Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
273. Kedatangan Mertua


__ADS_3

Untuk sesaat Aruna nampak terdiam mendengar cerita sang ayah. Tiba-tiba terdengar suara motor Kautsar memasuki halaman rumah. Aruna pun menatap sang ayah dengan tatapan tak terbaca.


" Suamimu pulang. Temui dia dulu, biar Ayah tunggu di sini...," kata Orion sambil tersenyum.


" Jadi Ayah bakal nemuin Kautsar juga...?" tanya Aruna.


" Tentu saja. Dia kan menantu Ayah. Ada beberapa hal yang ingin Ayah bicarakan sama dia salah satunya tentang keguguranmu tempo hari...," sahut Orion santai namun berhasil mengejutkan Aruna.


" Ayah juga tau kalo Aku keguguran...?!" tanya Aruna.


" Kamu ga lupa siapa Ayahmu ini kan Nak...?" tanya Orion sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas hingga membuat Aruna meringis.


" Kenapa Ayah selalu mencubit pipiku. Aku ini udah dewasa Ayah...," protes Aruna sambil memegangi pipinya lalu berjalan menuju pintu.


Orion hanya tersenyum mendengar gerutuan Aruna.


Pintu pun terbuka dan Kautsar nampak tersenyum melihat sang istri menyambutnya.


" Assalamualaikum Istriku, baru mau ketuk pintu eh udah dibukain pintu...," kata Kautsar sambil memeluk Aruna dengan erat.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Aruna sambil tersenyum dan membalas pelukan suaminya.


Kemudian Kautsar mengurai pelukannya dan langsung mencium bibir Aruna dengan lembut. Aruna tak sempat mengelak. Ia hanya menepuk punggung Kautsar untuk menghentikan aksinya. Namun sayangnya Kautsar tak memahami isyarat yang diberikan sang istri. Ia justru melu*at bibir Aruna lebih intens dan mendorong pintu dengan kakinya hingga pintu pun tertutup.


Sadar jika Kautsar bisa saja melakukan sesuatu yang lebih, Aruna segera mendorong tubuh sang suami hingga membuat Kautsar bingung.


" Kenapa Sayang, Kamu ga kangen ya sama Aku ?. Padahal Aku kangen banget sama Kamu...," kata Kautsar sambil mencoba memeluk Aruna lagi.


" Bukan itu Sayang. Kita kedatangan tamu...," sahut Aruna sambil menghadapkan tubuh Kautsar kearah Orion.


Kautsar terkejut sekaligus malu saat melihat sang mertua duduk santai di sofa sambil tersenyum penuh makna kearahnya. Ia pun nampak salah tingkah karena yakin jika sang mertua telah mendengar dan melihat apa yang ia lakukan tadi.


" Sayang, kok malah bengong sih...," bisik Aruna sambil menepuk lengan Kautsar dengan lembut.


" Oh iya, maaf Aku kaget banget liat Ayah ada di sini Sayang...," sahut Kautsar sambil bergegas menghampiri Orion.


Orion berdiri menyambut Kautsar yang langsung mencium punggung tangannya dengan takzim. Setelahnya ia memeluk Kautsar dengan erat sambil mengusap punggung sang menantu beberapa kali.

__ADS_1


" Apa kabar Yah...?" tanya Kautsar saat keduanya saling mengurai pelukan.


" Alhamdulillah baik. Ayah senang liat Kalian baik-baik aja...," kata Orion sambil melirik Aruna.


Kautsar nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal saat mendengar ucapan Orion yang ia tahu kemana arahnya. Wajahnya pun terlihat merona karena malu telah memberi tontonan gratis tadi. Aruna pun maju dan memeluk Kautsar lalu mengatakan sesuatu yang membuat Orion tertawa.


" Udah Yah, jangan gangguin Suamiku terus. Apa Ayah ga liat mukanya udah merah kaya kepiting rebus gini...," kata Aruna sambil melotot kearah ayahnya.


" Ok, Ayah akan pura-pura ga liat apa pun tadi...," sahut Orion di sela tawanya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


" Ayaaahh...," panggil Aruna lagi.


Kautsar pun bergegas melerai perdebatan Aruna dengan Orion.


" Gapapa Sayang. Kenapa Ayah belum disuguhin apa-apa sih. Emang Kamu ga masak sesuatu atau apa gitu...?" tanya Kautsar saat melihat meja yang kosong.


" Ya Allah Aku lupa. Sebentar Aku seduhin kopi buat Ayah dan Kamu ya...," sahut Aruna sambil melangkah menuju dapur.


Kautsar dan Orion pun hanya menggelengkan kepala melihat sikap Aruna. Setelahnya mereka duduk sambil berbincang banyak hal.


Tak lama kemudian Aruna datang sambil membawa teko berisi kopi dan beberapa buah cangkir. Kautsar mengerutkan keningnya melihat jumlah cangkir yang dibawa Aruna.


