Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
175. Ga Waras ?


__ADS_3

Setelah menceritakan semuanya secara detail, ruh Lian nampak sedikit lebih tenang. Aruna pun mengerti bagaimana ruh Lian bisa terperangkap di balik cermin itu.


" Terus kenapa Kamu bisa jalan-jalan ke kantor ini. Bukannya Kamu bilang lagi terkurung di suatu tempat...? " tanya Aruna.


" Aku juga ga ngerti. Waktu itu Aku punya keinginan kuat ngikutin Dian ke kantor. Eh, tau-tau Aku bisa melayang keluar dan ngikutin dia sampe ke sini. Setelahnya ya gitu, Aku bisa ada dimana-mana sesuai keinginanku...," sahut ruh Lian.


" Kalo Aku bilang kenyataan yang sesungguhnya apa Kamu mau terima...?" tanya Aruna hati-hati.


" Tentang apa...?" tanya ruh Lian.


" Tentang kondisimu saat ini...," sahut Aruna.


" Mmm..., gapapa. Aku siap dengernya...," kata ruh Lian setengah ragu.


" Ini mungkin bukan waktu yang tepat. Tapi Aku pikir Kamu harus tau kalo Kamu udah pergi dan ga mungkin kembali lagi...," kata Aruna.


" Pergi...?" tanya ruh Lian tak mengerti.


" Iya pergi...," sahut Aruna gusar.


" Maksudmu pergi..., Aku udah mati...?" tanya ruh Lian dengan suara tercekat.


" Iya, maaf...," sahut Aruna lirih.


Untuk sesaat keduanya terdiam tanpa bicara. Ruh Lian tampak berusaha mengendalikan diri. Aruna paham jika saat itu ruh Lian sedang marah, sedih, kecewa dan berbagai perasaan bercampur aduk pasti dirasakan oleh makhluk tak kasat mata itu.


" Sejak kapan Aku mati Aruna...?" tanya ruh Lian tiba-tiba.


" Sejak Kamu bisa melayang keluar dari balik cermin itu Lian...," sahut Aruna.


" Sejak kapan Kamu tau kalo Aku udah mati Aruna...?" tanya ruh Lian.


" Belum lama. Sebenernya Aku curiga saat pertama kali ngeliat Kamu. Apalagi pas ga sengaja nyentuh tangan Bu Lian. Terasa dingin dan kaku. Aku udah nyoba nyari tau tentang Kamu dari Pak Tatang tapi ga banyak yang bisa Aku dapet...," sahut Aruna.


Ruh Lian nampak mematung sesaat lalu ia kembali bertanya.


" Kalo Aku mati, kenapa jasadku tetap utuh dan dipakai ke sana kemari oleh Dian...?" tanya ruh Lian.


" Dia menggunakan semacam mantra dan ramuan untuk membuat jasadmu tetap utuh Lian...," sahut Aruna.


" Sampe kapan jasadku akan bertahan Aruna...?" tanya ruh Lian.


" Sampe ruh Dian pergi ninggalin jasadmu...," sahut Aruna hingga mengejutkan ruh Lian.


" Ruh Dian. Apa artinya Dian juga udah mati Aruna...?" tanya ruh Lian.


" Aku ga tau pasti Lian. Bisa aja jasadnya ada di suatu tempat dan sedang diawasi oleh orang yang paham ilmu memindah ruh ini...," sahut Aruna sambil menggedikkan bahunya.


" Aku terima takdirku Aruna. Tapi Aku ga terima saat orang lain memanfaatkan jasadku. Tolong bantu Aku Aruna. Bantu kembalikan jasadku, Kumohon...," pinta ruh Lian penuh harap.


" Insya Allah Aku bakal bantuin Kamu. Tapi kayanya perlu waktu lama. Kecuali Kamu bisa bantu Aku Lian...," kata Aruna.


" Bantu apa Aruna. Bilang aja, asal ini demi kembalinya jasadku Aku bakal lakuin apa pun...," kata ruh Lian mantap hingga membuat Aruna tersenyum.


