Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
157. Supir Edi


__ADS_3

Jika Kautsar, Aruna dan genknya tengah bergembira hal sebaliknya justru terjadi pada Edi.


Edi yang sempat terluka di bagian dalam akibat benturan dengan dinding tadi terlihat lebih mengenaskan. Rupanya kehancuran siluman lintah berimbas buruk pada Edi.


Edi terbaring di lantai dengan kulit mengelupas dan sebagian daging di sekujur tangan, kaki dan tubuhnya tanggal tanpa sebab. Darah pun menggenang di sekitar tubuh Edi dan itu membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.


Edi nampak menatap nanar ke langit-langit kamar. Nafasnya pun seolah berat dan hanya tinggal satu-satu. Edi sekarat tanpa ada seorang pun di sisinya.


Di luar rumah terlihat supir pribadi Edi baru saja turun dari mobil usai mengantar Puri dan anak-anaknya ke terminal.


Sang supir bernama Rama itu mengedarkan pandangan ke penjuru teras dimana biasanya ia menjumpai Edwin, Edgar dan Cinta bermain di sana. Rama nampak menghela nafas panjang seolah tengah melepaskan beban berat di hatinya.


" Biasanya mereka main di sini. Bertiga berbagi kebahagiaan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Dan di sebelah sana juga biasanya Bu Puri duduk sambil melamun ngeliatin anak-anaknya bermain. Tapi sekarang pemandangan kaya gitu ga bakal bisa diliat lagi. Mereka pergi, jauh dan ga bakal kembali...," gumam Rama sambil menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.


Kemudian Rama duduk di kursi dimana biasanya Puri duduk sambil mengamati ketiga anaknya bermain.


Rama kembali teringat saat pertama kali ia tiba di sana.


Rama adalah supir yang dipekerjakan Edi. Biasanya Edi tak pernah mengijinkan orang asing, walau pun itu karyawannya, masuk ke dalam rumahnya. Namun berbeda dengan Rama, ia diijinkan masuk ke halaman rumah yang berpagar tinggi itu dan duduk di teras rumah menunggu Edi selesai berganti pakaian.


Sambil menunggu Edi berganti pakaian, Rama pun mencoba mengamati sekelilingnya. Ia tersenyum saat melihat seorang anak laki-laki mengintip dari balik dinding. Rama tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah anak lelaki yang ia yakini sebagai anak majikannya itu.


Rama sedikit kecewa karena anak lelaki yang kemudian hari diketahui bernama Edwin itu tak merespon sikap ramahnya. Namun kekecewaan Rama terhapus saat ia mengetahui Edwin tak bisa melihat alias tuna netra. Hal itu ia sadari saat Cinta yang berjalan dengan langkah tak sempurna dan jelas memperlihatkan keterbelakangan mental mendekati Edwin.


" Ed... win. Ke... na... pa di... si... ni...?" tanya Cinta kala itu.


Suara Cinta yang terbata-bata itu membuat Rama tersentuh. Apalagi saat ia melihat Cinta menoleh kearahnya dan bertanya.


" Om da... dah sa... ma Ed... win yaaa...?" tanya Cinta.


" Iya...," sahut Rama dengan suara tercekat.

__ADS_1


" Per... cu... ma Om. Ed... win ga... bi... sa li...at. Ed... win ga ba... kal ta..u kaa... lo... Om da... dah a... tau se... nyum sa... ma di... a...," kata Cinta hingga mengejutkan Rama.


Saat Rama masih dalam keterkejutannya, tiba-tiba suara lembut seorang wanita memanggil kedua anak itu.


" Edwin, Cinta. Ayo masuk Sayang...," kata seorang wanita yang kemudian Rama ketahui sebagai istri Edi.


" Iya Mama...," sahut Edwin lalu berusaha keluar dari persembunyiannya.


Puri tampak sigap menyambut tangan mungil Edwin yang terulur kearahnya lalu menggandengnya dengan lembut. Kemudian Puri juga menggamit tangan Cinta dengan lembut dan membawanya melangkah bersamaan menuju pintu samping.


Merasa diamati seseorang Puri pun menoleh dan terkejut melihat kehadiran Rama. Rama pun sontak berdiri sambil menganggukkan kepalanya.


