
Jika Mansur dan tawanan lain berhasil lolos dengan selamat, berbeda dengan Genk Comot. Mereka justru tertangkap dan ditahan di sebuah ruangan yang gelap.
Ria nampak menangis dalam pelukan Kenzo. Ia tak menyangka jika perjalanannya kali ini akan menemui banyak kendala.
" Udah lah Ri, jangan nangis lagi. Suara Lo bikin Gue pusing tau ga...," kata Agung ketus.
" Jangan ngomong gitu lah Gung. Apa Lo ga kasian sama Ria. Dia juga ga mau ada dalam situasi ini. Lagi pula wajar kan kalo dia lebih ekspresif dibanding Kita, dia kan cewek...," sahut Kenzo tak suka.
" Tapi Aruna baik-baik aja. Walau Gue yakin dia juga sama sedihnya kaya Ria...," kata Agung tak mau kalah.
" Ssttt..., udah dong. Kalian nih kenapa sih. Ga usah ngebandingin Gue sama Ria. Gue gapapa kok...!" kata Aruna jengkel hingga membuat Ria menghentikan tangisnya.
" Daripada ribut, lebih baik Kita fokus aja buat cari jalan keluar...," sahut Fadil sambil meraba dinding kamar.
" Ngapain Lo Dil...?" tanya Galang.
" Nyari emas...," sahut Fadil cuek.
" Emas, yang bener aja Lo Dil...!" kata Galang tak percaya.
" Ya nyari jalan lah, pake nanya lagi. Kali aja ada petunjuk di dinding...," sahut Fadil kesal.
Tampaknya usaha Faadil membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan tombol rahasia yang membuat dinding itu bergeser dengan sendirinya dan memperlihatkan sebuah ruangan yang minim penerangan.
Aruna dan kelima temannya nampak terpana. Di hadapan mereka terlihat sebuah tempat yang dicurigai sebagai kamar rahasia untuk melakukan sebuah ritual sesat. Sebuah ruangan gelap yang dilengkapi dengan pernak-pernik seperti lilin, tampah bambu, beberapa piring berisi sesajen, sebuah bokor berisi kemenyan yang menyala dan benda lain yang memiliki aura mistis.
" G*la, ruangan ini horror banget. Auranya ga enak, gelap dan bau...," kata Agung sambil menutup hidungnya.
" Jangan lewati batas Kalian guys...," kata Aruna mencoba mengingatkan.
Namun terlambat. Kenzo yang penasaran telah mengulurkan tangannya hingga tubuhnya tertarik ke dalam ruangan itu. Ria menjerit dan berusaha meraih tangan Kenzo keluar tapi gagal.
" Jangan Ri, bahaya...!" kata Aruna sambil menahan tubuh Ria dengan cara memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Tapi kasian Kenzo Run...!" sahut Ria panik.
" Jangan sekarang...," kata Aruna sambil menggelengkan kepalanya.
Kelima anggota Genk Comot hanya bisa menyaksikan Kenzo terjebak dalam ruangan gelap itu. Anehnya mereka seperti dipisahkan oleh dinding tak kasat mata. Mereka bisa melihat Kenzo namun Kenzo tak bisa melihat mereka.
" Kenzo...!" panggil Ria saat melihat sang kekasih kebingungan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk lah Yusi bersama beberapa orang pria. Ia nampak kesal saat mengetahui ruangan rahasia miliknya terbuka.
" Kalian ini memang ga bisa diatur ya. Saya udah suruh Kalian diam tapi Kalian malah ngacak-ngacak tempat ini. Tapi gapapa, toh salah satu dari Kalian sudah masuk ke sana menyerahkan diri...," kata Yusi sambil tersenyum licik.
" Tolong lepaskan dia. Jangan sakiti dia Bu...," kata Ria sambil berusaha menyentuh tangan Yusi.
Seorang pria menepis tangan Ria lalu mendorong tubuhnya dengan keras hingga gadis itu terkejut dan mundur ke belakang. Fadil, Galang dan Agung tampak marah dan bersiap menyerang Yusi dan orang-orangnya yang juga tampak maju untuk menyambut serangan. Namun suara lantang Aruna berhasil meredam emosi mereka.
" Jangan gegabah. Ngalah aja sedikit...!" kata Aruna hingga membuat ketiga temannya mundur.
