
Aruna masih berdiri menghadap pasukan serigala didampingi Arnold, Orion, George dan Matilda.
Setelah lolongan pasukan serigala yang saling bersahutan itu berakhir, mereka pun mendekat kearah Aruna.
Aruna mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala dan tubuh serigala yang berada paling dekat dengannya.
Saat melihat salah satu temannya mendapat usapan lembut Aruna, serigala yang lain pun mendengus. Lalu mereka merangsek maju seolah ingin Aruna juga menyentuh mereka.
Kedua mata Aruna nampak berbinar saat ia bisa menyentuh kepala serigala itu satu per satu. Tawa Aruna juga terdengar saat menyaksikan betapa antusiasnya pasukan serigala berebut perhatian darinya.
Arnold, Orion, George dan Matilda pun ikut tertawa menyaksikan tingkah Aruna saat berinteraksi dengan pasukan serigala. Tak ada rasa takut sama sekali di wajah Aruna dan itu membuat mereka menghela nafas lega.
Setelah mengusap semua serigala di hadapannya, Aruna pun menoleh kearah Orion.
" Apa ini artinya mereka menyukaiku Ayah...?" tanya Aruna.
" Tentu saja Nak. Kamu bisa rasakan ketulusan mereka saat Kamu menyentuhnya kan...?" tanya Orion.
Aruna mengangguk sambil mengamati kedua telapak tangannya yang tadi ia gunakan untuk menyentuh pasukan serigala. Aruna pun tersenyum lalu kembali bertanya.
" Kenapa Ayah ga datang di resepsi pernikahanku tadi...?" tanya Aruna.
" Maaf Nak. Ayah dan yang lain sedang ada urusan penting...," sahut Orion.
" Apa lebih penting dari Aku...?" tanya Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kamu ga bisa dibandingkan dengan apa pun Aruna. Kamu dan urusan Kami tadi adalah dua hal yang berbeda...," sahut Orion sambil membelai rambut Aruna.
" Ck, mulut Ayah manis sekali kaya mulutnya Kautsar...," kata Aruna sambil berdecak sebal.
Ucapan Aruna membuat Orion terkejut dan membulatkan matanya. Sedangkan Arnold, George dan Matilda nampak tertawa geli.
" Apa itu artinya Kautsar sering merayumu Aruna...?" tanya Matilda di sela tawanya.
" Menggombal tepatnya Tante. Itu sering dia lakukan dan bikin Aku sesak nafas...," sahut Aruna malu-malu.
" Tapi keliatannya jurus Kautsar itu sangat ampuh hingga akhirnya Kalian bisa bersama ya Nak...," kata George sambil tersenyum penuh makna.
" Apaan sih Om...," sahut Aruna sambil melengos hingga membuat empat manusia serigala di hadapannya itu kembali tertawa.
__ADS_1
" Ini hampir fajar dan Kami harus pergi Aruna...," kata Arnold tiba-tiba.
" Tapi Kita kan baru aja ketemu Kek...," sahut Aruna sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap sang Kakek.
" Lain kali Kita ketemu lagi Sayang. Kamu bisa berkunjung ke tempat Kakek dan Kami akan dengan senang hati menyambutmu nanti...," bujuk Arnold sambil mengusap pipi Aruna dengan lembut.
" Apa Aku boleh ngajak Kautsar Kek...?" tanya Aruna.
" Maaf Aruna. Untuk sementara biarkan seperti ini dulu. Kautsar tak perlu mengenalku dan tau tentang keluargamu yang lain. Cukup Orion, George dan Matilda yang dia kenal. Apa Kamu mengerti Aruna...?" tanya Arnold.
" Aku mengerti Kek...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Anak pintar. Kemari lah, peluk Kakek sebentar lagi...," kata Arnold sambil merentangkan kedua tangannya.
Aruna langsung masuk ke dalam pelukan Arnold dan menghirup dalam aroma tubuh sang Kakek. Sedangkan Arnold nampak memejamkan mata sambil mencium kepala Aruna dengan sayang. Tak lama kemudian keduanya saling mengurai pelukan.
" Kami pergi dulu...," kata Arnold lalu melesat cepat meninggalkan Aruna.
Orion, George dan Matilda pun ikut melesat cepat menyusul Arnold.
Sesaat kemudian terdengar lolongan serigala di kejauhan seolah memberi aba-aba pada pasukan serigala untuk segera pergi dari tempat itu. Mereka nampak menatap Aruna sambil membungkukkan tubuh sejenak kemudian melesat cepat kearah perginya Arnold, Orion, George dan Matilda.
Aruna terkejut saat sepasang tangan kokoh melingkari perutnya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati Kautsar sedang tersenyum manis kearahnya.
