
Rasyid dibuat cemas karena Sheina tak kunjung pulang. Ia mencoba menghubungi Sheina namun ponselnya tak lagi aktif.
Hingga saat menjelang Isya sebuah kabar mengejutkan pun sampai ke telinga Rasyid. Ia mendapat kabar jika Sheina mengalami kecelakaan saat pulang dari tugas luar kota. Mobil yang dikendarai teman Sheina terperosok masuk jurang dan penumpang yang ada di dalam mobil dinyatakan tak selamat.
Rasyid shock saat menerima berita itu. Otaknya serasa buntu. Ia bergegas pergi untuk mendatangi lokasi kecelakaan.
Saat tiba di lokasi kecelakaan Rasyid langsung bergabung dengan beberapa polisi yang bertugas. Ia memperkenalkan diri sebagai anggota polisi dan meminta informasi tentang penumpang mobil yang masuk ke jurang itu.
" Apa Kamu kenal sama mereka...?" tanya salah satu polisi.
" Salah satu penumpang adalah Istri Saya...," sahut Rasyid dengan suara serak.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Kami turut berduka cita atas wafatnya istrimu. Tapi Kami juga harus sampaikan jika jasad penumpang sulit dikenali karena hangus terbakar. Hanya tas berisi kartu identitas mereka yang berserakan di dekat TKP yang bisa Kami temukan...," kata salah seorang polisi dengan mimik wajah sedih.
Rasyid nampak terhuyung ke belakang usai mendengar ucapan salah satu rekannya itu. Ia tak menyangka jika akan kehilangan istrinya secepat ini.
Tanpa bisa dicegah air mata pun mengalir deras di wajah Rasyid. Sesaat kemudian Rasyid menjerit sambil menyebutkan nama istrinya berkali-kali. Ia tak peduli meski pun saat itu ia menjadi tontonan warga dan polisi yang bertugas.
\=\=\=\=\=
Rasyid membuka mata dan melihat sekelilingnya. Ia tak mengenali tempat itu dan merasa sangat asing. Tapi sebuah suara yang akrab di telinga menyapanya hingga membuat Rasyid menoleh.
" Mas Rasyid udah siuman...?" tanya bi Mey.
" Bi Mey, ini dimana...?" tanya Rasyid.
" Kita di Rumah Sakit Mas. Mas Rasyid pingsan, makanya dibawa ke sini. Saya ditelephon seseorang yang bilang kalo Mas Rasyid pingsan di lokasi kecelakaan terus dibawa ke sini. Saya juga dikabarin kalo...," ucapan Bi Mey menggantung di udara.
Rasyid melihat wanita di hadapannya itu tak lagi bisa membendung air matanya. Rasyid pun tahu apa yang akan diucapkan oleh asisten rumah tangga Sheina itu.
" Iya Bi, Aku tau...," kata Rasyid dengan suara parau.
" Saya ga nyangka umurnya Mbak Sheina ga panjang. Saya sedih ga bisa ngeliat jasadnya untuk terakhir kali. Tadi polisi bilang jasadnya ga bisa dikenali karena habis terbakar...," kata Bi Mey di sela tangisnya.
Ucapan Bi Mey membuat Rasyid terpukul. Ia kembali menangis sedih. Beberapa saat kemudian Rasyid terdiam. Ia merasa dejavu, seolah pernah mengalami rasa sedih yang sama baru-baru ini. Tapi Rasyid tak tahu apa yang menyebabkan dia menangis sedih.
__ADS_1
" Kenapa rasa sedih ini terasa akrab banget sama Gue. Kayanya Gue pernah ngalamin rasa sedih yang sama. Rasa sedih karena kehilangan Istri. Tapi istri yang mana lagi, kan Istri Gue cuma Sheina. Seinget Gue, ga ada wanita lain yang Gue nikahi selain Sheina. Masa iya Sheina meninggal dua kali...?" kata Rasyid dalam hati.
Namun Rasyid memilih menepis rasa itu. Rasyid tak ingin larut dalam kesedihan karena dia harus segera mengurus jasad istrinya.
\=\=\=\=\=
Kabar duka meninggalnya Sheina dengan cepat menyebar. Banyak orang yang mengenal Sheina pun datang ke rumah duka untuk memberikan doa. Diantara mereka terlihat Aruna, Kautsar, Matilda dan George.
Rasyid sangat terpukul dengan kepergian istrinya. Kondisinya yang lemah membuatnya harus berbaring dengan selang infus di tangannya. Beruntung George dan Kautsar bersedia mewakili untuk menerima ungkapan bela sungkawa dari para tamu yang hadir.
Kebanyakan dari tamu menanyakan keberadaan Rasyid karena ingin menyampaikan rasa duka langsung padanya.
" Mas Rasyidnya kemana Mas...?" tanya para tamu.
" Mas Rasyid ada di kamar. Sedang diinfus karena kondisinya terlalu lemah...," sahut Kautsar.
