
Aruna masih membulatkan bibirnya saat dokter Sheina kembali mengucapkan sesuatu.
" Makanya Aku ngajak Kamu ketemuan karena pengen tau gimana Kamu sama Kautsar menjalani rumah tangga Kalian...," kata dokter Sheina.
" Aku sama Kautsar...? " tanya Aruna sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Iya. Jangan bilang Kautsar ga tau apa-apa tentang perubahanmu di waktu-waktu tertentu Aruna...!" kata dokter Sheina gusar.
" Oh tentang itu. Kautsar tau sejak awal bahkan sebelum dia menikah denganku dok...," sahut Aruna.
" Oh ya. Bagaimana cara Kamu menjelaskan semuanya sama dia...?" tanya dokter Sheina.
" Bukan Aku yang menjelaskan tapi Ayahku...," sahut Aruna.
" Maksudmu Orion...?!" tanya dokter Sheina sambil membulatkan matanya.
" Iya. Apa dokter juga mengenal Ayahku...?" tanya Aruna sambil memicingkan matanya.
" Belum lama Aku ketemu sama Ayahmu itu Aruna. Kalian sedikit mirip, makanya Aku menebak jika dia berkaitan denganmu. Ternyata tebakanku benar dan dia mengakui jika Kamu anaknya dengan perasaan bangga...," sahut dokter Sheina dengan mata berbinar saat mengingat pertemuannya dengan Orion.
" Ayahku bangga memiliki Aku...?" tanya Aruna terharu.
" Iya. Meski dia ga cerita apa pun, tapi Aku tau dia merasa Kamu adalah sesuatu yang membanggakan seolah dia telah mengusahakan Kamu sekian lama...," sahut dokter Sheina sambil menatap Aruna.
" Kami memang bertemu lagi setelah Aku dewasa dok. Sedikit dramatis dan diwarnai sedikit penolakan. Apalagi Aku melihat sosoknya saat dia menjadi manusia serigala...," sahut Aruna mengenang pertemuan pertamanya dengan sang ayah.
" Apa yang Kamu rasakan saat melihat wujud lain Ayahmu Aruna...?" tanya dokter Sheina penasaran.
" Aku hanya menatapnya dalam diam...," sahut Aruna.
" Kamu ga takut...?" tanya dokter Sheina.
" Ga sama sekali. Walau wujudnya saat itu menyeramkan, namun Aku merasa ada sebuah kasih sayang yang tulus yang terpancar dari dalam dirinya. Dan itu yang kucari selama ini. Aku ga tau kenapa. Mungkin itu lah yang namanya ikatan batin. Walau Ayah hanya menggendong ku sebentar saat Aku bayi, tapi ikatan batin antara Ayah dan Anak tetap ada meski pun Kami tinggal berjauhan...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Begitu ya...," kata dokter Sheina sambil mengangguk seolah hanyut dalam perasaan Aruna saat itu.
Dokter Sheina memang telah mendengar sekelumit kisah hidup Aruna dari George dan Matilda saat mereka bertemu pertama kali. Namun mendengar langsung kisah itu dari mulut Aruna membuat hati dokter Sheina tersentuh.
__ADS_1
" Kenapa jadi cerita tentang Aku sih. Kita ke sini kan mau ngebahas dokter dan Mas Rasyid..., " kata Aruna mengingatkan hingga membuat dokter Sheina tersenyum.
" Kamu betul. Aku mau tanya bagaimana caramu memberi Kautsar pemahaman tentang klan Kita ini Aruna...?" tanya dokter Sheina.
" Kautsar sama seperti manusia pada umumnya dok. Awalnya dia kaget melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Walau dia bilang dia siap, tapi Aku yakin dia shock juga waktu ngeliat perubahan wujudku...," sahut Aruna.
" Aku paham itu...," kata dokter Sheina.
" Aku selalu ngasih tau Kautsar kalo perubahanku itu akan meningkat seiring waktu dan usia. Untuk berubah jadi manusia serigala seutuhnya itu butuh proses. Tiap manusia serigala menjalani proses yang berbeda termasuk Aku. Dan untuk sampai pada tahap sempurna akan membawa imbas pada orang-orang di sekitarku yaitu dia...," sahut Aruna.
" Nah ini pointnya. Aku ingin tau gimana cara Kamu menjelaskan sama Kautsar...," kata dokter Sheina sambil merapatkan duduknya kearah Aruna.
" Aku mengingatkan Kautsar agar menjauh saat dia mulai melihat perubahan pada wujudku sekecil apa pun itu. Aku bilang sama dia, saat Kita berubah menjadi manusia serigala Kita ga akan ingat apa-apa. Yang ada di dalam diri hanya hasrat membunuh yang liar dan berbahaya. Kita hanya akan melihat manusia lain di dekat Kita sebagai mangsa karena rasa cinta di dalam diri Kita telah lenyap...," sahut Aruna sambil mengepalkan jemari tangannya.
" Apa Kautsar paham apa yang Kamu maksud Aruna...?" tanya dokter Sheina.
