
Perlahan Lian membuka matanya. Semua dirasa berputar dalam penglihatan Lian. Ia meringis menahan sakit di kepala sambil berusaha mengibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Setelahnya Dian kembali memejamkan mata karena tak sanggup menahan rasa sakit di kepalanya.
" Oh, sudah bangun rupanya...," sapa Dian dengan ramah.
Lian refleks membuka matanya lalu mencari asal sumber suara. Lian menggertakkan giginya pertanda ia sangat kesal saat melihat Dian duduk di atas kursi sambil menopang satu kakinya. Bukan hanya itu yang membuat Lian kesal. Saat itu Dian mengenakan pakaian kesayangan Lian yang baru saja dibelinya dan belum pernah ia pakai sama sekali.
" Kamu. Kenapa Kamu pake baju itu. Kamu tau kan kalo itu baju kesayanganku dan Aku belum pernah make sama sekali...?" tanya Lian menahan marah.
" Ups sorry. Abis Aku gemes ngeliat ini di lemari Kamu. Pas Aku coba, eh ternyata pas banget di badan Aku. Bagus...," sahut Dian tanpa tahu malu.
" Ok, gapapa. Sekarang tolong lepasin iketan tanganku. Lagian Kamu mau ngapain sih ngiket tanganku segala...?" tanya Lian sambil memperlihatkan tangannya yang terikat.
" Oh kalo itu Aku ga bisa...," sahut Dian santai.
" Maksud Kamu ga bisa tuh apa Dian. Ini kan cuma tali plastik bukan borgol yang ada anak kuncinya. Kamu tinggal ambil gunting terus gunting ni tali. Kan beres...!" kata Lian dengan suara lantang.
" Iya tau. Tapi sayangnya Aku emang ga niat ngelepasin Kamu Lian. Ga akan pernah...," sahut Dian sambil menekan kalimatnya itu.
" Jangan bercanda Dian. Apa salahku sama Kamu sampe Kamu iket Aku kaya gini...?" tanya Lian mulai gusar.
" Pikir aja sendiri...," sahut Dian sambil melengos.
" Ok, kalo emang Aku punya salah sama Kamu, Aku minta maaf yaa. Tapi soal penerimaan karyawan baru itu bukan wewenang Aku Dian. Jadi maaf kalo Aku ga bisa bantu Kamu...," kata Lian.
Ucapan Lian membuat Dian marah. Ia menggebrak meja dan melempar kursi yang tadi didudukinya ke lantai. Setelahnya Dian menghampiri Lian yang terbaring di lantai. Kemudian Dian menarik wajah Lian agar menatap kearahnya.
" Salahmu adalah, Kamu memiliki semua yang Aku inginkan. Pekerjaan, rumah, perhiasan dan kehidupanmu ini, semua adalah mimpiku. Harusnya ini jadi milikku bukan Kamu...!" kata Dian kasar.
__ADS_1
" Ya Allah. Kamu nih kenapa sih Dian. Sadar dong. Aku juga ngedapetin semua pake usaha dan kerja keras Dian. Kamu hanya liat hasilnya sekarang tapi ga pernah liat gimana prosesnya dulu. Ngedapetin semua ini ga gampang Dian. Ada keringat, darah dan air mata yang jatuh di sini andai Kamu mau tau Dian...," sahut Lian sambil menggelengkan kepala.
" Tapi semua ini memang seharusnya jadi milikku Lian...!" kata Dian lantang lalu mulai menyerang Lian.
Lian yang dalam kondisi tak siap dan terikat tak bisa mengelak dan harus menerima pukulan Dian. Lian menjerit kesakitan saat pukulan Dian mengenai tubuhnya bertubi-tubi.
" Udah Diaaann !. Sakit tau ga...?!" kata Lian marah.
" Sakit ya. Itu bagus. Akan Aku buat Kamu lebih sakit lagi dari ini...!" sahut Dian sambil terus memukuli Lian.
Pukulan yang dilancarkan Dian secara terus menerus membuat Lian terluka. Tak hanya tubuh, tapi pukulan Dian juga menyasar di kepala dan wajah Lian hingga bibir Lian pecah dan berdarah.
Sebelum Lian benar-benar jatuh pingsan, Dian memasukkan sesuatu ke dalam mulut Lian.
