
Di sebuah kamar yang bagus terlihat seorang pria tengah mematut diri di depan cermin. Ia mengamati wajahnya yang tampil fresh dan terlihat jauh lebih muda setelah melakukan perawatan.
" Ngaca Mulu sih Pa...," kata sang istri.
" Eh, Mama. Aku lagi seneng nih Ma. Ternyata saran Kamu supaya Aku ngelakuin perawatan kulit berhasil ya. Sekarang kulit wajahku lebih kencang dan fresh...," sahut pria itu yang ternyata adalah Hasby.
" Tuh kan. Dulu susah banget disuruh perawatan. Sekarang ketagihan deh. Kalo ke salon ga pernah ngajak Aku lagi...," kata istri Hasby yang bernama Amira itu sambil mengerucutkan bibirnya.
Hasby tertawa lalu berbalik memeluk sang istri. Amira yang semula marah pun tersenyum dalam pelukan Hasby.
" Bukan ga mau ngajak Ma. Tapi emang Aku dadakan aja ke salonnya. Lagian salon yang Aku datangi kan random. Ga satu tempat aja...," kata Hasby.
" Oh ya. Jadi Kamu bukan ke salon yang Aku rekomendasiin itu Pa...?" tanya Amira sambil mengurai pelukan.
" Kan udah Aku bilang random. Jadi kalo abis dari mana atau pas liat salon yang keliatan menarik ya Aku mampir...," sahut Hasby.
" Menarik...?" ulang Amira curiga.
" Eh tunggu. Menarik di sini maksudku tempatnya ya Ma. Bukan pelayannya atau pemiliknya...," kata Hasby cepat karena paham kemana arah pembicaraan sang istri.
" Kirain Kamu tertarik sama pelayan salon yang biasanya cantik dan se*si itu Pa...," kata Amira sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
" Gimana mau tertarik sih Ma. Aku dateng ke salon yang pelayannya trans gender kok...," kata Hasby sambil tertawa.
" Masa sih...?" tanya Amira tak percaya.
" Iya Ma. Lagian Kamu ga usah khawatir, Aku nih cowok setia lho. Jarang kan cowok mapan kaya Aku setia sama Istri. Biasanya cowok mapan, ganteng dan keren kaya Aku pasti punya simpenan. Kalo Aku sih males...," kata Hasby sambil menggedikkan bahunya.
" Alhamdulillah..., Aku seneng deh dengernya..., " kata Amira sambil tersenyum.
" Udah siang nih, Aku berangkat sekarang ya Ma...," kata Hasby lalu mengecup kening Amira.
" Iya, hati-hati ya Pa...," sahut Amira sambil mengekori suaminya.
Supriyono terlihat berdiri lalu bergegas membukakan pintu mobil untuk Hasby. Tak lama kemudian Hasby melambaikan tangannya saat mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
Amira pun balas melambaikan tangan sambil tersenyum melepas kepergian suaminya.
Setelahnya Amira kembali masuk ke dalam rumah. Ia pun mengunci pintu dan bersiap beranjak menuju dapur. Namun ekor mata Amira melihat sesuatu bergerak di balik pintu. Saat ia dekati ternyata seekor tikus berwarna hitam dan berukuran besar tengah mengoyak sesuatu.
Amira yang terkejut pun refleks menjerit hingga mengejutkan sang tikus yang sontak berlari meninggalkan mangsanya.
Amira pun mengamati benda yang ditinggalkan sang tikus dan menggerutu kesal.
" Pagi-pagi udah bikin kerjaan aja nih tikus. Pake bawa bang*e segala ke sini. Bisa bau dan banyak semut deh ntar...," gerutu Amira sambil membersihkan lantai.
Setelah bersih Amira pun membuang sisa mangsa tikus itu ke tong sampah. Tanpa ia sadari sebuah potongan kepala nampak menyelinap cepat ke dalam tong sampah yang ia tinggalkan tadi.
\=\=\=\=\=
Saat tiba di kantor Hasby disambut oleh Aruna dan Bianca. Hasby tersenyum senang melihat kondisi Bianca yang jauh lebih baik dari kemarin.
" Saya senang ngeliat Bu Bianca terlihat jauh lebih sehat hari ini...," kata Hasby.
" Alhamdulillah. Makasih Pak. Setelah istirahat yang cukup dan minum obat seperti saran Bapak kemarin, Saya merasa jauh lebih baik...," sahut Bianca sambil tersenyum.