" Awalnya sih ga, tapi makin ke sini dia makin paham...," sahut Aruna.
" Apa dia udah pernah ngeliat wujud lainku di depan matanya Aruna...?" tanya dokter Sheina hati-hati.
" Pernah. Dan itu membuatku malu bukan kepalang...," sahut Aruna sambil tersenyum kecut.
" Mmm..., mungkin bukan malu ya dok. Rasa bersalah lebih tepatnya. Aku merasa ga layak mendampinginya. Apalagi Aku juga pernah mengejarnya layaknya mangsa yang harus diburu...," sahut Aruna.
" Masa sih, terus apa yang terjadi...? " tanya dokter Sheina penasaran.
" Beruntung ada Om George dan Tante Matilda yang membantuku menyelamatkan Kautsar. Kalo mereka terlambat sedikit aja, mungkin Aku akan menyesal sepanjang hidupku karena telah memangsa Suamiku sendiri...," sahut Aruna sambil memejamkan mata.
Dokter Sheina tersenyum melihat Aruna yang tengah berusaha mengendalikan emosinya. Ia tahu Aruna sangat mencintai suaminya. Ia paham bagaimana perasaan Aruna saat ini.
" Pasti berat rasanya saat menyadari dia hampir menghabisi suami yang ia cintai dengan kedua tangannya sendiri...," batin dokter Sheina sambil menatap Aruna.
Perlahan dokter Sheina mengulurkan tangannya untuk mengusap peluh di dahi Aruna.
" Apa Kamu baik-baik aja Aruna...?" tanya dokter Sheina cemas.
" Aku baik-baik aja dok, ga usah khawatirkan Aku...," sahut Aruna sambil tersenyum.
__ADS_1
" Pasti berat untukmu menyaksikan orang yang Kamu cintai hampir terbunuh karena ulahmu Aruna...," kata dokter Sheina hati-hati.
" Iya. Saking merasa bersalahnya Aku menghindari Kautsar untuk beberapa waktu. Awalnya berhasil tapi akhirnya Kautsar marah karena menurutnya semua bukan kesalahanku. Karena saat itu terjadi dia tau kalo Aku ga bisa mengontrol diriku sendiri. Jadi menurutnya ga seharusnya Aku menjauhi dia atau menghindari dia...," sahut Aruna.
" Terus...?" tanya dokter Sheina.
" Dia menjemputku dari tempat persembunyianku dan membawaku pulang...," sahut Aruna tanpa menyebutkan jika tempat persembunyian yang dia maksud adalah kediaman George dan Matilda.
" So sweet. Aku jadi terharu...," kata dokter Sheina sambil menangkupkan kedua tangannya hingga membuat Aruna tersenyum.
" Mas Rasyid juga pasti begitu andai dia tau semuanya dok. Percaya lah...," kata Aruna.
" Aku masih ragu untuk menceritakan semuanya Aruna...," sahut dokter Sheina.
" Kenapa dok...?" tanya Aruna lagi.
" Rasyid berbeda dengan Kautsar. Meski pun usianya lebih dewasa dari Kautsar tapi Aku ga yakin dia memiliki ketahanan yang sama seperti Kautsar. Aku khawatir dia membenciku lalu menjauh dariku setelah mendengar ceritaku Aruna. Dan Aku ga siap jika itu terjadi karena Aku sangat mencintainya Aruna...," kata dokter Sheina lirih.
Aruna terkejut mendengar ucapan dokter Sheina. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah hak pribadi dokter Sheina. Aruna hanya bisa mengulurkan tangannya untuk membelai punggung dokter Sheina dengan lembut. Aruna ingin menyalurkan rasa nyaman sekaligus memberi tahu dokter Sheina bahwa dia bisa minta bantuan Aruna kapan pun ia perlukan.
" Makasih Aruna...," kata dokter Sheina sambil tersenyum.
" Sama-sama dok. Aku senang bisa mendengar ini dari dokter...," sahut Aruna.
" Aku merasa Kamu adalah saudariku Aruna. Meski pun Aku yakin usia Kita terpaut jauh. Bisa kah Kamu menganggap Aku sebagai saudarimu juga Aruna...?" tanya dokter Sheina penuh harap.
" Tentu...," sahut Aruna cepat.
" Kalo gitu bisa kan panggil Aku dengan sebutan lain. Aku merasa sangat berjarak saat Kamu memanggilku dengan sebutan dokter...," protes dokter Sheina hingga membuat Aruna tersenyum.
" Baik lah. Karena usia Kita terpaut lumayan jauh, gimana kalo Aku panggil Kakak...?" tanya Aruna.
" Kakak..., Aku suka dengernya Aruna. Makasih ya...," kata dokter Sheina sambil memeluk Aruna.
" Sama-sama Kak Sheina...," sahut Aruna sambil balas memeluk dokter Sheina.
Sesaat kemudian Aruna dan dokter Sheina saling mengurai pelukan. Keduanya nampak tertawa bahagia seolah hari itu tak akan pernah berakhir.
__ADS_1
\=\=\=\=\=