Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
58. Sakit Hati


__ADS_3

Kautsar sengaja mengajak Aruna bertemu untuk membicarakan niat orangtua mereka. Awalnya Aruna keberatan tapi Kautsar memaksa hingga akhirnya mereka bertemu sore hari usai Kautsar pulang bekerja.


Kautsar memang telah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Kepandaian Kautsar membuatnya dengan mudah mendapat tempat di perusahaan itu. Semula Kautsar mendapat tawaran untuk menjadi assisten dosen teknik arsitek, namun Kautsar menolak karena merasa tak cukup piawai berdiri di depan kelas. Akhirnya sang dosen merekomendasikan Kautsar pada perusahaan besar yang sedang membutuhkan karyawan.


Kini Kautsar duduk berhadapan dengan Aruna yang baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Setelah memesan minuman dan makanan ringan keduanya pun mulai bicara.


“ Apa kabar Aruna...?” tanya Kautsar membuka pembicaraan.


“ Alhamdulillah baik...,” sahut Aruna cepat.


“ Maafin Gue Aruna. Gue juga ga tau apa-apa tentang perjodohan itu. Orangtua Gue baru jelasin semua setelah Kita pulang dari rumah makan...,” kata Kautsar.


“ Terus...?” tanya Aruna.


“ Gue ga bisa nolak...,” sahut Kautsar cepat.


“ Ga bisa nolak atau ga mau nolak...?” tanya Aruna.


Pertanyaan Aruna membuat Kautsar tersentak kaget. Ia menatap Aruna yang saat itu juga tengah menatapnya. Saat tatapan mereka bertemu, Kautsar tak merasakan kemarahan Aruna dan itu membuatnya merasa sedikit lega.


“ Gue ga mau nolak karena Gue ga punya alasan buat nolak...,” sahut Kautsar mantap.


“ Ck. Kenapa begini sih jalan ceritanya...,” gumam Aruna sambil melengos.


“ Apa maksud Lo...?” tanya Kautsar tak mengerti.


“ Ini di luar dugaan tau ga. Gue belum lulus, belum kerja juga. Tapi mendadak Gue harus nikah sama pilihan Papa Arka dan Mama Diana. Lo tau kan kalo mereka orangtua angkat Gue. Mana mungkin Gue tega nolak permintaan mereka yang udah berjasa dalam hidup Gue...,” sahut Aruna gusar.


“ Artinya Lo nerima perjodohan ini Run...?” tanya Kautsar hati-hati.


“ Sama kaya Lo, Gue ga bisa nolak karena ga punya alasan buat nolak...,” sahut Aruna sambil menundukkan wajahnya hingga membuat Kautsar tersenyum.


“ Gue janji bakal jadi Suami yang baik buat Lo Run...,” kata Kautsar sambil meraih tangan Aruna lalu menggenggamnya erat.


Aruna membiarkan tangannya digenggam oleh Kautsar karena saat itu ia juga perlu seseorang yang bisa menenangkan perasaannya. Dan ternyata Aruna merasa nyaman saat Kautsar menggenggam tangannya.


“ Pasti sulit buat Kita ngejalanin pernikahan itu Tsar...,” sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.


“ Kita bisa belajar sama-sama Aruna...,” sahut Kautsar sambil tersenyum lalu mengusap ujung mata Aruna yang basah dengan jarinya.

__ADS_1


“ Kenapa Lo yakin banget sih...?” tanya Aruna.


“ Karena Kita kan udah lama berteman. Udah sama-sama tau sifat dan karakter masing-masing. Jadi itu cukup buat modal awal Kita membangun rumah tangga...,” sahut Kautsar sambil menatap Aruna dengan lembut.


Aruna memalingkan wajahnya kearah lain karena tak sanggup menatap kedua mata Kautsar yang terarah padanya.


Sore itu kesepakatan pun terjadi antara Aruna dan Kautsar. Tak ada perselisihan besar seperti dugaan Kautsar. Ternyata Aruna cukup kooperatif dan bisa diajak bicara dari hati ke hati, sesuatu yang berbeda dari keseharian Aruna yang meledak-ledak.


Kautsar pun pulang ke rumah setelah mengantar Aruna pulang ke rumah kost. Senyum nampak menghias wajahnya. Berkali-kali ia meraba dadanya yang berdesir aneh tiap kali mengingat apa yang ia lakukan pada Aruna tadi.


“ Baru nyentuh tangan sama wajahnya aja udah sebahagia ini...,” gumam Kautsar sambil tersenyum lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Setelah melaju selama lima menit dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba Kautsar mengurangi kecepatan motornya saat mengingat pesan Aruna.


“ Hati-hati, ga usah ngebut ya...,” pesan Aruna sebelum menutup pintu pagar.


Kautsar pun tertawa bahagia mengingat kalimat sederhana yang diucapkan Aruna tadi.


\=====


Siang itu di taman kampus.


