
Sementara itu Ria sedang tertidur akibat pengaruh obat bius yang diberikan dokter tadi. Dalam tidurnya Ria nampak gelisah. Ia terlihat menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sedang menghindari sesuatu.
" Ennggh..., jangan..., jangan dekat..." gumam Ria berkali-kali.
Perawat yang duduk di samping Ria pun bangkit lalu mengecek kondisi Ria. Setelahnya ia mengusap lembut lengan Ria seolah berusaha menenangkan gadis itu.
Berhasil. Ria kembali terlihat tenang dan sang perawat pun tersenyum. Kemudian perawat itu kembali duduk untuk mengecek laporan medis yang sedang ia kerjakan.
Dalam tidurnya Ria seolah kembali dibawa ke rumah kontrakan milik Junaedi yang ia sewa. Ria seperti mengulang kembali peristiwa naas yang menimpanya beberapa jam yang lalu.
Saat itu Ria melihat Luluk yang datang menyambutnya dengan senyum. Ria juga melihat bagaimana Luluk mengikutinya diam-diam. Ria yang tak curiga pun terus bicara merespon ucapan Luluk. Hingga kemudian Ria terkejut saat Luluk mendorongnya masuk ke dalam kamar dan meninggalkannya begitu saja.
Ria panik saat mendengar suara geraman binatang buas di belakangnya. Saat Ria menoleh, ia terkejut melihat sosok makhluk hitam tinggi besar tanpa busana dan bertanduk tiga tengah menyeringai kearahnya. Apalagi saat Ria merasakan kedua tangan makhluk itu menyentuh pinggangnya lalu menariknya masuk ke dalam kamar dengan kuat.
Ria menjerit sekencang-kencangnya sambil memanggil nama Luluk berulang kali. Namun nampaknya Luluk tak peduli. Ia terlihat kembali ke teras lalu duduk dengan santai di sana seolah tak terjadi apa pun. Saat itu lah Ria sadar jika Luluk telah menjebaknya.
Ria berusaha melepaskan diri dari cengkraman makhluk itu namun gagal. Cekalan makhluk itu begitu kuat. Ria yang semula menjerit sambil memejamkan mata pun memberanikan diri mengintip apa yang akan dilakukan makhluk itu padanya.
Ria mulai menangis saat menyadari makhluk itu berada di atas tubuhnya. Ria tahu apa yang akan dilakukan makhluk berjenis kelamin pria itu. Ria yang ketakutan pun hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati berharap agar Allah segera mengirimkan pertolongan untuknya.
Sambil berdoa dalam hati Ria memberanikan diri mengamati sekelilingnya. Saat itu Ria merasa asing dengan ruangan berwarna merah darah itu. Padahal Ria ingat jika itu adalah kamarnya. Ria juga ingat jika dinding kamarnya berwarna biru laut dan bukan merah. Kamarnya pun bersih dan tak berbau busuk seperti itu.
Ria mengerti darimana bau busuk itu berasal. Selain dari sosok makhluk besar di hadapannya, rupanya bau itu juga berasal dari darah yang dijadikan cat pewarna dinding kamar.
Ria mengedarkan pandangannya karena tak melihat keberadaan barang-barang miliknya di sana. Satu-satunya benda di sana hanya tempat tidur besar terbuat dari kayu yang menjadi tempatnya berbaring saat itu.
" Ya Allah, tolong lah hambaMu ini ya Allah...," gumam Ria putus asa.
Rupanya gumaman Ria membuat makhluk itu merasa kepanasan saat berdekatan dengan Ria. Makhluk itu menggeram marah lalu melepaskan cekalan tangannya. Saat itu lah Ria ingat jika doa dan dzikir adalah cara ampuh untuk menghadapi makhluk jadi-jadian itu.
Ria pun perlahan beringsut menjauh dari makhluk itu sambil terus berdzikir. Kemudian Ria membaca ayat Kursi dalam hati dan tersenyum senang menyaksikan makhluk di hadapannya menggeliat kepanasan. Makhluk itu menggeram makin keras saat Ria mengeraskan bacaannya.
" Diaaamm !. Berhenti mengucapkan itu...!" kata makhluk bertanduk tiga itu dengan lantang sambil mengibaskan tangannya.
Ria meringkuk ketakutan di sudut kamar. Tubuhnya gemetar dan air mata tak henti mengalir. Ria tak peduli dengan permintaan makhluk itu dan terus membaca ayat Kursi.
__ADS_1
Makhluk itu makin kepanasan dan mulai menyerang Ria. Kibasan tangannya yang panjang dan elastis itu terulur kearah Ria. Saat berhasil menyentuh pakaian Ria, makhluk itu lalu menariknya dengan keras hingga robek. Ria menjerit menyaksikan pakaian yang ia kenakan koyak.
Makhluk itu kembali menghampiri Ria yang kini bergeser menjauh. Dan Ria akan kembali menjerit tiap kali tangan makhluk itu berhasil mengoyak pakaiannya.
Saat pakaiannya tak lagi berbentuk, Ria pun panik. Sambil menatap makhluk itu dengan berani, Ria pun memaki sambil membaca hauqollah.
" Pergi iblis sia*an !. Pergi lah ke neraka jahanam !. Laa Haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim...! " jerit Ria sambil naik ke atas tempat tidur.
