
Luluk siuman saat suaminya mengguncang tubuhnya dengan keras. Luluk marah karena sang suami justru membuat tubuhnya tambah sakit karena guncangannya itu.
" Apaan sih Mas. Bangunin orang tuh yang lembut kek. Aku ini manusia lho bukannya sapi...!" kata Luluk kesal sambil bangkit dari posisi tidurnya.
" Yang bilang Kamu sapi tuh siapa. Aku bangunin Kamu udah super lembut tadi, eh Kamunya ga bangun-bangun. Yah terpaksa Aku guncang kaya gitu. Lagian Kamu nih kenapa sih, pingsan atau tidur...?" tanya suami Luluk yang bernama Bambang itu.
" Aku pingsan Mas, puas Kamu...?!" tanya Luluk marah.
" Oalah maaf kalo gitu. Tau gitu kan Aku panggilan Bu ustadzah Siti buat bangunin Kamu...," kata Bambang sungguh-sungguh.
" Emangnya Ustadzah Siti bisa apa kok Kamu punya ide manggil dia buat bangunin Aku...?" tanya Luluk.
" Ustadzah Siti itu bisanya banyak lho Bu. Salah satunya ya bisa membuang hantu yang ada di badanmu itu...," sahut Bambang.
" Maksudmu Aku kesurupan Mas...?" tanya Luluk tak suka.
" Emang iya kan...?" tanya Bambang sambil berlalu.
Luluk menatap kesal kearah suaminya tanpa bicara lagi. Kemudian Luluk bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil mengingat apa yang ia alami semalam.
" Mimpi atau bukan sih. Kok tumben Aku bisa ngeliat semua anak-anak itu. Biasanya juga gapapa...," gumam Luluk sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Saat itu tak sengaja Luluk melihat kearah cermin. Ia melihat pantulan sosok yang mengerikan tengah berdiri di belakangnya dan tampak sedang mengamatinya. Luluk terkejut lalu menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa yang dilihatnya tadi hanya ilusi.
" Sia*an. Pagi-pagi udah ngeliat setan...," maki Luluk sambil bergegas keluar dari kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi Luluk berpapasan dengan suaminya yang hendak mandi. Luluk mematung di tempat karena melihat Bambang bukan seperti layaknya manusia. Luluk bahkan menahan nafas saking terkejutnya.
__ADS_1
Di mata Luluk saat itu Bambang terlihat seperti orang lain. Berpakaian compang-camping, kulit menghitam, dengan wajah dipenuhi lendir menjijikkan. Jangan lupakan bau yang menguar dari tubuhnya yang laksana mayat hidup itu.
Luluk membalikkan tubuhnya lalu kembali ke kamar mandi dan muntah hebat di sana. Bambang nampak membantu memijit tengkuk sang istri.
" Pasti masuk angin gara-gara tidur di lantai semalaman. Ga pake alas apalagi selimut. Makanya Bu, udah tua tuh ga usah neko-neko. Sadar diri lah sama kemampuan diri...," kata Bambang.
" Kamu nih kenapa sih Mas. Yang mau tidur di lantai tuh siapa ?. Lagian Aku bukan masuk angin kok...!" sahut Luluk dengan kasar.
" Terus kalo ga masuk angin apa dong, hamil...?" tanya Bambang sambil tersenyum mengejek.
" Bukan lah...!" sahut Luluk cepat.
" Terus apa dong...?" tanya Bambang.
" Aku muntah karena jijik ngeliat Kamu...!" sahut Luluk sambil keluar dari kamar mandi meninggalkan suaminya yang berdiri sambil menatap tak percaya kearahnya.
" Astaghfirullah aladziim..., nyebut Bu !. Kok bisa-bisanya ngomong begitu sama Suami...!" kata Bambang lantang.
Luluk kembali menoleh dan tak melihat apa pun di sana. Dengan tergesa-gesa Luluk mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar. Biasanya Luluk akan berlama-lama di depan cermin namun kali ini tidak sama sekali. Luluk seperti menghindari cermin karena takut melihat penampakan makhluk menyeramkan itu lagi.
