
Kalisha membuka matanya dan terkejut saat melihat sosok wanita tengah duduk di sampingnya. Wanita yang ternyata adalah dokter di UKS itu tersenyum lalu menyapa Kalisha.
“ Alhamdulillah Kamu udah siuman. Gimana perasaanmu Kalisha...?” tanya dokter Hera.
“ Mmm..., Saya kenapa dok...?” tanya Kalisha sambil berusaha bangkit dari duduknya.
“ Kamu pingsan dan dibawa ke sini sama teman-temanmu tadi. Kenapa, Kamu belum sarapan ya ?. Atau mungkin ada hal lain yang bikin Kamu dehidrasi ringan dan jatuh pingsan tadi...?” tanya dokter Hera sambil tersenyum.
Kalisha nampak melengos pertanda tak suka dengan pertanyaan dokter Hera.
“ Sekarang apa yang Kamu rasain...?” tanya dokter Hera sambil menempelkan stetoskop di dada Kalisha untuk mengecek kondisi kesehatannya.
Namun tiba-tiba Kalisha menepis stetoskop itu hingga membuat dokter Hera terkejut dan mengerutkan keningnya. Kemudian Kalisha berusaha turun dari tempat tidur dengan tubuh sedikit limbung. Beruntung dokter Hera berhasil meraih pergelangan tangan Kalisha hingga gadis itu tak jatuh tersungkur. Melihat sikapnya yang tak bersahabat membuat dokter Hera maklum dan tak memaksanya untuk bicara.
“ Kalo Kamu ga mau cerita apa penyebab Kamu pingsan gapapa Kalisha. Kamu boleh istirahat di sini sampe cukup kuat untuk kembali ke kelas...,” kata dokter Hera sambil membantu Kalisha berbaring di tempat tidur.
Setelahnya dokter Hera meninggalkan Kalisha seorang diri untuk memberi kesempatan pada gadis itu beristirahat. Sesaat kemudian Kalisha tampak menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya.
\=====
Jam istirahat pun tiba, namun Kalisha belum juga kembali ke kelas. Bagus dan beberapa temannya termasuk Aruna berniat menjenguk Kalisha di ruang UKS. Saat tiba di sana mereka disambut oleh dokter Hera dengan ramah.
“ Gimana keadaan Kalisha dok...?” tanya Bagus mewakili teman-temannya.
“ Alhamdulillah udah siuman tadi. Cuma masih lemes jadi masih perlu istirahat. Kayanya dia juga ga bisa ikut jam pelajaran nanti Gus...,” sahut dokter Hera yang memang telah mengenal Bagus karena sering mengantar teman-temannya ke UKS.
“ Oh gitu. Kami boleh jenguk ga dok...?” tanya Bagus.
“ Tentu, tapi jangan berisik ya...,” sahut dokter Hera yang diangguki Bagus dan teman-temannya.
Kemudian Bagus dan ketiga temannya masuk ke dalam ruangan dimana Kalisha dirawat. Saat itu Kalisha tampak berusaha duduk. Bagus bergegas menghampiri Kalisha lalu membantunya duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
“ Pelan-pelan Kal...,” kata Bagus.
“ Iya makasih...,” sahut Kalisha.
“ Gimana keadaan Lo Kal, sakit apa sih Lo...?” tanya Adriana.
“ Gue ga tau. Badan Gue lemes banget rasanya...,” sahut Kalisha.
“ Pusing...?” tanya Bagus.
“ Ga...,” sahut Kalisha cepat.
“ Sakit perut...?” tanya Faris.
“ Ga juga...,” sahut Kalisha.
“ Terus Lo sakit apaan dong Kal...,” kata Bagus gemas hingga membuat teman-temannya tertawa.
__ADS_1
Tawa Kalisha terhenti saat ia melihat Aruna berdiri di belakang Faris. Tatapan tak bersahabat pun terlihat dan itu membuat suasana dalam ruangan itu jadi tak nyaman.
“ Jangan ngeliat Aruna kaya gitu Kal. Asal Lo tau ya, kalo Aruna ga nangkep Lo tadi pasti kepala Lo udah benjol dan berdarah kebentur lantai...,” kata Faris kesal.
“ Masa sih...,” sahut Kalisha tak percaya.
“ Iya. Aruna juga yang udah ngotot bawa Lo ke UKS tadi. Padahal temen yang lain ga ada yang peduli sama Lo, termasuk Gue...,” kata Adriana cuek hingga mengejutkan Kalisha.
