Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
307. Masjid Ghoib ?


__ADS_3

Di sebuah masjid terlihat Kautsar tengah khusuk berdoa. Ia memohon kepada Allah agar istri dan bayinya selamat.


" Ya Allah. Aku sudah menerima takdirku beristrikan Aruna. Aku mencintainya dan Aku ingin bayiku dalam kandungannya selamat. Namun semua Aku kembalikan kepada Mu ya Allah. Jika mengambil bayiku adalah yang terbaik, Aku terima itu. Namun jika boleh Aku memohon, ijinkan Kami memiliki anak itu. Laa haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim. Tolong kabulkan doaku ya Allah. Aamiin...," gumam Kautsar lalu mengusap wajahnya.


Kautsar menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rasa cemas yang menghantui jiwanya karena khawatir dengan kondisi Aruna dan bayi dalam kandungannya. Namun setelah usai sholat dan berdoa Kautsar merasa jauh lebih tenang.


Perlahan Kautsar bangkit lalu meraih mushaf Al Qur'an yang tersimpan rapi di dalam rak buku. Kautsar pun mulai membacanya perlahan. Kautsar tak kuasa menahan air matanya saat membaca ayat-ayat dalam mushaf itu. Segala resahnya seolah larut bersama untaian ayat Al-Quran yang dibacanya.


Kautsar merasa ini adalah puncak ketakutannya beristrikan Aruna. Ia memang selalu merasa cemas tiap kali Aruna berubah menjadi manusia serigala. Namun dari semua malam yang pernah dilaluinya, ini adalah malam paling 'horror' untuk Kautsar.


Bagaimana tidak. Di dalam rahim Aruna saat ini ada bayi yang tak berdosa yang tengah tumbuh. Kautsar khawatir Aruna tak sadar saat menjadi manusia serigala hingga menyakiti bayi mereka.


Di kejadian sebelumnya Aruna memang mengejarnya. Saat itu Kautsar masih bisa berpikir positif karena merasa hanya dirinya yang diinginkan Aruna. Tapi saat ini Kautsar tak lagi bisa berpikir positif hingga ia melajukan motornya tak tentu arah dengan kecepatan tinggi tadi.


Beruntung Kautsar masih berada dalam bimbingan Allah hingga ia tak terlalu jauh melarikan diri. Dalam pelariannya Kautsar melihat sebuah masjid dan tertarik untuk singgah di sana. Kautsar turun dari motor lalu bergegas menuju tempat berwudhu. Setelahnya ia melaksanakan sholat sunah untuk menenangkan diri dan bermunajat kepada Allah, lalu berakhir dengan mengaji.


Suara lantunan ayat suci yang dibaca Kautsar terdengar memilukan. Itu karena saat membacanya Kautsar berusaha menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Berkali-kali Kautsar berhenti membaca hanya untuk mengusap wajahnya yang basah.


Rupanya apa yang dilakukan Kautsar menarik perhatian marbot masjid. Ia menghampiri Kautsar lalu duduk di sampingnya. Setelahnya sang marbot bernama Subhan itu mengusap punggung Kautsar dengan lembut untuk sekedar menenangkannya.


Kautsar menoleh lalu tersenyum saat melihat wajah teduh pria yang mengusap punggungnya itu.


" Makasih Pak. Saya baik-baik aja kok...," kata Kautsar.


" Saya percaya. Kamu pasti telah mendapat jawaban dari pertanyaan yang Kamu lontarkan pada Allah tadi...," sahut Subhanallah sambil tersenyum .


" Apa Bapak mendengar apa yang Saya ucapkan tadi...?" tanya Kautsar.


" Saya ga mendengar apa pun. Karena doamu adalah urusanmu dengan Allah. Saya ga layak ikut campur..., " sahut Subhan.


Jawaban Subhan membuat Kautsar mengerutkan keningnya. Subhan pun tersenyum karena paham jika lawan bicaranya itu tak mengerti apa yang ia katakan.


" Begini...," ucapan Subhan terputus.


" Kautsar. Nama Saya Kautsar Pak...," kata Kautsar memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


" Baik Mas Kautsar. Nama Saya Subhan. Saya marbot di masjid ini. Saya tugas di sini sudah hampir dua puluh tahun. Dan selama itu pula Saya sering menyaksikan orang-orang yang kalut seperti Mas Kautsar berdoa dan menangis di sini...," kata Subhan.


" Jadi bukan baru kali ini aja Pak Subhan melihat orang galau macam Saya ya Pak...," sahut Kautsar sambil menghela nafas lega.


" Betul. Dan biasanya mereka akan berhenti menangis setelah mendapat jawaban dari keluhan atau pertanyaan mereka. Jawaban yang Saya maksud bisa berupa ketenangan jiwa, kepastian menentukan sikap, atau berkurangnya rasa sakit. Jadi masuk akal kan kalo Saya bilang Mas Kautsar sudah menemukan jawaban...?" tanya Subhan dengan mimik wajah lucu.


" Iya Pak...," sahut Kautsar sambil tertawa kecil.


" Tapi Saya senang melihat Mas Kautsar dan mereka yang kalut datang ke sini dan menangis di sini...," kata Subhan.