Saat Ria mengucapkan hauqollah dengan lantang, makhluk itu pun menjerit. Ia menyaksikan kulit tubuhnya meletup di beberapa bagian. Setiap letupan mengeluarkan darah dan itu membuatnya sangat kesakitan. Tangannya yang tengah terulur kearah Ria pun mengalami hal serupa. Darah yang keluar akibat letupan kulit tangannya itu pun mengenai tubuh Ria dan membuat sekujur tubuh dan wajah gadis itu basah dengan darah.
Ria yang ketakutan pun kembali membaca hauqollah dalam hati karena tak sanggup lagi bicara. Hingga tak lama kemudian tubuh makhluk itu tumbang ke lantai dan menimbulkan suara gaduh. Suara itu lah yang didengar Kenzo dan warga di luar sana.
Ria menyaksikan tubuh besar makhluk itu tergolek di lantai dengan luka kecil-kecil yang mengeluarkan darah sangat banyak. Ria mengira makhluk itu mati, tapi nyatanya makhluk itu masih bertahan hidup.
Ria yang kelelahan ditambah harus menyaksikan genangan darah di lantai pun akhirnya jatuh pingsan. Tepat di saat bersamaan Kenzo dan warga berhasil mendobrak pintu rumah. Kemudian saat Kenzo menerobos masuk ke dalam kamar, Ria hanya bisa mendengar sang kekasih memanggil namanya tanpa bisa membuka mata apalagi menjawab panggilan itu.
Ria menjerit sekali lagi lalu membuka matanya. Perawat yang berada di sampingnya pun terkejut dan berusaha menenangkan Ria.
" Tenang ya Mbak Ria. Mbak aman sekarang...," kata perawat itu sambil mengusap lengan Ria.
Melihat kondisi Ria sang perawat pun segera memanggil dokter. Ia menekan tombol darurat yang ada di atas sandaran tempat tidur. Dan tak lama kemudian dokter yang menangani Ria pun masuk ke dalam ruangan.
" Ada apa Suster...?" tanya sang dokter.
" Pasien siuuman tapi langsung histeris dok...," sahut sang perawat.
Dokter yang ditemani seorang perawat lain pun bergegas mengecek kondisi Ria. Saat itu lah Kenzo dan kedua orangtuanya datang dan terkejut melihat kondisi Ria yang shock.
" Apa yang terjadi dok, Ria kenapa...?" tanya Kenzo cemas.
" Gapapa Mas. Sebentar lagi Ria akan baik-baik saja. Ini hal biasa yang terjadi usai pasien pingsan cukup lama...," sahut sang dokter dengan tenang.
Setelah kondisi Ria kembali stabil, dokter dan perawat pun meninggalkan ruangan. Kenzo langsung memeluk Ria dengan erat hingga membuat kedua orangtuanya menggelengkan kepala.
" Dasar anak muda. Kalo mau mesra-mesraan liat-liat dong. Masih ada Papa sama Mama aja udah berani kaya gitu. Apalagi kalo cuma berdua...," sindir Nina sambil mencibir.
__ADS_1
Tersadar jika ada orang lain selain dia dan Kenzo, Ria pun segera mendorong tubuh Kenzo agar menjauh. Kenzo terlihat kesal namun itu membuat Erlan dan Nina tersenyum puas.
\=\=\=\=\=
Pagi itu Kautsar menghubungi Kenzo untuk mewakili sang istri meminta ijin tak masuk ke kantor karena sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit.
" Ada apa Bro...?" tanya Kenzo dari seberang telephon.
" Hari ini dan beberapa hari ke depan Aruna ijin ga masuk kerja dulu ya Ken...," sahut Kautsar.
" Lho kenapa Tsar...?" tanya Kenzo.
" Aruna keguguran Ken. Dia harus dirawat satu atau dua hari di Rumah Sakit. Setelahnya pasti juga harus bed rest kan...," sahut Kautsar.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Jadi bayi Kalian ga selamat ?. Terus gimana sama Aruna, dia baik-baik aja kan...?!" tanya Kenzo prihatin.
" Begitu lah. Alhamdulillah Aruna udah bisa terima kepergian bayi Kami walau awalnya sulit...," sahut Kautsar sambil tersenyum kecut.
" Tolong sampein salam Gue dan Ria buat Aruna ya Tsar. Kayanya Kami belum bisa jenguk karena Ria juga dirawat di Rumah Sakit setelah terjebak di rumah kontrakan...," kata Kenzo.
" Insya Allah Gue sampein ntar. Kita harus kuat supaya bisa selalu mendampingi pasangan Kita masing-masing ya Ken...," kata Kautsar.
" Betul Tsar...," sahut Kenzo cepat.
Setelahnya Kautsar memberitahu kabar itu kepada Aruna.
" Kok kejadiannya bisa barengan gini ya Sayang...," kata Kautsar.
" Aku tau Ria terjebak di rumah kontrakannya karena malam itu Aku ada di sana bersama Om George dan Tante Matilda. Tapi Aku ga tau kalo Ria harus dirawat di Rumah Sakit gara-gara itu...," sahut Aruna lirih.
" Ga usah cemas Sayang. Ria ga sendirian kok di sana. Ada Kenzo yang setia nemenin dan bakal stay di sampingnya 24 jam...," kata Kautsar.
" Iya, seperti Kamu...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Kautsar ikut tersenyum lalu memeluk Aruna sambil mengecup keningnya dengan sayang. Kautsar merasa bahagia karena Aruna bisa kembali tersenyum pagi ini.
__ADS_1
bersambung