
Sejak Aruna mengatakan sesuatu tentang ‘rahasia’ Kalisha, gadis itu pun mulai menjaga jarak dengan Aruna.
Bukan takut tapi Kalisha tak ingin rahasia yang disimpannya itu diketahui banyak orang.
Kini Kalisha hanya bisa menatap Aruna dari kejauhan, masih dengan tatapan membenci, tanpa bisa berbuat apa-apa. Bagus sang ketua kelas yang memang hapal perseteruan kedua teman wanitanya itu sedikit dibuat bingung dengan perubahan sikap Kalisha. Namun ia senang karena tak harus berurusan dengan wali kelas atau pembina OSIS di sekolah hanya karena ulah Kalisha dan Aruna.
Sementara itu Aruna terlihat lebih santai meski pun ia tetap waspada dalam diamnya itu. Dari tempat duduknya Aruna bisa merasakan jika Kalisha tengah menatapnya seolah sedang mencari kelemahannya.
“ Ga mungkin Aruna tau kalo Gue udah menghabisi Bapak. Emang siapa dia sebenernya atau jangan-jangan itu hanya kebetulan...?” tanya Kalisha dalam hati sambil menahan amarah.
\=====
Malam itu Aruna dan kedua orangtuanya baru saja pulang dari mengunjungi orangtua Arka. Kini mereka tengah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
“ Ntar Kita mampir sebentar ke mini market ya Pa...,” kata Diana.
“ Boleh. Emang Kamu mau beli apa Ma...?” tanya Arka.
“ Biasa lah keperluan wanita. Pembalut yang biasa abis. Khawatir nanti pas menstruasi malah ga ada persediaan...,” sahut Diana santai.
“ Kamu gimana Aruna, apa persediaan bulananmu masih cukup...?” tanya Arka sambil melirik Aruna melalui kaca spion.
“ Alhamdulillah masih ada Pa. Kan Mama stok banyak...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
Arka mengangguk lalu membelokkan mobilnya memasuki sebuah mini market. Sesaat kemudian Diana dan Aruna turun dari mobil lalu memasuki mini market sedangkan Arka memilih menunggu di parkiran.
Setelah membeli apa yang diinginkan Aruna keluar dari mini market menghampiri sang papa.
“ Udah belanjanya...?” tanya Arka.
“ Udah Pa, sekarang Mama lagi ngantri di depan kasir tuh...,” sahut Aruna sambil menunjuk antrian yang mengular di dalam mini market.
“ Kok tumben panjang banget antriannya...?” tanya Arka.
“ Lagi ada diskon sembako Pa...,” sahut Aruna.
“ Pantesan...,” kata Arka sambil tersenyum maklum.
Sambil menunggu Diana selesai membayar semua belanjaannya, Arka dan Aruna memilih mampir ke kedai soto Betawi di seberang mini market. Mereka memesan tiga porsi soto. Tak lama kemudian Diana pun ikut bergabung.
“ Nih Ma, udah dipesenin sekalian sama Aruna...,” kata Arka sambil menyodorkan semangkok soto Betawi ke hadapan sang istri.
“ Alhamdulillah, baiknya Anak Mama...,” kata Diana sambil mengecup kepala Aruna dengan sayang.
“ Iya dong, kan Aku sayang sama Mama...,” sahut Aruna hingga membuat Arka dan Diana tersenyum.
Kemudian ketiganya mulai menyantap soto dengan lahap. Sambil menyantap soto, Aruna mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Tatapannya terhenti pada sebuah pohon. Di sana ia melihat sepasang mata berwarna merah tengah mengintai sesuatu. Aruna menajamkan penglihatannya dan yakin jika itu bukan mata milik Matilda atau George.
Tiba-tiba sepasang mata merah itu melompat ke pohon lain lalu hilang ditelan kegelapan malam. Aruna refleks
melihat ke angkasa dan mendapati bulan purnama di langit sana. Aruna menghela nafas panjang karena yakin jika pemilik sepasang mata itu adalah sejenis makhluk yang berasal dari klan yang sama dengannya.
__ADS_1
“ Oh iya, ini waktunya kan. Mudah-mudahan Papa sama Mama ga ngeliat saat Aku berubah jadi manusia serigala. Aku ga mau mereka takut dan membenciku nanti karena sadar anak yang susah payah dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang ternyata monster yang menyeramkan...,” batin Aruna gusar.