" Selamat siang Bu...," sapa Rama dengan santun.


" Selamat siang, Kamu siapa...?" tanya Puri.


" Saya Rama Bu. Supir Pak Edi...," sahut Rama.


" Bapak yang nyuruh Saya duduk di sini Bu...," sahut Rama tak enak hati.


Puri nampak mengangguk sambil mengerutkan keningnya. Ia heran mengetahui Edi begitu bermurah hati pada Rama. Padahal biasanya Edi tak pernah mengijinkan siapa pun masuk apalagi menginjak pekarangan rumahnya.


" Kalo gitu silakan tunggu di sana. Saya mau bawa Anak-anak masuk...," kata Puri.


" Baik Bu, makasih...," sahut Rama.


Puri hanya mengangguk sambil terus membantu Edwin dan Cinta melangkah. Sikap sabar Puri terhadap kedua anaknya membuat Rama kagum.


Saat sedang mengamati ketiga ibu dan anak itu Rama dikejutkan dengan suara Edi yang menggelegar di dalam rumah. Rama refleks berlari menghampiri karena mengira terjadi sesuatu pada sang majikan.


Rama terkejut dan mematung di ambang pintu saat melihat ke dalam rumah. Di tengah ruangan terlihat seorang anak laki-laki yang wajahnya mirip dengan Edwin tengah berdiri dengan tubuh gemetar. Di depannya terlihat Edi tengah marah sambil menunjuk anak laki-laki itu.

__ADS_1


" Dasar tol*l. Hancur semuanya gara-gara ulahmu. Udah tau cacat tapi masih aja bikin masalah...!" maki Edi dengan suara lantang.


Puri berlari menghampiri suami dan anaknya lalu memeluk anak lelaki kembaran Edwin yang kemudian diketahui bernama Edgar itu dengan erat.


" Apalagi sih Bang. Kenapa Kamu marahin Edgar...?" tanya Puri.


" Anakmu yang salah. Dia memecahkan ponsel kesayanganku. Kau liat ini...!" sahut Edi sambil memperlihatkan layar ponselnya yang retak.


Puri menatap sejenak ponsel suaminya lalu beralih ke Edgar yang nampak menggelengkan kepala sambil berusaha menjelaskan semuanya. Suara Edgar yang hanya berupa lenguhan itu membuat Rama lagi-lagi merasa sedih. Akhirnya ia tahu jika Edgar bisu.


Setelah mendengar penjelasan Edgar, Puri pun memberitahu suaminya tentang apa yang terjadi.


" Edgar ga mecahin ponsel Kamu Bang. Tadi dia manggil Kamu karena mau ngingetin Kamu kalo ponselmu ketinggalan di meja. Tapi waktu dia nyentuh bajumu, Kamu marah dan langsung menepis tangannya jadi ponsel yang ada di tangannya terjatuh...," kata Puri dengan sabar.


" Itu alasannya aja supaya ga dimarahin. Dasar anak ga guna !. Bisa-bisanya ngarang cerita supaya orangtuanya berantem...," kata Edi kesal sambil mendorong kepala Edgar dengan kasar.


" Cukup Bang. Dia masih kecil, tapi Kamu nyakitin dia terus menerus...!" kata Puri.


" Berisik !. Dasar orang-orang ga tau diri. Bosan Aku ngeliat Kalian. Lebih baik Aku pergi keluar cari hiburan...," sahut Edi sambil melangkah meninggalkan Puri dan Edgar.


Saat melintas di ambang pintu Edi menegur Rama yang nampak mematung karena menyaksikan drama keluarga yang tersaji di depan matanya.


" Ayo Kita jalan Ram. Ngapain Kamu berdiri di situ. Puas ya Kamu ngeliat tontonan gratis tadi. Tunggu yang berikutnya pasti bakal lebih seru daripada yang ini...," kata Edi dengan cuek.


" Maaf Pak...," sahut Rama salah tingkah.


" Ga masalah. Ayo cepetan...," kata Edi sambil melemparkan tas berisi pakaian yang tadi dibawanya.


Dengan sigap Rama menangkap tas itu lalu mengikuti Edi. Sesekali Rama menoleh untuk memastikan Puri dan Edgar baik-baik saja. Rama nampak lega saat Puri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kearahnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2