Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
272. Pengawal Ayah


__ADS_3

Aruna sedang menunggu kedatangan Kautsar sore itu saat hembusan angin kencang menyapa dirinya. Aruna langsung memasang sikap waspada karena sadar jika angin kali ini berbeda dengan yang biasanya.


" Angin ini... Siapa sebenernya yang datang...?" gumam Aruna sambil mengamati sekelilingnya.


Namun Aruna tersenyum saat melihat sosok pria yang lama ia rindukan. Kehadiran sang ayah di hadapannya, meski dengan cara yang unik, tetap membuat hati Aruna bahagia tak terkira.


" Ayah...!" panggil Aruna sambil menghambur ke pelukan Orion.


Orion tertawa menyambut sang anak. Ia pun memeluk Aruna dengan erat sambil mencium puncak kepalanya dalam-dalam sebagai ungkapan rindu.


Setelah lama saling memeluk, keduanya pun saling mengurai pelukan. Orion tersenyum melihat air mata yang jatuh di wajah Aruna.


" Kenapa menangis ?. Harusnya Kamu senang kan ketemu sama Ayah...?" tanya Orion sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas.


" Ini ekspresiku saat Aku senang Ayah...," rengek Aruna manja hingga membuat Orion tertawa lepas.


" Baik lah. Tapi apa Kamu ga mau mempersilakan Ayah duduk Nak...?" tanya Orion sambil melirik kearah sofa dimana Aruna duduk tadi.


" Oh iya Aku lupa. Ayo kita duduk Ayah...," kata Aruna sambil menarik tangan sang ayah.


Namun langkah Aruna terhenti saat menyadari ada orang lain selain mereka berdua di ruangan itu.


Aruna menoleh dan terkejut melihat beberapa orang asing berwajah pucat sedang berdiri sambil merapat ke dinding. Sikap mereka yang waspada dan tatapan yang dingin membuat Aruna mengerutkan keningnya.


" Apa mereka datang bersama Ayah...?" tanya Aruna tanpa menoleh kearah Orion.


" Betul Nak. Mereka adalah anggota pasukan manusia serigala yang sengaja ditunjuk untuk mengawal Ayah...," sahut Orion.


" Pasukan manusia serigala...?" ulang Aruna.


" Iya Nak...," sahut Orion sambil tersenyum.

__ADS_1


" Tapi kenapa Ayah harus dikawal segala. Apa telah terjadi sesuatu sama Ayah belakangan ini...?!" tanya Aruna cemas.


" Bukan terjadi sesuatu sama Ayah. Hanya ada sedikit kesalahan pahaman dengan pengikut setia Kakekmu...," sahut Orion cepat.


" Kenapa bisa begitu ? Apa Kakek Arnold tau tentang ini Yah...?" tanya Aruna.


" Mmm..., sebaiknya Kita duduk biar Kamu bisa mendengar cerita ini dalam keadaan tenang...," kata Orion.


Aruna mengangguk lalu menarik lengan sang ayah agar duduk bersamanya. Setelah duduk Aruna melihat para pengawal sang ayah tetap berdiri dan tak bergeser dari tempatnya.


" Apa mereka akan terus berdiri di sana memperhatikan Kita Yah. Kok, Aku merasa ga nyaman ya. Apa Ayah bisa menyuruh mereka pergi kemana kek gitu biar ga berdiri terus di sana...?" tanya Aruna sambil berbisik.


" Ga bisa Aruna. Mereka memang distel seperti itu sejak dulu. Abaikan mereka. Lama-lama Kamu akan terbiasa juga...," sahut Orion sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Tapi kalo Aku harus bicara sesuatu yang pribadi gimana Yah. Aku kan malu...," protes Aruna.


" Hal pribadi Kita udah jadi santapan mereka sehari-hari Nak. Bahkan yang lebih pribadi dari ini pun mereka tau kok...," kata Orion dengan santai.


" Masa sih Yah...?" tanya Aruna tak percaya.


Mereka berpostur tinggi besar, berkulit pucat, berambut pirang, dan bola mata berwarna biru gelap. Tak ada senyum di wajah mereka. Mereka hanya mematung sambil berdiri tegak. Meski pun begitu mereka akan dengan sigap bergerak jika terjadi sesuatu.


Diam-diam Aruna meraih salah satu pajangan keramik yang berukuran kecil dari rak di sampingnya. Dengan cepat Aruna melemparkan benda itu ke salah satu pengawal sang ayah. Orion yang tahu apa yang dilakukan Aruna hanya tersenyum tipis dan membiarkan sang anak mencari tahu apa yang membuatnya penasaran.