Rupanya Aruna tahu sejak beberapa waktu lalu jika dirinya bukan lah anak kandung Arka dan Diana. Jawaban itu ia peroleh saat bertanya pada George dan Matilda tempo hari.
“ Kamu kenapa Nak...?” tanya George saat melihat Aruna tengah menatap kearahnya dan Matilda.
“ Aku lagi bingung Om...,” sahut Aruna.
“ Bingung kenapa...?” tanya George.
“ Om pernah bilang kan kalo Om dan Tante Matilda ga mau Papa sama Mamaku ngeliat Kalian. Emang kenapa Om ?. Bukannya Om dan Tante juga kenal sama orangtuaku. Kenapa mereka ga boleh ngeliat Kalian...?” tanya Aruna.
Mendengar pertanyaan Aruna membuat Matilda dan George saling menatap. Keduanya nampak ragu untuk mengatakan yang sebenarnya dan Aruna tahu itu.
“ Kenapa Om...?” tanya Aruna penasaran.
“ Aku rasa sudah saatnya Aruna tau semuanya Sayang...,” kata Matilda sambil mengusap punggung George dengan lembut.
“ Iya Sayang...,” sahut George sambil tersenyum.
“ Begini Aruna, sebenernya Arka dan Diana bukan lah orangtua kandungmu...,” kata Matilda hati-hati.
“ A... apa maksud Tante...?” tanya Aruna dengan suara bergetar.
“ Mereka adalah orangtua angkatmu Aruna. Sebelum menemukanmu dan menjadikanmu anak, mereka telah memiliki anak yang meninggal saat masih dalam kandungan Diana. Anak itu tak pernah lahir ke dunia dalam wujud manusia karena begitu lah takdirnya. Mereka menemukanmu di suatu tempat yang sepi lalu memutuskan membawamu pulang dan mengadopsimu. Jika Kamu merasa itu seperti sudah direncanakan karena Kamu hadir setelah Arka dan Diana kehilangan anak mereka, sejujurnya tidak. Aku hanya bisa bilang mereka lah yang terpilih untuk mengasuhmu. Tapi Kamu ga perlu khawatir, cinta Arka dan Diana untukmu sangat besar Aruna...,” sahut Matilda sambil tersenyum.
Aruna nampak berusaha menahan air matanya dengan susah payah. Ia memang menyadari jika fisiknya berbeda dengan Arka dan Diana. Ia pikir itu hal biasa karena banyak anak yang mirip dengan keluarga misalnya paman atau bibi dibandingkan dengan kedua orangtuanya. Namun kenyataan yang ia dapati membuatnya sangat terpukul.
“ Tentang itu akan Kamu temui nanti Aruna. Perjalanan hidupmu nanti yang akan membawamu menemui siapa jati dirimu sebenarnya...,” sahut George.
“ Bilang sekarang aja Om, Aku siap kok...,” desak Aruna.
“ Maaf, Aku ga bisa bilang itu sekarang Aruna. Aku dan Matilda harus membimbingmu perlahan sesuai usiamu supaya Kamu ga bingung dan salah langkah seperti seseorang di luar sana...,” sahut George sambil menggelengkan kepalanya.
Aruna pun tak memaksa. Karena sejujurnya ia tak siap untuk mendengar ‘kenyataan lain’ tentang asal usulnya. Aruna menghela nafas panjang usai mengingat hal itu lalu menatap kedua orangtuanya yang sedang menyantap soto.
“ Kamu kenapa Sayang, kenyang atau ngantuk...?” tanya Diana sambil menahan tawa melihat Aruna yang termenung usai menghabiskan dua mangkok soto Betawi.
“ Dua-duanya Ma...,” sahut Aruna sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal hingga membuat Arka dan Diana tertawa.
“ Ya udah, Kita pulang yuk Ma. Kasian Aruna sampe teler gitu...,” gurau Arka.
“ Iya Pa...,” sahut Diana lalu bergegas membayar soto yang mereka makan.
Tak lama kemudian ketiganya telah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Aruna yang duduk di kursi tengah nampak menyandarkan tubuhnya sambil menatap keluar jendela. Sedangkan Arka melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil asyik berbincang dengan Diana di kursi depan.
Tiba-tiba Aruna menegakkan tubuhnya saat melihat sosok wanita yang dikenalnya tengah berdiri di trotoar yang sepi di bawah tiang lampu yang padam.
