
Reyhan tiba di rumah saat hujan reda. Langit masih mendung dan udara pun terasa dingin. Setelah memarkir motornya sembarangan, Reyhan bergegas berlari menuju rumahnya.
Tok... tok... tok...
" Mond, Reymond !. Lo di dalam ga...?!" tanya Reyhan sambil terus mengetuk pintu.
" Mas Reyhan, ada apa Mas. Keliatannya kok panik gitu...?" tanya seorang tetangga Reyhan sambil melongok melalui jendela.
" Eh, Mbak Husna. Ini lagi nyari sepupu Aku. Apa dia ga di rumah ya Mbak...?" tanya Reyhan.
" Kayanya tadi keluar rumah deh sama temannya yang namanya Aldi itu...," sahut Husna.
" Keluar dari jam berapa Mbak...?" tanya Reyhan.
" Jam tiga kalo ga salah...," sahut Husna.
" Jam tiga...?" tanya Reyhan tak percaya.
" Iya. Emangnya kenapa Mas...?" tanya Husna.
" Oh Gapapa Mbak. Makasih ya Mbak Husna..., " kata Reyhan.
" Sama-sama Mas Reyhan..., " sahut Husna lalu kembali menutup gorden jendela.
Reyhan nampak makin bingung setelah mendengar jawaban Husna. Padahal dia yakin betul jika ia melihat Aldi ada di dalam rumah sejam yang lalu melalui layar CCTV yang terkoneksi ke ponselnya.
" Kalo Reymond sama Aldi pergi dari jam tiga, itu artinya kan udah hampir tiga jam yang lalu rumah kosong. Terus kalo gitu siapa yang Gue liat di dalam rumah jam lima tadi...?" tanya Reyhan dalam hati.
Tiba-tiba petir menggelegar dan mengejutkan Reyhan. Bersamaan dengan itu bulu kuduk Reyhan pun meremang pertanda ada sesuatu tak kasat mata di sekitarnya.
Reyhan pun memutar matanya lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju pintu. Ia meraih kunci rumah lalu membuka pintu.
Saat Reyhan mendorong pintu rumah, bersamaan dengan itu selarik angin keluar dari rumah dan langsung menghantam Reyhan hingga ia jatuh terjengkang ke lantai.
" Astaghfirullah aladziim. Apaan nih...," gumam Reyhan sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Tak ada apa pun di sana. Reyhan kembali mendorong pintu sambil berusaha bangkit. Ada rasa nyeri di bagian belakang tubuhnya hingga membuat Reyhan sedikit tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
\=\=\=\=\=
Adzan Maghrib baru saja usai saat Kautsar tiba di depan rumah. Aruna bergegas membuka pintu saat mendengar suara raungan motor milik suaminya itu.
" Assalamualaikum..., " sapa Kautsar.
" Wa alaikumsalam. Kehujanan ya...?" tanya Aruna sambil meraih tas kerja milik Kautsar lalu mencium punggung tangan sang suami dengan takzim.
" Sedikit, macet banget di jalanan tadi. Udah adzan Maghrib ya...?" tanya Kautsar.
" Baru aja. Kamu mau sholat dimana, di musholla atau di rumah...?" tanya Aruna.
" Aku langsung ke musholla aja ya, mumpung belum iqomat...," sahut Kautsar lalu bergegas menuju musholla setelah mengganti sepatunya dengan sandal jepit.
__ADS_1
Aruna nampak tersenyum melihat Kautsar yang melangkah cepat menuju musholla. Aruna pun menutup pintu dan meletakkan tas kerja Kautsar di ruang kerja. Setelahnya ia berwudhu dan menunaikan sholat Maghrib di kamar.
Ketukan pintu terdengar bersamaan dengan usainya Aruna berdoa. Aruna pun bergegas membuka pintu dan tersenyum menyambut Kautsar.
" Mau ngopi ga...?" tanya Aruna.
" Teh manis aja. Tapi jangan terlalu manis ya...," pinta Kautsar.
" Kenapa, khawatir diabet ya...?" tanya Aruna.
" Bukan itu. Kalo minumnya sambil ngeliatin Kamu pasti rasanya lebih manis...," sahut Kautsar sambil mengedipkan matanya hingga membuat Aruna tertawa.
" Masih sore udah ngegombal aja...," kata Aruna di sela tawanya.
Kautsar pun tertawa lalu masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
" Aku ga mandi Yang, dingin banget soalnya...," kata Kautsar saat keluar dari kamar.
" Iya gapapa. Udaranya emang dingin banget dari tadi...," sahut Aruna sambil meletakkan dua cangkir teh manis hangat di atas meja.
" Makasih ya Sayang...," kata Kautsar sambil menarik Aruna ke dalam pelukannya.
" Sama-sama. Minum dulu biar rasa dinginnya berkurang...," kata Aruna.
" Ok, Kita minum bareng ya...," sahut Kautsar lalu menyerahkan secangkir teh kepada Aruna.
