Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
249. Tumbal Yang Tertukar


__ADS_3

Dari tempat persembunyiannya Aruna bisa melihat arah kepergian Luluk. Ia nampak mendengus kesal dan bersiap memberi pelajaran pada Luluk. Namun niatnya diurungkan saat Matilda lebih dulu bertindak.


Luluk terkejut bukan kepalang saat langkahnya dihadang oleh seorang wanita cantik berkulit pucat dan berambut pirang. Gaun putih ringan melambai yang dikenakan Matilda membuat Luluk yakin jika makhluk di hadapannya adalah sosok kuntilanak penunggu pohon besar itu.


" Ampuunnn..., jangan ganggu Aku. Tolong biarkan Aku lewat ya Mbaahh Kuntiii...," pinta Luluk dengan suara bergetar.


Ucapan Luluk membuat Matilda kesal namun justru membuat Aruna dan George tertawa di tempat persembunyiannya.


Karena merasa Matilda menghalangi langkahnya, Luluk pun berbalik arah dan lari kearah rumah pemilik kontrakan.


" Dasar manusia ga tau diri. Udah tau penakut tapi masih sok-sok an berhubungan sama makhluk ghaib...," gerutu Matilda.


Luluk terus berlari dan jatuh pingsan tepat di depan garasi mobil pemilik kontrakan bernama Junaedi. Saat itu Junaedi dan istrinya sedang bersiap kabur dari kejaran warga. Rupanya mereka telah mendengar berita tentang penemuan tubuh Ria dalam kondisi tak wajar di dalam rumah kontrakannya.


Istri Junaedi adalah orang pertama yang menemukan tubuh Luluk di depan mobil. Ia memanggil suaminya dan meminta agar tubuh Luluk segera disingkirkan.


" Kok Luluk bisa tiduran di sini sih Pah. Ntar bahaya dong kalo warga tau dia ada di sini...," kata istri Junaedi gusar.


" Aku juga ga tau kenapa Luluk ada di sini...," sahut Junaedi.


" Singkirin dong Pah, kok diem aja. Emangnya Kamu mau bawa Luluk kabur juga dari sini...?" tanya istri Junaedi sewot.


" Ya ga mungkin dong Mah. Luluk kan punya Suami. Ntar dikira Aku bawa kabur Istri orang kan berabe...," sahut Junaedi sambil berusaha menggeser tubuh Luluk agar menepi dari depan mobil.


Saat tubuhnya digeser Luluk pun siuman. Ia langsung memohon pada Junaedi agar dibawa pergi jauh dari tempat itu.


" Tolong bawa Saya pergi ya Pak, Bu. Saya takut warga akan memukuli Saya nanti...," pinta Luluk menghiba.


" Ga bisa Luk. Udah kesepakatan Kita sejak awal kalo Kamu bakal nanggung semua resikonya sendiri. Dan sekarang minggir Kamu...!" kata Junaedi sambil berusaha menarik kakinya dari cekalan Luluk.


" Saya ga mau. Saya harus ikut kemana pun Kalian pergi. Tolong kasihanilah Saya. Apa Kalian lupa kalo Saya udah banyak membantu Kalian selama ini. Semua harta yang Kalian miliki atas jasa Saya. Tapi Kalian malah membiarkan Saya menanggung semuanya sendiri...!" kata Luluk emosi.

__ADS_1


" Jaga mulut Kamu ya Luk. Saya dan Suami Saya udah ngasih imbalan yang banyak tiap kali Kamu melakukan pekerjaanmu. Jadi ga ada jasa Kamu di sini karena semua dibayar kontan...! sahut istri Junaedi.


Saat perdebatan terjadi antara Luluk dengan Junaedi dan istrinya, tiba-tiba sebuah angin hitam berbau busuk datang berhembus kencang. Akibatnya tubuh Luluk terhempas hingga membentur pilar. Kepala Luluk pun pecah dengan darah menggenang di sekitar tubuhnya.


Melihat Luluk sekarat Junaedi dan istrinya tampak panik. Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil lalu melarikan diri menggunakan mobil dan meninggalkan tubuh Luluk begitu saja.


Tubuh Luluk pun mengejang karena darah yang terus mengalir dari kepalanya yang pecah. Diantara nafas yang hanya tersisa satu-satu itu Luluk melihat keempat balita yang pernah ia pilih menjadi tumbal datang mendekatinya. Luluk memejamkan matanya karena tak sanggup melihat penampakan keempat balita itu.


" Ka... lian mau a... pa...?" tanya Luluk terbata-bata.


" Kami mau minta ditemani. Di sana sepi dan dingin. Bisa kan Tante menemani Kami supaya hangat...?" tanya salah satu balita.


" Ja... ngan mendekat. Per... gi...!" kata Luluk di sisa nafasnya.


Tapi keempat balita itu nampak tak menggubris ucapan Luluk. Mereka mendekati Luluk lalu mulai menarik pakaian yang Luluk kenakan. Luluk menggelengkan kepalanya karena tak kuasa menanggung rasa sakit itu. Saat Luluk mengamati keempat balita itu Luluk terkejut bukan kepalang. Ternyata keempat balita itu bukan menarik pakaiannya melainkan kulitnya.