" Kamu ikuti kemana Bu Lian pergi dan kasih tau Aku apa aja yang dia lakuin. Termasuk dimana dia menyimpan tubuh Dian...," sahut Aruna.

__ADS_1


" Ok. Aku siap Aruna. Sabar dan tunggu kabar yang Aku bawa Aruna...!" sahut ruh Lian lalu melayang pergi meninggalkan Aruna.


Hembusan angin lembut menerpa wajah Aruna. Rupanya kepergian ruh Lian bersamaan dengan hadirnya sosok wanita cantik berkulit pucat dan berambut pirang yang melesat cepat kearah Aruna.


" Tante Matilda...," panggil Aruna lalu menghambur memeluk wanita cantik itu.


" Apa kabar Nak...?" tanya Matilda sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.


" Alhamdulillah baik Tante. Gimana kabar Tante, mana Om George...?" tanya Aruna sambil menatap ke segala penjuru.


" Om George lagi ada urusan di luar sana. Tante ke sini karena kangen sama Kamu Aruna. Boleh kan...?" tanya Matilda.


" Tentu boleh dong Tante...," sahut Aruna cepat.


Matilda tersenyum sambil mengendus udara di sekitarnya.


" Ada sesuatu di sini. Apa itu benar Nak...?" tanya Matilda.


" Aku memang ga bakal bisa menyembunyikan sesuatu dari Tante...," sahut Aruna hingga membuat Matilda tertawa.


Kemudian Aruna mulai menceritakan semua yang dialami ruh Lian. Matilda menggelengkan kepalanya karena merasa prihatin terhadap nasib ruh Lian.


" Kasian sekali dia...," kata Matilda.


" Makanya Aku berniat membantu dia supaya ga kelamaan nyasar di dunia tanpa punya tujuan Tante...," sahut Aruna.


" Sayangnya Tante ga bisa membantu Aruna...," kata Matilda sedih.


" Gapapa Tante. Kali ini biar Aku yang urus, Tante tinggal duduk manis sambil ngeliatin aja. Gimana Tante...?" tanya Aruna.


Aruna pun tertawa lalu bergegas pergi ke kantin untuk sekedar melepas penat. Matilda nampak mengamati dari jauh sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


Dua hari setelah permintaan Aruna untuk mengawasi Dian, ruh Lian kembali datang menemui Aruna. Kali ini dia datang dengan membawa berita yang mengejutkan.


" Aku tau dimana Dian meletakkan tubuhnya Aruna...!" kata ruh Lian tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna.


" Ya Allah, kenapa Kamu dateng mendadak dan pake teriak segala sih Lian. Aku kaget tau...!" sahut Aruna dengan lantang.


Suara lantang Aruna menarik perhatian sekretaris Lian yang saat itu hendak keluar ruangan.


" Kamu bilang apa barusan Aruna...?!" tanya Lian sambil menatap Aruna dengan tatapan tajam.


" Maaf Bu. Saya ga bilang apa-apa...," sahut Aruna tak enak hati.


" Tapi Saya denger Kamu manggil nama Saya tanpa embel-embel Bu. Rupanya pujian dari Saya dan Pak Hasby udah bikin Kamu besar kepala Aruna. Kamu sampe lupa tata krama dan lupa bagaimana cara menghormati senior Kamu. Apa yang Kamu lakukan tempo hari belum seberapa Aruna. Justru sikapmu hari ini bikin semua nilai plus yang Kamu miliki hilang begitu aja...!" hardik Lian hingga membuat Aruna panik.


" Maaf Bu, sungguh Saya ga bermaksud begitu. Saya kaget waktu liat kecoa di kolong meja tadi. Saya mau bilang kalo kecoa tadi ngikutin Bu Lian tapi...," ucapan Aruna terputus saat Lian memotong cepat.


" Ok, alasanmu kali ini Saya terima. Tapi hanya kali ini Aruna...!" kata Lian sambil membanting pintu.