Aruna tersentak mendengar ucapan Kautsar. Kemudian ia menatap Orion seolah berusaha meyakinkan jika suaminya tak melihat kehadiran pengawal ayahnya itu. Orion nampak mengangguk mengiyakan apa yang ada di benak Aruna.


" Aku cuma siapin aja biar ga mondar-mandir pas Om George dan Tante Matilda ke sini juga nanti...," kata Aruna yang diangguki Orion.


" Oh gitu. Maaf Yah, Aku tinggal ke kamar sebentar ya. Mau bersih-bersih dulu...," pamit Kautsar.


" Silakan Nak...," sahut Orion.


Kautsar pun bergegas melangkah ke kamar untuk membersihkan diri. Aruna pun mengikuti Kautsar masuk ke dalam kamar karena akan membantu menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Tak lama kemudian Aruna kembali bergabung dengan ayahnya.


" Apa Kautsar ga bisa melihat mereka Yah...?" tanya Aruna sambil melirik keempat pengawal ayahnya.


" Begitu lah Nak. Ga semua orang bisa langsung melihat mereka. Apalagi Kautsar bukan dari klan Kita. Tapi perlahan Kautsar akan menyadari kehadiran mereka nanti...," sahut Orion.


" Begitu ya...," kata Aruna mencoba mengerti.

__ADS_1


" Iya. Ayah yakin Kautsar akan mengerti nanti dan ga akan bingung saat melihat mereka...," sahut Orion hingga membuat Aruna bernafas lega.


Tak lama kemudian Kautsar keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih fresh. Saat Kautsar duduk, mereka pun kembali terlibat obrolan panjang. Orion juga menyinggung tentang keguguran yang dialami Aruna beberapa waktu lalu.


" Jangan nyalahin Kautsar, Ayah. Aku yang ga pandai menjaga diri...," kata Aruna cepat dengan meksud membela suaminya.


" Apa Kamu dengar kalo Ayah menyalahkan Suamimu Nak...?" tanya Orion.


" Iya, Aku tau. Tapi sebelum Ayah nyalahin Suamiku, Aku kasih tau Ayah kalo Suamiku ga salah sama sekali. Ini murni kecelakaan...," sahut Aruna.


" Tapi harusnya Aku lebih tegas waktu itu. Minimal Aku tetap ada di sana nemenin Kamu dan bukannya sibuk dengan kerjaanku Sayang...," sela Kautsar.


" Kondisinya waktu itu kan emang di luar perkiraan Tsar. Semahir apa pun Kita menjaganya, kalo Allah ga ijinkan ya akhirnya pergi juga. Bukannya Kamu yang bilang kalo ini takdir, kenapa sekarang Kamu malah ngomong kaya gini sih...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Aku...," ucapan Kautsar terputus saat Orion memotong cepat.


" Cukup, kenapa Kalian malah ribut ?. Ayah ga nyalahin Kalian lho Anak-anak. Ayah cuma mau bilang kalo suatu saat Kalian tahu ada calon bayi di rahim Aruna, ada baiknya Kalian hijrah ke tempat lain...," kata Orion.


" Hijrah ke tempat lain, kenapa Yah...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Aku ga tau kenapa. Tapi itu yang dilakukan Ibumu dulu dan berhasil...," sahut Orion.


Aruna dan Kautsar saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


" Ga ada salahnya dicoba...," kata Kautsar.


" Aku setuju...," sahut Aruna cepat.


" Bagus. Apalagi jika Kalian hijrah ke tempat yang tenang, itu bisa membuat perasaan Kalian lebih baik...," kata Orion yang diangguki Kautsar.


" Jadi Ayah ga nyalahin Aku atau Kautsar...?" tanya Aruna hati-hati.


Orion menggelengkan kepalanya sambil mengatakan sesuatu yang membuat Aruna dan Kautsar terharu.


" Kalian memang belum ditakdirkan memiliki anak untuk saat ini. Masih banyak hal yang harus Kalian lakukan. Kalian kan masih dalam tahap adaptasi satu sama lain mengingat pernikahan Kalian yang mendadak itu. Berhenti lah menyalahkan diri sendiri dan bangun kehidupan rumah tangga Kalian sebaik mungkin. Ayah, Kakek dan kedua orangtua Kalian paham kondisi Kalian. Jadi jangan merasa terbebani dengan hal itu. Yang penting Kalian berdua bahagia, bisa saling memahami dan menyayangi itu lebih dari cukup untuk Kami. Soal anak, yakin lah akan Allah hadirkan di saat yang tepat nanti...," kata Kautsar bijak.


" Baik, makasih Ayah...," sahut Aruna dan Kautsar bersamaan hingga membuat Orion tersenyum.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=


__ADS_2