
Dua hari setelah pesta resepsi pernikahan, Aruna dan Kautsar memilih kembali ke kota Malang. Genk Comot sudah lebih dulu berangkat karena tak ingin bolos kuliah.
" Rasanya belum puas ngeliat Kamu mondar-mandir di rumah ini Nak, eh sekarang udah harus balik lagi ke Malang...," kata Diana dengan wajah sendu.
" Maafin Aku ya Ma. Tapi waktunya emang mepet banget. Aku harus bersiap menghadapi ujian sedangkan waktu cuti Kautsar juga udah habis...," sahut Aruna sambil memeluk sang Mama dengan erat.
" Mama jangan ngomong gitu dong. Ntar Kautsar jadi ga enak karena merasa udah mengambil paksa Aruna dari tangan Mama. Padahal kan Aruna memang harus ngelanjutin kuliahnya di sana...," sela Arka sambil mengusap pundak istrinya dengan lembut.
" Mama ga maksud gitu kok Pa. Maafin Mama ya Kautsar...," kata Diana sambil menatap Kautsar.
" Gapapa Ma. Aku maklum kok...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Udah beres semua kan, ada yang ketinggalan ga...?" tanya Arka sambil mengamati barang bawaan Aruna dan Kautsar.
" Kayanya ga ada Pa. Iya kan Sayang...?" tanya Kautsar sambil menoleh kearah Aruna.
" Ada yang ketinggalan...," sahut Aruna cepat.
" Apaan...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Hatiku...," sahut Aruna sambil melirik sang Mama.
Ucapan Aruna membuat Arka dan Diana tertawa sedangkan Kautsar nampak mencubit gemas pipi sang istri.
Tak lama kemudian Taxi yang dipesan Kautsar pun tiba. Arka dan Kautsar bergegas memasukkan tas milik Aruna dan Kautsar ke dalam bagasi. Setelahnya keempat orang itu saling memeluk bergantian.
" Kami berangkat ya Ma, Pa...," kata Aruna dan Kautsar bersamaan.
" Iya, hati-hati...," sahut Arka dan Diana bersamaan.
Taxi pun berjalan lambat meninggalkan rumah Arka dan Diana. Rumah dimana Aruna menghabiskan masa remajanya. Aruna masih menatap ke belakang sambil melambaikan tangannya hingga Taxi berbelok.
" Sedih ya...," kata Kautsar sambil meraih Aruna ke dalam pelukannya.
" Sedikit...," sahut Aruna sambil tersenyum tipis.
" Gapapa. Wajar kalo Kamu ngerasa sedih. Kalo mau nangis, Kamu bisa nangis di sini...," kata Kautsar sambil menepuk dadanya seolah menawarkan tempat bersandar ternyaman untuk Aruna.
" Ga sekarang, tapi nanti aja...," sahut Aruna sambil mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Kautsar tertawa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Kautsar dan Aruna mulai menjalani kehidupan rumah tangga yang real. Mereka juga tak lagi tidur terpisah tapi memilih kamar Aruna sebagai kamar tidur utama sedangkan kamar Kautsar dijadikan ruang kerja.
Aktifitas harian mereka pun berjalan sebagaimana mestinya. Kautsar bekerja dan Aruna kuliah.
Pagi ini seperti biasa Kautsar mengantarkan Aruna ke kampus sebelum ia pergi ke kantor. Perjalanan terasa menyenangkan karena keduanya sedang bahagia.
Tiba di gerbang kampus Aruna pun turun dan mencium punggung tangan Kautsar dengan takzim. Kautsar pun membalasnya dengan mengusap kepala Aruna lembut.
" Kuliah yang bener ya biar cepet lulus...," kata Kautsar.
" Insya Allah. Doain ya biar Aku bisa ngerjain semua soal ujian dengan mudah dan lancar plus jawabannya bener semua...," pinta Aruna sambil nyengir kuda.
" Iya. Semoga Istriku tersayang bisa ngerjain ujiannya dengan lancar, tenang dan ga buru-buru. Semoga mendapat nilai bagus dan lulus dengan nilai terbaik. Aamiin..., " kata Kautsar sambil menadahkan tangan lalu mengusap wajahnya.
" Aamiin yaa Robbal'alamiin..., " sahut Aruna sambil tersenyum.
" Aku berangkat kerja dulu ya Sayang. Assalamualaikum..., " pamit Kautsar lalu mulai melajukan motornya perlahan meninggalkan Aruna.
" Ok, wa alaikumsalam. Hati-hati ya...," sahut Aruna sambil menatap kepergian Kautsar dengan senyum.
