Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
136. Hantu Moa


__ADS_3

Malam itu Kautsar dan rombongan menginap di kediaman Kakek Aldi. Awalnya mereka menolak dan ingin langsung kembali ke kota Malang, namun Kakek Aldi meminta mereka untuk tetap tinggal dan pulang besok pagi.


Kautsar dan Aruna dipersilakan tidur di kamar tamu karena mereka adalah suami istri. Sedangkan Reymond dan Reyhan diberi kebebasan memilih ingin tidur dimana. Keduanya memilih tidur di ruang tengah sambil menemani orang yang mengaji.


Malam kian merangkak naik, udara pun terasa makin dingin. Para santri yang sedang mengaji pun nampak mulai diserang kantuk. Mereka beberapa kali menguap. Untuk mengusir kantuk mereka pun meminum kopi yang disediakan tuan rumah.


Di sudut ruangan terlihat Reymond dan Reyhan yang sudah terlelap meski dalam posisi duduk.


Di dalam kamar tamu, Aruna nampak gelisah. Kautsar yang terlelap pun terbangun saat merasakan tempat tidur yang bergoyang karena istrinya membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


Kautsar pun menarik Aruna ke dalam pelukannya berharap agar sang istri bisa segera terlelap. Namun Aruna justru berusaha melerai pelukan Kautsar hingga membuat Kautsar bingung.


" Kenapa...?" tanya Kautsar dengan suara serak.


" Ga tau. Aku ga bisa tidur...," sahut Aruna sambil membelakangi Kautsar.


" Mau dipijit...? " tanya Kautsar.


" Bukan itu. Aku ngerasa akan ada sesuatu yang terjadi di rumah ini Tsar. Aku harap itu bukan sesuatu yang besar dan menakutkan...," sahut Aruna cemas.


Kautsar bangkit lalu mengenakan pakaian luarnya yang tadi ia tanggalkan hingga membuat Aruna bertanya-tanya.


" Kamu mau kemana...?" tanya Aruna.


" Siap-siap..., " sahut Kautsar.


" Siap-siap mau ngapain...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Siap-siap buat nyambut sesuatu yang Kamu bilang tadi Aruna. Aku ga mungkin keluar kamar tanpa baju kan...," sahut Kautsar cepat.


Aruna tersenyum lalu turun dari tempat tidur. Kemudian ia memeluk Kautsar erat.


" Makasih ya udah mau jagain Aku. Aku ga tau gimana jadinya kalo bukan Kamu yang nikahin Aku...," kata Aruna.


" Sama-sama. Aku senang ngelakuinnya. Dan terima kasih juga udah mau percaya sama Aku dan ceritain semua kegundahanmu itu...," sahut Kautsar sambil mengecup kening Aruna dengan sayang.


Untuk sesaat keduanya saling memeluk lalu Aruna mengurai pelukannya.

__ADS_1


" Jadi Kita mau apa sekarang...?" tanya Kautsar.


" Kita keluar. Aku mau liat apa yang terjadi di luar sana...," sahut Aruna.


" Ok, tapi pake jaket dulu ya. Di luar pasti dingin banget udaranya...," kata Kautsar sambil membantu Aruna mengenakan jaket.


Setelahnya Kautsar dan Aruna keluar dari kamar. Mereka melewati deretan kamar yang semua dalam keadaan tertutup rapat.


Saat tiba di ruang tengah mereka terkejut karena melihat orang-orang yang 'begadang' justru nampak terbaring di lantai dalam posisi acak.


" Jadi ini yang terjadi. Pantesan dari tadi perasaanku ga enak..., " kata Aruna sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.


" Tapi cuma di ruangan ini yang begini Run. Coba Kamu liat santri yang ngaji di ruangan sebelah. Mereka justru gapapa dan terlihat baik-baik aja...," kata Kautsar sambil menunjuk ke ruangan sebelah dimana beberapa santri tengah membaca Al Qur'an.


Aruna mengikuti arah telunjuk Kautsar dan mengangguk setuju. Kemudian Aruna menoleh keluar saat melihat pergerakan sesuatu di luar sana. Aruna nampak menghela nafas panjang karena melihat penampakan Moa di halaman rumah.


" Ck, mau apalagi dia ke sini...," gumam Aruna sambil melangkah menuju halaman rumah diikuti Kautsar.


Rupanya pemimpin dari rombongan para santri itu juga merasa tak nyaman. Sebelumnya ia dibuat terkejut saat melihat penampakan Moa di sana. Itu sebabnya ia mengajak teman-temannya untuk bergeser ke ruang lain agar bisa lebih fokus mengaji.


