
Motor Aruna sedikit mengalami gangguan dan membuat Aruna terpaksa mendorongnya menuju ke bengkel karena ia tak mengerti mesin. Aruna mendorong motornya dari halaman sekolah hingga ke bengkel itu dibantu oleh hantu Deon.
“ Makasih ya udah mau bantu dorongin nih motor...,” kata Aruna sambil menoleh ke belakang motornya.
“ Iya, sama-sama. Kamu arahin stang motornya aja biar ga masuk ke got...,” sahut hantu Deon.
“ Ok...,” sahut Aruna sambil memegangi stang motornya agar tak berbelok arah.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah bengkel kecil yang letaknya tak jauh dari sekolah. Seorang montir nampak meyambut kehadiran Aruna lalu meminta gadis itu duduk.
“ Oh, ini harus ganti oli Non...,” kata sang montir.
“ Gitu ya. Tolong diganti ya Bang...,” pinta Aruna.
“ Ok, tunggu sebentar ya...,” kata sang montir yang diangguki Aruna.
Sambil menunggu proses penggantian oli, Aruna mencoba menghubungi sang papa melalui sambungan video call.
“ Assalamualaikum Papa...,” sapa Aruna.
“ Wa alaikumsalam..., Kamu dimana Nak...?” tanya Arka.
“ Aku lagi di bengkel dekat sekolah Pa. Motorku mati ga mau jalan. Pas dibawa ke bengkel katanya harus ganti oli...,” sahut Aruna.
“ Tuh kan, Papa udah bilang dari Minggu kemarin kalo suara mesin motormu udah ga enak didengar, itu tandanya harus ganti oli. Kamu sih ngeyel aja...,” kata Arka sambil menggelengkan kepalanya.
“ Iya Pa, sorry...,” sahut Aruna sambil nyengir kuda.
“ Terus kenapa telephon Papa...?” tanya Arka pura-pura tak tahu.
“ Ongkosnya ganti ya Pa. Aku pake uang jajan Aku nih buat ganti oli...,” sahut Aruna dengan manja.
“ Lho, uang yang Papa kasih buat ke bengkel mana ?. Papa kan udah kasih Kamu...,” kata Arka.
“ Udah habis buat beli paket data Pa...,” sahut Aruna sambil menggaruk tengkuknya.
“ Kebiasaan. Ya udah ntar Papa ganti. Tapi kalo udah selesai langsung pulang ya Nak. Jangan lupa ngabarin Mama Kamu biar ga cemas...,” kata Arka pura-pura marah.
“ Aku udah ngasih tau Mama kok tadi. Makasih ya Papa, love you Papa. Assalamualaikum...,” kata Aruna di akhir kalimatnya lalu memasukkan posel miliknya itu ke dalam tas.
“ Siapa, Papa Kamu ya...?” tanya Deon tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna.
“ Astaghfirullah aladziim. Kenapa kalo nongol ngagetin terus sih kaya hantu...?” tanya Aruna kesal.
“ Lho, Aku kan emang hantu Run...,” sahut hantu Deon sambil tersenyum.
“ Oh iya, Aku lupa...,” kata Aruna sambil menepuk keningnya hingga membuat hantu Deon tertawa.
Sikap Aruna membuat sang montir terkejut. Apalagi ia merasa jika bulu kuduknya meremang saat melihat Aruna bicara santai dengan sosok tak terlihat yang ia yakini sebagai hantu. Tak lama kemudian sang montir selesai ‘menggarap’ motor Aruna. Setelah menyerahkan ongkos ganti oli kepada sang montir, Aruna pun melajukan motornya meninggalkan bengkel itu.
__ADS_1
Hantu Deon melepas kepergian Aruna dengan sendu. Ia memang tak bisa pergi jauh dan tertahan di sekitar sekolah. Nampaknya hantu Deon harus sedikit bersabar karena belum bisa mengungkapkan semuanya kepada Aruna.
\=====
Keesokan harinya usai jam olah raga.
