Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
53. Masuk Hutan


__ADS_3

Orion nampak menatap lekat Aruna yang nampak tengah berpikir keras tentangnya. Ia pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya yang besar ditumbuhi bulu dan kuku yang runcing itu untuk membelai kepala Aruna.


Saat tangan Orion menyentuh kepalanya, Aruna merasa sangat nyaman. Tak terlihat rasa takut sama sekali di wajah Aruna saat harus berinteraksi dengan Orion yang berwujud manusia serigala itu. Tiba-tiba kilasan peristiwa berseliweran di kepalanya dan itu membuatnya gamang. Aruna pun memejamkan matanya dan bertanya.


“ Apa yang Kuliat ini. Siapa Kamu sebenarnya dan apa hubunganmu denganku...?” tanya Aruna dengan nafas terengah-engah lalu membuka matanya untuk menatap Orion.


Bukannya menjawab pertanyaan Aruna, manusia serigala itu terlihat menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


“ Cukup untuk sekarang Aruna. Sekarang masuk lah, ini sudah larut. Kamu perlu istirahat supaya tubuhmu kembali bugar besok...,” kata Orion.


“ Tunggu. Jangan pergi, tolong beritau Aku semuanya...,” pinta Aruna sambil mencekal tangan Orion yang ditumbuhi bulu lebat itu.


“ Bersabar lah. Sedikit lagi Kamu akan tau semuanya...,” sahut Orion sambil melepaskan cekalan tangan Aruna lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.


Aruna menatap kepergian Orion dengan rasa tak rela. Karena tak mungkin mengikuti Orion, Aruna pun masuk ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu, ia kembali ke kamar untuk tidur.


\=====


Keesokan paginya Aruna dan kelima temannya bangun lebih awal karena mereka berniat jogging sambil mengelilingi desa. Setelah sholat Subuh dan minum teh hangat yang disuguhkan Menur, genk Comot pun bersiap pergi.


“ Kalian mau olah raga ya...?” tanya Menur sambil meletakkan ubi dan singkong rebus di atas meja.


“ Iya Bu. Apa ada tempat yang ga boleh Kami kunjungi sepagi ini...?” tanya Aruna.


“ Atau mungkin ada batasan waktu kapan Kami harus sampe di rumah kaya kemarin malam...,” sela Kenzo menambahkan.


“ Oh kalo pagi sampe sore sih ga ada larangan apa pun Mbak, Mas. Tempat khusus yang terlarang juga ga ada. Jadi Kalian bisa santai dan ga tegang kaya kemarin malam...,” sahut Menur sambil tersenyum.


“ Kalo gitu Kami pamit ya Bu. Assalamualaikum...,” pamit Aruna mewakili kelima temannya.


“ Wa alaikumsalam, hati-hati ya Mbak...,” sahut Menur sambil menutup pintu rumah yang disewa oleh genk Comot.


Setelahnya Menur nampak melangkah menuju rumah sambil berusaha mengingat sesuatu. Saking seriusnya berpikir, Menur tak menyadari jika suaminya telah berdiri menghadang di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Tabrakan suami istri itu pun tak terelakkan hingga membuat Menur setengah menjerit karena terkejut.

__ADS_1


“ Ya Allah, Bapak ngapain sih di sini. Udah tau badan Kita sama gedenya sampe menuhin pintu, kok malah berdiri di tengah jalan. Ya ga muat dong Pak...!” kata Menur kesal.


“ Lho kok malah nyalahin Bapak. Kan Ibu yang jalan ga ngeliat-liat...,” sahut Hasim sambil tersenyum.


“ Iya deh Ibu yang salah. Minggir Pak, Ibu mau lewat...,” kata Menur.


“ Jawab dulu dong pertanyaan Bapak. Kamu mikirin apa sih, serius banget...?” tanya Hasim sambil menepi dan membiarkan Menur masuk ke dalam rumah.


“ Mikirin Mbak Aruna. Wajahnya tuh mirip siapa ya Pak, kayanya Ibu pernah liat. Tapi dimana ya...,” sahut Menur sambil mengetuk keningnya beberapa kali.


“ Ah Kamu kebiasaan Bu. Tiap ada yang nyewa rumah pasti dibilang mirip si ini, mirip si itu. Dunia ini kan luas Bu, kalo mirip sama seseorang kan wajar...,” kata Hasim cuek lalu duduk di depan meja.


“ Ibu serius kali ini Pak...,” sahut Menur setengah memaksa.


