Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
293. Cuma Akting


__ADS_3

Tak semua warga lari keluar aula untuk menghindari serangan mantra yang dibaca Randu. Ternyata masih ada beberapa orang yang bertahan di dalam aula. Mereka adalah ustadz Amril dan jamaahnya juga beberapa orang yang rajin menunaikan sholat berjamaah di masjid.


" Jangan keluar. Kita bertahan di sini dan jangan berhenti berdzikir...!" perintah ustadz Amril lantang.


Suara lantang ustadz Amril membuat Randu marah sedangkan Reyhan dan Kautsar nampak tersenyum senang.


Kemudian ustadz Amril mulai memimpin dzikir. Sesaat kemudian suara takbir pun menggema di dalam aula dan itu membuat Randu blingsatan karena merasa panas di saat bersamaan.


" Sia*an. Dasar orang-orang dungu !. Apa Kalian pikir mantra Kalian itu bisa mengalahkan mantraku ini...?!" kata Randu lantang.


" Jangan sok tau Randu !. Ini bukan mantra tapi dzikir. Apa Kau lupa itu ?. Bukannya dulu Kau pernah membacanya bersama Kami...?!" ejek salah satu warga.


" Ayo buktikan saja jika mantra yang Kamu banggakan itu mampu melawan kalimat suci yang Kami baca...!" sahut salah satu jamaah dengan kesal.


Randu pun tertawa lepas lalu kembali membaca mantra. Kali ini mantra yang dibaca Randu lebih keras dan membuat makhluk halus yang ada di sekitar mereka berlarian ke sana kemari. Mereka seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata dan dihimpun dalam sebuah wadah yang tak kasat mata. Termasuk arwah Mukhlis dan Kakek Dita.


Dari tempatnya Aruna berusaha membantu arwah Kakek Dita agar tetap bertahan di dalam tubuh Dita. Sedangkan arwah Mukhlis nampak berdiri di samping Aruna dan mulai terlihat gelisah. Rupanya mantra yang dibaca Randu membuatnya sedikit oleng dan hampir tertarik kearah Randu.


" Abaikan itu Mukhlis !. Arahkan tatapanmu ke pak Ustadz yang di sana itu...," kata Aruna.


" I... iya Aruna. Aku coba...," sahut arwah Mukhlis gugup.


" Iya begitu. Fokus ya, jangan dengarkan ucapan si Randu itu. Kalo Kamu bisa berdzikir itu jauh lebih baik...," kata Aruna.


" Aku bisa Aruna...," sahut arwah Mukhlis cepat.


" Bagus. Berdzikir lah seperti yang ustadz dan jamaahnya lakukan...," kata Aruna sambil tersenyum.


Arwah Mukhlis mengangguk lalu mulai bertakbir seperti yang dilakukan ustadz Amril.

__ADS_1


" Allahu Akbar...!. Allahu Akbar...!" terdengar gema takbir membahana di dalam dan di luar aula.


Rupanya takbir tak hanya menggema di dalam aula, tapi juga di luar aula. Warga yang berkumpul di luar aula bersama-sama mengumandangkan takbir mengikuti arahan ustadz Amril.


Sesuatu pun terjadi setelah takbir menggema di aula itu beberapa saat. Randu terlihat meringis sambil memegangi dadanya. Tak lama kemudian Randu muntah dengan hebat. Bukan sisa makanan yang dimakannya tadi melainkan darah. Warnanya pun merah pekat disertai gumpalan-gumpalan berwarna hitam.


Melihat kondisi Randu yang kepayahan membuat ustadz Amril dan jamaahnya makin semangat.


Kemudian Kautsar dan Reyhan nampak mendekati ustadz Amril. Kautsar membisikkan beberapa kalimat di telinga sang ustadz hingga ustadz Amril terlihat menganggukkan kepalanya.


" Baik lah. Aku mengerti...," kata ustadz Amril sambil tersenyum.


Kemudian ustadz Amril mendekati Dita yang masih terduduk sambil menutupi kedua telinganya. Ustadz Amril paham jika arwah Kakek Dita yang berada di dalam tubuh Dita sedang berusaha menghindari 'panggilan' Randu untuk mendekat.


" Cukup. Sekarang pegang sorbanku ini. Aku akan membantumu supaya Randu tak bisa memanggilmu...," kata ustadz Amril sambil mengulurkan sorbannya.


Ustadz Amril mengikuti arah tatapan Dita dan melihat jika Aruna menganggukkan kepala. Ustadz Amril terkejut melihat wanita berusia belia seperti Aruna mampu berinteraksi dengan arwah kakek Dita itu. Namun sesaat kemudian ustadz Amril tersenyum melihat Aruna yang membantu arwah Kakek Dita secara diam-diam.


Setelah mendapat persetujuan Aruna tadi, Dita pun meraih sorban ustadz Amril dengan kedua tangannya lalu menggenggamnya dengan erat.


" Pegang yang erat ya. Jangan dilepas apa pun yang terjadi...," pesan ustadz Amril yang diangguki Dita.


Melihat Dita dibawa menjauh darinya oleh ustadz Amril, Randu pun terlihat marah. Meski pun tubuhnya lemah usai muntah hebat tadi, dia nekad merangsek maju dan mencoba mengejar ustadz Amril.


Tindakan Randu membuat warga yang bertahan di dalam aula marah lalu bersama-sama menghadang langkahnya.


" Minggir atau Kalian akan tau akibatnya...!" ancam Randu dengan lantang.


" Berhenti mengancam Randu. Apa Kamu ga sadar kondisimu saat ini...?" ejek seorang warga sambil menatap sinis kearahnya.

__ADS_1


Randu nampak mengepalkan tangannya. Dan dia kembali membaca mantra hingga membuat warga menjauh. Bukan karena takut tapi karena darah yang membasahi mulut dan bagian depan tubuh Randu mengeluarkan bau anyir dan busuk. Warga menyingkir sambil menutup hidung dan itu membuat Randu tersinggung.


" Rasakan mantraku ini. Cuihh...!" kata Randu sambil menyemburkan darah di dalam mulutnya kearah warga.


Warga pun berusaha menghindar. Namun dua orang warga yang berada tak jauh dari Randu tak kuasa mengelak dan terkena semburan darah dari mulut Randu. Mereka menjerit tertahan saat merasakan cairan darah Randu sepanas air mendidih. Saking panasnya hingga membuat baju Koko dan sarung yang mereka kenakan berlubang terkena darah Randu.


" Astaghfirullah aladziim...!. Laa Haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...! " seru ustadz Amril, Kautsar, Reyhan dan warga bersamaan.


Dzikir terus mengalun panjang. Bersamaan dengan itu beberapa warga membawa dua warga yang terluka tadi ke sudut aula. Mereka memastikan keduanya selamat lalu kembali bergabung dengan Kautsar dan yang lainnya.


Tak lama kemudian tubuh Randu bergetar hebat lalu jatuh tersungkur dengan wajah lebih dulu menyentuh lantai. Darah segar nampak membasahi wajahnya. Hidung Randu bisa dipastikan patah karena darah terus mengalir dari lubang hidungnya. Sedangkan keningnya nampak terluka karena kerasnya benturan dengan lantai tadi.


Randu menjerit kesakitan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Tubuhnya berguling-guling di lantai karena tak kuasa menahan sakit.


" Suudddaahh..., ampuunnn...," rintih Randu sambil bergulingan di lantai.


Warga yang mendengar permintaan Randu sontak menghentikan dzikir mereka. Aruna yang tahu jika itu hanya siasat Randu untuk mengecoh warga nampak menggeleng cemas dan Kautsar pun mengerti itu.


" Lanjutkan dzikirnya Bapak-bapak. Jangan berhenti karena dia cuma akting untuk mengelabui Kita. Sebenarnya dia lagi nyusun kekuatan di saat Kita lengah...!" kata Kautsar mengingatkan.


" Anak ini betul !. Jangan hentikan dzikir Kita, ayo lanjutkan...!" kata ustadz Amril menambahkan.


" Siap Ustadz...!" sahut warga bersamaan lalu kembali berdzikir.


" Ga usah ngeliatin dia biar Kalian ga iba. Dia sengaja membuat perasaan Kita kacau. Memang itu keinginan utamanya...!" kata ustadz Amril saat melihat beberapa warga menatap iba kearah Randu.


Merasa jika usahanya mengecoh warga gagal, Randu pun berhenti menjerit lalu menurunkan telapak tangannya yang sejak tadi menutupi wajahnya. Kemudian Randu menatap semua orang di dalam aula itu satu per satu lalu menjerit lantang.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2