" Kenapa begitu Pak...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Mengadukan masalah yang Kita miliki kepada Allah adalah jalan terbaik dibandingkan melarikan masalah ke tempat lain. Seperti dugem, narkoba, ngetrack atau hal-hal negatif lainnya. Bukan kah begitu Mas Kautsar...? " tanya Subhan.


" Betul Pak. Walau mungkin jawaban yang Kita inginkan masih harus melalui proses, tapi minta tolong sama yang menciptakan Kita adalah kebenaran mutlak yang tak terbantahkan...," sahut Kautsar mantap hingga membuat Subhan tersenyum.


" Semoga setelah keluar dari masjid ini Kamu mendapat hidayah, ketenangan hati serta Istiqomah dalam kebaikan. Aamiin...," kata Subhan dengan tulus.


" Aamiin. Makasih doanya Pak...," sahut Kautsar setelah mengusap wajahnya.


Kautsar tersentak karena merasa telapak tangan Subhan mengalirkan hawa sejuk yang membuatnya nyaman. Di saat bersamaan Kautsar juga merasa jika lelah yang selama ini mendera hati dan fisiknya sirna entah kemana.


" Saya berencana pulang ke rumah menemui Istri Saya Pak...," kata Kautsar.


" Bagus. Langsung pulang ya dan jangan mampir kemana-mana lagi...," pesan Subhan sambil bangkit berdiri.


" Emangnya kenapa Pak...?" tanya Kautsar sambil ikut bangkit dan meletakkan mushaf Al-Quran yang tadi dibacanya ke dalam rak buku.


" Ini udah hampir Subuh. Kasian Istrimu. Dia pasti cemas karena Kamu ga pulang-pulang. Apalagi Kamu juga ga ngasih tau sama dia dimana Kamu sekarang. Iya kan...?" tebak Subhan.


Kautsar menoleh kearah jam dinding lalu mengangguk.


" Bapak benar. Kalo gitu Saya pamit ya Pak. Makasih untuk semuanya...," kata Kautsar sambil mencium punggung tangan Subhan dengan takzim.


" Sama-sama, hati-hati ya...," kata Subhan sambil mengusap kepala Kautsar dengan lembut.

__ADS_1


Kemudian Subhan mengantar Kautsar hingga ke teras masjid. Kautsar pun menstarter motornya lalu mengucap salam.


" Mari Pak Subhan, Assalamualaikum..., " kata Kautsar lalu melajukan motornya meninggalkan masjid.


" Wa alaikumsalam. Semoga bahagia Mas Kautsar...," kata Subhan sambil melambaikan tangannya.


Kautsar pun mengaminkan dalam hati sambil tersenyum. Ia melajukan motornya dengan perasaan tenang. Namun tiba-tiba Kautsar dihadang oleh tiga orang berpakaian seragam security. Kautsar yang semula terkejut pun berusaha menetralisir perasaannya.


" Astaghfirullah aladziim..., ada apa nih Pak. Ngagetin aja...," kata Kautsar sambil mengerem motornya


" Kami yang harusnya tanya, ngapain Mas ke sana...?" tanya salah satu security sambil menatap Kautsar dengan intens.


" Kok ngapain. Pertanyaan yang aneh. Namanya juga masjid ya pasti ke sana mau sholat dong Pak...," sahut Kautsar kesal.


" Masjid yang mana Mas?. Di sini ga ada masjid kok...," kata salah seorang pria hingga mengejutkan Kautsar.


" Masjid yang i...," ucapan Kautsar terputus karena saat ia menoleh masjid yang tadi ia singgahi sudah tak ada lagi.


Kautsar mengerjapkan matanya karena hanya melihat tanah lapang di belakangnya. Tak ada bangunan apa pun di sana apalagi masjid. Kemudian Kautsar menoleh kearah tiga pria di hadapannya. Ia mengamati mereka dari atas kepala hingga ujung kaki untuk memastikan jika mereka bukan lah hantu.


" Kalo di sana ga ada masjid, terus Saya tadi masuk kemana dong Pak...?" tanya Kautsar dengan tengkuk dingin.


" Mungkin masjid ghoib Mas...," sahut salah seorang security sambil tersenyum penuh makna.


" Tapi ngeliat Mas baik-baik aja kan...?" tanya salah seorang security.


" Alhamdulillah Saya baik-baik aja kok Pak. Kalo gitu Saya permisi dulu. Makasih ya Pak, Assalamualaikum...," kata Kautsar lalu segera melajukan motornya meninggalkan tempat itu.


Tak ada jawaban namun Kautsar tak peduli.


Sambil melajukan motornya Kautsar mencoba melihat pantulan ketiga security itu melalui kaca spionnya. Sayangnya Kautsar tak melihat apa pun di sana kecuali tiga sosok pocong berdiri dan tengah menatap kearahnya.


" Astaghfirullah aladziim, apa lagi sih ini...," gumam Kautsar sambil mempercepat laju motornya.


Sambil memacu kendaraannya Kautsar terus melantunkan ayat Kursi di dalam hati hingga ia tiba di depan rumah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2