Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
13. Aruna


__ADS_3

Aruna langsung turun dari gendongan sang pengasuh saat mereka tiba di depan rumah. Kemudian Aruna berlari menghampiri seorang wanita yang menyambutnya dengan kedua tangan terentang.


“ Mama...!” panggil Aruna lalu masuk ke dalam pelukan sang mama.


“ Aruna Sayang, Mama kangen banget sama Kamu Nak...,” sahut sang mama yang bernama Diana.


“ Maaf kelamaan Bu. Tadi Saya harus nyari Aruna dulu di sekolah. Ga taunya Aruna udah pulang duluan dan Saya nemuin dia ada di jalan dekat sekolah...,” kata Iza tak enak hati.


“ Emang gitu Aruna...?” tanya Diana sambil menatap kedua mata jernih Aruna yang ada dalam gendongannya.


“ Iya Mama...,” sahut Aruna mantap hingga membuat Diana menghentikan langkahnya.


“ Kok Aruna gitu sih. Aruna lupa ya sama pesen Mama...?” tanya Diana dengan mimik sedih.


“ Aku inget kok...,” sahut Aruna cepat.


“ Terus kenapa Aruna ga mau nunggu Bi Iza datang jemput Aruna...?” tanya Diana tak mengerti.


“ Abisnya Bibi kelamaan Ma. Aku kan capek nungguinnya. Daripada kelamaan nunggu Aku jalan-jalan dulu di sekitar sekolah tadi...,” sahut Aruna sambil mengerjapkan matanya.


Diana melirik jam tangannya dan tau persis jika Iza pamit menjemput Aruna setengah jam dari waktu Aruna pulang sekolah. Dan itu artinya Iza akan tiba di sekolah Aruna sepuluh menit sebelum jam pulang sekolah karena Iza diantar oleh supir keluarga mereka. Diana pun menggelengkan kepalanya karena tahu Aruna lah yang membuat ulah.


“ Karena Aruna yang nakal dan ga dengerin apa pesen Mama, artinya Aruna harus dihukum ya...,” kata Diana santai namun membuat Aruna panik.


“ Dihukum apa Ma...?” tanya Aruna.


“ Mmm..., dihukum ga boleh main keluar rumah. Hari ini sampe besok Aruna hanya boleh main di dalam rumah...,” sahut Diana sambil menurunkan Aruna dari gendongannya.


“ Jangan dong Ma. Iya deh Aku janji ga bakal nakal lagi dan nunggu Bi Iza jemput di sekolah nanti. Tapi jangan larang Aku keluar rumah ya Ma. Aku kan udah janji sama temen Aku mau main sore ini...,” kata Aruna menghiba.


“ Ga bisa. Aruna juga pernah bilang kaya gitu tapi buktinya dilanggar lagi. Jadi ini resikonya kalo Aruna melanggar janji...,” sahut Diana tegas.


“ Mama...,” panggil Aruna sambil mengerjapkan matanya dengan lucu.


Jika biasanya Diana akan luluh melihat cara Aruna merayunya, tapi kali ini Diana meneguhkan hati untuk tak mengabulkan permintaan Aruna. Diana ingin mengajari putri kecilnya itu untuk menepati janji dan akan ada konsekwensi dari tiap pelanggaran yang ia lakukan.


Melihat sikap sang mama yang mengabaikan permintaannya, Aruna hanya bisa tertunduk. Ia menyesali keputusannya yang pergi keluar tanpa menunggu kedatangan sang pengasuh tadi. Padahal itu bukan keinginan Aruna. Ia hanya menuruti panggilan hatinya yang mengajaknya mendatangi lahan kosong itu.


“ Ok. Sekarang Aruna bersih-bersih dan ganti baju ya. Kalo udah Aruna kerjain PR. Nanti PRnya minta tolong dicek sama Bi Iza aja...,” kata Diana sambil mengusap kepala Aruna dengan sayang.


“ Kok gitu Ma. Biasanya kan Aku ngerjain PRnya malam dan yang ngecek Mama atau Papa...,” protes Aruna.


“ Ga mau. Mama sama Papa ga mau bantuin Anak yang ga patuh...,” tolak Diana.


“ Ntar kalo Bi Iza salah gimana. Bi Iza kan ga pinter kaya Mama atau Papa...,” kata Aruna.


Ucapan Aruna hampir membuat Diana tertawa namun ditahannya agar tak menjatuhkan wibawanya di depan Aruna.


“ Liat nih. Gimana Mama mau sayang kalo Aruna bisanya protes terus. Mama jadi bingung deh. Atau Mama ganti aja Anak Mama sama Bi Iza dan Pak Mul ya. Kan mereka selalu nurut sama Mama...,” kata Diana sambil menahan tawa.


“ Iya, Saya mau Bu...,” kata Iza dan Mulyadi bersamaan hingga membuat Aruna terkejut lalu bergegas masuk ke dalam kamar tanpa bicara.


