldi meletakkan cangkir berisi minuman hangat itu ke hadapan para tamu. Masing-masing tamu mendapat bagian tanpa ada yang terlewat termasuk Aruna dan teman-temannya.

__ADS_1


" Minuman apa nih Mas...?" tanya salah seorang tamu.


" Minuman tradisional Pak. Bahannya dari rempah-rempah. Ada jahe, kayu manis, sereh dan gula merah. Ini baik untuk tubuh, karena bisa menghilangkan pegal...," sahut Zaldi dengan santun.


" Oh gitu. Makasih ya Mas..." kata sang tamu.


" Sama-sama Pak...," sahut Zaldi lalu segera menyingkir dari ruang makan.


Di meja Genk Comot terlihat Fadil mengulurkan tangannya kearah cangkir namun Aruna segera mencegahnya.


" Jangan Dil...!" kata Aruna hingga mengejutkan Fadil dan empat orang lainnya.


" Kenapa Run...?" tanya Fadil tak mengerti.


" Jangan ada yang minum air di cangkir itu. Bahaya...," sahut Aruna setengah berbisik.


" Bahaya kenapa...?" tanya Ria penasaran.


" Percaya sama Gue ya. Setelah ini Kita pergi dari sini dan lanjut ke tempat yang Kita tuju. Secepatnya...," sahut Aruna.


Melihat keseriusan Aruna membuat kelima temannya mengangguk lalu mempercepat makan mereka.


" Astaghfirullah aladziim. Kenapa mereka...?" tanya Ria.


" Itu sebabnya kenapa Gue ngelarang Kalian minum air di dalam cangkir tadi...," sahut Aruna.


" Maksud Lo air itu beracun Run...?" tanya Fadil.


" Iya. Air itu pasti dicampur sesuatu yang bikin orang-orang ini sakit. Reaksinya berbeda di tiap orang. Tapi tetep aja membahayakan kalo ga cepet ditolong...," sahut Aruna.


" Jangan-jangan makanan yang tadi Kita makan juga mengandung racun Run. Itu sebabnya Lo ga makan tadi...," kata Galang cemas.


" Kalo itu Gue ga yakin...," sahut Aruna.


" Sekarang Kita harus cepet pergi dari sini Guys...!" kata Agung mengingatkan teman-temannya.

__ADS_1


" Iya. Yuk Kita cabut sekarang...!" sahut Galang antusias lalu segera memimpin jalan menuju pintu.


Saat langkah Aruna dan kelima temannya hampir mencapai pintu, tiba-tiba pintu itu tertutup.


" Sia*an Kita terkunci...!" kata Galang.


" Kayanya ini udah direncanain. Mereka sengaja membiarkan para tamu kesakitan dan pingsan. Keliatannya mereka menginginkan sesuatu dari Kita...," kata Kenzo.


" Betul. Tapi Kita ga bisa diem aja. Kita harus keluar dari sini kalo ga mau ditumbalin...," sahut Aruna sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang makan.


" Ditumbalin...?!" kata kelima anggota Genk Comot bersamaan


" Iya. Pemilik penginapan ini melakukan pesugihan untuk memperkaya diri. Nah syaratnya adalah nyerahin tumbal manusia hidup, bisa pria atau wanita yang diambil dari salah satu tamu di penginapan ini. Semua orang di sini sengaja dibuat ga sadar lalu mereka akan memilih secara acak siapa yang bakal dijadiin tumbal...," kata Aruna.


" Lo tau tapi kenapa baru bilang sekarang Run...?" tanya Agung.


" Gue udah mau ngasih tau dari tadi tapi Kalian malah bilang ntar aja setelah makan. Makanya Gue sengaja ga makan biar diantara Kita ada yang tetap waras dan ga ikutan sakit kaya mereka...," sahut Aruna membela diri.


Ucapan Aruna membuat kelima temannya terdiam. Mereka ingat jika sejak tadi Aruna sudah mencoba memberi kode namun selalu mereka abaikan. Ingatan mereka kembali berputar ke beberapa waktu yang lalu.


" Kita sarapan dulu yuk guys...," kata Agung pagi tadi saat mereka keluar dari kamar dan tak sengaja berpapasan dengan Amar yang melintas di koridor.


" Kita makan di luar aja lah...," sahut Aruna.


" Kenapa di luar sih Run. Sarapan kan salah satu fasilitas penginapan yang bisa Kita manfaatin. Lumayan kan buat menghemat pengeluaran...," kata Kenzo yang diangguki keempat teman mereka.


" Kalo soal itu Kalian tenang aja. Gue yang traktir deh. Yang penting Kita keluar pagi dari sini supaya bisa sampe perkebunan lebih cepet dan ga terlalu siang. Bukannya Kita ditunggu pagi ini ya...?" tanya Aruna sambil melirik kearah Amar yang nampak berhenti melangkah dan terlihat mengecek saklar lampu.


Aruna tahu jika saat itu Amar tengah mendengarkan pembicaraan mereka. Itu sebabnya Aruna kesulitan memberi tahu kelima temannya tentang alasan mengapa ia meminta pergi lebih awal. Namun nampaknya kelima teman Aruna tak satu pun menangkap sinyal yang diberikan oleh Aruna.


" Gapapa Run, masih sempet kok. Yang penting sebelum perkebunan tutup Kita udah sampe sana dan ketemu sama pemiliknya...," sahut Galang.


" Udah yuk buruan. Ntar ga kebagian tempat lho...," kata Fadil sambil melangkah lebih dulu menuju ruang makan.


Aruna terpaksa mengikuti kelima temannya dan memilih tetap 'puasa' agar tak ikut teracuni oleh makanan dan minuman yang disajikan.

__ADS_1


Kini kelima teman Aruna nampak menatap Aruna dengan tatapan penuh sesal.


\=\=\=\=\=


__ADS_2