Aruna tersentak kaget sambil mengusap dadanya untuk menetralisir detak jantungnya.


" Galak banget sih...," gerutu Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Tingkah Aruna membuat ruh Lian tertawa. Aruna menoleh sebal kearah ruh Lian yang telah membuatnya 'disemprot' Lian.


" Puas ya ngeliat Aku dimarahin...?" tanya Aruna.


" Maaf Aruna. Tapi tadi tuh lucu banget tau ga...," sahut ruh Lian di sela tawanya.


" Iya iya. Sekarang buruan mau ngomong apaan. Eh, sebentar. Jangan suka ngagetin ya. Kalo nongol tuh yang soft dong jangan mendadak kaya tadi...," omel Aruna.


" Ok. Aku boleh cerita sekarang kan...?" tanya ruh Lian.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Ternyata Dian meletakkan tubuhnya di rumah seorang dukun Aruna. Tempatnya lumayan jauh dari sini. Dan hari ini dia harus melakukan sesuatu supaya ilmunya manjang...," kata ruh Lian.


" Kamu tau tempatnya kan. Kita ke sana nanti sore ya...," kata Aruna.


" Baik...," sahut ruh Lian lalu bergegas pergi saat melihat Lian masuk ke dalam ruangan.


Lian menatap Aruna dengan tatapan curiga. Ia memperlihatkan ponselnya kearah Aruna dan bertanya.


" Sebenernya Kamu ini siapa Aruna...?" tanya Lian.


" Apa maksud Ibu...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Saya sengaja pasang kamera CCTV khusus untuk ngawasin Kamu Aruna !. Ternyata kecurigaan Saya terbukti. Liat, Kamu lagi ngomong sendiri seolah ada orang lain di depan Kamu. Jadi Kamu ini ga waras ya Aruna...?!" tanya Lian sambil menatap Aruna dari atas kepala hingga ujung kaki.


Ucapan Lian membuat Aruna terkejut. Bahkan ia sampai tersedak air liurnya sendiri karena tak menyangka dapat tuduhan tak masuk akal seperti itu dari Lian.


" Maksud Ibu, Saya g*la...?" tanya Aruna tak suka.


" Mungkin. Kalo emang Kamu waras, bisa ga Kamu jelasin apa yang lagi Kamu lakuin saat Saya tinggal tadi...?" tanya Lian.


Aruna menghela nafas panjang usai melihat rekaman di ponsel Lian tadi. Di sana memperlihatkan Aruna tengah bicara seorang diri. Beruntung volume suara terganggu sehingga Lian tak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Aruna.


" Saya lagi latihan presentasi Bu...," kata Aruna berbohong.


" Yakin...?" tanya Lian.


" Seratus persen...," sahut Aruna cepat.


" Ok. Saya percaya. Tapi tolong jangan kaya gini lagi Aruna. Saya takut ngeliat Kamu kaya gini...," kata Lian sambil melangkah ke meja kerjanya.


Aruna mengangguk sambil mengepalkan tangannya. Dalam hati ia menyesali kebodohannya sendiri.


\=\=\=\=\=


Ria dan Kenzo tertawa keras saat Aruna menceritakan apa yang dikatakan Lian tadi. Saat itu mereka sedang istirahat di kantin.


" Harusnya Lo bilang kalo Lo emang g*la Run. Gue yakin dia ga bakal berani macem-macem lagi nanti...," kata Ria di sela tawanya.


" Sia*an. Ngapain Gue bilang gitu. Lagian ga bakal ada yang percaya sama omongannya kan. Mana ada orang g*la secantik Gue...," kata Aruna sambil menaik turunkan alisnya.


" Betul juga. Kalo Lo g*la. Berarti yang muji kerjaan Lo kemarin juga orang g*la dong...," sahut Kenzo sambil tertawa.


Aruna dan Ria pun kembali tertawa mendengar ucapan Kenzo. Di sudut kantin ruh Lian pun nampak ikut tersenyum mendengar celoteh Aruna dan kedua temannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2