" Kalian sudah terlalu banyak tau dan bikin repot. Sekarang Kalian bisa menonton pertunjukan live saat teman Kalian meregang nyawa karena menjadi tumbal...," kata Yusi sinis sambil beranjak pergi.
Yusi dan orang-orangnya nampak tak peduli. Mereka langsung keluar dan mengunci pintu. Sedangkan di depan sana terlihat Kenzo yang sedang bicara dengan sesuatu tak kasat mata.
Aruna yang tahu persis isi pembicaraan Kenzo dengan makhluk tak kasat mata itu nampak marah dan mengepalkan tangannya. Agung yang memang tahu jika Aruna bisa melihat makhluk astral pun bertanya.
" Kenapa Run...?" tanya Agung.
" Sekarang Kenzo lagi ngobrol sama makhluk penghuni kamar itu. Dia ditawarin sesuatu yang bikin dia bingung...," sahut Aruna sedih.
" Ditawarin apa...?" tanya Fadil penasaran.
" Kalo dia mau bebas, dia harus menukar dirinya sama Ria...," sahut Aruna.
" Gue ga keberatan...!" kata Ria tiba-tiba.
__ADS_1
" Jangan konyol Ri. Lo tau ga makhluk apa yang menghuni kamar itu...?" tanya Galang.
" Tapi Gue ga tega sama Kenzo...," sahut Ria hampir menangis.
" Biasanya makhluk halus yang membantu pesugihan itu cab*l dan haus s*x. Mereka seringkali meminta hubungan int*m sebagai imbalan dari kekayaan yang mereka berikan. Gue yakin kalo perempuan gendut tadi lah yang biasanya ada di posisi itu...," kata Agung gusar dan diangguki Aruna.
Ucapan Agung membuat Ria ketakutan. Ia tak mau menjadi korban kebuasan makhluk tak kasat mata sembahan Yusi, tapi ia juga ingin Kenzo selamat.
Untuk beberapa saat keheningan menyergap Genk Comot. Tiba-tiba Aruna mengatakan sesuatu.
" Saat puncak ritual semuanya akan fokus sama proses penyerahan tumbal. Dan saat itu lah fase terlemah mereka. Kita bisa manfaatkan kelemahan mereka untuk kabur dari sini. Tapi Gue minta Lo jangan nangis terus ya Ri. Jangan bikin suara yang menarik perhatian mereka semua...," kata Aruna sambil menatap Ria yang tengah sibuk mengusap air matanya.
" Apa Lo yakin semuanya ikut serta di ritual itu Run...?" tanya Galang.
" Kalo ngeliat ekspresi mereka sih kayanya mereka bakalan ngawal perempuan gendut tadi selama ritual karena memang gitu perintahnya. Nah saat mereka fokus ngawasin si gendut, Kita dobrak pintu itu. Kalian ikutin aja apa kata Gue dan jangan membantah. Gimana, deal ga...?" tanya Aruna sambil menatap keempat temannya satu per satu.
" Termasuk saat Lo nyuruh Kita pergi tapi Lo tetap bertahan di sini...?" tanya Ria yang mengerti arah pembicaraan Aruna.
" Iya...," sahut Aruna cepat.
" Gue ga setuju. Gue ga mau ngikutin ide g*la Lo itu Run. Gue ga mau kehilangan Kenzo apalagi Lo...," kata Ria sambil menggelengkan kepala.
" Gue juga ga mau...!" sahut Fadil, Galang dan Agung bersamaan hingga membuat Aruna tersenyum.
" Makasih udah khawatirin Gue. Tapi tolong ikutin Gue kali ini aja. Ini demi Kita semua. Please...," kata Aruna penuh harap.
Ria langsung menghambur memeluk Aruna erat diikuti Fadil, Galang dan Agung. Pelukan yang biasanya akan membuat mereka merasa jijik karena dirasa berlebihan, namun kali ini terasa begitu menyentuh seolah mereka tak akan pernah bertemu lagi.
" Gue sayang sama Lo Run. Lo bukan hanya sahabat tapi udah kaya adik perempuan Gue. Janji sama Gue kalo Lo bakal selamat walau tanpa Kenzo sekali pun...," bisik Ria di telinga Aruna.
Aruna mengangguk sambil mengusap punggung Ria dengan lembut.
" Gue juga sayang sama Lo Ri...," bisik Aruna.
__ADS_1
Sesaat kemudian mereka saling mengurai pelukan. Mereka bersiap menunggu aba-aba dari Aruna untuk segera bergerak.
bersambung