Aruna membelalakkan matanya saat melihat reaksi salah satu pengawal sang ayah. Pria itu semula menatap ke pintu. Saat patung keramik kecil melesat cepat kearahnya, pria itu hanya menoleh dan patung keramik itu berhenti di udara lalu hancur berkeping-keping.


" Masya Allah !. Ayah liat itu. Pengawal Ayah hanya menatap patung keramik itu tanpa menyentuhnya tapi berhasil menghancurkannya dalam beberapa detik...!" kata Aruna setengah menjerit.


" Ayah tau Nak. Bahkan mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih ajaib lagi...," sahut Orion santai.


Aruna menggelengkan kepalanya lalu melangkah mendekati pengawal ayahnya. Ia menyapa mereka sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


" Senang bertemu dengan Kalian. Apa kabar, namaku Aruna...," kata Aruna dengan ramah.


Sikap Aruna membuat para pengawal Orion yang berjumlah empat orang itu saling menatap bingung. Kemudian mereka menatap Orion seolah meminta ijin untuk menyambut uluran tangan Aruna.


" Gapapa, Kalian boleh mengenalnya. Dia Anakku, Anak kandungku...," kata Orion yang diangguki keempat pengawalnya.


Aruna tersenyum lebar saat keempat orang pengawal sang ayah menyambut uluran tangannya. Namun Aruna sedikit bingung karena keempat pengawal sang ayah bukan menjabat tangannya melainkan menggenggam lengannya dekat siku bagian bawah dan sedikit menekan ibu jari mereka di sana. Mereka melakukan itu secara bergantian.


Aruna nampak tersenyum menerima salam perkenalan yang berbeda itu. Meski dilakukan tanpa senyum dan hanya menganggukkan kepala, tapi Aruna bahagia.


" Salam perkenalan yang unik Ayah...," kata Aruna sambil menatap lengannya yang tadi digenggam oleh pengawal sang ayah.


" Dengan menekan ibu jari di lenganmu tadi itu artinya mereka menandai diri mereka dalam dirimu Nak. Sehingga secara tak langsung Kamu akan terkoneksi dengan mereka. Jika biasanya Om George dan Tante Matilda yang datang membantumu, kali ini mereka akan terlibat saat keadaan gentingmu...," sahut Orion sambil tersenyum.


" Oh ya. Apa itu artinya Aku juga punya pengawal seperti Ayah...?" tanya Aruna.


" Mirip, tapi ga sama. Karena mereka hanya akan hadir saat Kamu benar-benar terdesak...," sahut Orion.


" Kalo Om George dan Tante Matilda datang, mereka juga datang...?" tanya Aruna lagi.


" Tidak...," sahut Orion cepat hingga membuat Aruna mengangguk tanda mengerti.


Kemudian Aruna kembali duduk di samping sang ayah untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.


" Jadi apa yang sebenarnya terjadi Ayah...?" tanya Aruna.


" Begini Nak. Kakekmu ingin rehat dari kepemimpinannya. Dan beliau ingin menyerahkan tampuk pimpinan ke tangan Ayah. Tapi sayangnya Ayah ga tertarik untuk memimpin klan manusia serigala ini Nak. Ayah merasa ga mampu, lagi pula Ayah hanya ingin hidup tenang tanpa harus memikirkan masalah yang pelik. Tapi jangan ragukan kesetiaan Ayah karena Ayah akan berdiri di garda terdepan jika suatu saat ada yang ingin mengusik Kakekmu...," kata Orion tegas hingga membuat Aruna tersenyum mendengarnya.


" Terus...?" tanya Aruna.


" Terjadi kekacauan saat ini. Semua anggota klan Kita menolak keinginan Kakekmu. Beberapa orang bahkan salah paham dan mengira Ayah ingin merebut tahta Kakekmu. Mereka mulai melakukan beberapa intrik untuk menyakiti Ayah dan menghentikan Ayah. Bahkan saat ini Ayah ga bisa masuk ke area istana Kakekmu. Karena khawatir dengan keselamatan Ayah, Kakekmu mengutus beberapa pengawal yang sekarang ada bersama Kita...," kata Orion.

__ADS_1


Aruna nampak menghela nafas panjang. Sejujurnya ia pun tak mengerti dengan susunan kepemimpinan dalam klan manusia serigala. Namun mendengar cerita sang ayah membuatnya sadar jika klan manusia serigala ibarat sebuah kerajaan yang membutuhkan raja atau ratu untuk memimpin mereka. Karena jika tanpa pimpinan artinya mereka tak punya aturan yang mengendalikan sepak terjang mereka. Apalagi jumlah mereka yang banyak memang membutuhkan sosok pemimpin yang handal dan dicintai rakyatnya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2