Keempat balita itu nampak dengan beringas menarik kulit tangan dan kaki Luluk. Bersama mereka ada sesosok makhluk yang juga ikut menarik kulit Luluk tepatnya di bagian dada dan perutnya. Tak terhingga rasa sakit yang harus dirasakan oleh Luluk. Hingga akhirnya Luluk menjerit sekencang-kencangnya saat kulit di permukaan tubuh, tangan dan kakinya berhasil lepas dari dagingnya. Jeritan Luluk adalah jeritan terakhir yang terdengar. Setelahnya tubuh Luluk ditemukan warga tergolek di lantai dalam kondisi tanpa kulit di atas genangan darahnya sendiri. Hanya kulit wajah yang tersisa untuk menjadi pengenal jasad siapa yang terbaring di sana.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun..., " kata warga bersahutan.


" Dosanya Mbak Luluk udah jelas Bu. Dia membantu Pak Junaedi mencari tumbal untuk ritual pesugihannya. Jadi jangan heran kalo matinya kaya gitu...," kata Angga yang berdiri paling depan sambil mengambil gambar jasad Luluk.


Warga pun terdiam sejenak karena bingung harus berbuat apa. Tak lama kemudian terdengar sirine mobil patroli polisi mendekat kearah mereka. Warga pun menepi dan memberi kesempatan kepada polisi untuk melaksanakan tugasnya.


Polisi bergerak cepat dengan mengamankan rumah Junaedi dan rumah kontrakan Ria. Kedua rumah itu juga dipasangi garis polisi dan berada dalam pengawasan polisi. Beberapa warga dimintai keterangan termasuk Ika dan Usi. Dalam sekejap lingkungan rumah kontrakan itu ramai didatangi warga dan berbagai media massa.


\=\=\=\=\=


Sementara itu pelarian Junaedi dan istrinya harus terhenti karena dihadang oleh Aruna, Matilda dan George. Mereka berdiri di tengah jalan yang akan dilalui Junaedi.


" Siapa Kalian...?!" tanya Junaedi lantang.

__ADS_1


" Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya orang yang meminta agar Kamu mengembalikan orang-orang yang telah Kamu tumbalkan itu...," sahut Aruna.


" Mengembalikan tumbal ?. Kamu g*la ya. Mana ada sesuatu yang sudah diserahkan pada iblis bisa diminta kembali...!" kata Junaedi sambil tersenyum mengejek.


" Bisa asal Kau mau...!" sahut Aruna cepat.


" Oh ya. Gimana caranya...?" tanya Junaedi sambil berkacak pinggang.


" Serahkan dirimu sebagai gantinya. Luluk sudah lebih dulu menyerahkan diri. Dan sekarang giliran Kalian...," kata Aruna.


" Dasar anak bod*h !. Itu ga akan merubah apa pun. Mereka tetap terperangkap di sana selamanya hingga akhir jaman nanti...," sahut Junaedi lalu tertawa keras.


Aruna yang kesal pun melesat cepat menarik kain penutup kepala yang dikenakan Junaedi hingga membuat pria itu marah. Bagi Junaedi penutup kepala itu adalah jimat. Junaedi mengejar Aruna dan berusaha merebut kain penutup kepalanya namun gagal.


Bersamaan dengan itu angin hitam berbau busuk pun datang bergulung-gulung lalu menerpa mobil milik Junaedi. Jeritan istri Junaedi terdengar memilukan. Junaedi pun bergegas lari menghampiri istrinya dan terkejut melihat makhluk hitam besar bertanduk tiga tengah berada di atas tubuh istrinya.


" Tolong hentikan. Jangan dia. Kumohon jangan, dia istriku...," kata Junaedi dengan suara bergetar.


" Tapi Aku menginginkannya Junaedi. Tumbalmu tak sempurna dan ini sudah waktunya...," sahut makhluk itu dengan suara berat dan mata berkilat menatap istri Junaedi.


" Bukan kah sembilan hari yang lalu Aku sudah menyerahkan anak perempuan padamu...?" tanya Junaedi gusar.


" Dia anak yang merepotkan Junaedi. Dia selalu menyebut nama Tuhan dan membuat istanaku berguncang. Aku menolaknya karena dia hampir membuat istanaku roboh...!" sahut makhluk itu kesal.


" Bagaimana dengan gadis di ruang pemujaan itu. Bukan kah dia sesuai dengan keinginanmu...?" tanya Junaedi tak kehilangan akal.


" Tubuhnya tak bisa Kusentuh Junaedi. Dan dia bukan tumbal yang dijanjikan. Luluk !. Kau menyerahkan dia sebagai tumbal. Rupanya Kau ingin bermain-main denganku dengan menukar tumbal. Karena itu rasakan akibatnya Junaedi...!" kata makhluk itu lantang.


Junaedi tak mengerti mengapa tumbal yang semula adalah Ria berganti menjadi Luluk. Namun saat itu Junaedi tak punya waktu untuk memikirkan tumbal yang tertukar itu. Ia hanya bisa menahan nafas saat melihat makhluk itu bersiap memangsa istrinya hidup-hidup tepat di depan matanya.


Junaedi melihat makhluk itu mencabik leher istrinya lalu menghirup darahnya dengan kuat. Junaedi pun menjerit menyaksikan wanita yang ia cintai meregang nyawa dalam genggaman iblis sembahannya.

__ADS_1


Aruna, Matilda dan George hanya bisa menyaksikan kebuasan makhluk itu dari tempat mereka berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa.


bersambung


__ADS_2