" Kenapa tuh si Kautsar sama Aruna...," gumam Hafiz.


Kedua mata Hafiz membulat saat ia melihat penampakan Moa tepat di hadapan Kautsar dan Aruna.


" I... itu. Bang Moa kan...?" kata Hafiz dengan suara bergetar.


Tak ingin terjadi sesuatu dengan Kautsar dan Aruna membuat Hafiz bergegas meletakkan nampan berisi cemilan itu di hadapan para santri lalu menggamit tangan pimpinan santri.


" Kenapa Mas Hafiz...? " tanya pimpinan santri.


" Lo liat ga apa yang Gue liat. Itu di sebelah sana...," sahut Hafiz sambil menunjuk kearah hantu Moa.


" Liat Mas. Makanya Saya ngajak temen-temen pindah ke ruangan ini biar bisa lebih fokus ngaji...," sahut pimpinan santri.


" Kenapa harus pindah...?" tanya Hafiz tak mengerti.


" Saya ga mau temen-temen ketakutan Mas. Saya tau kalo itu penampakan hantu dari salah satu keluarga Mas Hafiz yang meninggal itu...," sahut pimpinan santri.

__ADS_1


" Lo bener. Sekarang bisa kan Lo bantuin mereka dengan berdzikir atau berdoa supaya hantu itu cepet pergi...?" tanya Hafiz.


" Insya Allah dengan Kami lanjut membaca Al Qur'an akan membuat hantu itu merasa ga nyaman, takut, lalu pergi Mas...," sahut pimpinan santri sambil tersenyum.


" Syukur lah. Kalo gitu Gue panggil Kakek dulu ya. Mungkin ada hal penting yang mau disampein sama hantu itu...," kata Hafiz.


" Silakan Mas...," sahut pimpinan santri.


Hafiz pun bergegas ke bagian dalam rumah untuk membangunkan sang Kakek.


Sedangkan Aruna mulai berinteraksi dengan hantu Moa yang penampilannya lebih mirip zombie di film Holywood. Wajahnya nampak bengkak, dengan darah yang mengering yang mengalir dari kepalanya akibat lemparan batu yang dilakukan Aldi. Posisi berdiri hantu Moa nampak sedikit membungkuk seolah menahan sesuatu di belakang tubuhnya. Tatapan matanya terpaku kearah Aruna. Namun sesekali ia nampak mengedarkan pandangan ke penjuru rumah.


" Apa maumu...?" tanya Aruna.


" Pulang...," sahut hantu Moa hingga membuat Aruna menghela nafas panjang.


" Pulang kemana ?. Kau sudah pergi, kenapa kembali ke sini. Di sini bukan tempatmu lagi. Kau sudah berbeda alam dengan Kami...," kata Aruna.


" Berbeda alam, maksudmu Aku sudah mati...?" tanya hantu Moa ragu.


" Betul...! " sahut sebuah suara lantang dari belakang Aruna dan Kautsar.


Semua orang menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Kakek Aldi nampak berdiri sambil berkacak pinggang. Di sampingnya terlihat Hafiz yang berdiri tegak sambil memegang seuntai tasbih.


Para santri yang tengah duduk sambil membaca Al-Quran pun terusik dan menoleh kearah Kakek Aldi. Mereka bingung karena saat itu Kakek Aldi terlihat sedang menatap marah kearah tempat kosong tepat di hadapan Kautsar dan Aruna. Pemimpin santri memberi isyarat agar teman-temannya melanjutkan membaca Al Qur'an. Ia berharap bisa membantu mengusir hantu Moa dari rumah itu.


" Kakek...," panggil hantu Moa lalu melangkah tertatih-tatih kearah sang Kakek.


" Tetap di situ Moa. Aku tak sudi punya Cucu yang bejat dan tak tau malu sepertimu...!" kata Kakek Aldi lantang sambil mengembangkan telapak tangannya ke depan.


" Apa maksud Kakek...?" tanya hantu Moa.


" Aku tau apa yang Kau lakukan Moa !. Kau telah memeras dan melecehkan Aldi. Itu menjijikkan sekali. Andai Kau masih hidup Aku tak akan pernah membiarkan menginjak rumahku Moa...!" sahut Kakek Aldi marah sambil menatap penuh kebencian kearah hantu Moa.


Mendengar ucapan kakeknya membuat hantu Moa sedih dan hampir menangis. Namun sesaat kemudian hantu Moa tertawa dan membuat semua orang yang bisa melihatnya menatap kesal kearahnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2