
Kini Kenzo bisa kembali hidup normal. Niatnya untuk membalas dendam pada ketiga sepupunya ia urungkan setelah tahu apa yang terjadi.
Sebelumnya Kenzo berniat membuat perhitungan kepada keluarga Edi. Kenzo mengira jika istri dan anak-anak Edi ikut bertanggung jawab atas sakit yang ia rasakan selama ini. Tapi saat mendengar pengakuan Edwin dan Puri membuat Kenzo sadar jika mereka juga korban dari keserakahan Edi.
Elan dan Nina yang awalnya menghalangi kedekatan Kenzo dengan ketiga sepupunya itu pun kini mulai berubah. Mereka bahkan bersedia ikut menanggung biaya hidup anak-anak Edi.
Mama Elan sadar jika kasih sayangnya yang berlebihan pada Edi membuat Edi tumbuh jadi pribadi yang egois dan arogan.
" Maafin Mama ya Elan. Mama justru membuatmu jadi tak nyaman dengan kekaduran Edi. Mama sungguh ga bermaksud menyakiti Kamu Nak. Mama kasihan sama Edi yang yatim piatu itu. Waktu Ayah membawanya pulang ke rumah Edi masih sangat kecil. Dia kedinginan, badannya kurus dan butuh perlindungan. Beda sama Kamu yang hidup berkecukupan dan dalam kondisi sehat. Mama menjadikannya adikmu dan memberikan kasih sayang yang tulus. Tapi Mama sama sekali ga pernah mengira kalo Edi berani membuat prahara dalam rumah tanggamu dengan meracuni anak dan mantan istrimu dulu. Maafin Mama Elan...," kata mama Elan sambil berurai air mata.
" Iya Ma. Lupain semuanya. Aku gapapa kok. Aku ga pernah iri sama kasih sayang Mama untuk Edi. Yang kusesalkan kenapa Edi ga bisa membalas kebaikan Mama sebagaimana seharusnya. Andai dia bisa menghormati Aku sebagai Kakaknya mungkin Aku bisa terima. Tapi keserakahannya membuat dia tega menghancurkan hidupku. Itu yang ga bisa Aku terima. Tapi Aku ga bisa membenci Puri dan anak-anaknya. Mereka juga korban dari keserakahan Edi Ma. Jadi Aku akan ikut membantu menanggung biaya hidup anak-anak Edi kelak hingga mereka dewasa dan bisa mandiri...," kata Elan panjang lebar.
" Makasih ya Nak...," kata mama Elan sambil memeluk Elan.
" Sama-sama Ma...," sahut Elan sambil mencium sang mama dengan sayang.
Puri pun membawa ketiga anaknya pindah dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka bersama Edi. Ketiga anak Puri nampak antusias saat mengetahui mereka tak lagi tinggal di rumah peninggalan sang papa. Selain karena mereka ingin melupakan kenangan buruk bersama sang papa, rupanya terjadi sesuatu pada rumah peninggalan sang papa. Mereka tak mengerti mengapa rumah itu menjadi rumah yang tak layak huni dalam waktu beberapa hari sejak kematian Edi.
Setelah pemakaman Edi, Puri dan ketiga anaknya memang tinggal di rumah kedua orangtua Elan. Rama dan Ijah pun tak mau tinggal di rumah itu karena merasa tak nyaman. Walau Puri memaksa, namun keduanya memilih pulang ke rumah masing-masing.
" Saya ga bisa Bu, ntar Suami Saya marah. Kan Saya juga biasanya pulang pergi ke rumah Ibu...," kata Ijah.
" Gimana sama Kamu Rama...?" tanya Puri.
__ADS_1
" Maaf Bu. Saya juga ga bisa...," sahut Rama.
" Lho kenapa memangnya. Terus Kamu mau tinggal dimana...?" tanya Puri tak mengerti.
" Saya bisa tinggal di rumah Paman Saya Bu. Maaf kalo Saya lancang. Saya ga enak kalo tinggal di sana apalagi sekarang Bapak udah ga ada. Saya khawatir orang mikir yang aneh-aneh tentang Saya dan Ibu karena Ibu kan sekarang single parent. Selain itu Saya juga mau ngajuin pengunduran diri aja Bu...," sahut Rama tak enak hati.
" Ya udah gapapa. Saya dan anak-anak juga bakal pindah ke rumah mertua Saya dan tinggal di sana. Jadi sebelum Kalian pergi tolong bantu Saya berkemas ya...," pinta Puri.
" Baik Bu...," sahut Rama dan Ijah bersamaan.
Rama dan Ijah pun membantu Puri mengemasi pakaian dan dokumen penting miliknya dan ketiga anaknya. Setelahnya Rama mengantar Puri ke rumah orangtua Elan dimana ketiga anaknya menunggu.