Lian menggeram marah akibat sesuatu yang dimasukkan paksa ke mulutnya tadi menimbulkan sakit yang amat sangat di tenggorokannya. Sesaat kemudian Lian memuntahkan darah segar lalu pandangan matanya menggelap. Lian pun jatuh pingsan tepat di bawah kaki Dian.
\=\=\=\=\=
Lian lagi-lagi terbangun dalam suasana yang berbeda. Lian menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sakit yang mendera kepalanya. Ada darah yang mengalir dari lubang hidung, telinga dan sela bibir Lian pertanda jika saat itu Lian mengalami luka dalam.
Samar-samar Lian bisa melihat dirinya ada di sebuah ruangan yang gelap. Teramat gelap tanpa cahaya. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu di kamar tidurnya.
Lian menyipitkan matanya saat melihat seseorang tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Lian pun mendengus kesal saat ia mengenali siapa yang berbaring nyaman di tempat tidurnya itu.
" Dasar iblis wanita ga tau diri. Keluar Kau dari rumahku Dian...!" kata Lian lantang.
Namun seolah tak mendengar ucapan Lian, Dian nampak asyik berselancar di dunia maya melalui ponsel milik Lian. Melihat hal itu Lian bertambah kesal. Ia menyeret tubuhnya yang penuh luka itu untuk menghampiri Dian.
__ADS_1
Kemudian saat Lian mengulurkan tangannya, ia tersentak kaget karena ujung jemari tangannya menyentuh dinding kaca. Lian meraba dinding kaca itu lalu mengetuknya perlahan. Sesaat kemudian Lian sadar jika dirinya terkurung di dalam cermin di kamarnya.
" Keluarkan Aku dari sini Diaaannn...!" jerit Lian sambil memukuli dinding kaca itu.
Lian terus memanggil Dian sambil menggedor dinding kaca itu. Nampaknya Dian yang saat itu tengah menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur tak mendengar panggilan Lian.
Sesaat kemudian dari tempatnya berdiri Lian menyaksikan Dian mengibaskan rambutnya lalu menoleh kearah cermin tampat dimana dirinya terperangkap. Lian mundur beberapa langkah saking terkejutnya saat menyaksikan dirinya lah yang sedang menelungkup di atas tempat tidur itu.
" Itu Aku ?!. Kalo itu Aku, terus Aku siapa ?. Apa yang terjadi, atau jangan-jangan Aku udah mati...?!" tanya Lian bingung sambil terus mengamati wanita yang sama persis dengan dirinya itu tanpa berkedip.
Sesaat kemudian Lian menangis. Ia sadar jika raganya bukan lagi miliknya. Ada jiwa lain yang meminjam raganya dan Lian tak tahu siapa yang telah melakukan itu.
Wanita yang sama persis dengan Lian itu menoleh kearah cermin. Bukan karena dia mendengar suara jeritan Lian, tapi karena dia melihat cermin itu bergetar hebat. Senyum mengejek nampak tersungging di bibirnya hingga membuat Lian makin meradang.
Kemudian wanita yang sama persis dengan Lian itu bangkit dari posisi berbaringnya lalu berjalan mendekati cermin. Ada seringai mengejek di wajahnya yang pasti ditujukan pada Lian yang terperangkap di balik cermin.
" Kau sudah lama menikmati semuanya Lian. Sekarang giliranku. Aku pinjam raga cantikmu ini dan percaya lah, Aku akan menjaganya dengan baik dan membuatnya lebih berarti lagi nanti...," kata wanita yang sama persis dengan Lian sambil mendekatkan wajahnya ke cermin.
Saat itu lah Lian mengenali wanita itu yang tak lain adalah Dian. Dengan marah Lian bangkit lalu menggedor cermin hingga cermin itu bergetar hebat. Sayup-sayup terdengar makian dari balik cermin.
" Dasar wanita jahat. Balikin ragaku Diaann !. Cukup sudah, jangan ambil ragaku...!" kata Lian marah.
" Ssstt..., ga usah teriak Lian. Percuma. Mulai sekarang Kita bertukar tempat. Aku yang akan menjadi Lian, dan Kau, membusuk lah di sana...!" maki Dian lalu membalikkan tubuhnya kearah lain dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Lian menjerit histeris. Air mata tumpah ruah di wajahnya yang pucat. Tak ada yang bisa membantunya. Lian terjebak di balik cermin hingga bertahun-tahun kemudian tanpa seorang pun tahu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1