" Siap Pak...," sahut Bianca mantap.
" Kamu sendiri gimana Aruna. Apa acara surprise untuk Suamimu itu berjalan lancar...?" tanya Hasby sambil menatap Aruna.
" Oh itu. Alhamdulillah lancar. Tapi sayangnya Suami Saya ga merasa kalo itu surprise untuknya. Dia keliatan biasa aja kemarin...," sahut Aruna dengan mimik kecewa.
Mendengar jawaban Aruna membuat Hasby tertawa. Ia kemudian menepuk bahu Aruna pelan untuk memberi semangat.
" Gapapa Aruna. Tapi niat baikmu untuk memberi hadiah buat Suamimu tetap sampe kok. Dan di dalam hatinya pasti dia senang karena Kamu ingat sama ulang tahunnya. Karena itu artinya Kamu menyayanginya dengan tulus Aruna...," hibur Hasby.
" Emang gitu Pak...?" tanya Aruna dengan wajah berbinar.
" Iya. Masa Kamu ga percaya sama Saya. Saya kan juga laki-laki kalo Kamu lupa Aruna...," sahut Hasby berusaha meyakinkan.
Aruna dan Bianca pun tersenyum mendengar celoteh Hasby.
__ADS_1
" Iya Saya percaya Pak...," kata Aruna akhirnya hingga membuat Hasby tertawa.
" Lanjutkan pekerjaan Kalian. Kalo ada berkas penting yang harus Saya tanda tangani taro aja di meja Saya ya. Pagi ini Saya ada urusan sebentar di luar...," kata Hasby sambil berlalu.
" Baik Pak...," sahut Bianca dan Aruna bersamaan.
Kemudian Aruna dan Bianca kembali duduk di tempat semula. Keduanya sama-sama melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Sesaat kemudian Bianca mendongakkan kepalanya lalu menatap Aruna lekat. Aruna bukan tak menyadari dirinya sedang diamati oleh Bianca, tapi ia sengaja bersikap pura-pura tak tahu karena penasaran dengan apa yang diinginkan Bianca.
Bianca berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan perlahan menghampiri meja kerja Aruna. Ia nampak mengamati Aruna juga meja kerja Aruna dengan intens.
Karena tak nyaman dengan sikap Bianca, Aruna pun menghentikan pekerjaannya lalu berdiri dan menatap Bianca.
" Ada apa Bu Bianca. Kenapa Anda mengamati Saya seperti ini...?" tanya Aruna dengan suara datar dan tatapan tajam.
Bianca cukup terkejut melihat sikap Aruna namun ia berusaha tenang.
" Oh, udah berani menentang Saya rupanya...," kata Bianca tanpa menjawab pertanyaan Aruna.
" Ck. Menentang Ibu bilang ?. Saya hanya mempertahankan apa yang menjadi hak Saya. Meja ini adalah area Saya dan itu artinya siapa pun ga berhak mengacak-acak meja Saya dengan alasan apa pun termasuk alasan mencari sesuatu tanpa seijin Saya...!" kata Aruna lantang.
" Siapa yang ngacak-ngacak meja Kamu Aruna. Saya...?!" tanya Bianca tak suka.
" Yang kemarin Saya liat apa Bu. Bukannya Ibu bilang lagi mencari sesuatu ?. Oh, jangan bilang kalo Ibu lagi nyari tikus karena Saya ga percaya di gedung sebagus ini ada tikus...!" kata Aruna kesal.
Bianca tersenyum sinis lalu membalikkan tubuhnya. Dia kembali duduk di kursinya dan membiarkan Aruna yang berdiri sambil mengamatinya.
Aruna mendengus kesal melihat sikap arogan Bianca. Ia tak mengerti mengapa Bianca terus mengamatinya seolah dia adalah seseorang yang memiliki niat jahat pada perusahaan dan semua karyawan di tempat itu. Dengan kesal Aruna kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Namun lima menit kemudian terdengar suara Bianca bertanya yang membuat Aruna terpaksa mendongakkan wajahnya untuk menatap Bianca.
" Apa ada kejadian aneh di tempat seminar kemarin Aruna...?" tanya Bianca sambil terus menatap ke berkas yang sedang dipegangnya.
Aruna terkejut mendengar pertanyaan Bianca. Selain itu Aruna juga tak suka dengan sikap Bianca yang tak mau menatapnya saat bicara dengannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=