“ Udah lah Kal. Ngapain sih Lo musuhin Aruna, ga guna tau. Lo liat sekarang. Orang yang Lo benci ini justru orang yang peduli sama Lo kan. Jadi saran Gue sebaiknya Lo buang rasa benci Lo yang ga berdasar itu. Lagian keliatannya Aruna juga ga peduli dan itu bikin Lo senewen kan...,” kata Bagus menengahi hingga membuat wajah Kalisha merah padam menahan marah.
“ Jangan paksa dia Gus. Gue gapapa kok. Kita semua tau kalo banyak hal di dunia ini yang ga sesuai sama keinginan Kita dan itu wajar. Karena itu Gue sadar bahwa Gue ga bisa maksa semua orang buat suka sama Gue dan nerima Gue yang ga sempurna ini. Jadi wajar kalo ada yang ga suka sama Gue termasuk Kalisha. Ngeliat Kalisha baik-baik aja sekarang Gue udah seneng kok...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
“ Ga usah sok baik deh Lo Aruna. Sikap Lo ini bikin Gue tambah ilfeel sama Lo, tau ga...!” kata Kalisha lantang namun hanya ditanggapi senyuman oleh Aruna.
“ Ups sorry, Gue ga maksud gitu kok. Kalo gitu Gue cabut deh. Duluan ya...,” sahut Aruna santai sambil melambaikan tangannya.
“ Eh tunggu Run !. Dasar cewek stress Lo ya. Bukannya berterima kasih malah maki-maki orang. Harusnya Lo bersyukur ada yang care sama Lo kaya si Aruna itu. Kalo Gue boleh jujur sebenernya sih Gue ogah jenguk Lo. Gue ke sini karena ngikutin Aruna aja tadi. Tapi karena sekarang Aruna cabut, lebih baik Gue juga cabut...!” kata Adriana kesal lalu berlari mengejar Aruna.
“ Keterlaluan Lo Kal. Pantesan aja banyak yang ga suka sama Lo. Ternyata Lo emang ga waras...,” kata Faris lalu membalikkan tubuhnya untuk menyusul Aruna dan Adriana.
“ Lo ga nyusul mereka Gus, ngapain masih di sini ?. Jangan bilang kalo Lo kasian sama Gue...,” kata Kalisha.
“ Jangan ge er Kal. Ini Gue juga mau pergi kok. Selamat tinggal, semoga Lo happy dalam kesendirian Lo ya Kal...,” sindir Bagus sambil berlalu.
Menyaksikan teman-temannnya mendukung Aruna membuat Kalisha kesal. Ia nampak mengepalkan tangannya sambil menatap punggung Bagus yang menjauh. Sedangkan dokter Hera hanya menggelengkan kepala menyaksikan sikap Kalisha terhadap teman-temannya.
\=====
“ Ga sia-sia Gue belajar keras selama dua hari...,” gumam Aruna sambil tersenyum.
Namun senyum Aruna memudar saat ia terpaksa menepi karena kehadiran mobil polisi dan ambulans yang lewat di sampingnya. Rupanya mereka sedang menuju ke sebuah tempat dimana banyak orang berkerumun di sana. Aruna mengira jika ada korban tabrak lari hingga membuat jalan itu macet saking banyaknya orang yang berkerumun memadati jalan.
“ Ada apaan sih Pak...?” tanya Aruna pada salah satu pedagang kaki lima.
“ Ada orang meninggal dibunuh Dik...,” sahut sang pedagang.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi roji’uun. Laki-laki atau perempuan Pak...?” tanya Aruna.
“ Laki-laki, kerjanya nyari rongsokan. Tumben udah siang kok ga keliatan ga taunya malah udah meninggal...,” sahut sang pedagang dengan mimik sedih.
“ Tau darimana kalo dia udah meninggal, kali aja cuma pingsan Pak...,” kata Aruna.
“ Kalo pingsan ga mungkin bau dong Dik. Wong kata Polisi dia diperkirakan udah meninggal sejak semalam kok...,” sahut sang pedagang.
Kemudian Aruna mendekati kerumunan orang itu untuk melihat kondisi jenasah sebelum dimasukkan ke mobil ambulans. Aruna bergidik saat melihat luka lebar di leher korban. Nampaknya leher pria itu dicabik dengan kasar hingga mengenai urat nadi. Polisi menyimpulkan jika pria itu meninggal dunia karena kehabisan darah.
Diantara kerumunan warga Aruna melihat Kalisha dan itu membuatnya terkejut. Apalagi melihat bagaimana cara
Kalisha menatap korban. Aruna mendekati Kalisha dari arah belakang lalu berbisik di telinganya.
__ADS_1
“ Ini pasti ulah Lo kan Kalisha...,” bisik Aruna hingga mengejutkan Kalisha.
“ Jangan sembarangan nuduh Aruna. Lo pikir Gue pembunuh...?” tanya Kalisha gusar.