Aruna sengaja memisahkan diri dari teman-temannya yang masih asyik meluruskan kaki di lapangan usai melakukan lompat tinggi. Bukan tanpa alasan Aruna lari secepat kilat karena hantu Deon mulai mengusili teman-teman Aruna dan itu membuat Aruna kesal.
“ Mau kemana Run...?” tanya Bella.
“ Ke toilet dulu sebentar...,” sahut Aruna.
“ Ga usah lari Run, toiletnya ga kemana-mana kok...,” gurau Bagus hingga membuat teman-teman mereka tertawa.
“ Iya tau, tapi gimana kalo isi perut Gue keluar di sini. Emangnya Lo mau bersihin...?” tanya Aruna.
“ Hueekkk..., jorok banget sih Run. Lo kan cewek...!” protes Bagus kesal.
“ Lagian kan Lo yang mancing duluan tadi...,” sahut Aruna santai.
“ Udah sana, ngapain masih di sini. Bikin eneg aja Lo...,” kata Bagus sambil melengos.
Aruna pun melangkah cepat meninggalkan teman-temannya yang masih tertawa karena perdebatannya dengan Bagus tadi.
Aruna membelokkan langkah kakinya, bukan ke toilet tapi ke kebun di samping toilet. Saat jam pelajaran seperti itu kebun selalu sepi. Aruna menoleh ke kanan ke kiri sebelum mulai berkomunikasi dengan hantu Deon.
“ Gue ga gangguin kok...,” sahut hantu Deon.
“ Kalo Lo muncul di tengah-tengah dengan penampilan Lo yang nyeremin kaya gitu itu namanya ganggu Deon...!” kata Aruna kesal.
“ Abis gimana lagi. Lo kan ga mau bantuin Gue, padahal cuma Lo yang bisa bantuin Gue. Padahal Lo janji mau bantuin Gue tapi sampe detik ini ga ada action apa pun dari Lo...,” sahut hantu Deon hingga membuat Aruna menghela nafas panjang.
“ Sorry Gue lupa...,” kata Aruna.
“ Gapapa, Gue udah biasa dilupain kok...,” sahut hantu Deon sambil melengos.
“ Ga usah ngambek lah. Udah buruan Lo ceritain apa yang terjadi sama Lo...,” pinta Aruna sambil duduk di bawah pohon.
Deon tersenyum kemudian melayang mendekati Aruna lalu duduk di hadapannya.
“ Lo tau kan kalo Gue maninggal karena kecelakaan...?” tanya hantu Deon.
“ Iya, kenapa emangnya...?” tanya Aruna.
“ Tapi Gue yakin kalo itu bukan kecelakaan. Itu pasti rekayasa yang dibuat untuk menyingkirkan Gue...,” sahut hantu Deon hingga membuat Aruna tertawa.
“ Emangnya Lo ini siapa Deon. Anak pejabat atau anak mafia. Kok bisa ada yang ngerekayasa kematian Lo segala. Ini ga masuk akal tau ga...,” kata Aruna di sela tawanya.
“ Gue emang bukan siapa-siapa. Tapi Papi Gue kaya dan berpengaruh. Dia punya perusahaan besar dan karyawan yang banyak. Sayangnya dia mata keranjang dan ga setia. Udah banyak wanita yang jadi korbannya dan mengandung anak di luar nikah hasil perselingkuhannya itu. Tapi Papi Gue ga sekali pun mau bertanggung jawab sama perempuan-perempuan yang udah dia lecehkan itu. Mami Gue lelah menghadapi sikapnya dan memilih cuek. Dia sering keluar negeri cuma untuk menghibur diri dan menjauh dari masalah...,” kata hantu Deon mengawali ceritanya.
__ADS_1
“ Apa Lo ga punya sodara kandung...?” tanya Aruna.
“ Gue punya satu Kakak perempuan dan satu Adik laki-laki...,” sahut hantu Deon.
“ Kalo kedua orangtua Lo sibuk dengan urusannya masing-masing, kenapa Lo ga cari kesibukan yang lain aja. Kan banyak yang bisa Lo kerjain...,” kata Aruna.
“ Udah, Gue udah cari kesibukan. Saat kecelakaan terjadi Gue lagi sibuk menggalang dana untuk bantuin anak-anak jalanan yang putus sekolah. Gue juga menyisihkan uang jajan Gue untuk bantuin mereka...,” sahut hantu Deon sedih.
“ Apa yang terjadi selanjutnya Deon...?” tanya Aruna penasaran.
“ Waktu itu Gue baru pulang sekolah. Tiba-tiba ada segerombolan cowok berbadan kekar yang nyamperin Gue dan nyulik Gue. Sepanjang jalan mereka mukulin Gue Run. Mereka ga berhenti mukulin Gue walau pun Gue udah minta ampun...,” sahut hantu Deon.
“ Lo kenal ga sama mereka...?” tanya aruna.
“ Ga. Tapi Gue sempet denger salah satu orang itu bilang ini balasan buat Papi Gue karena udah berani memperk*sa Adiknya dan ga mau bertanggung jawab...,” sahut hantu Deon sambil mengusap wajahnya dengan kasar lalu mematung dalam waktu cukup lama.
Aruna menatap lekat hantu Deon yang terdiam itu dan melihat masa lalu Deon. Saat itu Deon dibawa ke sebuah bangunan tua dan dipukuli hingga pingsan. Diantara kesadarannya yang tinggal setengah Deon mendengar para pria berbadan kekar itu mencoba menghubungi papi Deon untuk meminta sejumlah uang tebusan. Sayangnya jawaban papi Deon membuat mereka murka.
“ Apa Kau mau anak laki-laki kebanggaanmu ini mati sia-sia...?” tanya pria itu.
“ Aku ga peduli. Aku punya banyak anak lelaki di luar sana yang bisa kuandalkan untuk mengurus bisnisku kelak. Terserah Kalian mau apakan dia, Aku tak mau ikut campur...,” sahut papi Deon santai.
Jawaban sang papi membuat hati Deon terluka. Ia sadar tak bisa mengandalkan siapa pun saat itu kecuali Tuhan dan dirinya sendiri. Dengan kekuatan yang tersisa Deon mencoba melarikan diri, namun sayangnya ia berhasil ditangkap dan kembali dipukuli.
Setelahnya tubuh Deon diikat lalu diseret dengan mobil hingga jasad Deon tercabik-cabik. Deon meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan dan jasadnya dibuang di suatu tempat.
“ Ya Allah, mereka jahat banget sih...,” kata Aruna sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
“ Gue udah ikhlas sama apa yang mereka lakukan Aruna. Gue cuma mau ngeliat Kakak dan Adik Gue selamat dan ga jadi korban dari kejahatan yang Papi lakukan. Cukup Gue aja yang jadi korban Run...,” kata hantu Deon.
“ Terus Gue harus apa Deon...?” tanya Aruna tak mengerti.
“ Tolong kasih tau Devia soal tabungan emas yang Gue simpen di bawah pohon di halaman rumah. Dia perlu uang untuk biaya operasi Adik Gue Run...," sahut hantu Deon.
" Lo punya tabungan emas...?" tanya Aruna tak percaya.
" Uang jajan Gue banyak Run. Dan Gue udah diajarin bisnis sejak kecil. Makanya Gue punya tabungan emas. Tolong kasih tau secepatnya biar Devia ga perlu jual diri untuk mendapatkan uang untuk biaya operasi itu Run...,” sahut hantu Deon penuh harap.
“ Kemana orangtua Lo sampe harus Kakak Lo yang naggung biaya operasi adik Lo...?” tanya Aruna tak mengerti.
“ Panjang ceritanya Run. Tapi tolong temui Kakak Gue di alamat ini ya...,” kata Deon sambil menulis sebuah alamat di tanah.
“ Insya Allah Gue ke sana secepatnya...,” kata Aruna.
“ Kasih tau Devia supaya menghubungi Om Jaka. Dia pengacara keluarga yang bakal membantu nanti...,” sahut hantu Deon sebelum menghilang.
Aruna menghela nafas panjang lalu melangkah perlahan meninggalkan kebun itu. Aruna berniat minta bantuan Matilda dan George untuk menjalankan misinya kali ini.
Bersambung
__ADS_1