“ Iya iya, Bapak percaya. Udah siang nih, Kamu ga ke pasar...?” tanya Hasim.


“ Oh iya, untung diingetin. Kalo gitu Ibu ke pasar dulu sebentar ya Pak...,” kata Menur lalu bergegas mengambil dompet di kamar.


“ Hmmm...,” sahut Hasim sambil meneguk kopi hitam buatan Menur.


\=====


Genk Comot telah jauh berlari. Kini mereka tiba di area persawahan yang ada di kaki bukit. Menikmati keindahan alam sepagi ini membuat keenam anggota genk Comot enggan untuk beranjak.


Ria pun sibuk mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya. Aruna dan keempat temannya terlihat cuek karena mereka telah terbiasa dengan tingkah Ria yang gemar berfoto itu.


“ Itu hutan yang Lo liat semalem Run...,” kata Galang sambil menunjuk ke hutan yang menyebar di punggung bukit.


“ Kayanya asyik nih kalo Kitamasuk ke sana...,” sahut Aruna.


“ Jangan macem-macem deh. Kita kan ga kenal daerah sini, jadi ga usah cari perkara lah...,” kata Fadil mengingatkan.


“ Cari perkara apaan sih Dil. Gue kan cuma ngomong. Lagian kata Bu Menur ga ada tempat terlarang di desa ini, jadi Kita bebas kemana aja asal sopan dan bertanggung jawab. Liat tuh, banyak orang yang keluar masuk hutan juga dan mereka baik-baik aja kok...,” sahut Aruna sambil menunjuk beberapa warga yang keluar masuk hutan dengan santai.

__ADS_1


“ Ga ada salahnya Kita coba, mumpung masih pagi dan cuaca cerah. Mungkin Kita bisa nemuin sesuatu di sana nanti...,” kata Galang menengahi.


“ Iya, Gue setuju...,” sahut Kenzo dan Agung bersamaan.


“ Terserah deh. Tapi jangan jauh-jauh ya...,” pinta Fadil yang diangguki kelima temannya.


Perlahan genk Comot masuk ke dalam hutan melalui jalan setapak yang nampaknya sering dilalui warga. Hutan yang rimbun dengan aneka jenis tumbuhan menyambut mereka. Tak lama kemudian mereka menjumpai air terjun yang mengalir deras. Untuk sejenak anggota genk Comot dibuat takjub akan keindahan hutan dan air terjunnya itu.


“ Masya Allah bagus banget. Ga nyangka ternyata ada air terjun di dalam hutan...,” kata Aruna dengan mata berbinar.


“ Iya. Ga rugi lah Kita jalan jauh kalo pemandangan yang Kita dapat seindah ini...,” sahut Agung.


“ Gue mau berendam di sana...,” kata Ria antusias.


“ Jangan Ri...!” kata kelima angota genk Comot bersamaan.


“ Kenapa, ga seru dong. Biasanya kalo ada air terjun ya dimanfaatin untuk therapy dengan cara merendam tubuh sampe ujung kepala...,” sahut Ria bingung.


“ Itu air terjun di tempat lain Ri. Tapi di sini Kita harus hati-hati, ga boleh sembarangan. Kita kan ga tau apa aja aturan yang diterapkan di air terjun ini. Jangan sembrono kalo ga mau celaka...,” kata Kenzo mengingatkan.


“ Kaki aja boleh kan, please...,” rengek Ria sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


“ Iya boleh, tapi cuma kaki ya Ri. Ga lebih...,” sahut Fadil tegas.


“ Ok deh...,” sahut Ria antusias.


Kemudian Ria menggulung celananya hingga selutut lalu melangkah perlahan menuju batu besar di pinggir air terjun. Setelahnya Ria duduk di atas batu sambil merendam kakinya di air.


“ Hai guys, sini dong. Kita foto dulu...!” panggil Ria sambil melambaikan tangannya.


Lima anggota genk Comot pun mendekat kearahnya lalu mereka mulai berfoto dengan berbagai pose. Setelahnya mereka ikut duduk di atas batu yang tersebar di beberapa tempat sambil menikmati sinar matahari pagi.


Saat kelima temannya sedang bercengkrama, Aruna menoleh ke arah rimbunan pohon lalu perlahan melangkah ke sana. Tak ada yang memperhatikan gerak gerik Aruna karena semua sedang mengamati keindahan air terjun.

__ADS_1


\=====


__ADS_2