Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
292. Kerasukan


__ADS_3

Dita menjerit histeris saat tubuh polosnya dilihat banyak pasang mata. Sedangkan Randu nampak menggeram marah karena sebagian warga juga mengucapkan kata-kata tak pantas saat melihat tubuh polos sang kekasih.


Seorang wanita yang baru saja tiba nampak menarik taplak meja lalu mengulurkannya kearah tubuh Dita hingga menutupi aurat Dita. Dan itu membuat Dita sangat berterima kasih.


" Terima kasih...," kata Dita lirih.


" Jangan berterima kasih dulu Dita. Hanya itu yang bisa Aku lakukan. Karena Aku ga bisa mencegah amukan warga padamu dan Randu nanti...," sahut wanita itu sambil berlalu.


Dita menangis membayangkan dirinya dan Randu diarak keliling kampung. Dita tak tahu bagaimana nasibnya kelak setelah ia dipermalukan warga.


Sedang di sisi lain sebagian warga terlihat keberatan akan sikap wanita itu. Mereka protes dan tetap ingin Dita dan Randu dalam kondisi tanpa busana saat diarak keliling kampung.


" Dengan mengarak dia dalam kondisi setengah telanj*ng aja warga juga paham kok apa yang terjadi. Ga usah lebih mempermalukan dia karena saat ini dia juga udah malu...," kata wanita itu menjelaskan.


Warga pun terdiam dan saling menatap sejenak. Kemudian mereka mengangguk tanda setuju dengan ucapan wanita itu.


" Sekarang Kalian tanggung akibatnya. Enak aja berzina di sini. Kalian pikir ini hutan hingga Kalian bebas melakukan apa pun semau Kalian. Nikah dong jangan cuma mau ngese* gratis. Gara-gara ulah Kalian lingkungan sini bakal sial tau ga...?!" kata salah seorang warga setelah sebelumnya meninju perut Randu hingga terjungkal ke lantai.


" Tau nih. Masih sore udah bikin gara-gara. Apa Kakek ga sakit hati sama sikap Kalian ?. Dititipin rumah, bukannya dijaga malah dijadiin tempat zina...," kata warga lainnya sambil mencibir.


" Udah ga usah banyak ngomong. Kita arak aja sekarang...!" kata beberapa pria tak sabar sambil menarik Randu dan Dita keluar rumah.


" Ampuunn..., ampuunn. Tolong jangan kaya gini, Saya malu...," rintih Dita.


" Tau malu juga rupanya. Tapi kenapa waktu melakukannya ga tau malu. Padahal Kalian kan belum menikah...!" maki seorang warga.


Dita dan Randu tak bisa berbuat apa-apa. Sepanjang perjalanan tubuh keduanya terus didorong ke sana kemari oleh warga. Kedua tangan mereka juga diikat bersama hingga keduanya akan sulit untuk melarikan diri.


Kautsar dan Reyhan menghentikan kendaraan mereka di pinggir jalan saat berpapasan dengan iringan warga. Ketiganya nampak terkejut saat mengetahui ada sepasang pria dan wanita yang sedang diarak dalam kondisi tanpa busana.


" Itu kan Dita...," kata Aruna.


" Iya. Kenapa mereka ya...?" tanya Reyhan.


" Keliatannya mereka ketangkap basah saat berzina...," sahut Kautsar sambil menoleh kearah lain.


" Kasian. Itu resiko yang harus mereka tanggung karena Dita dan pacarnya emang salah...," kata Aruna yang diangguki Kautsar.

__ADS_1


" Udah lanjut aja yuk...," ajak Reyhan sambil melajukan motornya menuju rumah Gladys.


Kautsar pun mengangguk lalu mengekori Reyhan. Tak lama kemudian mereka tiba di depan rumah Gladys.


" Kalian liat itu...?" tanya Gladys sambil membuka pintu pagar.


" Liat apaan...?" tanya Reyhan tak mengerti.


" Dita sama pacarnya diarak warga karena ketauan berzina di rumah Kakeknya...!" sahut Gladys.


" Oh itu. Iya udah liat tadi...," kata Reyhan sambil memarkirkan motornya.


Kemudian Kautsar dan Aruna turun dari motor menyusul Reyhan yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah bersama Gladys.


" Kita bisa memanfaatkan kondisi ini untuk bertindak Sayang...," bisik Aruna.


" Kamu betul. Saat ini kondisi pacarnya si Dita pasti sedang lemah karena energinya terkuras setelah melakukan itu...," sahut Kautsar cepat.


Aruna pun mengangguk lalu berjalan cepat ke bagian dalam rumah. Tiba di sana ia disambut arwah Mukhlis yang berdiri di dekat pintu seolah sedang menantinya dengan tak sabar.


" Aku tau. Ayo Kita selesaikan semuanya sekarang...," kata Aruna.


Kemudian Aruna mempersiapkan segala seuatu yang ia butuhkan. Kautsar nampak sibuk membantu sang istri, sedangkan Reyhan mulai berdzikir karena tak ingin mengalami kejadian tak menyenangkan ssperti kemarin.