Kemudian Aruna membalikkan tubuhnya dan bergegas memasuki area kampus.
\=\=\=\=\=
Aruna dan genknya nampak berjalan menuju gerbang kampus. Tujuan mereka hanya satu yaitu kedai soto ayam langganan mereka yang ada di depan kampus. Mereka tampak berbincang santai sambil tertawa. Namun tawa mereka terhenti saat Robi menghadang di depan mereka.
" Hai Aruna. Mau kemana...?" tanya Robi dengan ramah.
" Hai Robi. Aku mau makan siang di depan sana...," sahut Aruna cepat.
" Kebetulan Aku juga mau makan siang. Kita barengan yuk...," ajak Robi penuh percaya diri.
" Sorry Rob. Aku udah janjian makan bareng sama temen-temenku. Tapi kalo Kamu mau gabung boleh kok. Iya kan guys...?" tanya Aruna sambil menoleh kearah lima temannya.
" Iya...," sahut Fadil tanpa beban.
" Gitu ya. Tapi ga enak lah kalo gabung. Kalo Gue pinjem Aruna sebentar boleh ga...?" tanya Robi sambil menatap kelima teman Aruna bergantian.
__ADS_1
" Sorry ya. Kita lagi ada hal penting yang mau dibahas. Jadi Aruna harus sama Kita dan ga bisa kemana-mana...," sahut Ria judes.
" Oh gitu. Ya udah lain kali aja deh. Bye Aruna...," kata Robi sambil berlalu.
" Iya...," sahut Aruna dengan enggan.
" Dasar cowok aneh. Maksa banget sih...," gerutu Ria sambil menatap kesal kearah Robi yang menjauh.
" Jangan gitu Sayang...," kata Kenzo mengingatkan.
" Abisnya dia ngomong ga mandang Kita sama sekali. Basa basi kek, say hello atau apa kek gitu. Kita berlima tuh ga diliat sama sekali sama dia tadi...," sahut Ria kesal.
" Iya, Gue juga kesel. Emang siapa dia Run ?. Lo kenal dimana sih cowok model kaya gitu...?" tanya Galang penasaran.
" Itu temen sefakultasnya Kautsar. Satu angkatan juga sama Kautsar. Gue ga sengaja ketemu pas pulang sendirian tempo hari...," sahut Aruna dengan enggan.
" Satu angkatan sama Kautsar. Lah Kautsar aja udah kerja, masa dia masih kuliah. Itu artinya dia oneng dong...," kata Ria sambil mencibir.
" Bukan oneng Ri. Kali aja dia ngambil cuti kuliah dulu makanya lulusnya juga ga bareng sama Kautsar. Lagian Kautsar itu kan pinter, dia belum waktunya lulus eh malah lulus plus langsung kerja juga. Jadi mereka berdua jelas beda banget. Iya kan Run...?" tanya Agung sambil menatap lekat kearah Aruna.
" Iya Gung. Dia emang baru masuk kuliah lagi setelah cuti dua semester...," sahut Aruna.
" Tuh kaaan...," kata Agung sambil menjentikkan jarinya.
" Kita jadi makan ga, ngapain malah ngobrol di sini sih. Kalo ga jadi sih gapapa. Gue seneng. Itu artinya uang Gue utuh karena ga jadi nraktir Kalian..," kata Aruna.
" Jadi doonngg...," sahut kelima teman Aruna bersamaan hingga membuat Aruna tertawa.
" Makanya buruan yuk...," ajak Aruna.
" Ok...," sahut kelima teman Aruna sambil tertawa.
Kemudian Aruna dan kelima temannya pergi ke kedai soto yang dimaksud. Harus sedikit bersabar karena kedai sedang ramai pengunjung. Genk Comot baru bisa masuk dan duduk setelah para pengunjung ( yang tak lain sesama mahasiswa juga ) menyelesaikan makan mereka.
" Ya Allah, lima belas menit lho Kita ngantri...," kata Ria sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Gapapa. Tapi layak Kita lakukan untuk soto seenak ini...," sahut Fadil yang diangguki keempat temannya.
Tak lama kemudian soto pesanan Aruna dan kelima temannya pun tiba. Mereka langsung melahap soto ayam dengan antusias. Canda tawa terdengar saat mereka menikmati soto favorit mereka.
__ADS_1
Aruna nampak tersenyum puas melihat kelima temannya makan dengan lahap. Namun senyum Aruna memudar saat mengetahui sepasang mata terus mengintai gerak-geriknya.
\=\=\=\=\=