Melihat majikan kecilnya masuk kamar, Iza pun mengekorinya sambil tertawa kecil. Rupanya ucapan  Diana berhasil membuat Aruna takut dan mau menuruti perintah sang mama. Sedangkan Diana dan Mulyadi tertawa lepas melihat sikap Aruna tadi.

__ADS_1


\=====


Malam harinya Diana dan suaminya duduk di ruang tengah sambil menonton berita kriminal yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Suami Diana yang bernama Arka nampak tertawa mendengar cerita Diana tentang Aruna.


“ Jadi dia lagi dihukum nih ceritanya...,” kata Arka di sela tawanya.


“ Iya Pa...,” sahut Diana.


“ Jangan terlalu keras lah Ma. Kasian Aruna, dia kan masih kecil...,” kata Arka.


“ Itu ga keras Pa. Aruna itu kan Anak spesial dalam segala hal. Jadi Aku memang membuat aturan itu juga untuk menjaga dia dari orang jahat di luar sana...,” sahut Diana.


“ Iya iya, terserah Mama aja deh...,” kata Arka sambil mencium pipi sang istri hingga membuat Diana tersenyum.


Tak lama kemudian Aruna nampak menghampiri Diana dan Arka. Saat itu Aruna mengenakan piyama tidur bermotif Teddy bear favoritnya.


“ Mama..., Papa...,” panggil Aruna lirih.


“ Iya Nak...,” sahut Arka sambil meraih Aruna dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


“ Aku mau tidur dulu ya...,” sahut Aruna sambil menguap.


“ Ok. Udah sikat gigi belum...?” tanya Diana.


“ Udah Ma...,” sahut Aruna hingga membuat Diana tersenyum.


Kemudian Diana dan Arka memeluk dan mencium Aruna bergantian. Ritual kecil yang mereka lakukan menjelang tidur itu justru mengeratkan ikatan batin diantara ketiganya. Setelahnya Aruna turun dari pangkuan sang papa lalu melangkah ke kamar diiringi tatapan Arka dan Diana.


Arka dan Diana tak hentinya bersyukur memiliki Aruna. Mereka saling menatap sambil tersenyum lalu kembali mengingat moment dimana mereka bertemu Aruna untuk yang pertama kalinya.


“ Mama Kamu waras ga sih. Masa mau jodohin Kamu sama cewek itu. Apa dia udah pikun juga sampe ga sadar kalo Anaknya ini udah nikah sama Aku...,” kata Diana kesal.


“ Jaga bicaramu Diana. Yang Kamu bilang ga waras dan pikun itu Mamaku lho...,” sahut Arka tak suka.


“ Iya. Mama yang cuma bisa ngerongrong kehidupan Anaknya...,” kata Diana ketus.


“ Apa maksud Kamu Di...?!” tanya Arka lantang.


“ Kenapa Kamu marah Ka. Yang harusnya marah itu Aku. Kenapa Mama Kamu ngomong kaya gitu di depan Aku. Itu nyakitin Aku Ka...!” sahut Diana dengan mata berkaca-kaca.


“ Mama kan cuma bercanda, ga usah diambil hati lah. Lagian Aku juga ga tertarik sama cewek itu...,” kata Arka.


“ Kenapa ga tertarik, dia kan cantik...?” tanya Diana tak percaya.


“ Ini soal hati Di. Kamu kan tau kalo cinta Aku udah abis Kamu borong semua...,” sahut Arka mencoba mendinginkan suasana.


“ Itu karena ada Aku di sana. Gimana kalo Aku ga di sana tadi, Kamu pasti langsung gercep deh nyambut perjodohan Kalian...,” kata Diana sambil mencibir.


“ Ck, cemburumu itu ga beralasan banget sih Di. Aku capek harus berdebat sama Kamu soal yang sama terus tiap hari...,” sahut Arka kesal.


“ Ini kan gara-gara Mama Kamu. Kalo Mama Kamu ga ngomong gitu terus Aku juga ga bakal kepancing Ka...,” kata Diana membela diri.


Ucapan Diana membuat Arka terdiam. Ia tahu betul jika sang mama terus menekan Diana agar bisa memberinya cucu. Bahkan saking tak sabarnya sang mama menjodohkan Arka dengan wanita lain hingga membuat Diana murka.

__ADS_1


“ Aku heran deh sama Mama Kamu, apa dia ga liat ya kalo cewek itu bukan cewek baik-baik. Berlindung di balik make up tebal, menampilkan sosok cewek lugu dan polos padahal brengs*k. Aku jauh lebih baik, yah walau sampe saat ini Aku belum bisa ngasih Cucu seperti yang Mama Kamu mau. Tapi ini juga kan gara-gara dulu Aku nolongin Mama Kamu yang hampir keserempet mobil. Andai dulu Aku ga nolongin Mama Kamu, Anakku pasti masih ada sekarang...,” kata Diana sambil menitikkan air mata.


Melihat Diana menangis membuat Arka iba dan menghentikan mobilnya. Kemudian Arka memeluk Diana erat sambil menciumi kepalanya dengan sayang. Arka juga ikut sedih saat mengetahui Diana pendarahan setelah menolong sang mama. Dan Arka pun harus mengubur mimpinya untuk menimang bayi karena benturan keras saat menyelamatkan sang mama mertua telah membuat Diana keguguran.


“ Maafin Mama Aku ya Sayang. Maafin Aku juga karena ga tanggap sama keadaan. Andai waktu itu Aku yang nganterin Mama, pasti Kamu akan baik-baik aja dan Anak Kita masih ada sekarang...,” kata Arka sambil menangis.


Mendengar ucapan Arka membuat Diana makin keras menangis. Keduanya larut dalam tangis tanpa sadar dimana mereka saat itu. Setelah tangis keduanya mereda, mereka saling mengurai pelukan dan tersadar telah jauh


tersesat.


“ Ini dimana Sayang...?” tanya Diana sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“ Aku juga ga tau, kayanya Kita nyasar deh...,” sahut Arka.


“ Kok bisa nyasar sih Ka...?” tanya Diana tak mengerti.


“ Aku juga ga ngeh kalo Kita nyasar Sayang. Aku panik ngeliat Kamu nangis tadi jadi ga fokus nyetirnya...,” sahut Arka.


“ Gelap banget, Aku takut Ka. Cepetan jalan dong Ka, kok malah diem aja...,” kata Diana panik.


“ Iya sebentar Di, ini juga lagi nyoba kok...,” sahut Arka sambil berusaha menstarter mobilnya.


Tiba-tiba sebuah dahan pohon jatuh menghadang di depan mobil mereka. Arka dan Diana terkejut dan mengira itu karena hujan deras ditambah angin yang menyebabkan dahan pohon yang rapuh itu patah dan jatuh ke tengah jalan.


Arka dan Diana turun dari mobil untuk menyingkirkan dahan itu. Setelahnya mereka pun melangkah untuk masuk ke dalam mobil. Namun langkah mereka terhenti saat terdengar suara tangisan bayi tak jauh dari tempat mereka berdiri. Keduanya saling menatap lalu menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


Bergegas Diana menghampiri asal suara diikuti Arka yang juga sama antusiasnya dengan Diana. Mereka melihat sebuah kotak kayu terbuat dari kayu jati yang berisi bayi di dalamnya.


“ Ada bayi Ka...!” kata Diana senang.


“ Iya Sayang. Jangan sentuh dulu, Kita harus tunggu siapa tau ada yang datang nanti...,” kata Arka saat dilihatnya Diana ingin menggendong bayi itu.


Diana mengangguk dan hanya bisa berjongkok di samping kotak sambil menatap bayi itu dengan lembut. Tangis bayi itu terhenti saat Diana mengulurkan tangannya dan menyentuh pipinya seolah merasa nyaman dengan sentuhan Diana. Sedangkan Arka mengamati kotak kayu jati itu dengan seksama.


Kotak kayu itu terbuat dari kayu jati kelas satu dengan motif yang khas, warna coklat pliturnya mempertegas betapa kokohnya kotak itu. Di dalam kotak terdapat selimut yang menutupi tubuh sang bayi. Ditilik dari bahan yang dipakai bisa dipastikan jika out fit yang dikenakan si bayi memiliki harga yang lumayan mahal.


“ Ini udah sejam Ka. Ga ada siapa pun yang datang dan itu artinya bayi ini milik Kita...,” kata Diana dengan suara bergetar karena bahagia.


“ Ok. Kita bawa bayi ini pulang untuk merawatnya sementara waktu. Kita akan kembalikan bayi ini kalo keluarganya meminta nanti. Gimana Sayang...?” tanya Arka.


“ Iya iya, Aku setuju. Sekarang please Kita pergi dari sini ya, kasian bayi ini kedinginan...,” sahut Diana sambil menggendong bayi itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Arka mengangguk lalu memasukkan kotak kayu jati itu ke mobil. Jika tadi mobil itu sulit distarter, tapi saat bayi itu dibawa serta, mobil pun bisa melaju dengan lancar meninggalkan tempat itu. Arka melirik kearah Diana yang nampak bahagia saat mengajak bayi itu bicara sambil menciuminya dengan sayang.


“ Namanya siapa sih cantik...?” tanya Diana.


“ Aruna. Namanya Aruna Sayang...,” sahut Arka spontan hingga mengejutkan Diana.


“ Nama yang bagus, Aku suka...,” kata Diana sambil tersenyum.


“ Iya bagus. Aruna artinya Arka dan Diana...,” sahut Arka sambil menatap lurus ke depan tanpa berkedip.


Meski pun bingung dengan sikap ‘aneh’ Arka, namun Diana mengabaikannya karena ia terlalu senang menyambut kehadiran Aruna.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2