Tiba-tiba adik Gladys masuk ke dalam rumah dengan nafas terengah-engah.


" Ada apa, kenapa lari-lari sih...?" tanya Gladys.


" Kak Dita sama Om Randu diarak warga karena ketauan berzina Mbak...," sahut adik Gladys.


" Udah tau. Terus kenapa lari-lari...? " ulang Gladys.


" Mereka sekarang dibawa ke aula warga dan ditanyain banyak hal. Tapi mendadak Mbak Dita kesurupan Mbak...," sahut adik Gladys hingga mengejutkan semua orang.


Aruna menoleh kearah arwah Mukhlis dan terkejut saat melihat pocong merah tak ada lagi di samping arwah Mukhlis.


Aruna pun bangkit dan bergegas keluar dari rumah hingga mengejutkan Kautsar dan Reyhan. Keduanya mengejar Aruna keluar karena khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan Aruna nanti.

__ADS_1


" Kenapa Run...?!" tanya Reyhan.


" Dita dirasukin arwah Kakeknya Kak. Kita harus ke sana sekarang...!" sahut Aruna cepat.


" Ayo Aku antar...!" kata adik Gladys tiba-tiba.


" Ok, Kita semua ke sana sekarang...," sahut Aruna yang diangguki semua orang.


Setelah mengunci pintu Gladys dan adiknya melaju dengan motor menuju aula warga dimana Dita dan Randu ditahan. Di belakangnya terlihat Kautsar dan Reyhan terus mengikuti dengan motor masing-masing.


Mereka tiba di sebuah aula warga yang berukuran lumayan besar. Bagian luar aula sudah dipadati warga. Sedangkan dari dalam aula terdengar jeritan Dita dan suara makian dari mulut Randu yang saling bersahutan.


Aruna menerobos masuk ke dalam aula. Ia mengambil posisi dekat jendela di sudut aula. Kautsar dan Reyhan langsung berdiri mengapit Aruna agar Aruna tetap aman dari jangkauan orang lain saat berinteraksi dengan makhluk halus nanti.


Di depan sana terdengar Randu yang terus bicara sedangkan Dita terlihat menjerit histeris sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Tali yang tadi digunakan untuk mengikat Dita dan Randu pun telah putus. Kini warga telah mengganti ikatan itu dengan tali yang lain dan mengikat keduanya dalam kondisi terpisah. Bahkan warga juga menutupi bagian bawah tubuh Randu dengan kain.


Tiba-tiba Dita berhenti menjerit. Dia menatap marah kearah Randu sambil mengeluarkan sumpah serapah.


" Aku sudah bilang jangan pernah dekati Dita. Tapi Kau memaksa. Kau menggunakan cara licik untuk membuat Cucu kesayanganku ini jadi anak durhaka. Kau juga telah memanfaatkan kepolosan Dita untuk mengeruk hartaku...!" kata Dita lantang sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


Randu nampak tersenyum sinis kemudian menjawab tak kalah lantang.


" Aku memang memanfaatkan Cucu bod*hmu ini. Bukan Aku yang meminta tapi dia yang dengan suka rela menyerahkan diri. Aku hanya meminta imbalan atas apa yang telah Aku lakukan. Bukan kah Aku telah membuat Cucumu ini puas...?!" kata Randu sambil tersenyum mengejek hingga membuat aula dipenuhi suara warga yang saling bwrsahutan.


Selain itu ucapan Dita yang kerasukan sesuatu yang mengaku sebagai kakeknya membuat warga terkejut. Mereka tak menyangka jika kakek Dita telah menjadi arwah penasaran dan itu artinya kakek Dita telah meninggal dunia bukan ?. Tapi kapan dan apa sebabnya, warga juga bingung karena mereka memang tak tahu apa-apa.


Berbagai pertanyaan memenuhi benak warga. Beberapa warga nampak mengabadikan moment tersebut dengan ponsel dan itu cukup menjadi bukti kejahatan Dita kelak.


Tiba-tiba Dita kembali menjerit histeris. Kali ini dia merangsek maju dan berniat menyerang Randu. Namun gerakan Dita nampak kaku seolah ada sesuatu yang menghalangi kaki dan tangannya untuk bergerak.


" Aarrggghhh...! Lepaskan Aku. Bertarung lah sebagai laki-laki jika Kau mampu...!" kata Dita sambil menjerit.


Randu nampak tertawa melihat arwah kakek Dita kesulitan bergerak. Ia ingat saat membungkus jasad laki-laki renta itu dengan kain berwarna merah lalu menguburnya hidup-hidup.


Melihat situasi yang tak menguntungkan itu membuat Aruna geram. Ia harus melakukan sesuatu agar kedok Randu dan Dita bisa terbuka bersamaan di depan warga. Ia berharap Mukhlis dan Kakek Dita bisa memperoleh keadilan seperti yang seharusnya.


Sedangkan di depan sana Randu terus tertawa sambil membaca beberapa mantra.

__ADS_1


Warga yang tahu jika Randu adalah dukun pun berlarian keluar karena tak mau jadi sasaran tembak dari ilmu hitam yang dimiliki Randu.


bersambung


__ADS_2