Aruna pun menerima cangkir pemberian Kautsar lalu meneguk teh manis hangat itu perlahan. Kautsar melakukan hal yang sama hingga teh di dalam cangkirnya berkurang setengah.
" Biasa aja kali, ga usah lebay deh...," sahut Aruna sambil mencubit lengan Kautsar hingga membuatnya tertawa.
Tiba-tiba ponsel Kautsar berdering namun hanya sebentar. Saat Kautsar hendak menerima panggilan itu, dering ponsel pun berhenti.
" Siapa...?" tanya Aruna.
" Reyhan...," sahut Kautsar gusar.
" Kok Kamu cemas gitu. Mungkin cuma kepencet, itu kan biasa...," kata Aruna.
" Tapi kali ini beda Yang...," sahut Kautsar.
" Beda apanya...?" tanya Aruna tak mengerti.
Kautsar pun mulai menceritakan keanehan teman sepupu Reyhan yang bernama Aldi itu. Aruna mendengarkan dengan seksama dan terlihat memikirkan sesuatu.
" Coba Kamu telephon Reyhan sekarang...," pinta Aruna.
" Ok...," sahut Kautsar cepat.
Lalu Kautsar mulai mendial nomor Reyhan. Beberapa saat menunggu tak jua mendapat respon dari Reyhan membuat Kautsar cemas.
" Kok ga diangkat ya. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Reyhan...," kata Kautsar.
__ADS_1
" Ga usah berlebihan. Hubungi sekali lagi, kalo ga ada respon Kamu boleh ke rumahnya...," kata Aruna yang diangguki Kautsar.
Usaha Kautsar menghubungi Reyhan pun tak membuahkan hasil. Kautsar berdiri lalu melangkah cepat ke kamar diikuti Aruna.
" Aku ikut ya...," kata Aruna sambil mengenakan jaket.
" Ok. Tapi janji jangan melakukan sesuatu yang membahayakan diri di sana nanti...," sahut Kautsar sambil menatap Aruna lembut.
" Siap Bos...!" sahut Aruna lantang hingga membuat Kautsar tertawa.
Kemudian keduanya bergegas meninggalkan rumah dengan satu tujuan yaitu rumah kontrakan Reyhan.
Kautsar melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia cukup tahu diri untuk tak memacu kendaraannya lebih cepat karena kondisi jalan yang basah dan licin usai diguyur hujan.
Aruna memeluk Kautsar dengan erat seolah ingin menyalurkan rasa sayang yang ia miliki. Dan rupanya itu berhasil meredam kecemasan Kautsar. Sesekali Kautsar menepuk lembut jemari Aruna yang melingkari perutnya untuk membalas perhatian Aruna.
Motor akhirnya berhenti di depan deretan rumah yang sama bentuk namun berbeda warna.
" Di sini...?" tanya Aruna.
" Iya. Tapi Aku lupa yang mana rumahnya. Abisnya semua sama persis. Kalo ga salah ungu atau pink gitu...," sahut Kautsar ragu.
" Temenmu itu kan nyentrik. Aku yakin pasti rumahnya yang warna pink...," kata Aruna.
" Kamu betul. Aku inget kalo Reyhan bilang dia diprotes sepupunya karena warna rumahnya mirip rumah cewek...," sahut Kautsar lalu menggamit tangan Aruna dan membawanya menuju rumah warna pink.
Aruna mulai merasakan perasaan aneh saat kakinya mendekati rumah Reyhan. Udara di sekitarnya pun mendadak terasa pengap dan Aruna tak suka itu.
" Auranya gelap banget sih, padahal lampu di dalam rumahnya menyala terang...," gumam Aruna sambil mengamati bagian dalam rumah Reyhan yang terlihat dari balik jendela.
Kautsar pun mulai mengetuk pintu sambil memanggil nama Reyhan berulang kali.
" Assalamualaikum Rey. Reyhan...!" panggil Kautsar.
Tak ada sahutan padahal Kautsar melihat sepatu milik Reyhan ada di teras rumah.
" Assalamualaikum Reyhan...!" panggil Kautsar sekali lagi.
" Wa alaikumsalam. Gue di sini Tsar...!" sahut Reyhan dari belakang tubuh Kautsar dan Aruna.
" Lo darimana...?" tanya Kautsar.
" Abis nyari makan. Laper banget Gue. Eh, ada Aruna juga. Apa kabar Aruna, makin cantik aja...," sapa Reyhan dengan ramah.
" Alhamdulillah baik Kak...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Udah jangan godain Istri Gue...!" kata Kautsar galak sambil merengkuh Aruna.
" Pelit banget sih Lo. Gue kan cuma nyapa. Ya udah, daripada ngobrol di luar Kita masuk yuk...," ajak Reyhan yang diangguki Aruna dan Kautsar.
Kemudian Reyhan membuka pintu. Saat pintu terbuka Aruna melihat sekelebat bayangan hitam melesat cepat menuju kamar.
__ADS_1
\=\=\=\=\=