“ Gue ga sembarangan kok. Gue ngomong kaya gini karena Gue ngeliat wujud lain Lo kemarin malam Kalisha...,” sahut Aruna sambil menatap Kalisha dengan lekat.
Kalisha terkejut Ialu menarik tangan Aruna menjauh dari kerumunan warga dan mereka berhenti di suatu tempat untuk bicara empat mata.
“ Bukan Gue yang membunuh orang itu. Tapi apa perlunya Gue jelasin ini sama Lo. Emang siapa Lo sebenernya Aruna...?” tanya Kalisha.
“ Gue bukan siapa-siapa. Gue cuma kebetulan lewat dan ngeliat Lo berubah jadi manusia serigala...,” sahut Aruna dengan santai.
“ Itu bukan kemauan Gue Aruna. Gue juga ga tau gimana cara mengendalikannya. Semua terjadi begitu aja dan itu sangat menyakitkan...,” keluh Kalisha dengan suara lirih hingga membuat Aruna prihatin.
“ Sejak kapan Lo tau kalo Lo berbeda Kalisha...?” tanya Aruna hati-hati.
“ Sejak kelas dua SMP...,” sahut Kalisha.
“ Oh ya. Apa saat itu Lo udah ngalamin menstruasi Kal...?” tanya Aruna.
“ Iya. Waktu itu pas nginep di rumah Nenek, Gue ngeliat sosok monster di belakang rumah Nenek. Gue takut banget tapi Gue ga bisa bergerak sama sekali apalagi lari. Monster itu deketin Gue dan menyentuh kepala Gue lalu memaksa Gue untuk ngeliat bulan purnama di atas sana. Mendadak Gue ngerasa badan Gue sakit banget, terlalu sakit sampe Gue hampir pingsan.Di saat bersamaan Gue juga ngerasa haus akan sesuatu. Gue ga tau apalagi yang terjadi waktu itu sampe akhirnya Gue ngeliat Bapak Gue terkapar di depan Gue dengan mata terbuka dan leher koyak. Pas Gue bangunin ternyata Bapak udah meninggal dengan kepala yang lepas dari badannya. Gue panik, bingung ga tau harus gimana Aruna...,” kata Kalisha sambil terisak.
“ Jadi Lo bener-bener ga tau apa yang Lo lakuin waktu itu Kal...?” tanya Aruna.
“ Iya. Gue pikir Bapak meninggal karena monster itu. Tapi Gue kaget waktu Lo bilang Gue lah yang udah menyakiti Bapak. Sejak saat itu Gue mulai berpikir jangan-jangan Gue yang udah ngebunuh Bapak...,” sahut Kalisha gusar.
Untuk sesaat Aruna dan Kalisha terdiam. Perlahan Kalisha menyentuh tangan Aruna dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan Aruna.
“ Maafin Gue ya Run. Selama ini Gue udah jahat sama Lo. Gue ga tau kenapa, tapi kalo ngeliat Lo kok Gue emosi aja bawaannya. Sekarang Gue ngerti kenapa, itu pasti karena Lo istimewa. Buktinya Lo tau apa yang terjadi sama Bapak dan masih bisa sesantai ini setelah tau siapa Gue sebenernya...,” kata Kalisha.
“ Ga usah lebay deh Kal. Gue cuma kebetulan tau. Gue ga takut karena saat ini Lo manusia biasa. Mungkin kalo Lo berubah jadi manusia serigala Gue juga bakal kabur...,” sahut Aruna sambil melengos karena tak ingin Kalisha curiga padanya.
“ Pasti lah. Gue aja takut kok apalagi orang lain...,” kata Kalisha sambil menundukkan wajahnya.
Keduanya kembali terdiam dengan pikiran masing-masing.
“ Pulang yuk, Gue lapar nih...,” kata Aruna sambil mendekati motornya.
“ Lo duluan aja Run, Gue masih mau di sini...,” sahut Kalisha.
“ Ok, Gue duluan ya...,” kata Aruna yang diangguki Kalisha.
“ Gue yakin Lo ga bakal kasih tau orang lain tentang ini kan Run...?” tanya Kalisha.
“ Gue ga seember itu ya Kal. Lagian mana ada yang percaya sih. Cerita kaya gitu cuma ada di buku dan film aja kan...,” sahut Aruna sambil tertawa disambut tawa Kalisha.
Kemudian Aruna melajukan motornya perlahan meninggalkan Kalisha di sana. Kalisha tersenyum setelah menyadari beban yang selama ini ditanggungnya lenyap setelah ia membaginya dengan Aruna.
“ Rasanya sedamai ini deket sama Lo ya Run...,” gumam Kalisha sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung