Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
247. Pasrah Menunggu


__ADS_3

Di tempat lain Kenzo tampak gelisah. Berkali-kali ia melirik kearah jam di pergelangan tangannya untuk memastikan pukul berapa saat ini. Alex yang duduk di depannya pun mengamati sikap Kenzo sambil mengerutkan keningnya.


" Gelisah banget sih Ken. Nunggu apaan sih Lo...?" tanya Alex.


" Ini udah waktunya istirahat, tapi Ria belum nelephon Gue. Padahal dari tadi pagi udah Gue chat plus telephon segala. Ini aneh karena ga biasanya dia kaya gini..., " sahut Kenzo.


" Kirain apaan. Ga taunya soal Ria...," kata Alex sambil tertawa hingga membuat Kenzo tersipu malu.


" Ck, Lo ga tau sih rasanya cemas mikirin orang yang Kita sayangi. Makanya cari pacar sana biar tau gimana rasanya...," kata Kenzo.


" Ga perlu. Gue mau langsung aja karena Gue cukup tertarik sama sekretaris Lo itu. Siapa namanya Aruna ya...?" tanya Alex.


" Iya Aruna. Gue saranin Lo jangan macam-macam sama dia kalo ga mau kena bogem mentah Suaminya yang jago berantem itu...," sahut Kenzo santai.


" What !. Aruna udah married...?!" tanya Alex tak percaya.


" Iya, malah sekarang dia lagi hamil anak pertamanya...," sahut Kenzo.


" Duh, kenapa tiap ketemu cewek yang cocok selalu aja ada penghalangnya. Kalo ga punya tunangan, ya punya suami. Apes banget sih Gue...," kata Alex sambil menepuk keningnya.


Kenzo pun tertawa mendengar ucapan Alex. Tiba-tiba ponselnya berdering dan Kenzo tersenyum saat melihat nama Ria di layar ponselnya. Kenzo langsung menerima panggilan itu namun ia terkejut karena mendengar suara aneh di seberang telephon.


Kenzo mencoba menajamkan pendengarannya dan mematung di tempat karena panggilan itu berakhir begitu saja.


" Sorry Lex, kayanya Gue harus pergi sekarang...," kata Kenzo sambil berdiri.


" Ok gapapa. Gue juga ga bisa mencegah Lo pergi kan Ken. Daripada Lo stay di sini tapi pikiran Lo entah kemana, lebih baik Kita cari waktu lain buat ketemu dan ngebahas kerja sama Kita ini...," sahut Alex bijak.


" Thanks Bro. Insya Allah kerja sama Kita bisa lanjut dan saling menguntungkan ya...," kata Kenzo sambil menjabat tangan Alex.


" Aamiin...," sahut Alex.


" Gue kabarin nanti kalo semuanya udah siap ya Lex. Gue duluan ya, Assalamualaikum...! " kata Kenzo sambil bergegas melangkah menuju parkiran.


" Wa alaikumsalam. Semoga urusan yang menghambat Lo ini cepet selesai ya Ken...," gumam Alex sambil menatap kepergian Kenzo dengan tatapan tulus.


\=\=\=\=\=


Kenzo tiba di perusahaan dan langsung berlari cepat menuju Divisi Marketing untuk mencari Ria. Namun Kenzo kecewa karena tak mendapati Ria di sana.


" Ria tadi pamit mau pulang sebentar Pak. Katanya sih pas jam masuk dia udah ada di sini. Tapi sampe jam segini Ria belum balik juga...," kata salah satu karyawan Divisi Marketing.

__ADS_1


" Pulang ke rumah atau penginapan...?" tanya Kenzo.


" Saya ga tau pasti Pak...," sahut sang karyawan.


" Ya udah, makasih infonya. Sekarang Kamu boleh lanjutin pekerjaan Kamu...," kata Kenzo sambil berlalu.


Kemudian Kenzo bergegas masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Di sana ia langsung membuka pintu dengan kasar hingga mengejutkan Aruna.


" Astaghfirullah aladziim..., Kenzo !. Ngagetin aja sih Lo...!" kata Aruna lantang sambil memegangi dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.


Kenzo mengabaikan ucapan Aruna. Ia segera duduk di hadapan Aruna dan itu membuat Aruna bingung.


" Sorry kelepasan. Ada apa Pak Kenzo...?" tanya Aruna yang memang harus membiasakan diri bersikap formal saat jam kerja.


" Ria masuk perangkap Run...," sahut Kenzo lirih.


" Masuk perangkap apa nih maksudnya. Tolong ngomong yang jelas Ken, jangan bikin bingung dong...!" kata Aruna panik.