“ Lo ga nolak Run...?” tanya Ria setelah menguraikan pelukannya.


“ Ga bisa nolak...,” sahut Aruna cepat.


“ Kautsarnya gimana...?” tanya Agung sambil berusaha menekan rasa sakit di dalam hatinya.


“ Dia juga ga nolak...,” sahut Aruna.


“ Apa alasannya...?” tanya Fadil.


“ Ga ada alasan buat nolak...,” sahut Aruna.


Jawaban Aruna membuat Agung melengos untuk menyembunyikan wajahnya yang kecewa. Ia mengerti mengapa Kautsar tak menolak perjodohan itu. Lagipula siapa yang akan menolak dijodohkan dengan Aruna bukan ?. Gadis yang menarik, sopan, cantik dan pintar. Selama bertahun-tahun Agung menyimpan perasaan cintanya pada Aruna hanya karena tak ingin gadis itu memusuhinya jika ia mengungkapkan perasaaannya itu. Namun saat mendengar Aruna menerima dengan mudah perjodohan yang diatur oleh orangtuanya, itu membuat Agung sedikit kesal.


“ Intinya Lo berdua sama-sama setuju menikah walau pun tanpa cinta, gitu Run...?” tanya Kenzo.


“ Iya...,” sahut Aruna.

__ADS_1


“ Kita ga bisa bilang apa-apa Run. Yang ngejalanin semuanya kan Lo sama Kautsar. Lagian kalo dipikir-pikir Kautsar emang ga bisa nolak Lo Run. Kalo diliat dari kaca mata pria, Lo itu sosok yang memenuhi hampir semua kriteria yang dibutuhin cowok. Jadi, semoga bahagia ya Run...,” kata Galang sambil tersenyum.


“ Makasih Lang...,” sahut Aruna dengan suara bergetar.


“ Sama-sama. Jangan nangis dong...,” kata Galang sambil mengusak rambut Aruna hingga membuat semua tertawa.


“ Gue setuju sama Galang. Semoga bahagia ya Arunaaa...!” kata Kenzo sambil merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluk Aruna.


Namun niat Kenzo untuk memeluk Aruna dihalangi Ria yang langsung berdiri menghadang sambil memperlihatkan wajah galak. Kenzo pun mengurungkan niatnya sambil menjauh dari Ria.


“ Ga jadi peluk ya Run. Body guard Lo serem banget kaya Mak Lampir...,” kata Kenzo sambil bergidik.


“ Sia*an. Kenzo, sini Lo...!” kata Ria lantang.


“ Ga mau...!” sahut Kenzo lalu duduk di samping Fadil.


“ Kenzo...!” panggil Ria lagi namun Kenzo tetap menolak hingga membuat empat anggota genk Comot tertawa melihatnya.


Setelah puas tertawa, lima anggota genk Comot pun menjabat tangan Aruna bergantian untuk memberinya suport. Aruna nampak terharu dan kedua matanya pun terlihat berkaca-kaca. Ternyata kelima sahabatnya mendukung keputusannya tanpa mempertanyakan lebih detail alasannya menerima perjodohannya dengan Kautsar.


Aruna merasa beban di hatinya lepas dengan sendirinya saat mendapat dukungan dari kelima sahabatnya itu.


“ Eh, ngomong-ngomong Lo tetep lanjut kuliah kan Run...?” tanya Agung.


“ Iya dong. Gue ga mau berhenti di tengah jalan. Sayang kan...,” sahut Aruna mantap.


“ Syukur lah. Gue kira Lo cuma bakal jadi Ibu rumah tangga biasa aja setelah nikah sama Kautsar...,” kata Agung.


“ Ga mungkin Kautsar kaya gitu Gung. Dia pinter, pasti tau kalo pendidikan itu penting. Mana mungkin Istrinya ga boleh pinter. Andai itu terjadi pasti Aruna ngamuk, iya kan Run...,” kata Ria sambil menyenggol lengan Aruna.


“ Iya...,” sahut Aruna sambil tertawa hingga membuat Ria tertawa.


Lagi-lagi jawaban Aruna membuat Agung terpaksa menahan rasa sakit. Untuk mengalihkan rasa sakitnya Agung pun memesan mie ayam lagi. Saat mie ayam terhidang di depannya Agung langsung membubuhinya dengan saos dan sambal hingga membuat kelima anggota genk Comot terkejut.


“ Banyak banget Gung, ga sakit perut ya...?” tanya Aruna sambil menggelengkan kepalanya.


“ Ini ga seberapa dibanding sakit hati Gue Run...,” sahut Agung santai sambil mulai menyantap mie ayam favoritnya itu.


Genk Comot pun tertawa mendengar ucapan Agung. Namun Kenzo dan Galang nampak saling menatap karena mereka tahu maksud dari ucapan Agung tadi.

__ADS_1


\=====


__ADS_2