" Kasian. Pasti Mas Rasyid terpukul banget kehilangan istrinya. Apalagi mereka belum lama menikah...," kata warga saling bersahutan.
Kautsar dan George mengangguk mengiyakan.
Menjelang malam satu per satu pelayat pergi meninggalkan rumah duka. Dibantu Kautsar dan George, Bi Mey mulai merapikan rumah yang berantakan usai didatangi banyak tamu tadi.
Bi Mey terlihat sibuk atau pura-pura sibuk tepatnya karena tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Sebab diantara semua orang yang menyayangi Sheina, Bi Mey adalah orang yang paling terpukul dengan kepergian Sheina. Bi Mey hanya berusaha kuat karena yakin jika ada orang lain yang layak bersedih yaitu Rasyid.
" Jangan terlalu lama bersedih Syid, Sheina pasti ga suka liat Kamu kaya gini...," kata Matilda saat melihat Rasyid masih menangis sambil meratapi foto pernikahannya dengan Sheina.
" Aku ga nyangka Sheina pergi secepat ini. Banyak rencana dan mimpi yang Kami susun untuk masa depan Kami. Aku...," ucapan Rasyid terputus karena tak kuasa melanjutkan ucapannya.
Aruna yang menggendong Kanaya pun ikut menasehati Rasyid. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Saat itu Aruna melihat arwah Sheina masih ada di rumah itu karena masih terganjal ridho suaminya. Arwah Sheina masih menunggu keikhlasan suaminya melepas kepergiannya.
" Tante Matilda betul. Kak Sheina sedih karena sulit pergi. Itu karena dia masih menunggu restu Mas Rasyid...," kata Aruna.
Ucapan Aruna membuat Rasyid tersentak kaget. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Aruna.
" Apa maksud Kamu Run, apa Sheina masih ada di sini...?" tanya Rasyid yang memang pernah mendengar dari Sheina tentang kemampuan Aruna berinteraksi dengan makhluk astral.
__ADS_1
" Iya Mas...," sahut Aruna cepat.
" Bukannya itu wajar ya Run. Aku dengar arwah orang yang meninggal itu masih berkeliaran di sekitar rumahnya dan kadang menampakkan diri di depan orang terdekatnya sampe empat puluh hari setelah kematiannya...," kata Rasyid sambil mengusap matanya yang basah.
Melihat kondisi Rasyid saat ini tak akan ada yang menyangka jika Rasyid adalah seorang anggota polisi. Karena kondisi Rasyid terlihat rapuh dan cengeng. Berkali-kali ia terlihat menangis dan itu membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.
" Arwah mereka yang meninggal datang untuk melihat aktifitas orang-orang yang dia tinggalkan. Ada yang datang dengan kebahagiaan karena melihat banyak orang yang mendoakan. Ada juga yang datang karena terpanggil oleh ratapan kematian yang berlebihan hingga langkahnya menuju tempat seharusnya jadi terhalang. Dan Kak Sheina termasuk di jenis yang kedua Mas...," kata Aruna.
Ucapan Aruna mengejutkan Rasyid. Ia tahu jika apa yang dilakukan akan memberatkan langkah almarhum Sheina. Namun Rasyid sadar jika ia masih sulit melepas kepergian istrinya itu.
" Maafkan Aku Shei. Aku ingin langkahmu ga berat tapi Aku ga rela Kamu tinggalin. Aku harus gimana Sheina Sayang...," kata Rasyid dengan suara bergetar.
" Berdoa Mas...!" kata Kautsar sambil menepuk pundak Rasyid.
" Sudah Tsar...," sahut Rasyid cepat.
" Pasti masih ada hal yang bikin Mas Rasyid penasaran. Dan itu yang bikin langkah Kak Sheina terhambat...," kata Kautsar.
" Kamu benar Tsar. Masih ada yang ingin Aku sampaikan sama dia. Tapi Aku ga tau gimana caranya...," sahut Rasyid sedih.
Kautsar menatap Aruna seolah meminta kesiapan sang istri membantu Rasyid. Di depan sana Aruna nampak menganggukkan kepalanya pertanda setuju hingga Kautsar pun nampak tersenyum.
" Istriku bersedia membantu Mas...," kata Kautsar.
" Apa betul Aruna...?" tanya Rasyid tak percaya.
" Iya Mas. Keliatannya Aku harus turun gunung untuk membantu Kamu dan Kak Sheina melepas ganjalan diantara Kalian. Dan asal Kamu tau ya Mas, ini adalah kali pertama Aku melakukan mediasi setelah Aku melahirkan si kembar...," kata Aruna dengan mimik wajah lucu hingga membuat semua orang tertawa.
" Makasih Aruna...," kata Rasyid dengan tulus.
" Jangan bilang terima kasih dulu Mas. Aku belum mulai lho. Tunggu si kembar tidur dulu ya, baru Aku bisa tenang membantu Kamu nanti...," kata Aruna.
Rasyid mengangguk sambil tersenyum. Ia berharap bisa menyampaikan semua perasaannya kepada almarhum Sheina saat mediasi nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1