" Tadi Gue dapat telephon dari Ria. Tapi pas Gue angkat ga ada suara apa-apa Run. Gue cuma denger suara geraman binatang buas dan suara rintihan Ria. Samar tapi Gue yakin kalo itu Ria. Telephon terputus setelah beberapa detik...," sahut Kenzo dengan mata berkaca-kaca.


Aruna terkejut lalu menegakkan tubuhnya. Ia percaya jika ucapan Kenzo benar karena hari ini pun ia belum bertemu dengan Ria.


" Kata karyawan di Divisi Marketing, Ria pamit pulang sebentar tadi. Dia juga ga tau Ria pulang kemana. Tapi kalo dari telephon tadi Gue yakin kalo sekarang Ria ada di Rumah kontrakan itu Run. Jujur Gue takut kalo ke sana sendirian. Makanya Gue ngomong ini sama Lo, kali aja Lo punya solusi gimana cara jemput Ria dari sana...," sahut Kenzo.


" Gue juga ga mungkin ke sana sendirian Ken. Kautsar udah ngelarang Gue pergi tanpa didampingi seseorang...," kata Aruna.


" Kan ada Gue Run. Lo ga sendirian kok...," kata Kenzo tak sabar.


" Ga bisa Ken. Gue cuma bisa ke sana sama Om George dan Tante Matilda...," sahut Aruna cepat.


" Ya udah kalo gitu Lo telephon Om sama Tante Lo itu dan minta mereka nemenin Kita ke sana sekarang Run...!" kata Kenzo setengah memaksa.


" Ga bisa Ken. Mereka lagi ga di Jakarta sekarang. Mereka baru balik ntar malam...," sahut Aruna karena ingat janjinya bertemu dengan George malam ini.


" Terus gimana dong. Gue khawatir Ria diapa-apain sama makhluk pesugihan itu Run...," kata Kenzo gusar.


" Tenang Ken. Ada satu cara membantu Ria sementara sampe Om George dan Tante Matilda datang...," kata Aruna.


" Cara apaan Run...?" tanya Kenzo penasaran.


" Dzikir dan doa Ken. Cuma itu caranya...," sahut Aruna mantap hingga mengejutkan Kenzo.

__ADS_1


Kenzo nampak menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


" Cara sederhana yang sering dilupain sama orang ya Run. Ya Allah, kenapa Gue bisa lupa...," kata Kenzo menyesali diri.


" Gapapa Ken, belum terlambat kok. Kita mulai dari sekarang ya. Lo udah sholat Dzuhur belum...?" tanya Aruna.


" Belum, Gue kalut banget mikirin ini daritadi Run...," sahut Kenzo malu-malu.


" Sholat gih Ken. Udah jam dua lewat tuh. Jangan lupa doain Ria ya...," pinta Aruna sambil tersenyum.


" Ok, makasih ya Run...," kata Kenzo sambil menepuk bahu Aruna dengan lembut.


" Sama-sama..., " sahut Aruna.


Kenzo bangkit dari duduknya lalu bergegas masuk ke dalam ruangannya. Setelah berwudhu Kenzo pun menunaikan sholat Dzuhur di dalam ruang kerjanya. Terlihat khusu dan penuh penghayatan.


Dzikir dan doa yang panjang Kenzo lantunkan demi keselamatan Ria. Ada setetes air mata yang jatuh di pipinya manakala ia teringat rintihan Ria di seberang telepon tadi.


Sementara itu Aruna sedang berusaha memanggil George dan Matilda. Ia bermaksud menyampaikan semua cerita Kenzo tadi.


Tak lama kemudian selarik angin besar datang menyapa dan Aruna tahu jika George dan Matilda datang memenuhi panggilannya.


" Ada apa Nak, kenapa Kamu terlihat cemas...?" tanya Matilda.


" Kita kecolongan Tante. Ria ada di tangan makhluk itu sekarang...," sahut Aruna gusar.


" Oh ya...?" tanya Matilda sambil menatap kearah suaminya.


" Temanmu itu memang ceroboh Nak. Dia datang ke sana sendirian tadi...," kata George datar.


" Jadi apa yang bisa Kita lakukan sekarang Om...?" tanya Aruna.


" Tak ada yang bisa Kita lakukan sekarang kecuali menunggu hingga langit gelap...," sahut George pasrah sambil menggelengkan kepalanya.


" Apa itu artinya Ria akan bersama makhluk itu seharian Om...?" tanya Aruna.


" Terpaksa. Jika dia pintar, dia bisa mengulur waktu. Kalo tidak, Aku ga bisa jamin jika dia keluar hidup-hidup nanti...," sahut George.


Aruna mengerjapkan matanya usai mendengar jawaban George. Ada rasa sesal di hati Aruna mengingat Ria telah berani melanggar pesan yang ia berikan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2