Wajah Kautsar yang terlihat lelah dengan rambut yang berantakan itu tetap terlihat tampan di mata Aruna. Dan itu membuatnya tersenyum sambil menyentuh pipi Kautsar dengan lembut.
" Ngapain malam-malam begini di sini Sayang...?" tanya Kautsar dengan suara serak sambil meletakkan dagunya di atas pundak Aruna.
" Lagi cari angin...," sahut Aruna cepat.
" Ck, kenapa angin terus yang Kamu cari. Aku jadi cemburu nih sama angin...," kata Kautsar sambil berdecak sebal.
Aruna tertawa mendengar ucapan Kautsar. Sementara Kautsar justru membenamkan wajahnya di pundak Aruna.
" Apa Aku ga salah denger Kautsar. Masa Kamu cemburu sama angin sih...?" tanya Aruna sambil tertawa.
" Apa Kamu lupa kejadian dua Minggu lalu saat Kita ribut Aruna. Itu kan juga gara-gara Kamu bilang cari angin makanya Aku jadi khilaf...," sahut Kautsar malu-malu.
" Oh iya, Aku lupa. Tapi sekarang kan udah liat dan nyentuh semuanya jadi ga marah lagi dong...?" tanya Aruna sambil tersenyum usil.
__ADS_1
" Kamu nih, jangan salahin Aku ya kalo Aku bawa Kamu lagi ke tempat tidur...," kata Kautsar sambil menggelitiki pinggang Aruna hingga sang istri tertawa.
Sesaat kemudian keduanya saling memeluk sambil bersandar di pagar balkon. Kautsar mendaratkan ciuman di bibir Aruna yang langsung membalasnya dengan lembut.
" Aku ga pernah nyangka Kita bakal bisa sampe di tahap ini Aruna...," kata Kautsar sambil menyingkirkan rambut dari wajah Aruna.
" Aku juga...," sahut Aruna sambil menatap wajah Kautsar dengan intens.
" Aku mau jujur tentang sesuatu. Apa Kamu mau denger Sayang...?" tanya Kautsar.
" Apa itu tentang Aku...?" tanya Aruna sambil mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.
" Iya...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Mmm, boleh. Mudah-mudahan bukan sesuatu yang buruk...," kata Aruna hingga membuat Kautsar tertawa.
" Kejujuran ga selalu menyenangkan lho Sayang...," kata Kautsar mengingatkan.
" Iya iya. Cepetan cerita, Aku penasaran nih...," pinta Aruna.
" Sejak awal Aku ga pernah membencimu Aruna. Justru Aku tertarik sama Kamu karena Kamu berbeda dengan cewek lain. Kamu ingat ga saat Kita pertama ketemu di parkiran sekolah Aruna. Sekolah yang menjadikan Aku idola padahal Aku ga mau...," kata Kautsar sambil tersenyum kecut.
" Iya Aku inget. Kamu galak banget waktu itu. Narsis juga. Sampe kepedean dan nuduh Aku lagi cari perhatian Kamu...," sahut Aruna sambil melengos.
" Itu karena Aku udah sering dimodusin sama cewek-cewek di sekolahan Aruna. Makanya Aku pikir Kamu sama kaya mereka...," kata Kautsar bangga.
" Iya. Terus gimana...?" tanya Aruna.
" Maaf ya Sayang. Sejujurnya Aku emang pengen banget kenalan sama Kamu tapi ga tau caranya. Apalagi Ayah nyuruh Aku ngawasin Kamu terus. Aku pikir aneh juga ngawasin orang yang ga Kita kenal. Makanya Aku selalu cari cara supaya bisa kenalan sama Kamu tapi sayangnya Kamu udah terlanjur benci sama Aku dan itu bikin Aku kesulitan. Sampe akhirnya Aku lulus dan semua niatku itu Kubawa pergi...," sahut Kautsar.
" Tapi Allah takdirkan Kita ketemu lagi ya...," kata Aruna sambil menyandarkan kepalanya di pelukan Kautsar.
" Iya. Aku seneng banget ngeliat Kamu waktu itu Aruna. Dalam hati Aku janji untuk memperbaiki semuanya dan membuat Kamu jadi milikku...," sahut Kautsar sambil mencium kening Aruna.
" Aku ga nyangka Kamu seobsesif itu Sayang...," kata Aruna sambil menguap.
" Itu karena Aku cinta sama Kamu...," sahut Kautsar lalu menggendong Aruna dan membawanya masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Kemudian Kautsar membaringkan tubuh Aruna di atas tempat tidur dan dia pun ikut berbaring. Kautsar juga menarik selimut untuk menutupi tubuh Aruna yang meringkuk dalam pelukannya. Dan sesaat kemudian Aruna pun terlelap.
__ADS_1
\=\=\=\=\=