Saat mobil meninggalkan pekarangan rumah, Puri menyempatkan diri menoleh kearah rumah yang selama ini ia tempati.
Rumah megah yang selama ini ia tempati berubah menjadi sebuah rumah yang seolah tak pernah ditempati. Cat pada dinding dan kusen kayu mengelupas, banyak sarang laba-laba yang menggantung di plafond rumah. Selain itu Puri juga melihat banyak lintah yang bergerombol di dekat pintu dan jendela padahal seingatnya saat ia lewat di sana tak ada ada apa pun tadi.
Suara Rama mengejutkan Puri hingga membuatnya menoleh.
" Jangan liat ke belakang lagi Bu...," kata Rama dengan santun.
" Kenapa Ram, rumah itu belum lama ga dihuni. Tapi kondisinya kaya udah bertahun-tahun ga ditempati. Apa itu beneran rumah yang Kita tempati selama ini Ram. Terus kenapa banyak lintah bergerombol di pintu dan jendela. Bukannya waktu Kita mondar-mandir tadi ga ada apa-apa di sana...?" tanya Puri.
" Iya Bu. Begitu lah yang sebenarnya..., " sahut Rama.
__ADS_1
" Kamu tau sesuatu Ram...?" tanya Puri.
" Maaf kalo Saya lancang. Keliatannya Pak Edi bersekutu dengan iblis Bu...," sahut Rama hati-hati.
" Kamu jangan asal nuduh kalo ga ada bukti ya Ram. Walau hubungan Saya dengan almarhum Bang Edi ga baik belakangan ini, bukan berarti Kamu bisa seenaknya fitnah dia...!" kata Puri dengan nada tak suka.
" Saya juga awalnya ga mikir ke sana Bu. Tapi waktu Saya pulang dari nganter Ibu ke terminal, Saya juga ngeliat banyak lintah di sekitar rumah. Bahkan Saya ngeliat lintah juga di dalam rumah tepatnya di ruang tengah yang jumlahnya ga wajar Bu. Terlalu banyak dan bikin Saya yakin kalo Pak Edi melakukan perjanjian dengan iblis. Apalagi waktu ditemukan kondisi Pak Edi juga penuh luka dan darah, yang kalo dipikir pake akal sehat mustahil ada karena Pak Edi kan cuma sendirian di dalam rumah...," kata Rama panjang lebar.
Puri nampak mengepalkan tangannya. Ia tak menyangka jika dugaannya selama ini benar. Setetes air mata nampak jatuh di pipinya tanpa ia sadari. Dalam hati Puri kecewa karena ternyata Edi telah membohonginya srlama ini. Bukan hanya tentang uang yang dikirim mertuanya untuk ketiga anak mereka tapi juga tentang persekutuannya dengan iblis.
" Mungkin itu sebabnya kenapa Bang Edi berubah. Hawa panas dari iblis yang disembahnya membuatnya amarahnya ga terkontrol. Dia juga jadi kasar dan ambisius. Sayangnya ambisinya beralih dari bekerja menjadi ingin menguasai harta orangtua angkatnya dengan cara instan...," batin Puri dengan nafas sesak.
" Maafin Saya kalo udah bikin Ibu nangis...," kata Rama lirih.
" Gapapa Ram. Bukan salah Kamu juga kok. Tapi bisa kan kalo Kamu rahasiain semuanya. Cukup Kamu dan Saya aja yang tau tentang ini...?" pinta Puri.
" Baik Bu...," sahut Rama cepat karena ia memang tak berniat membagi cerita itu dengan siapa pun.
Puri kembali meneteskan air mata saat teringat dengan ketiga anaknya yang mengalami kekurangan.
" Jangan-jangan Edwin, Edgar dan Cinta udah jadi tumbal dari persekutuan Bang Edi dengan iblis itu. Karena mereka lahir normal dulu. Dan setahun kemudian secara bersamaan mereka dinyatakan cacat. Edwin buta, Edgar bisu dan Cinta punya keterbelakangan mental. Ya Allah, ternyata Kamu sejahat ini Bang. Hanya untuk memenuhi ambisimu Kamu tega menyakiti anakmu, darah dagingmu sendiri. Sekarang Aku ga akan menyesal lagi karena sempat meninggalkanmu malam itu. Aku bersyukur karena bisa lepas dari iblis sepertimu. Mungkin selama ini Kamu juga telah menumbalkan Aku tanpa Aku sadari...," batin Puri sambil menggelengkan kepalanya.
Sesaat kemudian Puri terlihat menghapus air matanya. Kemudian ia menegakkan kepalanya pertanda jika ia siap menyongsong masa depan bersama ketiga anaknya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=