Bambang keluar dari kamar mandi dan menggelengkan kepala melihat kondisi Luluk yang berbeda dari biasanya. Rambut Luluk terlihat berantakan dan wajahnya pun belum dipoles dengan make up.
" Kenapa Kamu Bu. Biasanya ga mau ngalah sama Aku kalo make cermin. Padahal Aku yang berangkat kerja tapi Kamu yang heboh dandan...," sindir Bambang.
" Iya sebentar lagi. Kamu pake cermin itu sampe puas Mas, Aku ga bakal ganggu kok...," sahut Luluk sambil melangkah menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Bambang tersenyum meski pun dalam hati bertanya-tanya tentang perubahan sikap istrinya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian sarapan telah siap di meja. Luluk ikut menemani suaminya makan pagi itu. Bambang pun makan dengan lahap sementara Luluk nampak menatap ke sekitarnya dengan perasaan was-was.
" Cari apaan sih Bu...?" tanya Bambang.
" Ga cari apa-apa Mas. Cuma ngeliat sarang laba-laba di atas sana. Kayanya rumah Kita udah lama ga dibersihin ya. Kok bisa banyak sarang laba-laba...," sahut Luluk asal.
" Kalo udah tau kotor ya dibersihin dong Bu. Kamu kan yang punya banyak waktu luang di rumah. Jangan bisanya nongkrong sambil ngerumpi aja...," sahut Bambang ketus.
" Kamu kok gitu sih ngomongnya Mas...," kata Luluk dengan nada tak suka.
" Lho emang kenyataannya begitu kan ?. Begitu Aku keluar rumah, Kamu sama Usi langsung bergabung dan ngobrol sepanjang hari. Ga masak, ga beres-beres rumah, ga nyuci. Kalo Aku tanya malah galakan Kamu. Pake bilang kalo mau makan tinggal beli, nyuci ada laundry, beresin rumah ga perlu setiap hari karena ga punya anak kecil. Jadi kerjaan Kamu di rumah ya cuma ngerumpi sama si Usi...!" kata Bambang ketus.
Luluk cemberut mendengar ucapan suaminya. Apa yang dikatakan Bambang memang benar. Tapi Bambang tak pernah tahu jika Luluk melakukan itu karena ia sibuk bekerja. Sebuah pekerjaan khusus yang didapatnya dari pemilik kontrakan. Meski pun hanya pekerjaan ringan, tapi Luluk dengan senang hati menerimanya.
Sejak Luluk memiliki pekerjaan khusus itu, ia memang tak lagi memperhatikan rumah tangganya. Luluk merasa dunianya teralihkan dengan sesuatu yang lebih menjanjikan. Apalagi pekerjaan khususnya itu membuat Luluk kaya dan memiliki banyak hal yang tak pernah dimiliknya dulu.
Luluk tersentak dari lamunan nya saat Bambang berdiri dari posisi duduknya.
" Tuh, kalo udah kaya gini diem deh. Mana suaramu yang lantang itu Bu...?" tanya Bambang sambil menyudahi makannya.
" Kok makannya ga dihabisin ?. Ga enak ya...?" tanya Luluk.
" Ga enak. Aku ga suka karena itu bukan hasil masakan Kamu...," sahut Bambang.
" Jangan manja deh Mas. Biar pun Aku ngobrol seharian tapi keperluan Kamu kan ga pernah absen. Makanan udah tersedia, air hangat dan kopi panas juga ada. Kurang apa sih Mas...," gerutu Luluk sambil membereskan meja makan.
Bambang tak bicara lagi. Ia memilih bersiap untuk bekerja daripada meladeni istrinya itu. Bambang lelah harus bertengkar hal yang sama hampir setiap hari tapi Luluk tak juga berubah. Ia tak mengerti apa yang dilakukan istrinya hingga melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bambang pun keluar dari rumah. Luluk melepas kepergian suaminya sambil termenung. Saat hendak menutup pintu lagi-lagi Luluk melihat penampakan makhluk mengerikan itu di sudut ruang tamu. Karena takut, Luluk memutuskan keluar dari rumahnya dan duduk di teras rumah Ria seperti biasa.
\=\=\=\=\=