“ Kalisha, mau apa malam-malam begini di sini. Sendirian di tempat sepi, apa ga takut dilecehin sama preman ya...,” gumam Aruna sambil menatap lekat kearah Kalisha yang tengah berdiri setengah membungkuk itu.
Namun kedua mata Aruna membelalak saat menyaksikan perubahan Kalisha. Aruna menyaksikan tubuh Kalisha membesar dan berbulu hingga mengoyak pakaian yang dikenakannya. Saat kepala Kalisha berubah menjadi kepala seekor serigala, Aruna menutup mulutnya sendiri supaya tak menjerit. Kedua mata Aruna nampak berkaca-kaca karena yakin jika saat itu Kalisha pasti sangat menderita. Aruna bisa merasakan rasa sakit yang diderita Kalisha saat berubah menjadi manusia serigala. Sesaat kemudian Aruna melihat manusia serigala jelmaan Kalisha itu melesat cepat menghilang entah kemana.
__ADS_1
Aruna nampak berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal usai melihat perubahan fisik Kalisha sambil berdzikir dalam hati.
“ Astaghfirullah aladziim..., laa haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...,” batin Aruna berulang kali.
Saat mereka tiba di rumah, Aruna bergegas masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri.
\=====
Pagi itu Aruna nampak berdiri di parkiran sambil mengamati pintu gerbang sekolah. Ia sengaja menunggu Kalisha karena ingin tahu bagaimana kondisinya usai ‘berubah’ menjadi manusia serigala kemarin malam.
“ Ngapain bengong di situ Run...?” tanya teman sekelas Aruna.
“ Lagi nungguin Noni...,” sahut Aruna asal.
“ Oh gitu. Gue duluan ya Run...,” kata teman Aruna.
“ Iya...,” sahut Aruna dengan mata berbinar saat melihat orang yang ditunggunya tengah melewati pintu gerbang.
Di depan sana terlihat Kalisha yang berjalan gontai. Wajah gadis itu terlihat pucat dan itu membuat Aruna sedikit cemas. Tanpa Kalisha sadari, Aruna berjalan perlahan di belakangnya seolah ingin memastikan jika ia baik-baik saja.
Saat langkah Kalisha hampir mencapai pintu kelas, tiba-tiba Kalisha jatuh pingsan dan itu mengejutkan semua siswa. Beruntung Aruna yang berdiri di belakangnya sigap menangkap tubuh Kalisha hingga gadis itu tak terjengkang ke lantai.
“ Kenapa nih Kalisha...?” tanya semua siswa yang masih memadati koridor.
Sebagian siswa hanya menatap tanpa mau membantu karena kesal dengan tingkah Kalisha selama ini sedangkan sebagian lain terlihat tak peduli.
“ Minggir Kalian !. Bukannya nolongin malah pada bengong aja...!” hardik Zicko yang langsung membantu Aruna memapah Kalisha.
“ Bantu Gue bawa Kalisha ke UKS ya Zick...,” pinta Aruna.
“ Ok Run...,” sahut Zicko.
Kemudian Aruna dan Zicko bergegas membawa Kalisha ke UKS. Bagus yang baru saja tiba terlihat ikut membantu menggotong Kalisha. Setelah Kalisha ditangani oleh dokter, Aruna dan kedua temannya kembali ke kelas.
“ Makasih ya Zick...,” kata Aruna dan Bagus bersamaan.
“ Sama-sama. Tapi Gue salut sama Lo Run, walau udah sering diisengin sama Kalisha tapi saat dia pingsan justru Lo orang pertama yang care sama dia...,” kata Zicko sambil tersenyum.
“ Refleks aja Zick...,” sahut Aruna cepat.
“ Itu artinya Lo emang orang baik Aruna. Tetap kaya gitu ya, jangan berubah...,” kata Zicko sambil menepuk pundak Aruna lalu membalikkan tubuhnya menuju kelas yang berbeda dengan Aruna.
“ Gue juga berharap gitu Run...,” kata Bagus hingga membuat Aruna menoleh.
Saat itu Aruna melihat Bagus tengah tersenyum manis kearahnya dan itu membuat Aruna bergidik.
“ Lo berdua kenapa sih hari ini, lagi sawan ya...?” tanya Aruna sambil melangkah cepat menuju kelas.
“ Iya. Sawan oleh pesonamu Aruna...,” sahut Bagus lalu mengekori Aruna.
“ Preett...,” sahut Aruna sambil menjulurkan lidahnya hingga membuat Bagus tertawa keras.
__ADS_1
Bersambung